Sunday, 14 January 2018

Kita Tidak Pernah Tahu


Lagi pengen nulis yang sederhana dulu ah, nggak pake metafora. Tapi semoga nggak menye-menye ya. XD

Jadi semalem sahabatku bilang kalau dia mau lamaran, eh dia mau dilamar maksudnya. Malam ini. WAAAAAAA. Alhamdulillah. Seneng. Syedih juga. Tida kuat. Hahaha. Soalnya, dia itu kan orang yang paling deket dari SMA. Yang masih tahan sama kelakuanku yang kadang kayak anak kecil, suka ngambek kalau dicuekin. Tapi dia mah punya senjata, diemin aje nanti juga berenti sendiri. HAHAHAHA BENCI IH. TAPI SAYANG. Oke. Pokoknya kenal sama dia bikin aku banyak banget berubah. Jadi perempuan yang lebih baik lagi, deh. Alhamdulillah.

Tapi tetep, ya. Sedewasa apapun kita saat bantu kasih masukan buat orang lain tuh, kadang nggak berlaku buat diri sendiri. Syulit. Kayak aku, orang mau ngeluh apa aja juga, aku pinter aja jawabnya. Mudah, orang tinggal ngomong doang. Coba giliran punya masalah, eh depresi sendiri. Seperti tida sanggup lagi hidup di dunia ini XD

Kadang kalau lagi sedih kita suka lupa, kayak nggak inget ada Allah. Makanya, aku kalau lagi inget nih, lagi sadar, selalu berusaha pake dua senjata ini.

“Semoga Allah selalu jadi yang pertama.” Ini kalimat yang suka ditulis Masgun (Kurniawan Gunadi) dan aku terapin juga sih ke diri dan tulisan aku, biar aku inget nggak keluar batas kalau lagi nge-drama-in orang, lagi putus asa, terlalu mikirin dunia. Ya gitu deh. Toh, kalau dipikir-pikir semua yang digalau-in itu kan punya Allah ya, kalo Allah selalu jadi yang pertama sih kayaknya bakal ada semuanya juga. Insya Allah. Iya kan, ya?

“Berdo’alah kepadaKu dan yakin kepadaKu.” Ini adalah senjata paling ampuh. MANJUR. Dulu pernah nemu iklan, bukan iklah sih, kayak semacem cuplikan gitu ya. Di situ Ustad Yusuf Mansyur ceramah sedikit, nah terus ngeluarin kalimat itu. Dan sampe sekarang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Kadang, kalau Allah nggak jadi yang pertama, kita juga sepaket sama lupa buat doa. Padahal ya, di Al-Quran kan juga ada. Berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Gitu, kan? Udah, kuncinya emang cuma dua. Berdoa dan percaya. Sungguh. Tapi ya kita manusia, tetep harus selalu diingetin biar nggak lupa. Ingetin aku ya. T.T

Balik lagi ke sahabatku itu. Soal jodoh, eh soal apapun itu sih. Allah itu emang udah paling Maha Tahu-nya deh, kita mah nggak :”D

Kayak sahabatku, pacaran sama temen sendiri terus putus. Pacaran lagi sama yang lain, terus putus. Terus deket lagi sama yang lain, udah sayang, eh taunya yang lamar dan yang bikin dia yakin juga ternyata orang yang beda. Bisa jadi berlaku juga sih buat aku. Mau aku bisanya suka sama satu orang, belum tentu juga nanti jodoh, kan.

Kayak cerita di teleseri CDR juga. Secinta-cintanya Gita sama Rizki, ternyata nggak berjodoh dua-duanya. Seribet-ribetnya drama Rizki sama Nadine; mulai dari Rizki jadian dulu sama Gita lah, Nadine balikan sama Radit, Gita putus sama Rizky, Nadine jadian sama Nino. Eh ujung-ujungnya Rizki sama Nadine juga akhirnya. Terus mau semengabaikan apapun Gita ke Dimas, ternyata Dimas orang yang paling terbaik buat Gita. Walaupun setelah Sembilan taun kemudian Dimas diceritain meninggal. Twist episode terakhir yang bikin nangis. KYAAAA T.T #TeamDimas

LAH KOK JADI BAHAS CDR???? XD
Eh tapi ada pelajarannya juga, kan. SAMA. Allah yang tau pokoknya, kita mah nggak.

Intinya sih kayak yang dibilang Rasulullah, nggak boleh berlebihan. Kalo kata Kak Apik, suka ya suka aja, nggak perlu drama! Kemarin aku kayak drama sendiri, ya, maapin. T.T

Semoga sahabatku juga nggak pake drama-drama lagi, ya. Dilancarin. Diteguhin. Diyakinin. Insya Allah, nikah kan ibadah, pasti akan terang jalan menuju ke sana.

Semalem nemu tulisan bagus, dari Kak Avina. Aku suka. Masuk. Katanya, kalau kita bener-bener pasrah, minta tolong sama Allah, agar dimampukan, agar dimudahkan menjalaninya, agar hati cenderung sama takdir-Nya (supaya nggak kecewa), maka kita akan tenang; bisa berpikir logis dan menjalankan apa-apa yang telah direncanakan. Walaupun masih ada sisi harap dan takut di dalamnya, gapapa, itu wajar. Maka dari itu, katanya, manusia mungkin selalu perlu belajar tawakkal. Bukan di akhir aja, tapi juga setelah ikhtiar, ada di sepanjang proses; di awal, tengah, dan akhir.

Bismillah. Kamu pasti cantik malem ini. XD


14 Januari 2018

Monday, 8 January 2018

Tentang Perjalanan Menuju Hal-hal Asing


pergi adalah kemestian. pergilah.
kita tahu, ingatan tidak butuh
jam tangan—hanya seseorang
di kejauhan.
(Perjalanan Lain Menuju Bulan, Aan Mansyur)

Ada yang tak bisa terurai oleh kata-kata. Di dadaku, harapan seperti memasuki suasana musim gugur. Ingin kutimpa segala cemas dan siksa menjadi senyum yang ceria, tapi di depanmu, tetiba aku lupa rencana sebelumnya.

Aku butuh gelombang untuk bicara. Sebab saat ini, puisi dan segala metafora tak pernah cukup untuk bisa mengatakan semuanya. Pertemuan terakhir kali kita waktu itu seperti karma yang diberi semesta. Aku benci saat tubuhku sendiri mendadak tak punya energi. Tak ada sapaan santai seperti biasa, bahkan aku tak berdaya hanya untuk sekadar menatap mata.

Sejak dulu, kita memang tak pernah jadi siapa-siapa, tak pula miliki kisah apa-apa. Aku hanya orang asing yang kebetulan singgah kemudian mengenalmu dan memiliki perasaan yang aneh setelah itu. Aku tak pernah mau melupakan, jadi aku selalu berusaha merawat kenangan dengan menjadikan ingatan sebagai kamera tunggal; merekam kejadian lucu yang selalu berhasil menjadi memoar rindu.

Di dalam perjalanan waktu, aku tak pernah menunggu tapi seperti orang yang menunggu. Aku cukup tahu kamu pasti tak akan mengharapkan itu. Aku selalu berharap bisa menemukanmu di mana-mana. Di mall yang ramai, di sudut kafe sambil berbincang, atau tak sengaja lewat di pinggir jalan. Bagiku, melihatmu seperti menemukan sebuah ketentraman. Dan aku tak perlu lagi menjadi gelisah sendirian.

Siapapun pasti tak pernah suka dengan perpisahan, tidak pula denganku. Aku pernah sedikit bersedih saat menghadapi perpisahan beberapa tahun lalu. Karena itu adalah sekat awal kita tak bisa lagi berjumpa setiap harinya, seperti biasa. Kukira, tahun ini semua bisa menjadi dekat di depan mata. Meski tak bisa menemukanmu setiap hari, aku tidak perlu cemas karena kamu ada di sini. Kesempatan untuk bertemu mungkin akan lebih besar dari yang dulu. Tapi sepertinya aku kembali harus kecewa, sebab kamu akan pergi lebih jauh dari yang aku kira. Benar kata Shakespeare, expectation is the root of heartache. Aku memang bukan perempuan yang beruntung sepertinya.

Aku kepadamu yang kerap bertanya hal-hal tak penting semacam “apa kabar?”. Mungkin saat itu, aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi perasaan. Tapi setidaknya aku berusaha untuk tidak lebih dari itu.

Aku tahu, setiap orang punya proses dan waktunya masing-masing, layaknya kamu yang sudah cukup dipersiapkan Tuhan untuk melebarkan sayap dan jauh terbang. Kelak, semoga hal-hal asing tidak pernah menjumpai kita setelah ini dan beberapa tahun nanti.

Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal, kata Aan Mansyur, jadilah seperti matahari tenggelam. Aku tidak tahu bagaimana menjadi matahari, tapi semoga perjalananmu lancar, sampai nanti.

8 Januari 2018.
This entry was posted in

Saturday, 2 September 2017

Surat yang Tak Pantas Dibaca



Belakangan aku mereka-reka, sepertinya aku sudah beranjak tua. Tapi, kenapa masih juga tak bisa melepaskan satu nama? Pesan-pesan yang tak pernah sampai kian berulang kubaca, meski hari ini aku menyadari, semuanya hilang karena kealpaanku sendiri.

Kita semakin dewasa, dan waktu berjalan secepat udara yang kita hirup bersama. Bisakah aku meminta jeda? Aku tak ingin tenggelam dalam luka, tapi juga tak ingin menyerah begitu saja. Mana yang harus kupegang seerat-eratnya?

Dulu aku pernah bergurau dengan sahabatku sendiri. Jika kamu menemukan perempuan lain untuk dinikahi suatu hari nanti, mungkin aku lebih baik pindah saja ke luar negeri. Aku memang norak sekali, benar-benar sama seperti tulisan yang kubuat ini. Sudah, cukup, maka dari itu jangan dibaca lagi.

Perihal pintu hati, katanya aku tak pernah memberikan kesempatan untuk orang lain membuka kunci, bahkan hanya untuk sekedar mengetuk sesekali. Tapi menurutku, cinta akan datang sendiri tanpa harus tersugesti. Seperti sampai bertahun-tahun ini, aku juga tak mengerti apa yang membuatku tertarik dan punya simpati. Mungkin memang seperti itu rasanya jatuh cinta. Kita menemukan titik di mana kita sendiri tak punya filosofinya.


Selamat bekerja.
This entry was posted in

Wednesday, 17 May 2017

Skripsi Positif


Tapi, aku, tak kan pernah bisa
Ku tak kan pernah merasa
Rasakan cinta yang kau beri
Ku terjebak di ruang nostalgia
..... (Raisa - Terjebak Nostalgia)

Menulis tentangmu, rasanya tak perlu harus repot untuk riset kemana-mana, karena semua bahannya sudah tersimpan benar di kepala. Tinggal bagaimana aku bisa mengoreknya lalu menyusun kembali potongan-potongan kejadian lama, sehingga bisa tersambung menjadi sebuah simpul cerita.

Menulis tentangmu, rasanya pasti akan beragam. Karena aku tau, tidak semua episodenya adalah cerita yang menyenangkan. Tentu akan ada inci-inci yang membuat dada sesak sesekali. Kita juga tau kan kalau hari tidak selalu pagi? Tapi aku tidak masalah. Aku mungkin bisa belajar lebih rela.

Menulis tentangmu, seperti mengisi sejumlah energi. Saat merasa lelah, aku berpikir untuk lebih kuat. Di saat jatuh, mungkin aku bisa bangun dengan cepat. Efek jatuh cinta bisa seberlebihan itu ternyata.

Seandainya menulis skripsi bisa seromantis itu...

Mungkin aku tidak akan terus-terusan menguap. Habis bagaimana, baru satu jam mengerjakan saja mataku sudah berat. Padahal membaca buku, menonton drama korea terbaru, dan memikirkanmu aku sanggup bertahan seharian. Yaa, walau pusing-pusing sedikit pasti ada lah. Tapi seru dan bikin penasaran jadinya.

Menulis tentangmu seperti membawa harapan-harapan baru. Menulis skripsi harusnya juga seperti itu. Barangkali skripsi bisa menjadi salah satu pintu, yang bisa membuka langkah kita untuk saling berbagi kabar berita. Mungkin bisa dimulai dengan saling bertanya, “Bagaimana penelitiannya?”

Lalu….

Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan, ku terus melangkah
Ku ingin ku tau, engkau ada
..... (Dewi Lestari feat Arina Mocca - Aku Ada)

***

Hai. Udah lama banget ya nggak posting blog. Sekalian latihan nulis lagi nih biar nggak kaku. Walaupun judulnya nggak nyambung sih, apa coba positif-positifnya tulisan ini? Hahaha.

Eh gimana yang lagi skripsian? Aman? Coba cerita di kolom komentar, ya siapa tau aja ada yang nyasar ke sini, kan. :"D
This entry was posted in

Friday, 13 January 2017

Rinai dan Gelora (2)

Source: @ramikhai
Sabtu pagi di Sekolah. Siswa-siswi berhamburan menuju kelas ekskulnya masing-masing. Hari ini adalah pelajaran ekstrakulikuler. Rinai dan Gelora bersisian, berjalan dengan berbeda tujuan. Rinai mengikuti kelas fotografi, sementara Gelora masuk ke kelas Teater. Tapi tiba-tiba Gelora berhenti.

“Ri, tunggu ya, sebentaaaar aja.”

Rinai curiga mencari tahu alasan Gelora berhenti. Tidak lama, Rinai ber-oh ria. Menarik kesimpulan secepat mungkin.

“Jadi Alby, Ra?”

Gelora tersenyum. Matanya masih memandangi Alby yang sedang latihan karate di lapangan.

“Alby tuh cakep banget, Ri. Keren. Jenius pula.”

“Tapi terlalu mainstream kalau kamu suka sama dia.”

“Tau, kok.”

“Udah tahu, tapi masih suka.”

“Perempuan mana sih yang nggak suka sama dia, Ri. Emang kamu nggak suka sama dia? Sedikitpun?”

“Nggak, ah. Aku nggak nemuin hal yang menarik dari dia. Jadi biasa aja.”

Rinai masih cuek. Tidak peduli sekeren apapun Alby, di matanya Alby hanyalah manusia. Duh, ya iyalah, masa Alby tumbuh-tumbuhan. Rinai merasa bodoh.

“Aku lupa sesuatu, Ri.”

Gelora berbalik, kini menghadapi Rinai di depannya.

“Lupa apaan?”

“Lupa... kalau kamu, kan, perempuan norak. Nggak pernah jatuh cinta!”

Rinai menatap sebal sahabatnya. Gelora puas tertawa. Berlari menuju kelas teater meninggalkan Rinai yang kemudian ikut lari menyusul. Sial, Gelora.

Dari arah kejauhan, Alby memandangi mereka yang sedang berkejaran.