"Yang patah tumbuh, yang hilang berganti..." - Banda Neira

Saturday, 24 September 2016

Apa Kabar Kemudian

Source: favim.com

Kamu mengingat-ingat sesuatu di tahun lalu. Ketika seorang temanmu berkata sambil menunggu, “habis ini, kamu pasti nulis.” Kamu meninggikan alis sebelah kanan, lantas bertanya dalam hati ada apa gerangan.

“Kan habis ketemu.” Seperti paham kebingungan, temanmu menjelaskan. Tapi kamu masih diam.

“Aku tau. Aku suka baca lho.” Kamu sekarang sadar kalau ia sedang mengejekmu.

“Dasar ih, stalker. Nggak akan nih, liat aja.” Sudah terlanjur gengsi. Kamu harus menentang. Meskipun ketika kamu berpikir ulang, kamu ternyata membenarkan. 

Satu bulan. Dua bulan. Sepertinya sudah jauh dari waktu pertemuan. Kamu menulis kemudian. Hmm, tidak akan ketahuan, bukan?

*

Kadang, kamu merasa, keinginan menulis menjadi lebih besar ketika mendapatkan sebuah pertemuan. Barangkali apa saja. Terlebih kalau itu adalah pertemuan yang... Hmm... kalau ditakar-takar, sungguh merupakan kesempatan yang langka. Mungkin. Bisa jadi, pertemuan mampu memberikan stimulus kepadamu. Dibanding ketiadaan yang kemudian merupa menjadi kemalasan. 

Lantas kamu bisa menganggap bahwa tidak ada keinginan yang besar. Bahwa kepalamu seakan mengatakan, ”Entah. Kok nggak begitu pingin aja, ya.”

See?

Kalau diartikan, kamu memang pemalas. Tidak ingin menjadi begitu bekerja keras. Otakmu tidak mau diajak meliar ke arah lain. Di kepalamu seperti hanya ada satu. Sungguh sulit ya menjadi apa. Kini, jarimu menjelma sebagai pertanyaan-pertanyaan. Sementara sebuah layar, ia menampakkan keinginan.

*

Sudah lebih dari satu tahun. Mungkin nanti akan jadi dua tahun atau tiga tahun. Semoga kamu sudah jauh lebih baik di apa kabar kemudian. :D

---

Tidak usah dimengerti, apalagi dihayati. Kamu bukan Zainuddin. :p
Continue Reading...

Tuesday, 20 September 2016

Akademi Indonesia Kreatif (AIKA) 2016

Baca: 5 Mahasiswa AIKA Memulai Proses Belajar di Kantor Redaksi biem.co (17/08/2016)
Hmm, kok masih tetep Kabupaten Serang ya ~.~

Hmm, apakabar? Wah kayaknya lama banget ya nggak nulis. Makin ke sini, makin merasa nggak produktif, deh. *emot nunduk di whatsapp*

Saya ingin berkabar. Jadi ceritanya Sabtu lalu, tepatnya tanggal 17 September 2016, saya resmi menjadi salah satu―hmm apa ya sebutannya. Mahasiswa? Ranger?―dari Akademi Indonesia Kreatif (AIKA), setelahnya saya sebut AIKA.

Jadi, AIKA itu semacam ajang bakat yang kalau malam eliminasi suka dibawain koper, ya?

Bukan, itu mah Penghuni Terakhir.

Hmm. AFI, keles.

Saya jadi membayangkan ajang-ajang jaman dulu yang sekarang udah nggak ada. AFI, Penghuni Terakhir, sampai ke Be A Man. By the way, ada yang tau acara Be A Man, nggak? Dulu saya suka nungguin lho buat nonton acara itu. Sampai-sampai saya sering pindah nonton tv di warung nemenin Abah, karena sepi aja di rumah. Soalnya acaranya malem banget. Kadang bisa mulai jam 11 malem. Kangen Abah jadinya.

Kalau nggak tahu, Be A Man itu acara di mana semua pesertanya adalah laki-laki yang ke-perempuan-perempuanan gitu, bahasa kasarnya waria lah. Jangan salah tapi, ada yang cantik gila lho. XD

Jadi, mereka bak waria-waria yang diperkasakan lah karena sistemnya kayak pelatihan militer gitu. Kan, lucu ya, lihat banci-banci dimiliterin, alay-alay gemez geli gimanaaa gitu. Suka banyak konfliknya juga sih kayak Penghuni terakhir.

Hmm, kenapa jadi asyik bahas acara jaman dulu. Back, back, back.

Jadi, AIKA itu adalah semacam beasiswa dalam bentuk pelatihan yang diberikan Banten Muda untuk anak-anak muda yang ingin belajar dan berkiprah di bidang kreatif. Dalam hal ini, yaitu Kepenulisan, Web Developer, Desain Grafis, dan Multimedia. Hanya saja, kali ini bidang yang baru dibuka adalah Kepenulisan. Dan saya mendaftar di bidang Kepenulisan.

Untuk bisa diterima, saya harus mengikuti beberapa proses. Mulai dari mengirimkan berkas-berkas pendaftaran, kemudian seminggu setelahnya saya dihubungi lewat sms dan telepon untuk melakukan wawancara. Saya nggak tau berapa banyak yang ikut, tapi tersaringlah sebanyak 10 orang untuk melakukan wawancara.

Sumber: Panitia (10/08/2016)

Usai sesi wawancara, dikatakan bahwa kami akan dihubungi lewat telepon jika berhasil lolos. Kalau tidak ada telepon dalam waktu seminggu, artinya kami nggak lolos. Maka, sehari setelah lebaran, saat saya baru mulai tidur, ditelepon lah saya oleh panitia. Ngantuk-ngantuk gimana gitu ya jawab teleponnya :D

Sehingga, pada Sabtu lalu, mulailah saya dan keempat orang lainnya, yaitu: Putri dari Tangerang, Resti dari Pandeglang, Aldi dan Jisung dari Cilegon. Bersama mereka, tertawalah kami di Kantor Redaksi biem.co. Karena Pak Mahdi―yang jadi mentor―bikin ngakak mulu.

Pertemuan pertama dilakukan sesi perkenalan dan penandatanganan kontrak. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri dan menceritakan tentang mimpi, cita-cita, dan pengalaman hidup dari yang terbaik hingga terburuk. Kata Pak Mahdi, hal tersebut dilakukan agar bisa mengetahui karakteristik satu sama lain. Ini juga adalah upaya agar kami tahu di mana letak titik potensial kami ketika selesai pelatihan di AIKA nanti. Seperti misalnya, Jisung dan Putri yang mungkin cocok menjadi wartawan politik, Resti menjadi wartawan yang berhubungan dengan pendidikan, Aldi mungkin bisa fokus ke wartawan olahraga, dan saya sendiri katanya cocok di Human Interest-nya. Pas giliran saya malah ditanya, “Kamu ngerti maksudnya Human Interest, kan?” Hahaha.

Itu hanya opsi dari Pak Mahdi. Tentu saja nanti kami yang akan menentukan sendiri di mana nyamannya kami.

Pak Mahdi juga mengenalkan diri dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman hidupnya yang terasa berliku-liku itu. Di akhir kalimat, beliau bertanya mana bagian yang nyata dan fiksi dari cerita beliau tadi. Tapi kemudian itu jadi misteri karena kami nggak tau apakah memang ada yang fiksi dalam cerita tersebut. Sebab ceritanya meyakinkan sekali. Dan kami semua terpukau.

Setelah itu kami makan siang bersama. Dilanjut dengan sholat dzuhur. Kemudian, karena menunggu petinggi-petinggi di biem.co yang belum datang, akhirnya kami menggunakan waktu untuk download-download cantik. Sampai akhirnya Om Irvan (CEO Banten Muda) dan Kak Chogah (Pimred biem.co) datang dan memberikan petuah-petuah bermanfaat untuk kami berlima agar kami bisa mempergunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya dan seserius mungkin. Terlihat dari isi kontrak yang lumayan berat juga. Semoga dalam hal ini tidak serta merta menjadi beban untuk kami berlima, khususnya saya :')

Sumber: Panitia (17/08/2016)

Barulah kemudian sesi penandatanganan kontrak oleh Pak Mahdi dan masing-masing dari kami. Jadi, setiap hari Sabtu selama tiga bulan, kami akan dilatih teknis-teknis menulis berita, bagaimana berkomunikasi dengan narasumber, membuat daftar pertanyaan dan lain sebagainya. Selain berita, nantinya kami juga akan diajari bagaimana membuat artikel, product review, dan advertorial. Di sini, memang tidak ada sangkut-pautnya dengan sastra. Di sana, kami akan ‘digembleng’ menjadi jurnalis. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa sekali, mengingat saya dulu pernah sedikit membayangkan menjadi seorang jurnalis.

Sumber: Panitia (17/08/2016) Penandatanganan Kontrak AIKA 2016

Setelah pelatihan tiga bulan berakhir nanti, kami harus melakukan magang di biem.co selama satu tahun. Saya sendiri berharap, selama kegiatan pelatihan dan magang nanti, mudah-mudahan aktivitas kami di luar itu tidak ada yang terganggu. Mengingat kebanyakan dari kami adalah mahasiswa dan juga ada yang sedang mencari kerja. Dan saya pun lagi, ehm, skripsian *bisik-bisik*. Oh iya, by the way, ternyata kami adalah angkatan pertama di program ini. Wooho.

Doakan kami, ya.  Semoga bisa menuju puncak gemilang cahaya mengukir cita seindah asa. Menuju puncak impian di hati, bersatu janji kawan sejati. Pasti berjaya di akademi fantasi~ *malah nyanyi AFI

Terimakasih Banten Muda. Terimakasih biem.co. :))

Eh, iya, selesainya, Om Irvan langsung menanyai kami apakah hari Minggunya ada acara atau tidak. Kami diajak ikut piknik bersama keluarga Banten Muda. Cerita pikniknya menyusul aja, ya. ^_^

Continue Reading...

Monday, 5 September 2016

Jangan Kaku-kaku


Hai September, apa  kabar?

Kata Kak Uti, ditanya apa kabar itu rasanya sungguh melegakan, meski pada dasarnya kita sedang baik-baik saja—atau tidak baik-baik saja. Saya merasakan kebenarannya, jadilah saya selalu berusaha untuk bertanya apa kabar kepada teman-teman. Yang akhirnya mereka menjawab kabar kemudian berbalik menanyakan. Meski rasanya enakan ditanya kabar duluan. :D

Kadang-kadang, gengsi bisa jadi penghalang buat nanya apa kabar. Takut dikira cuma basa-basi. Takut  dikira kangen setengah mati. Takut jadi sakit hati. #halagh

Tapi bener juga sih. Kadang-kadang pertanyaan apa kabar memang bisa dibilang sekedar pengantar percakapan. Pemanasan  mengutarakan  rindu. Meski akhirnya tetep sakit hati karena responnya nggak sepereti yang diingini. Eh, gitu nggak sih? Gitu kali ya dikit-dikit mah. Naon iyeu teh teu jelas.

Ada sih, kemarin, ceritanya nanya kabar ke temen lama. Terakhir ketemu juga nggak inget sih kapan, kayaknya udah lama. Kontakan juga agak jarang. Tapi pas ditanya kabar cuma dijawab, nggak nanya balik.

(Lah, maneh  pengen banget ditanya balik?).

(Nggak juga sih, biar lucu aja).

Tadinya saya kira bisa ngobrol banyak dan dapet masukan seputar rencana penelitian gitu, soalnya dia kan pinter. Siapa tau saya bisa dapet wahyu. Kebetulan kami kuliah di jurusan yang sama, cuma beda alam aja. Dia kuliah di dunia, saya kuliah di akhirat. Eh, maksudnya, dia kuliah di Jawa Timur, saya kuliah di Kampus. *krik krik*

Saya curhat menggebu-gebu, tapi balesnya singkat-singkat, lah saya kan jadi nggak enak ya. Awkward banget gitu. Habis itu saya dikatain alay gara-gara bilang, “Kok kamu jutek si, aku jadi sungkan. (emot nangis sambil ketawa).”

Ngomong alaynya jutek juga lagi, kan serem. (duh, emot monyet senyum-senyum tutup mata kayak gimana ya simbolnya). Padahal sebenernya mah emang kayak gitu, sayanya  aja yang lupa. Udah lupa, alay lagi. 

(Pergi sana, Hep, ke ujung dunia).

(Boleh, boleh, ongkosin ya).

(~!2@@3$%%^&*)

Tapi nggak masalah sih. Saya tau kok sebenernya dia fans saya. Tuh buktinya pernah ninggalin jejak di buku tamu. Biar ada bahan tulisan aja sih ini mah. Kasihan berdebu.


Eh iya, satu lagi. Kata temen saya (bukan yang abis diomongin), temen saya kata Edward Bellybutton,  kaku adalah awal renggangnya suatu ikatan. Jadi, jangan kaku-kaku ya. Nanti merenggang-renggang.

Continue Reading...

Monday, 1 August 2016

Merawat Keyakinan

Source


Akan ada pertanyaan di setiap kali pulang: di mana letak iman sekarang?

Aku punya banyak keraguan, terlebih ada pula banyak ketakutan. Aku tidak pernah ingin menyimpannya di mana-mana, tapi aku sendiri belum tahu apa mantra penghilang paling mujarab dari keduanya.

Setiap kali aku memikirkan sesuatu, aku juga memikirkan yang lain. Mungkin yang masih berputar-putar kuat di kepalaku sekarang adalah yang sebenarnya kekosongan. Sesungguhnya, aku tidak bisa melihat apa-apa dari sana, barangkali, memang tidak akan ada banyak juga yang terjadi. Aku pun sangat tidak ingin harapanku berundak-undak. Tapi seperti ada energi yang datang dari kekosongan itu. Aku tidak tahu apa. Tapi aku merasa sedikit punya keyakinan kalau kekosongan-kekosongan itu akan menjadi bulat dan penuh kemudian.

Sementara, ada pusaran di mana aku bisa melihat sesuatu dengan mata yang jelas. Paling tidak sedikit demi sedikit aku merasakan permainan yang menyenangkan di sana. Aku tidak perlu menunggu sebuah kata-kata hidup hanya untuk aku tahu keadaan di pusaran itu. Bagaimana kehidupan di dalamnya. Bagaimana suasana-suasana hati yang mengelilinginya. Karena pusaran itu sendiri yang kerap mendatangiku. Aku merasa sebuah kesegaran muncul. Aku banyak menerima pertanyaan, padahal seringnya akulah yang punya banyak pertanyaan. Kepada apa yang kulakukan. Kepada kekosongan. Akan tetapi, aku merasa ada keraguan dan ketakutan yang berbeda tumbuh di sana. Aku tahu apa.

Kadang aku pikir aku ingin mengungsi, tapi setelah kupikir lagi, aku juga kan tidak pernah tinggal di mana-mana sebelumnya. Jadi untuk apa, ya? Toh, sesungguhnya, yang paling aku butuhkan adalah termometer. Bukan yang hanya bisa untuk mengecek suhu tubuh, tetapi juga suhu iman. Semoga Allah selalu jadi yang pertama, ya.
Continue Reading...

Tweetvoria

Goodreads

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Happy has read 8 books toward her goal of 30 books.
hide