Tuesday, 10 December 2013

Surat Pengantar Rindu

Teruntuk penghuni ruang belakang......


Apa kabar?
Fajar belum beranjak dari tempat persinggahan. Ia masih senang menyongsong pagi ini dengan lembut. Bagaimana denganmu? Masihkah berkutat dengan perjuangan?

Ini adalah Desember yang kaku bagiku. Jelas jauh artinya dengan banyaknya sesuatu yang kau dapat dan lakukan selama ini. Aku malu pada diriku. Aku juga malu jika nanti kita bertemu. Aku merasa seperti seekor semut yang sangat kecil. Sedang dirimu? Aku tahu kau akan dengan gagahnya tersipu. Karena semua mengagumimu....

Tapi aku tak mau melewati waktu yang tidak lama lagi akan datang menyapa. Melewati waktu yang sudah lama kutunggu rasanya hal yang bodoh. Hmm... Seharusnya, menunggumu datang adalah sebuah perasaan yang mestinya dapat terlewati. Hanya saja jalan ini terlalu susah untuk membuat aku menjadi alpa. Padahal sudah sekeras mungkin aku cuci imajiku agar setidaknya namamu tak sering  muncul disini. Tapi tetap saja wangimu masih terasa.
Sekeras-kerasnya aku mencoba membuat sesuatu itu biar pergi berlalu, sekeras itu juga syaitan membisikiku akan halnya dirimu. Huft, rasanya ini menyebalkan :(
Otakku terpaku pada yang seharusnya tak aku pikirkan.


Tapi aku ingin, ingin sekali melihatmu. Meski itu dari jarak yang sangat jauh.....
"Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya..... Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik." -- Tere Liye, novel 'Sunset Bersama Rosie'

Serang, 10 Desember 2013.
This entry was posted in

Monday, 2 December 2013

Nafas Malam



Nafas malam ini terikat pada sudut rindu yang sudah lama kutelaah. Larinya kemana, yang mengerti hanya udara yang bermain sebagai penghantar ikatan. Tapi tali itu putus, sudah sangat lama. Semenjak klise sudah sangat bertuan.

Suaraku menunggu, tergugu dalam keinginan menatap. Mungkin di suatu kota yang berjarak orang-orang mulai berlalu-lalang memutar kenangan. Mungkin juga ada yang sudah lupa. Lupa pada kilas wajah yang menunggu disini, terhimpit pada sesak dan pasrah. Bisa jadi.

Serang, 02 Desember 2013; 21:48
This entry was posted in

Sunday, 1 December 2013

Antologi: AYAH; Dalam Memoriku #1

Antologi bersama keenam.


Cover: AYAH; Dalam Memoriku #1

Spesifikasi Buku:

Judul: AYAH; Dalam Memoriku #1
Penulis: Ocha Thalib, Risty Arvel, Reeva Thalib, Nenny Makmun, dkk
Penyuting: Risty Arvel dan Kinanthi Laras
Ilustrasi Sampul: 3.bp.blogspot.com
Pewajah Sampul: de A media kreatif
Penata Letak Isi: de A media kreatif
ISBN: 978-602-1203-06-4

Kontributor Lain:

Ukhti Nabilah Hurin | Qomariyah Cietie | Diantie NR | Santi Sumiati | Dyah ISRaharjo Puput Tryas Sulistyaningrum | Radytha Puzpha | Abdul Latif | Hanum Wahyu Wibisono Iin Mutmainnah | Ruth Nirmala Giardani | Putri Ayu Wulansari | Siti Fatonah | Annisa Reefa Wulandari | Joy Suryana | Marseli Junita | Kurnia Mahmud | Rela Sabtiana | Joeya | Winda Rahma | Citra Ardliati | Ma'aridjul Qudsiyah | Irna Novia Damayanti | Adjie TS Baruwati | Dian Rahmawati | Ihdina Sabili | Azzura Grasia | Aditha Didiet Prawatyo | Dita Ayu Maharani | Aifia A. Rahmah | Istiana Manek | Rosiana Febriyanti | Bilqis Anisah | Evi Sudarwanto | Zulfa Az-zahra | Ivo Ardianti | Khanza Aliffia SP | Asni. A.S | Meti Topyah | Happy Hawra | Anisa Sholihat | Novy Noorhayati Syahfida | Sheevie Shenobu.


01-12-2013

Friday, 15 November 2013

Tertawalah

Semisal duri atas telahnya rapuh
Ketika yang dulu adalah batas sesakan
Sakit itu kita yang rasa
Bukan berdiri atas nama lain

Mungkin siang bisa tertawa
Melihat si pejalan semakin terengah
Entah menurunkan kemauan
Atau benar-benar beralih tujuan

Tertawalah
Sepertinya mimpi bukan lagi singgasana
Untuk aku
Untuk takdirku

This entry was posted in

Wednesday, 23 October 2013

A Long Visit




Ini film Korea tentang mama dan anak yang bikin aku sesak nafas setelah Wedding Dress :'(
***

Saat aku kecil, aku cerewet. Orang-orang menyarankanku untuk menjadi pemandu wisata. Aku besar di daerah pedesaan. Seperti itulah kampung halamanku.

Kakak perempuanku meninggal di usia 2 tahun sebelum aku lahir. Apakah karena kematiannya? Ibuku selalu menjagaku dan menyayangiku.

Namanya Ji Suk. Ji Suk itu perempuan, dia punya satu adik laki-laki. Ayahnya seorang sopir bus, tapi Ayahnya punya sedikit cacat di kaki.

Suatu hari, Ji Suk dan Ibunya pergi ke pasar. Setiap beli sesuatu, Ibunya selalu maksa ke penjual buat nurunin harga 10 sen dari harga asli. Tetep maksa walaupun penjual gak mau ngasih. Ji Suk sebel terus nanya ke Ibunya
"Ibu, jangan melakukan itu. Itu memalukan. Apa yang ingin Ibu lakukan dengan menabung 10 sen?"
"Apa yang memalukan? Tidak ada yang dipermalukan. Kalau bodoh, baru seharusnya malu" kata Ibunya.
"Ibu menyebalkan" Ibunya cuma bales ketawa.

Ayah Ji Suk pulang ke rumah. Ibunya bawain air hangat buat Ayahnya, tapi Ayahnya marah dan bilang kalo air ini dingin. Setelah itu, Ayahnya mukulin Ibunya. Ji Suk sama adiknya cuma bisa nangis.
Ibunya bilang ke Ji Suk waktu mau makan, "Ibu tak apa-apa, makan saja. Kalian harus makan biar kuat".
Tangisan Ji Suk malah makin kenceng, dan Ji Suk pun lari.

Ji Suk nemuin Mijeong, temennya. Terus ngobrol sambil nangis, "Mijeong, aku benci rumahku. Aku benci Ayah dan Ibu. Aku ingin kuliah di Seoul dan hidup bebas. Aku tidak ingin menikah"
***

Di sekolah ada pertemuan Guru sama Ibu dari siswanya. Ji Suk ngeliat dari jendela Ibunya dateng dan mau ke kelas. Ji Suk keluar nyamperin Ibunya.
"Kenapa Ibu datang? Sudah ku bilang Ibu tak perlu datang"
"Sebenarnya Ibu tak mau datang. Tapi Ibu tidak ingin kau dianggap tidak punya Ibu. Kau tahu, Ibu tidak bisa membiarkan hal itu" Ibunya semangat.
"Ibu datang dengan pakaian seperti itu? Ibu mempermalukan aku! Apa yang Ibu tahu?" 
"Kau malu? Ya. Kau benar. Ibu rasa kau akan malu. Kenapa Ibu tak memikirkan sampai kesitu? Ibu juga akan malu jika Ibu mempunyai Ibu seperti ini. Sepertinya memang tidak apa-apa karena tidak ada orang yang melihat."
Ibunya nahan nangis, terus pulang. Ji Suk nya jahat T_T

Ibuku bangga kepadaku. Tapi aku malu kepadanya dan bahkan tidak memperbolehkan Ibu datang ke Sekolah.
***

Suatu malem, Ji Suk liat Ibunya lagi dipukulin sama Ayahnya. Ji Suk ngebanting sesuatu yang bikin Ibu dan Ayahnya keluar. Sambil nangis, Ji Suk teriak sama Ayahnya.
"Bunuh saja. Jangan membuat Ibu mati secara perlahan. Bunuh saja sekarang!"
Ji Suk pergi dan Ibunya ngejar. Kemudian Ji Suk dan Ibunya duduk berdua.
"Apa yang kau lakukan disini? Di luar dingin"
"Jangan tinggal dengan Ayah" kata Ji Suk. " Mengapa Ibu mengalah sepanjang waktu? Ibu tidak melakukan sesuatu yang salah"
"Bukan seperti itu. Ibu kasihan pada Ayah"
"Apa dengan mengalah akan membuat Ayah semangat bekerja?".
"Apa kau suka jika Ibu bercerai dengan Ayah?"
"Cerai saja atau pergi ke Seoul!"
"Ibu sudah memikirkan hal itu"
"Jadi, mengapa tidak?"
"Karena kamu."
"Karena aku?"
"Jika Ibu tidak ada disini, kamu pasti akan lelah. Kamu harus memasak, bersih-bersih, dan merawat adikmu. Bahkan kamu tidak bisa pergi ke Sekolah. Ibu tidak bisa membiarkanmu hidup seperti itu walaupun Ibu akan sering dipukuli. Seorang Ibu harus melakukan sedikit pengorbanan."
Ji Suk merhatiin Ibunya sambil nangis. Subhanallah banget Ibunya :'(
"Ibu benar-benar menyebalkan"
"Jangan menangis. Alasan Ibu hidup adalah dirimu"

Ibu menyerahkan hidupnya dan dipukuli karena aku, anaknya. Aku menjadi lebih perhatian kepada Ibuku sejak hari itu.
***

"Kenapa dia ingin kuliah di Universitas yang belum pernah kudengar namanya? Dia bisa cari disini." tanya Ayahnya ke Ibunya Ji Suk.
"Orang-orang yang tidak menyekolahkan anak-anak mereka akan menikahkan mereka. Tapi perempuan juga bisa mencari uang sekarang. Universitas yang dia inginkan bukan Universitas biasa" (Hmm... T_T)

Setelah itu adiknya bilang ke Ibunya kalo kakaknya, Ji Suk dapet beasiswa ke Universitas di Seoul. Ibunya seneng, teriak. Ayahnya juga diem-diem seneng :)
Ibunya bangga banget sama Ji Suk.

Tiba waktunya dimana Ji Suk memulai perjalanan merantau ke Seoul. Ibu, Ayah, sama adiknya Ji Suk ikut mengantarkan Ji Suk ke stasiun. Sebelum naik kereta, Ibunya bilang sesuatu ke Ji Suk.
"Kau akan meninggalkan Ibu sekarang"
"Aku akan sering pulang" jawab Ji Suk.
"Jika kamu dapat pekerjaan dan menikah, tinggallah di rumah Ibu, jangan rumah sendiri"
"Sudahlah. Aku pergi sekolah, bukan menikah"
Ji Suk siap-siap masuk ke dalam kereta.
"Bu, kok tasnya berat sekali"
"Ibu mengemas semua yang kau butuhkan. Maaf kalau jadi berat"

Ji Suk akhirnya masuk ke dalem kereta. Kereta jalan, Ibunya melambaikan tangan sambil ikut berjalan. Kayaknya belum rela ditinggal sama Ji Suk :')
Di dalem kereta, Ji Suk membuka tasnya dan melihat apa saja yang dibawakan oleh Ibunya. Ji Suk terharu melihat di dalamnya terdapat banyak makanan kesukaannya dan beberapa bungkus plastik yang berisi uang. Setelah itu, Ji Suk menemukan surat di dalam tasnya, kemudian membukanya dan membaca isi surat tersebut.

Anakku, Ji Suk. Ada begitu banyak yang ingin Ibu katakan, tapi Ibu tidak tahu bagaimana memulainya.
Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi Ibu sangat bangga padamu. Kamu telah pergi ke Seoul, Ibu sangat khawatir. Apa kamu makan dengan baik? Apa kamu akan sakit? Ibu percaya padamu, jadi  Ibu harus membiarkanmu pergi sekarang.
Mungkin tidak banyak, tapi Ibu menabungnya untukmu. Jika Ibu harus membeli tauge senilai 20 sen, Ibu hanya membeli senilai 10 sen. Saat Ibu membeli tahu, Ibu hanya membeli setengah blok. Maafkan Ibu tidak memberi lebih banyak.
Ibu sedih anak perempuan Ibu harus pergi. Maafkan Ibu.

Ji Suk nangis bacanya. Aku juga :'(

Ini adalah pertama kalinya aku berada jauh dari Ibu. Sebelumnya aku takut dan sering menelpon Ibu. Tapi setelah beberapa saat, aku mulai beradaptasi untuk tinggal di Seoul.
***

Suatu malem Ji Suk nelpon Ibunya.
"Hallo Ibu"
"Kenapa kau belum tidur?"
"Aku memikirkan Ibu"
"Kau tidak bisa tidur? Ada apa? Apa Ibu harus menyanyikan lagu nina bobo?"
"Ya"
Kemudian Ibunya nyanyi di dalam telpon.

Suara Ibu sungguh merdu. Apa dulu Ibu ingin menjadi seorang penyanyi? Seseorang yang tak punya hal untuk dilakukan atau ditunjukkan pasti sangat kesepian. Aku ingin menjadi anak yang membanggakan bagi Ibuku.
***

Ji Suk punya pacar. Dan dia akan menghadiri pertemuan keluarga. Ayah dan Ibu Ji Suk dateng ke Seoul.
"Bagus tidak? Dulu ini pakaian mahal" kata Ibunya ke Jisuk sembari memamerkan baju yang dipakainya.
"Bagus"
"Ini pertemuan pertama keluarga kita. Ayahmu membelikan ini untuk Ibu. Katanya Ibu kelihatan cantik."

Setelah itu berkumpullah keluarga Ji Suk dan keluarga pacarnya.
"Aku tak menyukainya" kata Ibu pacarnya Ji Suk.
"Begini.. Mengapa kau tak menyukai anakku?" tanya Ibu Ji Suk.
"Tidak ada satu hal pun yang membuatku menyukainya"
"Kau tak boleh berkata seperti itu kepada anak orang lain. Apa kau pikir kami datang kemari karena menyukai anakmu? jawab Ibu Ji Suk.
"Kalau begitu lupakan saja"
"Kita tidak bisa apa-apa. Mereka yang sedang saling mencintai"
"Aku tidak mengkuliahkan anakku untuk menikah dengan menantu seperti dia"
"Anakku juga kuliah"
"Dia sekolah 2 tahun di Universitas biasa. Tapi anakku kuliah selama 4 tahun di USA"
"Anakmu kuliah ke luar negeri karena orang tuanya kaya. Anakku harus bekerja sambilan selama kuliah. Dia bahkan hanya punya sepasang celana jeans. Anak lainnya setelah lulus SMA langsung menikah dengan modal orangtuanya. Anakku kuliah selama 2 tahun dan menjadi tulang punggung keluarga. Ini sangat menyakitkan bila aku ingat hal ini"
"Itulah mengapa aku menentangnya. Tak mudah menjadi menantu dari keluarga miskin. Bodoh sekali dia" (songong banget nih!)
"Baik. Aku juga tak sudi orang bodoh menjadi menantuku. Lupakan pernikahan ini"

Ji Suk beserta Ibu dan Ayahnya keluar. Sambil jalan, Ibunya menyobek baju yang dipakainya. Sedih deh liatnya.....

"Sudahlah, Ibu membuatku sedih. Aku tak akan menikah dengannya"
"Ibu hidup karena kamu, tapi Ibu membuatmu sedih. Maafkan Ibu"

Malamnya, dalam keadaan hujan, Ibu Ji Suk dateng ke rumah pacarnya Ji Suk dan menemui Ibunya.
"Untuk apa kemari? Tak ada lagi alasan untuk kita bertemu"
"Aku rasa aku salah kemarin. Sejujurnya... Itu karena kebodohanku. Aku memang bodoh. Tapi anakku tidak. Dia tidak sepertiku. Sangat menyakitkan bila melihat dia amat menderita karena orang tuanya. Sekarang dia tidak bisa menikahi pria yang dia cintai karena orangtuanya. Aku sangat kecewa dengan Ibuku. Dia seharusnya menyekolahkanku. Kenapa dia tidak menyekolahkanku? Maafkan aku. Apa yang harus kukatakan kepadamu agar kau tak marah lagi? Maafkan aku..."
Bikin banjir sedih banget :'(

Aku akhirnya menikah tahun itu.
***

Ji Suk pun akhirnya punya anak. Setelah liat anaknya yang baru lahir, Ji Suk bilang sesuatu sama Ibunya.
"Ibu, apa rasanya sesusah ini ketika Ibu melahirkan aku? Aku akan menjadi anak yang baik sekarang"
"Ibu rasa kau sudah dewasa sekarang setelah kau punya anak.
***

Beberapa tahun kemudian, Ayahnya Ji Suk meninggal.

Aku kira aku tidak menyukai Ayahku. Aku kira aku membenci Ayahku. Aku kira aku tidak mempunyai kenangan tentang dia dan aku tak merindukannya.
***

Kapanpun aku sedang susah, Ibu selalu menghiburku. Jika aku menangis, Ibu menangis lebih dariku. Saat aku sedang sedih, hatinya pasti ikut sedih. Itulah seorang Ibu.
***

Suatu hari, Ji Suk mengunjungi Ibunya sendirian ke rumah Ibunya di desa dan menginap lama disana.
Ji Suk juga nemuin Mijeong, teman lamanya lalu ngobrol di tempat biasa.
"Tak ada yang berubah disini" kata Ji Suk kepada Mijeong.
"Daerah pedesaan susah untuk berubah. Kita yang berubah. Kelihatannya kau tak sehat?."
"Mijeong. Aku sibuk beberapa waktu kedepan. Seringlah menjenguk Ibuku. Ayah sudah meninggal dan aku jarang pulang"
Mijeong mengangguk "Iya. Ibumu seperti Ibuku"
***

Ji Suk masih menginap di rumah Ibunya. Ia menghabiskan waktu bersama Ibunya setiap hari.

"Bu, maaf kalau kemarin aku menyebalkan."
"Mengapa kau berkata seperti itu? Ada apa? Seorang Ibu tahu segalanya. Seorang Ibu tahu ketika anaknya sedih"
"Katanya tahu segalanya kenapa malah tanya"
"Kau menderita karena ada yang tak beres. Katakan"

Suatu hari Ibunya bertanya kepada suami Ji Suk lewat telepon. "Jun Su, ini Ibu"
"Ibu, ada apa?"
"Kau habis bertengkar dengan Ji Suk?"
"Tentu saja tidak"
"Terus kenapa dia datang sendiri? Tingkahnya aneh. Kau pasti tahu ada apa. Katakan"
"Dia tak bertingkah aneh, dia hanya kangen dengan Ibu. Makanya dia pulang" kata Suami Ji Suk sambil nahan nangis.
"Kenapa suaramu? Ada apa?"
"Tidak Bu, tidak ada apa-apa"
"Ini membingungkan, katakan sekarang"
"Ji Suk menyuruhku merahasiakannya. Ibu, Ji Suk sedang sakit"
"Dia harus ke RS. Kenapa malah kemari? Sudah kuduga, dia jadi kurus. Ibu akan mengantarnya ke RS besok"
"Ibu, dia sudah ke RS. Dia terkena kanker pankreas stadium akhir. Aku tak bisa hidup tanpa dirinya, apa yang harus kulakukan?" Jun Su nangis.
Ibunya kaget. Diem sambil terisak.

Bedanya sama Wedding Dress, kalo di WD Ibunya yang kena kanker. Tapi kalo disini, anaknya yang kena kanker. Tapi sama-sama sakit :'(

Ibunya masuk ke dalam kamar. Memijati kaki Ji Suk.
"Apa kau akan pulang lebih awal besok? Bisakah tinggal disini lebih lama?"
"Aku harus merawat anakku." Ibunya nangis.
"Kapan ya aku bisa datang lagi?"
"Kau bisa kesini bulan depan, jangan berkata seperti itu. Kau bisa kesini bulan depan dan bulan berikutnya"
Ji Suk bingung mendengar perkataan Ibunya.
"Tak ada yang bisa mengambilmu dariku. Tak ada yang akan mengambil anakku selama aku masih hidup." Ibunya nangis.
"Anakku, jangan khawatir. Ada Ibu. Ibu disini, Ibu ada disini. Akan ku lindungi anakku. Ibu akan melindungimu"
Ji Suk mengeluarkan air matanya T_T "Ibu...."

"Oh Tuhan, aku tak bisa hidup seperti ini. Aku tak bisa hidup tanpanya. Ambil aku juga. Aku tak bisa hidup tanpa anakku."
Ji Suk nangis kenceng. "Ibu... Maafkan aku"
"Kenapa kau harus meminta maaf?"
"Banyak. Karena tidak menurut. Karena membuat Ibu kesepian. Karena mengecewakan Ibu. Karena menutup telepon lebih dulu"
"Anakku jangan seperti itu. Tidak perlu  minta maaf. Maafkan Ibu..."

Sedih bangeeeeeet :'( :'(

Besoknya, Ibunya mengantar Ji Suk ke stasiun.
"Bu, aku harus berangkat. Aku harus bersama Hye Yeong (anaknya). Aku sudah menjenguk Ibu"
"Anakku, jangan khawatir. Kau tak akan pergi duluan. Ibu tahu segalanya tentangmu. Kau taka kan pergi duluan, jadi jangan takut. Ibu akan melindungimu. Ibu akan melakukan apa saja meski harus ke ujung dunia. Pergilah..Ibu tidak akan menangis jika tak terjadi apa-apa, jadi kau jagan menangis"
Ji Suk masuk ke dalem kereta. Ji Suk nangis, Ibu Ji Suk nangis. Aku juga nangis... :'(

Sedih banget pokoknya. Rasanya udah kayak pertemuan terakhir :'(
***

Dan emang bener seperti pertemuan terakhir. Setelah itu Ji Suk meninggal.
"Nenek, aku kangen Ibu. Kapan Ibu pulang?" kata Hye Yeong.
"Akan kuberitahu Ibumu kalau kau kangen. Jadi anak baik, ya?" Hye Yeong mengangguk.
***

Anakku, Ibu masih terus hidup. Meski Ibu telah mengantarmu pergi. Hari-hari telah berlalu. Semakin dekat bertemu denganmu. Seharusnya Ibu cepat menyusulmu dan berbicara denganmu agar kau tak kesepian.
Ibu sungguh bodoh. Ibu tidak bisa tidur karena khawatir. Ibu tak bisa bertemu denganmu meski sudah mati.

Anakku, jika kau mendengar kematianku, jangan biarkan aku tersesat. Kau harus mencariku.
Anakku, apa kau tahu? Hal terbaik yang pernah aku lakukan dalam hidupku adalah melahirkanmu. Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah juga melahirkanmu. Maafkan Ibu berkata seperti ini. Tapi jadilah anakku lagi di kehidupan mendatang.
Ibu menyayangimu, putriku....

:'( :'( :'(
***

Serang, 23 Oktober 2013. 21:16
*nangis*


This entry was posted in

Tuesday, 22 October 2013

Belajar Bahasa, Belajar Ingat Dosa

Ini kayaknya ekstrim banget ya judulnya hahaha. Gak apa-apa, biar serem-serem lucu :D
***

Kemarin sore, Serang ramai dengan hujannya. Mobil sama motor pun kayak berenang di air :v
Dan kemarin, hujan membasahiku dalam perjalanan menuju kampus *_*
Pake jas hujan tetep aja basah, sepatu aku aja udah berasa abis kejebur @_@
Eh pas nyampe kelas, hanya ada beberapa orang dan dosen yang udah dateng. Padahal aku udah bela-belain menerjang ombak #lebay ~_~
(Ini kenapa tulisannya banyak emot haha)

Kemarin sore ada mata kuliah B. Indonesia. Aku baru liat dosen B. Indonesia ngejelasinnya sampe ga nafas gitu, cepet banget. Aku malah cengo bukannya dengerin. Maklum, katanya lagi ngejar bahan UTS yang diundur heuheuheu.
Setelah itu kita disuruh ngerjain soal. La la la la... Ceritanya udah selese. Temen-temen aku juga udah banyak yang beres. Terus aku ke depan, ngasih buku buat dapet nilai dari dosen. Entahlah, sore itu aku berasa jadi anak SD yang minta-minta nilai hoho.
Ketika aku udah ngasih tugasnya ke dosen dan nunggu, ada satu temen yang nyeletuk,
"Kayaknya kalo penulis mah dapet cepe deh, harus dapet cepe"
"Hah?" aku kaget karena tiba-tiba ada yang ngajak ngomong di samping haha.
Tapi setelah itu aku ngeh dan jawab, "Penulis jadi-jadian. Jangan gitu.. Tadi pagi aja aku baru dapet kritikan EYD dari pembaca blog. Serius :|" dan setelah itu dia cuma nyengir. Aku ikutan nyengir.

Dan ternyata nilaiku emang gak sesempurna yang aku harapkan. Aku sedikit kecewa gara-gara satu soal yang bikin aku mikir (padahal semuanya juga mikir haha).
Harus banyak belajar nih, jangan cuma nulis tanpa dosa mulu heuheu............


Serang, 22 Oktober 2013. 4:07
Menulis dalam pagi setelah mengerjakan makalah Pancasila

This entry was posted in

Monday, 21 October 2013

Aku Cemburu

Aku cemburu, pada mereka yang hari ini berkutat dengan kesibukannya.
Aku cemburu, pada mereka yang saat ini mengumbar aura bahagianya.
Aku pun cemburu atas pengalaman baru yang mereka anggap sebagai keajaiban.

Sebenarnya aku cemburu, mendapati setiap cerita menarik yang mereka lontarkan.
Bisa menyibukkan diri sehingga aku pun tak dapat mereka dengar.
Lalu siapa yang dapat melihatku? Apa aku harus merusak kebahagiaan mereka dengan semua keluhku?
Aku yang tak mau.

Aku cemburu, mengapa aku terus berdiri disini. Terpaku di tempat yang sudah sangat ku hafal. Maka apa yang dapat aku kisahkan?

Aku cemburu, menjadi sosok yang diam sebagai pengamat. Sedang mereka mulai beranjak menggeluti hal-hal yang menyenangkan.

Aku cemburu pada mereka yang kini sudah berubah, sudah berbeda, sudah semakin menjadi manusia.


Sedang aku..

Masih disini, sempat menulis apa yang aku cemburukan.


Aku cemburu. Sungguh....


Serang, 21 Oktober 2013. 13:42
Menulis sebelum bertemu kuliah sore

This entry was posted in

Saturday, 19 October 2013

Kepada Cinta

Kepada Engkau
Satu setengah tahun lalu yang menghempas nafas
Menjadi debar tiap waktu aku berjalan
Melihat dan menatap lamat
Punggungmu yang berlalu dengan ratapan yang entah apa
                                
Ketika dada menggumam sebuah nama
Mengapa namamu yang harus aku tera?
Mengapa hujan tak turun dan buat aku merasa
Siapa dia, siapa aku adanya

Lalu ia?
Tahukah setiap perahu yang aku muarakan
Sadarkah setiap suara yang aku rindukan
Dan ingatkah
Jika masa pernah menaruh kita kepada ruang yang sama
Mengembalikan kita pada waktu yang tak terduga

Saat masa mengubah dewasa
Semoga saja aku menjadi sanggup
Menunggu insan yang masih kueja
Dalam doa merapal namanya

19 Oktober 2013
"Diikutsertakan dalam Lomba Puisi Cinta"
This entry was posted in

Monday, 14 October 2013

Jang Geum: "Memilih Hidup Senang Ternyata Sangat Berat"

Ketika Dayang Han dan Jang Geum sedang berbicara di ruangan, tiba-tiba Dayang Jung datang bersama dengan Yeong San. Lalu keempatnya duduk. Dayang Jung berhadapan dengan Dayang Han, sedangkan Jang Geum dan Yeong San keduanya duduk disamping mereka (Dayang).

Dayang Jung: (bertanya kepada Dayang Han) "Apakah kau tak suka jika aku menjadi dayang utama kerajaan? Mengapa kau tak datang menemuiku untuk mengucapkan selamat?"

Dayang Han: "Bukan begitu, Nyonya. Maafkan aku, aku memang sengaja melakukannya"

Dayang Jung: "Mengapa begitu?"

Dayang Han: "Maaf Nyonya, aku hanya merasa kau tak seharusnya berada di posisi itu"

Dayang Jung: "Kau ini, mengapa mengatakan hal yang begitu menyakitkan kepada aku yang baru diangkat menjadi dayang utama" (Sambil tertawa)

Dayang Han: "Posisi itu akan terasa melelahkan bagimu, Nyonya. Aku mengetahui kebiasaanmu melebihi siapapun yang mengenalmu"

Dayang Jung: (Bertanya kepada Dayang Han) "Lalu menurutmu apakah aku ini harus hidup susah atau senang?" (Tersenyum)

Dayang Han: (Diam)

Dayang Jung: (Bertanya kepada Yeong-San) "Bagaimana menurutmu?"

Yeong-San: "Kau harus hidup dengan senang, Nyonya" (Tersenyum manis)

Dayang Jung: (Menatap Jang Geum dan bertanya hal yang sama)

Jang Geum: "Hmm.. Kau harus menjalani hidup seperti apa yang kau suka. Aku pernah memilih untuk hidup senang.... tapi ternyata sangat berat :(" (Suara merendah dengan gaya khas anak-anak yang lucu)

Dayang Jung: "Hahahaha... Kau ini benar-benar sangat lucu"

Dayang Jung, Dayang Han, Yeong San dan Jang Geum semuanya tertawa bersama


*Hmm iseng... efek menonton kembali drama masa kecil. Jewel In The Palace :)


Serang, 14 Oktober 2013. Malam Idul Adha. 19:49
This entry was posted in

Saturday, 5 October 2013

AUDISI MENULS "CINTA TERPENDAM"-DL 9 Oktober 2013

Banyak yang bilang jatuh cinta berjuta rasanya, apalagi jatuh cinta untuk pertama kali. Saat kedua mata bertemu, saat harapanku ada padanya, saat keindahan duniawi terpancar alamiah, saat itu pula aku hanya bisa memendam rasa. Bukan karna aku tak mampu menggapai, tapi ada seseorang yang sedang menggenggam erat tangannya. Atau kepribadiannya yang terlalu sempurna yang tak mungkin kumiliki. Atau mungkin ada alasan tertentu lainnya.
Mozaiker pernah mengalami hal serupa? Jangan hanya menjadi pengagum, memandangnya dengan jarak 2 meter sudah membuat bahagia. Ini saatnya Mozaiker membuat event untuk kalian. Tuangkan semua ide gilamu tentang cinta terpendam dalam sebuah tulisan.

SYARAT &KETENTUAN:
1.      Lomba terbuka untuk umum.
2.      Wajib me-Like fanpage MozaikIndie Publishermeng-add FB Mozaik Indie Publisher dan  Nova Pjn (https://www.facebook.com/nova.blank) sebagai PJ event.
3.      Peserta wajib menyebarluaskan info lomba ini dengan cara meng-copy-paste di catatan FB masing-masing. Tag 20teman FB termasuk FB  Mozaik IndiePublisher dan  Nova Pjn (sebagai buktitelah mendaftar event ini).
Jikalewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format:#AudisiCintaTerpendam[linkblogmu] mention: @MozaikIndie dan minim 5 orang temanmu.

4.      Kisah nyata yang belum pernah dipublikasikan, bisa kisah sendiri (sudut pandang orang pertama, aku atau saya) atau menceritakan orang lain dengan sudut pandang orangketiga (dia), nama orangnya boleh disamarkan. Jika yang ditulis adalah kisah orang lain maka harus ada keterangan dari orang yang bersangkutan bahwa itu adalah kisah nyata.

5.      Tiap peserta hanya boleh mengirimkan masing-masing 1 naskah terbaiknya.
6.      Ditulis di kertas A4, Font; Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 1,5, margin 3333(cm),  tidak mengandung SARA dan Pornografi.
7.      Panjang naskah 6-8 halaman, dan harus menyertakan biodata narasi maksimal 100 kata diakhir naskah.
8.      Kirimnaskah kamu ke email audisicintaterpendam@yahoo.com dengan ketentuan subject dan nama file sbb : CT_nama penulis_judul naskah. Contoh :CP_Merry Januarti_Kusentuh dalam mimpimu. Semua berkas dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
9.      Update peserta bisa dilihat di catatan FB Nova Pjn yang akan dilakukan 1 minggusekali.
10.  Lomba dimulai hari ini 9 September 2013 dengan deadline 9 Oktober 2013. Pengumuman peserta yang lolos menyusul tergantung kondisi dan banyaknya naskah yang masuk.
REWARD
-20 naskah yang lolos akan dibukukan di MozaikIndie Publisher.
Jika kualitas naskah sangat menjual, akan kami coba ajukan dulu ke penerbit mayor.
- 2 naskah terbaik berhak mendapat 1 bukti buku terbit dan sovenir cantik dari PJ.
- Semua penulis kontributor terpilih mendapatkan royalti berupa potongan harga 15% per buku yang dapat dipesan melalui Mozaik Indie Publisher .Sehingga semakin banyak buku yang kamu jual sebanyak itu pula royalti yang kamu peroleh. Kita sama-sama bisa mempromosikan bukunya dan menjualnya.
Nah, tunggu apalagi. Jika ada hal yang kurang jelas dan ingin ditanyakan, harap ajukan pertanyaan di kolom komentar atau bisa juga menghubungi PJ event.


Salam Pena



Mozaik dan NovaPjn
This entry was posted in

Wednesday, 25 September 2013

Seulas Senyum

25 September 2013..




Aku rindu pada senyum pagi hari yang menghamburkan kelu. Bagiku, senyum itu adalah penghias jelaga. Aku bahkan takut ketika penghias itu tak nampak. Aku takut kehilangan meski hanya seperempat jam berlalu.

Aku ingin berlari mengejar. Aku ingin dapat terus mendengar.
Tapi aku hanya bisa diam. Menunggu dimana aku kembali bertemu harapan.

"...Seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan. Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan berbanding jika aku hidup menjemukan dan putus asa.." (Kahlil Gibran)

Saturday, 14 September 2013

Nafas Pagi

Pagi masih tersimpul di balik setiap hembusan kata. Diksi yang sudah lagi tak punya jaringan luas masih harus berputar di sekeliling yang bisa aku lagukan. Aku ingin menulis, menyebarluaskan harapan yang kadang harus aku tutup. Mengapa? Tak ada lisan seumpama menyibak semua garis darah yang ingin dituangkan. Sesekali aku melihat, bagaimana cara orang mengenal sesama untuk mengetahui lebih dekat. Lantas, apa mulut langsung bergumam mengisyaratkan yang terpendam? Tidak semua bisa bergerak sesuai alur naluri seseorang. Lalu aku pun diam, menimang apa yang harus aku lihat, dengar, dan rasakan. Padahal sekeliling seolah-olah buta terhadap manusia satu ini.
Jadi, pagi ini aku akan menghirup nafas yang seperti apa ya...


Menuai pagi dengan diksi yang masih bisa ku eja..
Serang, 14 September 2013

Wednesday, 11 September 2013

Mengapa?

"Till now, the time without you in my life was full of darkness. But ever since I've met you, my life's been like dream..." (Miracle, Super Junior)


Aku sendiri pun tidak tahu bagaimana harus menuliskannya. Menulisnya saja rasanya berat, sama beratnya seperti saat aku merindukan kalian.

Bukankah kemarin kita masih memakai seragam yang sama? Masih berkumpul di tempat yang sama? (baca: kelas). Belajar, tertawa, bercanda, bahkan makan sekalipun.
Mengapa sekarang kita tak pernah lagi menggunakan seragam itu? Seragam yang katanya kebanggaan. Mengapa? Apa karena aku sudah bosan? Kalian pun sudah bosan? Apa kita semua memang sudah bosan menggunakannya?
Mengapa seragam kita tak pernah sama lagi sekarang? Kalian menggunakan apa, aku pun menggunakan apa.

Lalu hari ini, mengapa kita tak pergi ke kantin dan makan bersama? Kalian makan siang dengan siapa hari ini? Dan Aku? Aku pun tak tahu dengan siapa aku makan.
Dan lagi, saat aku memasuki ruangan yang disebut kelas, mengapa aku tak pernah melihat kalian duduk disampingku? Mengapa suara ribut kalian pun tak pernah aku mendengarnya lagi? Apa disana kalian juga tidak melihatku?

Lalu kapan terakhir kali kita shalat bersama? Salah satu kalian menjadi imam. Aku menjadi makmum. Tapi mengapa kita tak pernah lagi shalat berjamaah bersama? Bahkan aku sekalipun tak punya lagi teman shalat berjamaah seperti kalian. Bagaimana dengan kalian?
Dan aku selalu ingin bertanya, mengapa kita tak pernah lagi melakukan hal-hal bersama? Apa kita semua sudah amnesia? Tidak ingat siapa-siapa lagi diantara kita.


Hari ini kalian memakai apa, berjalan dengan siapa, duduk di samping siapa, makan siang dengan siapa, shalat dengan siapa, belajar dengan siapa, dan berbagi dengan siapa. Hati kecilku selalu menanyakannya, meski hanya bisa kupendam sendiri. Apa kalian berpikir hal yang sama? Atau memang hanya aku yang merasakannya.

Aku rindu sebagaimana aku merindu biasanya. Aku belum bisa meninggalkan jejak, mengapa kalian terlampau pergi berjarak? :'(
Mengapa aku harus menunggu kalian disini? Mengapa pula kalian menunggu akan datangnya hari?
Mengapa kita sangat sulit bersama? Mengapa? Apa karena Tuhan bosan melihat kita bergandengan tangan?

Inikah jawaban Tuhan tentang takdir yang datang, waktu yang menua, kesempatan yang hadir, berduka dengan ruang, dan menangis karena jarak. Mungkin memang ini jawabannya.

Aku hanya berharap disini, ditempat ini, ketika kita memulai cerita, kita tak akan pernah lupa ketika kita menaruh harapan-harapan yang sama dan perjuangan yang sama. Bagaimana cara kita mendapatkannya adalah harapan baru untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika umur kita bertambah, bahkan ketika wajah kita semakin menua, kita tak akan sekalipun pernah melupakannya. Melupakan jejak-jejak kebersamaan dan mimi-mimpi kita bersama. Disini.. Dimanapun kita berada.

"When I first saw you, a miracle. I felt the miracle, it was you..." (Miracle, Super Junior)


"Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu.
Jiwa ini tandu, maka duduk saja. Maka akan kita bawa semua. Karena... Kita.. Adalah.. Satu..." (Puisi Aku Ingin Bersama Selamanya)

"I feel the sky is spinning lighter before I saw you there
And I see the things are not the same again
Cause you’re here cause you’re there cause you’re everywhere..." (You Are Everywhere, Big baby Driver)



*nangis*


Serang, 11 September 2013.

Pengen Novel 'Maya Maia'

Cover 'Maya Maia'


Saya baru aja baca giveawaynya mba Annesya. Saya jadi penasaran sama buku 'Maya Maia' nya. Akhirnya saya pun mulai googling mencari sinopsis atau review dari novel ini. Dan ternyata ketemu di blognya mba Annesya hehe :D
Saya langsung baca reviewnya. Setelah itupun saya langsung tertarik pengen baca. Kenapa? Karena reviewnya bikin saya penasaran, abis mba Renny ceritain isi novel 'Maya Maia' bikin mupeng sih hehe. Jadi saya berharap mudah-mudahan bisa dapet novel 'Maya Maia' plus tanda tangan penulisnya :)

Wednesday, 4 September 2013

Antologi: Jika Jodoh Belum Kunjung Datang

Antologi: Jika Jodoh Belum Kunjung Datang

Nulis ini berasa jadi orang dewasa hahaha.
Alhamdulillah, ini antologi aku yang kelima... :)


Cover Jika Jodoh Belum Kunjung Datang

"......Meski seringkali wajah mengelabui hati para pemimpi. Itu tidak akan selalu menjadi penolong. Bagiku saja, ini rasanya berat. Teramat sepi untuk hati yang merindukan  sosok yang bisa mengubah sinar cakrawala di kala pagi. Tetapi, meski rinai-rinai bahagia sepenuhnya belum bisa kuukir. Aku masih akan menjaga jiwa yang ada ini, tanpa lagi ada kesedihan memuncak diri. Aku yakin, Allah sudah merancangnya seindah mungkin untukku bertemu jodoh impian. Jodoh terbaik untuk keabadian..." (Kutipan: Biar Waktu yang Membuatnya Indah, Happy Muslimah)



Spesifikasi buku:

Judul Buku : Jika Jodoh Belum Kunjung Datang
Penulis : Annisa Writer's

ISBN: 978-602-14327-2-5

“Tema Cinta” memang hampir selalu menarik untuk diceritakan atau dituliskan. Karena memang secara fitrah manusia dianugrahi perasaan indah ini. “Cinta” terkadang juga menjadi rasa yang dinanti, yang dirindui, seperti dalam buku ini. Ketika seseorang menantikan seseorang yang akan mencintainya, yang akan dicintainya. Ketika seseorang menantikan jodohnya, cinta sejatinya. Lalu bagaimana mengelola hati, jiwa kita dalam masa penantian ini? Haruskah bersedih atau sebaliknya tersenyum meski penantian belum kunjung datang.

Buku Jika Jodoh Belum kunjung Datang adalah buku ketiga dari para penulis Annisa, yang lahir dari Event II Annisa. Buku yang notabene tulisan ukhti ini merupakan catatan-catatan kecil namun penuh inspirasi dan makna, tentang hati-hati yang bersabar dan sepenuhnya tawwakal ketika jodoh belum kunjung datang, tentang perjuangan untuk selalu berpikir positif akan Jodoh yang belum dipertemukan, tentang pengorbanan ukhti karena ingin meraih cinta suci yang dilandasi cinta karena-Nya bahkan tentang keyakinan bahwa pasti akan indah pada waktunya.

Semuanya hadir bukan saja sebagai curahan hati-hati yang merindu “cinta”, tapi juga sebagai solusi atau cara yang ditempuh agar hati tetap tenang, ikhlas, dan bersabar.
Meski terkadang perjalanan yang ditempuh bertambah panjang, menghadirkan rasa letih dan menyisakan kekecewaan. Maka karena “Cinta-Nya” lah kita harus tetap tegar dan tetap memberikan senyuman pada setiap epsode yang kita lalui.
Dalam buku ini juga ada catatan-catatan tentang meraih Cinta-Nya, Cinta teragung dan termulia, Cinta hakiki. Bagaimana belajar mencinta-Nya meski dalam kepahitan hidup sekalipun. Juga ada catatan ukhti tentang mengegola hati agar bisa mengatasi “GALAU” yang terkadang hadir menyapa hari.

TIM PENULIS:  Husna Syifa Ubaidillah, Lela Rahmat, Mafidatul Ilmi, N. Kirana, Nurita Wahyuni, Ratna Juwita, Sabrina ShyaQar, Septi Dewi, Tika Mimosa, Ummu Fawwaaz, Uni Faqoth, Witri Prasetyo Aji, Zuhroh Astie WieAstie, Annalis Azzahra, Ardini N Wijaya, Echa, Happy Muslimah, Kunti Zakiyah, Karunia Sylviany Sambas, Revika Rachmaniar, Sri S. Ningsih, Ratna Juwita, Sabrina ShyaQar, Reni Agustini, N. Kirana, Echa, Karunia Sylviany Sambas, Desih Sukaesih, Welly Eka S

Monday, 2 September 2013

Kuliah Perdana

Hari pertama. Iya, hari ini perdana kuliah.
Bingung sih. Yang ada di pikiran kuliah itu ngapain, muka yang disebut 'dosen' itu kayak gimana, temen-temen sekelasnya begimana. Mungkin hanya sesederhana itu yang terlintas. Ah, gak tau deh. Sepertinya hari pertama masih biasa.

***

Jadwal hari ini ada tiga mata kuliah. Kebetulan ada jam pagi dimulai dari 7.30. Sebenernya dari jam 6.30 aku udah siap. Nyuci piring udah, cucian baju aku tinggal, mandi udah, sarapan belum. *eh lagi puasa*
tapi males berangkat. Takut kepagian nanti malah bengong lagi. Akhirnya baru berangkat sekitar jam 7.10, sebenernya nunggu kakak juga makanya baru berangkat ehehe. Diliat dari jam sih udah kebayang bakal telat. Aku liat jam, aku nyampe depan kampus jam 7.35. Oke, jam segitu baru nyampe gerbang. Untung ga ada boarding ya, kalo ada pasti udah dihukum sama Pak Dudung dkk. Oh iya lupa, ini bukan di MAN 2 ya. *abaikan*

Ada untungnya sih kampusnya ga gede, jadi ga mesti muter-muter sampe nyasar kayak waktu di kampus Bandung, belum cerita ya, nanti deh diceritain. Kalo di kampus ini tinggal lurus aja udah nyampe gedung yang aku tuju. Naik ke lantai dua. Jangan nyari lift disini, disini adanya tangga.
Terus udah ketemu lantai 2 ngapain? Cari ruangan. Alhamdulillah ketemu. A2.07 Agribisnis.
Tau gak? Aku udah sempet masuk loh, tapi kaget disitu gak ada siapa-siapa. Eh ada ding, ada orang. Dosen bukan ya itu? Gak tau deh -_- dengan polosnya aku keluar lagi. Sambil mikir sambil merenung. Jangan-jangan gak pada kuliah lagi... Wah. *innocent*
Karena penasaran akhirnya nengok lagi. Bener. Gak ada siapa-siapa kecuali orang yang berdiri di meja dosen sambil benerin laptop. Masa iya sih ada dosen gak ada mahasiswa? *_*

Akhirnya karena mikir 'kayaknya salah deh', aku sama oh iya temen aku, gak mau masuk lagi. Tadinya mau pergi dari situ. Tapi karena aku masih penasaran sama ruangannya, aku kembali liat jadwal *kenapa gak daritadi ya* dan ternyata... *jreng jreng jreng* bukan di A2.07 tapi A2.08 *tepok jidat*
Astagaaa -_____- happy happy.... huh.

Ruang A2.08 ada di depan ruang A2.07. Aku pun nengok kesitu dan melihat. (tuh kan mahasiswa semua, udah penuh). Pantesan sebelah kosong, wong oragnnya disini semua ahahaha geblek emang geh. Tapi lumayanlah masih ada sisa-sisa kursi di paling belakang. Dan untungnya dosen pertama belum dateng *nafas lega*

***

Sekitar jam 8 lewat (dikit) dosen pertama kelas aku dateng. Oh iya perkenalkan, aku masuk kelas C, kelas dimana orang-orang jalur akhir pada hidup. Maksudnya, semua yang ada di kelas ini, diterima lewat jalur UMB. (wah wah wah sudah mulai rasis..hoho)
Gapapa deh, biar akhir, tetep jalan.
Gimana ya anak-anaknya, dikit-dikit sih udah ada yang aku kenal bekas ospek fakultas. Aku duduk di belakang, tapi sekarang di samping kananku bukan Suly lagi, samping kiri bukan Ivan, depan juga bukan Icul. Terus siapa? Aku juga gak tau x_x

Sekarang ke dosen. Dosen biologi ini ternyata cewek. Kebetulan aku gak nyatet nama-nama dosen mata kuliahnya, jadi gak tau yang bakalan masuk itu cewek apa cowok. Biasalah, awal-awal perkenalan. Sambil mendengarkan semua keceriaan dan kejayusan penghuni kelas tersebut. Sama ngomongin kontrak belajar. Dan pelajaran pun berakhir sekitar jam 9 lewat. *keluar kelas*

***

Mata kuliah kedua (Sosiologi Umum) jam 9.30. Nah yang ini baru ruangannya di tempat tadi aku salah masuk itu wkwk.
Nunggu dosen yang kedua lama banget. Sambil ngobrol sama temen-temen di samping. Dosen belum dateng-dateng juga. Aku keluarin hp, lalu main... UNO. Sambil menyelesaikan tournament-tournament yang belum kelar. Yang lain masih ngobrol, aku asik mainin UNO.
Oke tiba-tiba udah bosen dan dosenpun belum juga dateng. Oh gini toh kuliah, tau-tau udah mau pulang aja. Dan dosen pun akhirnya datang ketika kita semua udah siap-siap mau keluar. Heheheu :D
Kali ini dosennya bapak-bapak. Masih sama, perkenalan dan kontrak belajar. Lalu berakhir jam 11.10.


***

Karena mata kuliah ketiga jaraknya agak jauh, aku milih pulang dulu ke rumah. Masih belum ada kegiatan apa-apa. Sholat, tidur, bangun. Ikut nonton drama bentar. Jam 3 sore baru berangkat. Nyampe kampus sholat asar, setelah itu baru masuk kelas. A2.09.

Yang ini lebih-lebih. Dosen bahasa Indonesia gak dateng. Makanya kita habiskan waktu untuk kenal satu sama lain di kelas itu, semuanya, tanpa terkecuali. Selesai dan Pulang.

***

Cukup kan? Begitulah cerita kuliah perdanaku. Hoamm...
Selamat datang September. Aku berharap bisa memulai semuanya dengan hati yang baik. Aamiin...


Serang, 02 September 2013.

This entry was posted in

Sunday, 1 September 2013

Melihat Kembali

Serang, 31 Agustus 2013.




Aku tak mengira, ada waktu-waktu yang tidak terduga sampai di depan mataku. Melihatnya kembali seperti sebuah kelapangan yang tadinya hampir saja habis. Andai saja jam tidak harus berputar secepat detik biasa, mungkin aku bisa melihatnya lebih lama sambil menutupi perasaan bahagia (oh tidak). Tapi sayang, kesempatan pergi terlalu cepat. Lalu berlalu dengan lagi-lagi hanya menyisakan jejak belakang. Masih sama, meskipun terlihat lebih sayu.

Terimakasih Tuhan. Belasan menit yang cukup mengagetkan dan istimewa, meski biasa :)
Terimakasih Agustus, telah menjadi penutup hari yang indah....

This entry was posted in

Sunday, 25 August 2013

Antologi: My Broken Promises

Antologi Cerpen, FF, Puisi PHP: My Broken Promises


Ini antologi aku yang keempat, alhamdulillah :)

Cover My Broken Promises


.....Maka cinta, dengar lirih wanita tak berdosa
Yang meraup tangan-tangannya sebagai langkah atas perasaan yang membuat derita
Maka cinta, pergilah tanpa cerita
Biar Tuhan saja yang mengutuk jiwa-jiwa pengubah rasa
(Kutipan Puisi Tentang Harap Pada Cinta Tak Bernama, Happy Muslimah)


Spesifikasi Buku:
Judul: My Broken Promises
Penerbit: Meta Kata, 2013
Penyusun: Risty Arvel
ISBN: 978-602-14249-3-3


Kontributor: Amal Lia Sholihah Musfiroh, N. Kirana, Niswatun Hasanah, Aryati Dwi Siamiaty, Boreel, Widi Tria Ariyani, Mushallina, Taufiqur Rahman, Yudi Susanto, Kustiyanti, Dwinita Meiliza, AdelliaIsnasari Noor Alina, Diah ISRaharjo, Diah Ratna Puspa Ramadhan, Eka Ari Setiawati, Dian Tria Yunita, Laili Muttamimah, Hasna Shalihah, Isna Imroatuz Zakiyati, Hairun Nisa, Julie Voldy, Khumala, Dita Hersiyanti, Ratih Saridewi ,Cici Pratiwi, Melisa Dewi Tristiani, Annisa Nur’aini Suryono, Ayu Oktaviani, Sherly Priscilia Sulistyanti, Zulfa Azkia, Puspita Maharany, Yuan Yunita, Nenny Makmun, Ni Komang Ayu Diah Widiasari, Abu Hassan AbdurRahman, Anisa El Kamila, Arta Laras Angelina, Zarratul Ziand Zainia, Nana Riqki, Hania Audina, Happy Muslimah, Ovendetta Handanie (Dwi Handayani), Kans’ Zein Basry, Nuryani, Putri Zanida, Kasiyati, Agustina, Lila Masti, Vie Sunrise, Marandsa, Mary Christy Hasianna, Meilan Rohmani, Sulasman, Welly Eka S, Muhammad Hasir, Nasywa Syauqiea, Nelly Nezza , Novita Hariyani, Renita dan Elvandarisa Astandi.

Antologi: RAMADAN: Semesta Merindu

Antologi Puisi: RAMADAN: Semesta Merindu

Ini antologi aku yang ketiga, alhamdulillah :)


Cover Ramadan: Semesta Merindu

Di alur yang indah ketika itu
Aku beradu pada perasaan haru yang tak layu
Memejam pesona kalbu
Seperti ada rindu tengah berpacu tanpa kelabu...
(Kutipan Puisi Ramadanku, Ramadanmu. Happy Muslimah)


Spesifikasi Buku:
Judul: RAMADAN: Semesta Merindu
Penulis: Yuli Arista, Manusia Perahu, Rusdi El Umar, dkk.
Penerbit: Meta Kata, 2013.
Penyunting: @Avet89
Pewajah Sampul: de A creative
Penata Letak Isi: de A creative
ISBN: 978-602-17600-8-6


Antologi: Dear Allah

Antologi  Prosa Liris dan FF: Dear Allah

Alhamdulillah, punya antologi lagi. Ini punyaku yang kedua :)


Cover Dear Allah

"........Kebahagiaan menungguku untuk mengakuinya dalam waktu yang perlahan terus berjalan. Aku yakin, Kau punya cara sendiri untuk semua ini. Aku tak kan lelah mengutarakan mimpiku dalam doa-doa kepadaMu. Aku meyakiniMu dalam cinta yang tak terukur..." (Kutipan: Doa Sepenggal Harapan, Happy Muslimah)


Judul: Dear Allah
Penulis: Risky Fitria H, Happy Muslimah, M. Zulfa, Esastri Evilawati
Penerbit: Afsoh Publisher, 2013
ISBN: 978-602-1522-09-7

Antologi Pertama: UCAP #2

Antologi Puisi dan Prosa Liris: UCAP #2


Pertama kali nyobain ngirim naskah, alhamdulillah lolos. Ini antologi pertama aku.. :)

Cover UCAP #2



Judul: UCAP "Ungkapan Cinta Ala Penyair" #2
Penulis: Wahyudi Abdurrahman Zaenal, Azka Shabrina, Dwi Trisnawati, dkk.
Penerbit: Meta Kata, 2013
Penyunting: @Avet89
Pewajah Sampul: de A creative
Penata Letak Isi: de A creative
ISBN: 978-602-17600-7-9


Wednesday, 31 July 2013

Aku Ingin Hidup Kembali + Lagu Hilang by Emtihous

Bagaimana aku bisa menjadi tak bersyukur seperti ini.
Bagaimana aku bisa menimang luka yang tak seberapa ini. Ketika aku sudah tak berani menatap dunia. Padahal baru saja kemarin semesta mengajarkanku tentang menjalani hidup dengan baik. Kenyataannya berkata memang lebih mudah ketimbang merasa.

Aku seperti berada ditempat yang sepi, gelap, dan terlihat tak berujung. Aku harus berjalan dengan siapa? Menghadapinya dengan apa? Tak ada yang bisa kulihat disini, rasanya benar-benar gelap. Jauh sekali..

Aku tak punya siapa-siapa di sampingku. Hanya sebait harapan yang tumbuh dengan cadasnya, setia datang dan pergi. Ia pun terlalu klise di mataku. Seperti udara yang terkadang membuat sejuk, juga sakit.
Bagaimana dengan mimpi yang berada di otakku dulu? Kata orang jiwaku terlalu berfantasi dalam hidup.  Aku mencintai harapan yang selalu melekat di dadaku, tapi harapan itu tak pernah datang mencintaiku. Apa ini yang manusia bicarakan tentang bertepuk sebelah tangan?

Jika tak ada seorang pun yang sudi datang padaku, aku hanya berharap Engkau selalu ada mendengar. Segalanya tak jadi masalah bila Engkau masih mau menerimaku.

Ya Allah... Sembuhkan aku dari kerapuhan ini. Bangunkan aku dari kematian ini. Hilangkan rasaku dari kelemahan yang berbinar. Aku ingin sekali lagi bisa bernapas dan kembali hidup seperti manusia. Dan mencium bau harapan di sekelilingku.

Ya Allah..
Aku ingin hidup lagi
Ijinkan aku merasa lagi
Ijinkankan aku melihat dunia kembali....


*Serang, 31 Juli 2013. Dalam pagi 22 Ramadhan.

***

Setelah tulisan ini diposting, ada salah satu pemusik asal Serang, Banten, menjadikannya sebagai sebuah lagu dan menjadi single ke-empat di album pertama mereka. Terimakasih sudah membuatkan lagu dari tulisan ini ^^

Enjoy it :)




Title: Hilang
Artist: Emtihous
Album: Alpha, Beta, Theta
Length: 3:33
Beat: @FebrianArsy
Mixing: @Adl_Rasyid

Sekilas tentang Emtihous:
Emtihous adalah group hiphop beranggotakan dua orang yaitu Febrian Arsy dan Abdul Rasyid. dibentuk secara tidak sengaja pada tanggal 7 Juni 2013. Emtihous sendiri merupakan plesetan dari Empty House yang artinya adalah rumah kosong. Selebihnya bisa dilihat disini, beserta single-single lainnya --> Emtihous


Serang, 03 September 2013

Saturday, 6 July 2013

Postingan yang Disuka dari Arga Litha

Hallo Mbak Litha. :)

Setelah menelusuri blog mbak yang padet ini dan wow sudah banyak sekali postingan yang kece-kece di blognya. Akhirnya saya menemukan beberapa postingan yang saya suka dan menekurinya dengan khusyuk sekali. Apa boleh buat karena blognya ga bisa klik kanan jadi harus mantengin lama baru deh bisa pindah ke tulisan lainnya. :D

Tulisan pertama yang saya suka adalah Terjebak dalam Prasangka. Loh awalnya saya kira mbak Litha lagi suudzan sama orang, lalu curhat hihihihi... Tapi ternyata itu tentang antologi.
Setelah membaca sebagian cerita 'Jauh Bukan Berarti Tak Sayang' yang ditulis, kalo boleh saya pengen pinjem bukunya deh. :p biar bisa baca keseluruhan cerita hehe.
Itu cerpen atau memang curahan hati ya? Pokoknya ada yang membuat saya tertarik di tulisan mbak tersebut. Apalagi tulisan itu bercerita tentang perasaan seorang anak terhadap ayahnya. Mungkin karena saya juga merasakan hal yang sama. Rasanya ingin sekali bertukar pikiran atau menerima pilihan jurusan untuk kuliah dari mulut seorang Ayah. Sayangnya, Ayah saya sudah tidak ada. Saya juga kurang tahu, nanti kelanjutan kisah si Ayah di tulisan tersebut seperti apa ya. Heheheu makanya pengen banget baca :D dan curahan-curahan hati lainnya. Kirimin antologinya ke rumah dong mba hihihi *dipecut*


Tulisan kedua yang judulnya Liburan Aneh di Bali. Wah baru baca awalnya aja saya udah ngakak. Jadi pegang KTP yang udah expired itu bikin jantung berdebar ya, hahaha. Maklum, saya masih anak 17 tahun yang baru kemaren nyempilin KTP ke dompet. :p
Enak ya, liburannya aja ke Bali. Gimana honey moon benerannya. #eh :D
Sebenernya nyasar ataupun ngalamin hal-hal aneh saat di kota orang itu emang asik walaupun rasanya bikin keder, bingung, dan cengo. :D tapi tetep menyimpan memori tersendiri. Saya juga pernah waktu pergi ke Jakarta cuma berdua. Ada tujuan tapi gak tahu lokasi tempat yang dituju. Naikin aja mobil-mobil yang lewat, sambil nanya-nanyain supirnya. Haha tapi akhirnya sampe juga  :D
Ngomong-ngomong di Bali enak ya mbak? Aku belum pernah loh kesana. Bali itu hanya kata yang seketika lewat di telinga, lalu hilang terbawa angin.


Tulisan ketiga judulnya Amal ialah Sahabat Terbaik. Ada kalimat yang saya suka. ''Dulu saya juga tidak tahu sahabat itu bagaimana. Katanya yang selalu menemani kita. Kalau yang seperti itu ada banyak! Tidak sepenuhnya ada di 'samping' saya sih, sebab saya lebih suka 'sendiri'".
Entahlah, saya pun belum benar-benar makna dari sahabat. Karena seringnya saya adalah orang yang berada di tengah-tengah persahabatan orang lain, anggap saja 'selalu' menjadi orang ketiga. Maka dari itu apakah saya ini memiliki sahabat? Saya pun belum sepenuhnya sadar dan tahu. Lagian siapa yang mau bersahabat dengan orang abstrak seperti saya? :D

''Seiring bertambahnya usia, saya menyadari bahwa sahabat sejati saya adalah amal perbuatan saya".
"Sahabat saya memang tidak bisa dipeluk saat saya sedih dan butuh 'sandaran', tetapi ia lekas membuat saya bahagia dengan sekedar mengingatnya".
Amal. Saya setuju dengan mbak Litha yang menyebutkan amal sebagai sahabat. Entah untuk apapun itu, amal akan selalu tertera di dalam diri manusia. Ketika manusia hanya sebagai peralihan duka di dunia, tetapi amal tidak berarti dalam jangka sependek itu. Amal yang membawa kita kepada kehidupan selanjutnya. Akan baik atau buruk. Layaknya kehidupan selanjutnya kita bergantung pada amal yang kita bawa.

'Bila waktu tlah memanggil, teman sejati hanyalah amal
Bila waktu tlah terhenti, teman sejati tinggallah sepi....' (Opick)


"Diikutsertakan dalam event Giveaway Novel di argalitha.blogspot.com"

*545 kata*
This entry was posted in

Saturday, 29 June 2013

Aku

Dalam setiap detak, ada alunan yang tidak bisa dipertemukan.
Melayang diatas awan, meranah di negeri pengantar.
Bukan aku yang hilang, karena memang tidak ada perbincangan ketiadaan.
Ini soal perkara saja
Diam
Mengeja
Terpekur
Mungkin ada lainan waktu yang membuatnya semakin berani menantang keajaiban

Ada yang menangis dalam haknya mempertahankan
Namun perihal yang nyata siapa yang dapat berkuasa
Ketika itu manusia seperti merubah dirinya menjadi pohon
Tetap atau jatuh saja lah
Manakala meranah terlihat lebih susah

Serang, 29 Juni 2013
Happy Muslimah

*Bercerita tentang kita, tentang mimpi-mimpi bulat yang kadangkala membuat kita merasa tak perlu ataupun harus, butuh menyesuaikan atau merubah arahan.
Merealisasikan asa itu tak semudah membuat harapan.
Menjadi, menjadi, menjadi, tak selamanya dapat menjadi. Tapi hadapi saja, tentu masih ada Penggegam Takdir yang akan meluarbiasakannya. Lakukan saja, tak ada salahnya. Atau jika itu berat, maka lupakan saja, tak ada yang tahu.

Momen-momen pencarian keberanian diri untuk mempertahankan sedikit keinginan. Peralihan belajar menyeimbangkan diri diatas rata-rata. Aku.
This entry was posted in

Thursday, 27 June 2013

Bermimpi Itu Menyenangkan

Mimpi ya....
Cita-cita aku banyak. Dulu, sewaktu smp aku punya cita-cita jadi psikolog. Sebenernya sih inspirasi jadi psikolog itu aku dapet dari kakak cewek aku. Waktu tes masuk perkuliahan, niatnya kakakku ambil psikolog. Kok niatnya, ya? Emang ngambil itu haha. Itupun sampe dibela-belain bimbel ke Bandung loh. Maklum lah, waktu tahun segitu, Serang masih jarang yang namanya bimbelan. Atau mungkin belum ada ya? Aku juga gak tau. Nah, waktu itu entah karena emang gak keterima atau kakak aku kecelakaan saat mau tes, cerita selanjutnya aku lupa. Itupun aku udah lahir apa belum ya waktu itu? Cerita dari mama sih ini. *eh*
Pokoknya gak jadi masuk psikologi aja, dan akhirnya jadi ambil filsafat islam.
Aku juga bingung, kenapa tiba-tiba pengen nerusin ya. Tapi emang aku hobi liatin orang dan sedikit-sedikit suka mengidentifikasi sih #elah. Yah, intinya aku cinta sama dunia psikologi.


Seiring berjalannya waktu, mimpi aku bertambah. Jadi jurnalis. Wah membayangkannya saja merasa bahagia hehe. Tapi, setelah bener-bener jadi anak kelas 3 SMA, aku malah bingung mau jadi apa. Aku anak IPA, sedangkan keinginan aku ada di jurusan IPS semua. Bingung. Akhirnya waktu itu aku memutuskan buat jadi 'Power Ranger' aja. *serius*  Ceritanya biar bisa memberantas mosnter-monster jelek gitu. Wah bahagia kayaknya. Jangan cengo ya, ketawa aja yang kenceng hahaha.


Akhirnya lagi, saat mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) aku memutuskan untuk tetep ngambil jurusan-jurusan saintek. Aku juga udah menimbang-nimbang dengan banyak baca-baca mengenai jurusan dan juga gak lupa mengukur kemampuan. Semoga apa yang aku pilih bisa tepat. Aku juga udah tawakal, apapun yang aku dapet nanti itu adalah jalan yang terbaik yang Allah kasih. Apapun itu, insya Allah aku akan berusaha melakukannya dengan maksimal.
Aku sekalian minta doanya ke mbak Arga Litha dan semua pembaca. Doain ya, mudah-mudahan aku bisa diterima di universitas yang terbaik hehe. Aamiin Ya Rabbal Alaamiin.


Sebenarnya masih ada satu cita-cita yang gak pernah pudar dari kecil, mungkin bisa dibilang itu cinta pertama aku. Haha. Dari SD, aku emang udah seneng nulis. Ya, jaman-jaman SD mulai dari nulis-nulis karangan gitu. PR nya anak SD :p tapi aku malah seneng kalo disuruh bikin karangan.
Waktu smp aku suka nulis puisi-puisi gitu. Meskipun masih jelek, amburadul, dan gak sangar haha. Tapi itu malah jadi hobi aku sampe sekarang :D bahkan bertambah jadi suka nulis prosa liris.
Alhamdulillah.. Sejauh ini aku sudah punya dua antologi puisi dan prosa liris. Yah, walaupun yang satu masih proses cetak sih hehe.


Waktu pertama kali naskah aku bisa dibukukan rasanya rada speechless gitu. Karena itu pertama kalinya juga aku nyoba ikut event-event puisi. Dan langsung lolos hehe. Alhamdulillah. Ya.. walaupun belum bisa jadi yang terbaik hehe. Sebelumnya sih, aku itu gak terlalu pede sama tulisan sendiri. Jadi gak pernah ngikut lomba-lomba gitu. Nulis ya nulis.. Paling sering nulis di blog ini :)) dinikmatin sendiri aja. hehehe.
Dan ga nyangka di antologi yang kedua, aku dapet predikat terbaik  I. Alhamdulillah lagi :')
Aku ga pernah membayangkan kalo nama aku bisa terpampang di buku, meskipun itu buku kroyokan. Kebahagiaan ya tetep kebahagiaan.. Menjadi kebanggaan sendiri. Siapa toh yang nyangka, aku aja ngga. :p


Oh iya, gak tau kenapa aku punya keinginan buat pergi ke luar negeri. Aku pengen bisa terbang ke Australia.  Entah kenapa pengen, walaupun aku gak tau bentuk Australia itu kayak gimana. (Atuh iya, lah wong belum kesana.. hihihihihi). Moga-moga aja kesampean hehehe. Aamiin.
Dan semoga aku gak pernah berhenti untuk menulis.. :)


" Que Sera Sera. Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Que Sera Sera. What will be, will be." -Que Sera Sera


Bermimpi itu menyenangkan. Selamat bermimpi. Semangat menggapai mimpi. :)))



" Diikutsertakan dalam Giveaway Tuppy, Buku, dan Bipang di www.argalitha.blogspot.com "

*608 kata*
This entry was posted in

Thursday, 6 June 2013

Kita dan Takdir

Tanpa perlu ada aba-aba, aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu alur ini sudah benar-benar akan habis. Aku tahu bahwa semua ini memang akan berakhir, meski belum ada satupun yang tahu apa yang akan terjadi dalam cerita terakhir.

Entah bagaimana perasaanku untuk waktu-waktu ini. Merasakan detik-detik yang semakin hambar terasa. Aku masih merasakan sesuatu itu. Tapi apakah sesuatu itu masih pantas untuk diharapkan?
Siapa yang akan tahu pada akhirnya akan seperti apa. Tokoh-tokoh yang pernah ada akan jadi apa. Kau pun tak tahu kan? Bahwa ada satu perasaan disini yang tertinggal.

Aku rasa hanya dengan menuliskannya saja ini terasa nyaman, tanpa perlu mengatakannya kepadamu. Meski diksiku terlalu amburadul dan tak sesangar pengukir-pengukir literasi berpengalaman. Tetapi, satu liris saja aku sudah bahagia menuainya. Karena ini adalah kelegaan yang mesti kupenuhi.

Mungkin saja kemarin, adalah akhir dari pencarianku. Pencarian tiap gerak-gerik itu. Meski aku tak selamanya bisa menemukanmu.
Esok, kita sudah terbangun dari tingkah-tingkah kejailan kita. Adalah dimensi perwujudan kita atas pengharapan yang diperjuangkan. Untuk siapa lagi jika bukan untuk kita sendiri.

Mimpi kita berbeda. Dan mungkin takdir kita juga berbeda. Tapi aku harap, kita tak pernah saling melupakan tali yang pernah kita bentuk di ruang-ruang sebelumnya. Ketika kita masih menjadi siswa.
Kita tahu bahwa tidak semua jalan akan menyenangkan, tapi teruslah menampakkan kerlingan tawa seperti engkau biasanya. Aku juga.

Ini bukan sepenggal lirih atau apapun. Hanya saja ini adalah momen pengabadian kita sebelum beranjak ke dunia berikutnya. Dengan akhir yang tak panjang, dengan akhir yang tak mengharukan. Aku menutupya dengan segala rasa. Semoga takdir akan berbaik hati untuk mempertemukan kita lagi, bahkan terus.
Tapi saat ini biarkan takdir menentukan jalannya. Aku akan berjalan bersama takdirku, dan kau pun akan berlanjut bersama takdirmu. Maka berbahagialah untuk waktu-waktu berikutnya. I don't wanna say goodbye to you. :)

Terimakasih untuk waktu yang pernah terlihat dari ruang tempat kita belajar bersama. Kita dan teman-teman.
This entry was posted in

Sunday, 19 May 2013

Pengandaian di 23

Sebenarnya aku jarang berandai tentang sebuah umur yang semakin dewasa, merasakan umur yang bertambah saja kadang rasanya aneh hehe. Tapi itu bukan berarti aku gak pernah memikirkan masa depan. Tentunya saat ini saja aku sedang mengharapkan sebuah start untuk masa depanku.

Ngomong-ngomong umur 23, insya Allah lima tahun lagi umur aku segitu hehe. Sekarang aku masih remaja 17 tahun. Sudah mau 18 tahun tapi :p

Pengandaian aku di umur 23 itu..........
Sudah jadi sarjana tentunya.. (Insya Allah di umur 21)
Emm.. walaupun aku gak tau bakal jadi mahasiswi universitas dan jurusan apa nantinya. Hehe karena saat ini masih dalam tahap ikhtiar. Ikhtiar masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tentunya.
Sedang banyak-banyak belajar, berdoa, dan menunggu.
Tapi apapun yang aku dapatkan nanti, insya Allah aku akan berusaha menjalaninya dengan baik. Karena mungkin itu adalah pilihan dan rezeki terbaik dari Allah. :)
Juga sudah punya pekerjaan sendiri....

Selain itu di umur segitu aku berharap sudah memiliki sebuah karya. Karya apapun itu yang mungkin bisa bermanfaat untuk banyak orang. Tapi... lebih senang lagi kalo aku sudah punya karya tulisan sendiri hehe. Seperti punya buku sendiri gitu? Ah, hehe membayangkannya saja sudah membuat bahagia.. Semoga aku  gak pernah berhenti menulis ya..

Dan.... Kalo menikah di umur 23 gimana? *eh* hihihihi...
Semoga saja aku dipertemukan dengan jodoh yang terbaik ya. Jodoh yang bisa membuat aku jadi wanita yang lebih baik lagi. Jodoh untuk dunia akhiratku. Jodoh di surgaku :)) Aamiin...

Dan tidak lupa pula, mengandaikan 23 yang sukses.. :D

***

Hallo kak Ayu Citraningtias. Salam kenal, namaku Happy..
Selamat ulang tahun yang ke-23 ya.. :)) semoga Allah selalu melimpahkan semua nikmat-Nya untuk kakak, dilimpahkan rezeki yang baik, diberikan kesehatan dan selalu diberikan kesabaran, serta semoga kakak selalu bisa berkarya dengan baik. Aamiin..




23 Tahun giveaway


This entry was posted in

Friday, 26 April 2013

Jejak di Bangku Belakang




Di bangku ini tempat aku memulai cerita. Apa di bangku ini pula aku akan mengakhirinya?

Haruskah cerita di bangku belakang benar-benar berakhir ketika aku belum lama menyadarinya. Bising yang memekak telinga hingga hati yang kutaruh berbeda. Tentang penghuni ruang belakang.

Ketika kita tertawa bersama itu seperti sebuah kode untuk mengingatkan bahwa kesempatan kita tertawa bersama lagi sudah tak lama.

Tahukah bahwa langkah kaki ini sudah semakin samar? Aku masih mencarimu. Mencari suara-suara yang hilang.

Apakah suatu saat aku akan meninggalkan jejak disini, di bangku ini, di ruang ini suatu hari nanti?


Waktu kita sudah semakin singkat. Sesingkat kita memulai perjalanan. Rasanya baru kemarin kita masih mengumbar ceria di ruang yang sama.
Apakah dunia sudah akan berganti?


Oh bangkuku..hiks T^T


This entry was posted in

Tuesday, 23 April 2013

Ironi

Ketika aku mengubah dimensi cerita.

Aku hanya berada pada titik dimana satu nafas bergerak dengan rasa. Cerita yang aku rasakan kemarin, hanya bisa aku dimensikan ke waktu berikutnya. Seolah-olah ini adalah pembalasan yang tertunda.
Seandainya aku dapat berceloteh banyak.. Lantas, siapa yang hendak mendengarnya? Aku sendiri? Haha. Ironi.

Segalanya hanya bisa kutumpahkan lewat segenap huruf dan kata. Ya, tak sesingkat itu memang. Tapi mereka memang pendengar yang baik. Aku selalu bisa berkata jujur.
Tapi.. Aku pun butuh suara yang ingin kudengar, bukan hanya dapat memandang kekosongan layar yang memang tidak sehambar rasa nasi, walaupun lalu aku bahagia. Lalu hatiku bisa meredam. Kadangkala itu tak selalu bisa mengobatiku.
Ah, jangan hanya membuatku merasa seperti tersudut. Cobalah kata bicara, jika kau memang benar-benar mengerti. Atau ceritakan hatiku kepada laut, kepada hujan, kepada awan, kepada udara yang berhembus, kepada siapapun itu. Aku butuh seseorang.

Serang, 23 April 2013; 22:47

This entry was posted in

Thursday, 7 March 2013

Plot 17

" Dunia ini jelas. Dimana rindu-rindu yang sebenarnya akan tertuang. Dan ketika tangan siapapun tak dapat menggantikan semua yang tak pernah bisa terulang. Hal apapun itu. Penentuan "

Aku memejamkan mata untuk waktu yang aku tak tahu selama apa. Ketika itu aku seperti mendorong otak kedalam ruang waktu sebelum tanda tujuh belasku.

Berjalan pada tanda hampir lima dengan menunggu lonceng pagi itu berbunyi. Dunia yang tak pernah sempat kubayangkan bahkan memikirkannya pun tidak. Belajar, bermain, tertawa, dan sebuah kotak makanan mengiringiku. Dunia kanak-kanak
Aku dan teman-teman dunia kecilku tak pernah berhenti bermain, meski kadang ada juga yang tak berhenti menangis. Orangtuaku, orangtua mereka, mereka sama. Mengikuti apapun yang kami lakukan sambil mengawasi, padahal itu bukan kewajiban mereka. Tapi akhirnya semua tertawa karena dunia itu memang menyenangkan. Hingga tiba waktunya kami untuk wisuda. Wisuda para bocah pembahagia. Dan aku, adalah aktor utamanya kala itu.

Tahun pelajaran baru pun tiba. Entah aku seperti apa ketika itu. Mungkin masih jadi anak yang manis. Aku berjalan dengan tegapnya. Baju putih, rok, dasi, topi merah. Bertemu dengan teman yang tak asing, tapi ada saja orang-orang. Sekolah Dasarku
Enam tahun yang lama akhirnya berlalu juga. Hijrah ke waktu baru

Berlari-lari, ada rasa takut pertama menjalani ospek smp. Tapi reflek yang cukup menarik.

Akhir dari menengah pertama, aku menatap mata-mata persahabatan. Ketika aku menyadari pentingnya, maaf untuk telat mengerti. Aku hidup bukan untuk sendiri
Untuk berbagai hal aku merasa bahwa akhir menengah pertama yang penuh cerita. Lebih dari sekedar bermain dan canda tawa. Dan perpisahan smp tiba, gelapnya awan tak luput datang mengikuti jejak kami

Wah! Perjalanan yang semakin membara
Ketika dunia yang terpajang rapat-rapat dalam hati. Dimana aku memasuki dunia para pemilih. Bukan apa-apa, ini tentang sebuah tujuan. Pada orde mana aku akan berdiri. Dan juga orang-orang diluar sana. Saat ini, Madrasah Aliyah
Dunia dalam lakonku. Dunia dimana tempat aku belajar banyak tentang sesuatu.

Tujuh belasku di kelas dua belas
Menyemai simfoni yang dirasa tak kan lupa. Ketika aku menamainya sebuah rasa
Bahagia ketika melihat dan mencari ketika tak ada Seperti berada di tengah musim semi.

Dunia ini jelas. Dimana rindu-rindu yang sebenarnya akan tertuang. Dan ketika tangan siapapun tak dapat menggantikan semua yang tak pernah bisa terulang. Hal apapun itu. Penentuan

Rona-rona yang tak akan pernah terganti.