Tuesday, 23 April 2013

Ironi

Ketika aku mengubah dimensi cerita.

Aku hanya berada pada titik dimana satu nafas bergerak dengan rasa. Cerita yang aku rasakan kemarin, hanya bisa aku dimensikan ke waktu berikutnya. Seolah-olah ini adalah pembalasan yang tertunda.
Seandainya aku dapat berceloteh banyak.. Lantas, siapa yang hendak mendengarnya? Aku sendiri? Haha. Ironi.

Segalanya hanya bisa kutumpahkan lewat segenap huruf dan kata. Ya, tak sesingkat itu memang. Tapi mereka memang pendengar yang baik. Aku selalu bisa berkata jujur.
Tapi.. Aku pun butuh suara yang ingin kudengar, bukan hanya dapat memandang kekosongan layar yang memang tidak sehambar rasa nasi, walaupun lalu aku bahagia. Lalu hatiku bisa meredam. Kadangkala itu tak selalu bisa mengobatiku.
Ah, jangan hanya membuatku merasa seperti tersudut. Cobalah kata bicara, jika kau memang benar-benar mengerti. Atau ceritakan hatiku kepada laut, kepada hujan, kepada awan, kepada udara yang berhembus, kepada siapapun itu. Aku butuh seseorang.

Serang, 23 April 2013; 22:47

This entry was posted in

2 comments:

  1. wah...melihat kembali (atau membaca kembali :D) terkadang memang dibutuhkan.. yah, walaupun pada akhirnya yang lebih kuat terasa adalah ironinya.. :D

    maafkan komentar ngawur ini :D
    tapi tulisannya keren! :)

    btw, salam kenal yaa.. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya kak arif, makasih.. salam kenal juga :))

      Delete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^