Sunday, 5 December 2010

Resensi 'Surat Kecil Untuk Tuhan'


Surat kecil untuk
Tuhan, surat terakhir gadis remaja penderita kanker ganas





Tuhan ..

Andai aku bisa kembali..

Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan ..

Andai aku bisa kembali

Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku ,terjadi pada siapapun.



Cuplikan itu menjadi sedikit bait
dari sebuah tulisan yang ditulis seorang remaja penderita kanker Rabdomiosarkoma
atau kanker jaringan lunak. Sebuah kanker ganas yang menyerang pada bagian wajah seorang gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika. Umurnya
masih 13 tahun saat dokter mengatakan kepada ayahnya bahwa putrinya hanya dapat
bertahan selama 5 hari bila tidak melakukan operasi segera.

Hati ayah mana yang tidak hancur ketika tau jalannya
operasi itu harus membuat sang putri kehilangan sebagian wajahnya. Sedangkan
sang putri mulai bertanya mengapa diwajahnya mulai tumbuh gumpalan sebesar buah
kelapa. Tak ingin melukai hati anaknya, sang ayah berserta keluarga
merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta
prestasi
model dan tarik suara. Namun perlahan
Keke mulai menyadari dirinya bukan sakit biasa, ia sadar hidupnya tak mungkin
akan bertahan lama dengan pandangan mata yang mulai buta oleh kanker.

Walau akhirnya ia tau ia terserang kanker ganas, ia
pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu
padanya. Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya
bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di
bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas
panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat.

Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil, Kebesaran
Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai
lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker yang baru
pertama kali terjadi pada putri Indonesia ini menjadi prestasi yang
membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta
kebahagiaan sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak
marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas
lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya. Dokter menyerah
terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil
kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran
hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini
terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Nafasnya telah berakhir 25 desember 2006 tepat
setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir
bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi.
This entry was posted in

3 comments:

  1. kayanya mantep tuuuh ceritanya,,,

    pinjam dung buku nya....

    ReplyDelete
  2. hep , pinjem buku nya . hehe :D

    ReplyDelete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^