Follow Me

Beberapa waktu lalu, saya sedang duduk sembari mengetik sesuatu di depan laptop. Di samping kiri, ada Pemred saya yang juga sedang melakukan hal serupa. Di belahan ruang lainnya, seseorang tengah fokus bekerja.

Kami semua diam, gelombang suara hanya terdengar lewat suara tak-tuk-tak-tuk keyboard saja. Tak lama kemudian, Pemred tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat alis saya mengernyit.

“Target nikah umur berapa?”

Saya tidak begitu paham apa yang tengah mengganggu pikiran beliau saat itu. Yang jelas, apakah sebuah keheningan bisa memengaruhi otak seseorang sehingga akhirnya terlintas pertanyaan tak berperikemanusiaan?

Pun setelah itu, beliau kembali di depan laptopnya. Tapi saya tahu betul beliau menunggu jawaban dari hati terdalam saya. Agak lama, saya kemudian berjalan ke dapur mengambil air minum. Setelah satu gelas habis, saya akhirnya punya keberanian untuk menjawab pertanyaan ‘macam apa’ itu.

“Apa deh,” jawab saya dari dapur sana. Ternyata hanya segitu saja kemampuan bicara saya.

“Lho, kan Om cuma mau tau aja. Kamu punya target nikah kapan. Tau, kan… target?”

Sebal. Om ini sebenarnya otw nanya atau ngejek, sih. Kata saya dalam hati.

Bicara target, memang sepertinya saya punya kelemahan dalam hal ini. Secara sadar, saya hampir tak pernah menargetkan sesuatu sepanjang perjalanan hidup saya. Mungkin itu sebabnya saya masih menjadi seseorang yang ‘gini-gini’ saja. Kalau secara tak sadar, mungkin pernah. Lho, berarti itu saya sadar dong? Ya, pokoknya, anggap saja saya pintar.

“2021,” jawab saya dalam perjalanan menuju meja kerja. Nah, lho. Serius. Saya menyebut angka pasti. Ini hati saya yang luluh atau mulut saya yang bosan bercanda, sih?

“2021… hmm…” gumamnya dengan menengadahkan kepala ke atas.

“Berarti tiga tahun lagi, ya..” Beliau mengangguk-angguk sendiri, lantas kembali sibuk bekerja.

Ternyata memang bukan cuma saya yang aneh, ya. Om-om di samping saya juga sama.

Omong-omong, beberapa bulan sebelum mendapatkan pertanyaan itu, saya sebenarnya sempat iseng mengalkulasi sendiri. Entahlah, alasannya memang cuma satu. Tapi sepertinya kamu juga tidak perlu tahu.

*
Ditulis 15 Juli 2018. (Posting aja lah biar ada tulisan. Nggak tau masih relevan apa nggak wqwq~)


Saya bukan apa-apa, tapi tanpa disadari, saya seperti selalu ingin menjadi apa-apa.

Hidup saya begitu merepotkan banyak orang. Seringkali saya berpikir bahwa diri saya berharga, padahal sebenarnya tidak. Saya sering merasa sudah melakukan yang terbaik, padahal juga tidak.

Saya kerap berpikir sudah sangat menghargai orang lain, nyatanya masih banyak yang merasa kecewa. Saya selalu berusaha menjadi yang menyenangkan, tapi tidak sedikit membuat hati kesakitan.

Saya kira saya adalah orang baik, nyatanya saya masihlah sampah. Tidak cukup berguna untuk disimpan lama-lama. Saya masih mudah marah dan tersinggung. Tak jarang menjadi sakit hati dan pendendam.

Banyak hal buruk yang telah saya lakukan. Namun sedikit hal baik yang saya berikan. Ternyata saya belum benar-benar menjadi lebih manusia dari saya yang dahulu. Dari yang bahkan tak mengenal makna keluarga, hingga menemukan cinta yang mahal harganya.

Bertemu dengan orang-orang baik dan penuh kasih sayang rupanya masih tidak banyak mengubah saya.

Saya tahu, terkadang saya begitu keras kepala dan tak punya telinga. Saya bukan apa-apa, tapi tanpa disadari, saya seperti selalu ingin menjadi apa-apa.

Maafkan saya atas semua hal buruk yang terjadi dari saya, oleh saya, dan karena saya. Maafkan saya yang belum benar-benar bersih tanpa noda. Maafkan saya yang belum bisa seterang cahaya. 

Maafkan saya yang masih menjadi beban dan tersesat di jalanan. Maafkan saya yang baru sebatas minta maaf dan ingin dimaafkan. Maafkan saya, saya….

Foto: www.riangriang.com


ketika lagu-lagu tiba di kepalaku
ada denting kutampung separuh
ada getar tak henti bergemuruh

ketika melihat diriku
aku tidak pernah utuh
barangkali cinta adalah gelisah
yang tak mau sembuh
sebelum tubuhku sendiri
rela jadi pengungsi

di tempat paling jauh
gelombang debur merupa sauh
dan wajahmu
aku berhenti
sepakat merutuk diri

Juli, 2016