"Yang patah tumbuh, yang hilang berganti..." - Banda Neira

Monday, 1 August 2016

Merawat Keyakinan

Source


Akan ada pertanyaan di setiap kali pulang: di mana letak iman sekarang?

Aku punya banyak keraguan, terlebih ada pula banyak ketakutan. Aku tidak pernah ingin menyimpannya di mana-mana, tapi aku sendiri belum tahu apa mantra penghilang paling mujarab dari keduanya.

Setiap kali aku memikirkan sesuatu, aku juga memikirkan yang lain. Mungkin yang masih berputar-putar kuat di kepalaku sekarang adalah yang sebenarnya kekosongan. Sesungguhnya, aku tidak bisa melihat apa-apa dari sana, barangkali, memang tidak akan ada banyak juga yang terjadi. Aku pun sangat tidak ingin harapanku berundak-undak. Tapi seperti ada energi yang datang dari kekosongan itu. Aku tidak tahu apa. Tapi aku merasa sedikit punya keyakinan kalau kekosongan-kekosongan itu akan menjadi bulat dan penuh kemudian.

Sementara, ada pusaran di mana aku bisa melihat sesuatu dengan mata yang jelas. Paling tidak sedikit demi sedikit aku merasakan permainan yang menyenangkan di sana. Aku tidak perlu menunggu sebuah kata-kata hidup hanya untuk aku tahu keadaan di pusaran itu. Bagaimana kehidupan di dalamnya. Bagaimana suasana-suasana hati yang mengelilinginya. Karena pusaran itu sendiri yang kerap mendatangiku. Aku merasa sebuah kesegaran muncul. Aku banyak menerima pertanyaan, padahal seringnya akulah yang punya banyak pertanyaan. Kepada apa yang kulakukan. Kepada kekosongan. Akan tetapi, aku merasa ada keraguan dan ketakutan yang berbeda tumbuh di sana. Aku tahu apa.

Kadang aku pikir aku ingin mengungsi, tapi setelah kupikir lagi, aku juga kan tidak pernah tinggal di mana-mana sebelumnya. Jadi untuk apa, ya? Toh, sesungguhnya, yang paling aku butuhkan adalah termometer. Bukan yang hanya bisa untuk mengecek suhu tubuh, tetapi juga suhu iman. Semoga Allah selalu jadi yang pertama, ya.
Continue Reading...

Friday, 22 July 2016

Diri Sendiri; Tempat Pulang Paling Murni

Source


Setiap kali kita merasa rindu: bertemu, bicara, bercanda, tertawa, melihat, mengamati, membaca, menulis, dan nikmat-nikmat lainnya. Sebenarnya ada kenikmatan lain yang kerap lupa disadari, atau karena sesuatu itu terlalu nyempil di ujung sehingga kita―atau hanya saya― mungkin jadi nggak kepikiran, padahal efek perasaannya yang paling besar. Kenikmatan lain itu adalah diri kita sendiri. Bisa memahami diri kita sendiri sebagai manusia, bukankah itu sebuah kenikmatan yang besar? Oleh karenanya, saya rindu diri saya sendiri. I miss myself very much, don’t you?

Capek-capek kita kenalan sama orang, iseng-iseng cari tahu kesukaannya, apa yang dia cari, apa impiannya, sampai ngobrolin tentang kesukaannya. Tapi kadang kita lupa buat kenalan sama diri sendiri, bahkan nggak tahu apa yang kita sendiri sebenarnya suka, nggak tahu apa yang mau kita cari, nggak pernah ngobrol sama diri sendiri. Kamu kira, ngobrol sama diri sendiri itu kurang kerjaan, ya? Penting tahu. Asal jangan kelebihan aja. Apa-apa yang berlebih, kan, emang nggak baik, kata Rasulullah.

Gimana mau menghadapi orang lain, ya, kalau menghadapi diri sendiri pun takut.
Gimana mau membuka dan menerima perasaan orang lain, ya, kalau menghadapi perasaan sendiri aja susahnya luar biasa. Sudah setan ada di mana-mana, ditambah dengan nafsu yang memang sudah dasarnya kepunyaan manusia. Saya banget, kali, ya.

Katanya, menjadi orang dewasa itu berarti berani menghadapi perasaan sendiri dan menjalani resikonya. Saya suka merasa nggak mampu, kemudian pilihannya ya cuma lari. Lari dari kenyataan? Hoho, nggak deng, lari beneran. Sehat, kan? Saya paling suka kepala saya kalau habis dibawa lari-lari olahraga. Kayak kotoran-kotoran di kepala tuh abis disedot pake vacuum cleaner. Meski nggak bener-bener bersih, sih. Sederhananya, kepala jadi agak enteng aja, gitu. Nah, sayangnya, saya jarang olahraga. Jadi otaknya jarang bersih, deh. X")

Mengembalikan diri kita kepada seutuhnya kita adalah perkara yang mesti kita jalankan. Sama halnya seperti saya saat ini. Bukan karena saya habis amnesia lalu saya lupa siapa diri saya. Saya hanya merasa kehilangan kekuatan aja. Kehilangan energi yang setiap orang tuh sebenernya punya jumlah porsi yang sama. Hanya yang jadi beda, kita melakukan pertahanan atau membuat strategi untuk membuat jumlah porsi energi itu tetap maksimal atau tidak. Atau kita hanya terus berjalan pasrah, meski di depan kita adalah monster-monster besar yang harusnya kita tembak dengan senjata. Karena nggak ada yang kita lakukan, lama-lama energi itu akan habis sendiri, dan akhirnya kita menjadi manusia yang kalah. Game over. Knock out. Failed. Lose. Iya, kalau di game masih dikasih kesempatan buat Try again. Kalau di dunia nyata, game over artinya game over. Selanjutnya terima nasib. Neraka atau surga. Sengsara atau bahagia.

Saya kira ada banyak sekali yang perlu diperbaiki dengan diri sendiri. Dari mulai pikiran, hati, shalat, ngaji, doa, nulis, baca. Selebihnya, ya, dengan teman bicara. Siapa saja atau apa. Jendela, kursi, atau bunga di meja. Biar nggak sunyi dan menyayat seperti belati kayak puisinya Subagio Sastrowardoyo yang dinyanyiin sama Banda Neira itu. #halah

Dan cara melakukan yang perlu diperbaiki itu adalah dengan menemukannya sendiri.

Selamat melakukan perjalanan. Selamat menuju. Selamat pulang. Selamat menemukan. Selamat kembali. Karena tempat pulang paling murni adalah diri sendiri.

Dan lalu...
Rasa itu tak mungkin lagi kini. Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu. Bersamamu.

Dan lalu...
Bicara tentang rasa.
Bawa aku pulang, rindu. Segera.

Jelajahi waktu. Ke tempat berteduh hati kala biru.

Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini. Meringankan lara.
Bawa aku pulang, rindu. Bersamamu.

Dan lalu...
O, langkahku tak lagi jauh kini. Memudar biruku.
Jangan lagi pulang. Jangan lagi datang.
Jangan lagi pulang, rindu. Pergi jauh.

Dan lalu...

(Float - Pulang)

Continue Reading...

Wednesday, 13 July 2016

Pagi; Semacam Doa yang Ingin Kita Kembangkan

Source


Pagi hari dan semua yang masih sendiri.

Aku ingin bangun kali ini. Kadang-kadang, keinginan adalah teman paling lemah dari ragu-ragu. Tak lebih kuat dari malas. Tak selalu bisa mengalahkan putus asa. Katakan saja, ada sedikit lebih energi.

Aku menggelar biruku. Aku sadar kalau kepalaku sepenuh-penuhnya debu. Mungkin aku butuh kemoceng. Atau lap basah. Atau ..... seseorang? Tidak nyambung, kan? Kukira tidak selamanya kita perlu berusaha menyambung-nyambungkan. Mungkin hanya perlu ada? Cukup ada. Kukira itu dulu. Dan... urusan nanti... aku tidak tahu. “Dia mengetahui, sedang kamu tidak.” Sudah lazimnya seperti itu.

Hari ini tanpa siapa-siapa. Mungkin esok kita sudah sama-sama lupa. Mengingat dan melupakan layaknya bukan dua hal yang berbeda. Coba saja mengingat-ingat, akhirnya lupa juga. Sekeras mungkin mencoba lupa, yang ada malah semakin teringat-ingat. Hidup seperti itu memang bikin sakit kepala. Makanya, tidak usah hidup ....

seperti itu.

Hidup ini lucu sekaligus pedih. Orang-orang bisa tertawa semaunya, tapi juga bisa menangis sejadi-jadinya. Siapa ya, yang hatinya paling bolong karena luka?

Lima menit dalam biru, aku jadi tahu, kita hanya butuh menjadi perempuan dan laki-laki yang bahagia. Itu dulu. Jangan lupa. Berdoa. Dan menjadi.

Continue Reading...

Wednesday, 1 June 2016

Kuliah Kerja Nyantai

Logo 'TEAMBAKAU'


Saya mahasiswa. Eh, mahasiswi. Semester 6. Dan baru saja selesai KKN. Tapi bukan ‘Kuliah Kerja Nyata’, melainkan ‘Kuliah Kerja Nyantai’. Ehehehe.

Kenapa saya bilang ‘Kuliah Kerja Nyantai’? Karena memang kerjanya nyantai. Eh, bukan kerja sih. Pengabdian kepada masyarakat. Tapi KKN itu memang nyantai sih, namanya juga piknik. Iya, anggap aja piknik. Tidur di hotel, makan enak, pemandangan tempatnya bagus.

Serius KKN-nya gitu?

Ya nggak lah.

Aslinya, rumah yang saya dan teman-teman lain tempatin itu besar, enak, tapi suka bau kambing (terutama saat hujan) dan agak horor. Padahal ya, sejauh mata memandang, di rumah itu nggak ada kambing. Tapi kok bisa ya bau kambing? Apa mungkin sebenarnya itu bukan bau kambing, tapi bau teman-teman saya? Eh nggak ding, teman-teman saya lebih kepada bau serigala, ceunah si Porong mah. :p

For Your Info, KKN yang saya ikutin ini bukan KKN pada umumnya. Tahu lah apa maksud dari KKN pada umumnya. Mengabdi di tempat yang jauh dari jangkauan hati. Maksudnya..... Hmm... Maksudnya....

Oke. Maksudnya pelosok. Kayak rumahnya si Depi. Dih ngapain coba ya nyebut nama itu orang, nanti anaknya GR lagi. Tapi ya mau gimana, abis kalau inget pelosok ingetnya dia sih. Dasar pelosok.

Iya. Jadi.... Nggak kayak tempat-tempat KKN yang biasanya pelosok itu .. Alias susah transport, jarang ada WC, airnya jelek, nggak ada sinyal, dan sebagainya. Emang sih, nggak semua tempat pengabdian kayak gitu. Ada aja yang memang lebih beruntung, nggak segitunya. Nah, lokasi KKN kami ini sangat terjangkau. Nggak susah transport, air bersih, dan.... Deket sama kampus!

“Anjir. Lo KKN apa lagi maen? Masa disitu.”

“Dih parah, itu mah bukan KKN namanya.”

“Sumpah curang, enak bangeeeeeet.”

Dan sebagainya, dan sebagainya. Itu komentar teman-teman saya waktu saya menyebutkan lokasi saya KKN. Itu yang sebenarnya bikin saya males jawab kalau ditanya tempat KKN nya di mana. Karena pasti pada jawab begitu.

Makanya kalau ada yang nanya lagi, “Hepi, katanya lagi KKN ya? KKN di mana? Nanti mau mampir ke sana nih.”

Saya jawab aja, “Hmm.... #&*%$gafahf@^\kg”

Artinya: Ada deh.


KKN yang saya ikutin ini secara non formal bisa disebut dengan KKN Dosen. Artinya, KKN ini sebenarnya adalah project dosen (yang menjadi pembimbing), tapi yang menjalankan projectnya adalah mahasiswa. Kalau secara formal disebut dengan KKN-PPM.

Sebentar, saya nyontek dulu kepanjangannya ya.

Oh. Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat. Tapi bukan yang dari Kemenpora, melainkan dari Dikti. Jadi waktu itu saya mendaftar alasannya karena yang saya dengar kalau KKN nya cuma di weekend dan (katanya) dapet dana. Okelah gapapa saya gak punya hari libur (karena memang Senin-Jumat kuliah, sedangkan KKN Jumat-Minggu) yang penting nggak keluar biaya. Itu sih yang awalnya saya pikirkan. Karena memang kalau ikut KKN Tematik pasti keluar banyak biaya, yang artinya tabungan saya nggak akan cukup buat bayar KKN Tematik + UKT semester 7 nanti. Jadi saya membulatkan tekad untuk daftar KKN ini. Meskipun pada kenyataannya tetep wae ngeluarkeun duit. Meski nggak sebanyak yang teman-teman saya keluarin waktu KKM Mandiri sih. Ya tau sendiri lah gimana susahnya nunggu turun dana. Sampai sekarang aja belum turun semua dana yang dijanjikan. Ya, mudah-mudahan aja segera turun lah. Lumayan.

Maka jadilah dengan 36 mahasiswa. Kami mendapat tugas untuk menjalankan sebuah project yang juga menjadi program kerja utama kami, yang bertema “Pemberdayaan dan Pendidikan Anak Jalanan Usia Produktif (PANJAL-UP) Melalui Pelatihan Teknologi Sablon Kaos “Distro–BDK (Badak-Baduy-Krakatau) Untuk Membangun Kelompok Wirausaha Mandiri Berkelanjutan dan Solusi Problematika Anak Terlantar di Kota Seragon (Serang-Rangkasbitung-Cilegon)”

Panjang yak.

Nah, kenapa kami bisa mengambil lokasi yang dekat dengan kampus? Karena di kertas yang tertera hanya menyebutkan lokasi sebatas ‘Kota Serang’, tidak disebutkan tempat tujuannya. Yang ternyata setelah mencari tahu, kami memang dibebaskan mencari sendiri tempatnya. Jadi yasudah, nemu rumah yang cocok. Di sanalah kemudian kami bermukim setiap hari Jumat-Minggu.

Segampang itu? Tentu saja nggak.

Pertama, rumah yang ‘awalnya’ akan kami tempati itu ternyata bermasalah. Bukan rumahnya sih yang bermasalah, tapi mbak-mbaknya. Masa di sana kita Cuma boleh numpang tidur. Kamar yang ditempatin Cuma satu Nggak boleh ke dapur, nggak boleh ke kamar mandi. Padahal katanya awalnya oke-oke aja. Emang sih murah, tapi ya nggak gitu-gitu juga. Tapi yaa apa boleh buat kami memutuskan untuk pindah.

Akhirnya barang-barang yang udah ditaro di rumah sana dipindah setelah kita dapet rumah baru. Rumah kosong. Tanpa dihuni dua tahun. Karena kepala keluarganya meninggal. Wadidaw.

Tapi nggak sih, nggak horor. Cuma sedikit. Dan ini juga mungkin cuma saya dan satu teman lelaki saya yang menyadarinya. Kolam kamar mandi sebelah kanan selalu kosong kalau didatengin lagi. Padahal pas ditinggal penuh. Yang di sebelah aja penuh. Saya menyadarinya waktu saya ada di kamar mandi itu. Sampai-sampai saya nggak jadi ngapa-ngapain di kamar mandi, malah bengong. Terus nyari lubang ke sekitar kolam. Masa iya bocor? Dan memang nggak ada lubang. Akhirnya saya malah langsung lari keluar dari kamar mandi itu. Bego. Haha.

Tapi nggak tahu sih, firasat saya aja kali ya itu mah.

Kedua, kumpul fullteam 36 orang? Mustahil. Setengahnya aja udah syukur. Dari pembukaan bahkan sampai penutupan belum pernah kumpul fullteam sama sekali. Malah ada satu orang yang nggak pernah dateng. Padahal di grup line ada. Serius deh. Aneh ya? KKN macam apa ini -_-

Ketiga, super wacana. Ini yang jadi masalah. Karena tempat KKN nya dekat kampus. Yang artinya nggak jauh-jauh banget dari kosan masing-masing (buat yang ngekos. Buat yang nggak ya mamam lu). Pada pulang-pulangan mulu. Mau mandi, pulang. Mau tidur, pulang. Mau poop doang aja pulang. Masalahnya saya nggak bisa kayak gitu. Habis waktu dan biaya men. Jarak dari kampus ke rumah saya itu butuh satu jam, pulang-pergi 20 ribu. Bayangin aje. Jadi mau nggak mau, yang tinggal di daerah Cilegon ya ngurung wae di basecamp. Sampai waktunya pulang. Nah yang pada pulang-pulangan ini. Janji balik lagi jam 10 pagi. Jam 12 sama sekali belum ada yang dateng. Janji rapat jam 7 malem, jam 9 malem baru mulai. Dasar permen mentos.

Ya gitu lah pokona mah. Capek juga yak ngetiknya. Udahan lah. Seneng kok tapinya punya temen-temen baru. Nambah kenalan. Malah ada yang jadian juga kok. Bahahaha.

Makasih ya teman-teman TEAMBAKAU! Muah-muah dah semuanya.



Basecamp TEAMBAKAU
Bye basecamp~

Oh iya, by the way, proker kite masuk di Banten Headline. Klik deh.

Serang, 1 Juni 2016
Continue Reading...

Tweetvoria

Goodreads

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Happy has read 8 books toward her goal of 30 books.
hide