Friday, 26 April 2013

Jejak di Bangku Belakang




Di bangku ini tempat aku memulai cerita. Apa di bangku ini pula aku akan mengakhirinya?

Haruskah cerita di bangku belakang benar-benar berakhir ketika aku belum lama menyadarinya. Bising yang memekak telinga hingga hati yang kutaruh berbeda. Tentang penghuni ruang belakang.

Ketika kita tertawa bersama itu seperti sebuah kode untuk mengingatkan bahwa kesempatan kita tertawa bersama lagi sudah tak lama.

Tahukah bahwa langkah kaki ini sudah semakin samar? Aku masih mencarimu. Mencari suara-suara yang hilang.

Apakah suatu saat aku akan meninggalkan jejak disini, di bangku ini, di ruang ini suatu hari nanti?


Waktu kita sudah semakin singkat. Sesingkat kita memulai perjalanan. Rasanya baru kemarin kita masih mengumbar ceria di ruang yang sama.
Apakah dunia sudah akan berganti?


Oh bangkuku..hiks T^T


This entry was posted in

Tuesday, 23 April 2013

Ironi

Ketika aku mengubah dimensi cerita.

Aku hanya berada pada titik dimana satu nafas bergerak dengan rasa. Cerita yang aku rasakan kemarin, hanya bisa aku dimensikan ke waktu berikutnya. Seolah-olah ini adalah pembalasan yang tertunda.
Seandainya aku dapat berceloteh banyak.. Lantas, siapa yang hendak mendengarnya? Aku sendiri? Haha. Ironi.

Segalanya hanya bisa kutumpahkan lewat segenap huruf dan kata. Ya, tak sesingkat itu memang. Tapi mereka memang pendengar yang baik. Aku selalu bisa berkata jujur.
Tapi.. Aku pun butuh suara yang ingin kudengar, bukan hanya dapat memandang kekosongan layar yang memang tidak sehambar rasa nasi, walaupun lalu aku bahagia. Lalu hatiku bisa meredam. Kadangkala itu tak selalu bisa mengobatiku.
Ah, jangan hanya membuatku merasa seperti tersudut. Cobalah kata bicara, jika kau memang benar-benar mengerti. Atau ceritakan hatiku kepada laut, kepada hujan, kepada awan, kepada udara yang berhembus, kepada siapapun itu. Aku butuh seseorang.

Serang, 23 April 2013; 22:47

This entry was posted in