Wednesday, 23 October 2013

A Long Visit




Ini film Korea tentang mama dan anak yang bikin aku sesak nafas setelah Wedding Dress :'(
***

Saat aku kecil, aku cerewet. Orang-orang menyarankanku untuk menjadi pemandu wisata. Aku besar di daerah pedesaan. Seperti itulah kampung halamanku.

Kakak perempuanku meninggal di usia 2 tahun sebelum aku lahir. Apakah karena kematiannya? Ibuku selalu menjagaku dan menyayangiku.

Namanya Ji Suk. Ji Suk itu perempuan, dia punya satu adik laki-laki. Ayahnya seorang sopir bus, tapi Ayahnya punya sedikit cacat di kaki.

Suatu hari, Ji Suk dan Ibunya pergi ke pasar. Setiap beli sesuatu, Ibunya selalu maksa ke penjual buat nurunin harga 10 sen dari harga asli. Tetep maksa walaupun penjual gak mau ngasih. Ji Suk sebel terus nanya ke Ibunya
"Ibu, jangan melakukan itu. Itu memalukan. Apa yang ingin Ibu lakukan dengan menabung 10 sen?"
"Apa yang memalukan? Tidak ada yang dipermalukan. Kalau bodoh, baru seharusnya malu" kata Ibunya.
"Ibu menyebalkan" Ibunya cuma bales ketawa.

Ayah Ji Suk pulang ke rumah. Ibunya bawain air hangat buat Ayahnya, tapi Ayahnya marah dan bilang kalo air ini dingin. Setelah itu, Ayahnya mukulin Ibunya. Ji Suk sama adiknya cuma bisa nangis.
Ibunya bilang ke Ji Suk waktu mau makan, "Ibu tak apa-apa, makan saja. Kalian harus makan biar kuat".
Tangisan Ji Suk malah makin kenceng, dan Ji Suk pun lari.

Ji Suk nemuin Mijeong, temennya. Terus ngobrol sambil nangis, "Mijeong, aku benci rumahku. Aku benci Ayah dan Ibu. Aku ingin kuliah di Seoul dan hidup bebas. Aku tidak ingin menikah"
***

Di sekolah ada pertemuan Guru sama Ibu dari siswanya. Ji Suk ngeliat dari jendela Ibunya dateng dan mau ke kelas. Ji Suk keluar nyamperin Ibunya.
"Kenapa Ibu datang? Sudah ku bilang Ibu tak perlu datang"
"Sebenarnya Ibu tak mau datang. Tapi Ibu tidak ingin kau dianggap tidak punya Ibu. Kau tahu, Ibu tidak bisa membiarkan hal itu" Ibunya semangat.
"Ibu datang dengan pakaian seperti itu? Ibu mempermalukan aku! Apa yang Ibu tahu?" 
"Kau malu? Ya. Kau benar. Ibu rasa kau akan malu. Kenapa Ibu tak memikirkan sampai kesitu? Ibu juga akan malu jika Ibu mempunyai Ibu seperti ini. Sepertinya memang tidak apa-apa karena tidak ada orang yang melihat."
Ibunya nahan nangis, terus pulang. Ji Suk nya jahat T_T

Ibuku bangga kepadaku. Tapi aku malu kepadanya dan bahkan tidak memperbolehkan Ibu datang ke Sekolah.
***

Suatu malem, Ji Suk liat Ibunya lagi dipukulin sama Ayahnya. Ji Suk ngebanting sesuatu yang bikin Ibu dan Ayahnya keluar. Sambil nangis, Ji Suk teriak sama Ayahnya.
"Bunuh saja. Jangan membuat Ibu mati secara perlahan. Bunuh saja sekarang!"
Ji Suk pergi dan Ibunya ngejar. Kemudian Ji Suk dan Ibunya duduk berdua.
"Apa yang kau lakukan disini? Di luar dingin"
"Jangan tinggal dengan Ayah" kata Ji Suk. " Mengapa Ibu mengalah sepanjang waktu? Ibu tidak melakukan sesuatu yang salah"
"Bukan seperti itu. Ibu kasihan pada Ayah"
"Apa dengan mengalah akan membuat Ayah semangat bekerja?".
"Apa kau suka jika Ibu bercerai dengan Ayah?"
"Cerai saja atau pergi ke Seoul!"
"Ibu sudah memikirkan hal itu"
"Jadi, mengapa tidak?"
"Karena kamu."
"Karena aku?"
"Jika Ibu tidak ada disini, kamu pasti akan lelah. Kamu harus memasak, bersih-bersih, dan merawat adikmu. Bahkan kamu tidak bisa pergi ke Sekolah. Ibu tidak bisa membiarkanmu hidup seperti itu walaupun Ibu akan sering dipukuli. Seorang Ibu harus melakukan sedikit pengorbanan."
Ji Suk merhatiin Ibunya sambil nangis. Subhanallah banget Ibunya :'(
"Ibu benar-benar menyebalkan"
"Jangan menangis. Alasan Ibu hidup adalah dirimu"

Ibu menyerahkan hidupnya dan dipukuli karena aku, anaknya. Aku menjadi lebih perhatian kepada Ibuku sejak hari itu.
***

"Kenapa dia ingin kuliah di Universitas yang belum pernah kudengar namanya? Dia bisa cari disini." tanya Ayahnya ke Ibunya Ji Suk.
"Orang-orang yang tidak menyekolahkan anak-anak mereka akan menikahkan mereka. Tapi perempuan juga bisa mencari uang sekarang. Universitas yang dia inginkan bukan Universitas biasa" (Hmm... T_T)

Setelah itu adiknya bilang ke Ibunya kalo kakaknya, Ji Suk dapet beasiswa ke Universitas di Seoul. Ibunya seneng, teriak. Ayahnya juga diem-diem seneng :)
Ibunya bangga banget sama Ji Suk.

Tiba waktunya dimana Ji Suk memulai perjalanan merantau ke Seoul. Ibu, Ayah, sama adiknya Ji Suk ikut mengantarkan Ji Suk ke stasiun. Sebelum naik kereta, Ibunya bilang sesuatu ke Ji Suk.
"Kau akan meninggalkan Ibu sekarang"
"Aku akan sering pulang" jawab Ji Suk.
"Jika kamu dapat pekerjaan dan menikah, tinggallah di rumah Ibu, jangan rumah sendiri"
"Sudahlah. Aku pergi sekolah, bukan menikah"
Ji Suk siap-siap masuk ke dalam kereta.
"Bu, kok tasnya berat sekali"
"Ibu mengemas semua yang kau butuhkan. Maaf kalau jadi berat"

Ji Suk akhirnya masuk ke dalem kereta. Kereta jalan, Ibunya melambaikan tangan sambil ikut berjalan. Kayaknya belum rela ditinggal sama Ji Suk :')
Di dalem kereta, Ji Suk membuka tasnya dan melihat apa saja yang dibawakan oleh Ibunya. Ji Suk terharu melihat di dalamnya terdapat banyak makanan kesukaannya dan beberapa bungkus plastik yang berisi uang. Setelah itu, Ji Suk menemukan surat di dalam tasnya, kemudian membukanya dan membaca isi surat tersebut.

Anakku, Ji Suk. Ada begitu banyak yang ingin Ibu katakan, tapi Ibu tidak tahu bagaimana memulainya.
Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi Ibu sangat bangga padamu. Kamu telah pergi ke Seoul, Ibu sangat khawatir. Apa kamu makan dengan baik? Apa kamu akan sakit? Ibu percaya padamu, jadi  Ibu harus membiarkanmu pergi sekarang.
Mungkin tidak banyak, tapi Ibu menabungnya untukmu. Jika Ibu harus membeli tauge senilai 20 sen, Ibu hanya membeli senilai 10 sen. Saat Ibu membeli tahu, Ibu hanya membeli setengah blok. Maafkan Ibu tidak memberi lebih banyak.
Ibu sedih anak perempuan Ibu harus pergi. Maafkan Ibu.

Ji Suk nangis bacanya. Aku juga :'(

Ini adalah pertama kalinya aku berada jauh dari Ibu. Sebelumnya aku takut dan sering menelpon Ibu. Tapi setelah beberapa saat, aku mulai beradaptasi untuk tinggal di Seoul.
***

Suatu malem Ji Suk nelpon Ibunya.
"Hallo Ibu"
"Kenapa kau belum tidur?"
"Aku memikirkan Ibu"
"Kau tidak bisa tidur? Ada apa? Apa Ibu harus menyanyikan lagu nina bobo?"
"Ya"
Kemudian Ibunya nyanyi di dalam telpon.

Suara Ibu sungguh merdu. Apa dulu Ibu ingin menjadi seorang penyanyi? Seseorang yang tak punya hal untuk dilakukan atau ditunjukkan pasti sangat kesepian. Aku ingin menjadi anak yang membanggakan bagi Ibuku.
***

Ji Suk punya pacar. Dan dia akan menghadiri pertemuan keluarga. Ayah dan Ibu Ji Suk dateng ke Seoul.
"Bagus tidak? Dulu ini pakaian mahal" kata Ibunya ke Jisuk sembari memamerkan baju yang dipakainya.
"Bagus"
"Ini pertemuan pertama keluarga kita. Ayahmu membelikan ini untuk Ibu. Katanya Ibu kelihatan cantik."

Setelah itu berkumpullah keluarga Ji Suk dan keluarga pacarnya.
"Aku tak menyukainya" kata Ibu pacarnya Ji Suk.
"Begini.. Mengapa kau tak menyukai anakku?" tanya Ibu Ji Suk.
"Tidak ada satu hal pun yang membuatku menyukainya"
"Kau tak boleh berkata seperti itu kepada anak orang lain. Apa kau pikir kami datang kemari karena menyukai anakmu? jawab Ibu Ji Suk.
"Kalau begitu lupakan saja"
"Kita tidak bisa apa-apa. Mereka yang sedang saling mencintai"
"Aku tidak mengkuliahkan anakku untuk menikah dengan menantu seperti dia"
"Anakku juga kuliah"
"Dia sekolah 2 tahun di Universitas biasa. Tapi anakku kuliah selama 4 tahun di USA"
"Anakmu kuliah ke luar negeri karena orang tuanya kaya. Anakku harus bekerja sambilan selama kuliah. Dia bahkan hanya punya sepasang celana jeans. Anak lainnya setelah lulus SMA langsung menikah dengan modal orangtuanya. Anakku kuliah selama 2 tahun dan menjadi tulang punggung keluarga. Ini sangat menyakitkan bila aku ingat hal ini"
"Itulah mengapa aku menentangnya. Tak mudah menjadi menantu dari keluarga miskin. Bodoh sekali dia" (songong banget nih!)
"Baik. Aku juga tak sudi orang bodoh menjadi menantuku. Lupakan pernikahan ini"

Ji Suk beserta Ibu dan Ayahnya keluar. Sambil jalan, Ibunya menyobek baju yang dipakainya. Sedih deh liatnya.....

"Sudahlah, Ibu membuatku sedih. Aku tak akan menikah dengannya"
"Ibu hidup karena kamu, tapi Ibu membuatmu sedih. Maafkan Ibu"

Malamnya, dalam keadaan hujan, Ibu Ji Suk dateng ke rumah pacarnya Ji Suk dan menemui Ibunya.
"Untuk apa kemari? Tak ada lagi alasan untuk kita bertemu"
"Aku rasa aku salah kemarin. Sejujurnya... Itu karena kebodohanku. Aku memang bodoh. Tapi anakku tidak. Dia tidak sepertiku. Sangat menyakitkan bila melihat dia amat menderita karena orang tuanya. Sekarang dia tidak bisa menikahi pria yang dia cintai karena orangtuanya. Aku sangat kecewa dengan Ibuku. Dia seharusnya menyekolahkanku. Kenapa dia tidak menyekolahkanku? Maafkan aku. Apa yang harus kukatakan kepadamu agar kau tak marah lagi? Maafkan aku..."
Bikin banjir sedih banget :'(

Aku akhirnya menikah tahun itu.
***

Ji Suk pun akhirnya punya anak. Setelah liat anaknya yang baru lahir, Ji Suk bilang sesuatu sama Ibunya.
"Ibu, apa rasanya sesusah ini ketika Ibu melahirkan aku? Aku akan menjadi anak yang baik sekarang"
"Ibu rasa kau sudah dewasa sekarang setelah kau punya anak.
***

Beberapa tahun kemudian, Ayahnya Ji Suk meninggal.

Aku kira aku tidak menyukai Ayahku. Aku kira aku membenci Ayahku. Aku kira aku tidak mempunyai kenangan tentang dia dan aku tak merindukannya.
***

Kapanpun aku sedang susah, Ibu selalu menghiburku. Jika aku menangis, Ibu menangis lebih dariku. Saat aku sedang sedih, hatinya pasti ikut sedih. Itulah seorang Ibu.
***

Suatu hari, Ji Suk mengunjungi Ibunya sendirian ke rumah Ibunya di desa dan menginap lama disana.
Ji Suk juga nemuin Mijeong, teman lamanya lalu ngobrol di tempat biasa.
"Tak ada yang berubah disini" kata Ji Suk kepada Mijeong.
"Daerah pedesaan susah untuk berubah. Kita yang berubah. Kelihatannya kau tak sehat?."
"Mijeong. Aku sibuk beberapa waktu kedepan. Seringlah menjenguk Ibuku. Ayah sudah meninggal dan aku jarang pulang"
Mijeong mengangguk "Iya. Ibumu seperti Ibuku"
***

Ji Suk masih menginap di rumah Ibunya. Ia menghabiskan waktu bersama Ibunya setiap hari.

"Bu, maaf kalau kemarin aku menyebalkan."
"Mengapa kau berkata seperti itu? Ada apa? Seorang Ibu tahu segalanya. Seorang Ibu tahu ketika anaknya sedih"
"Katanya tahu segalanya kenapa malah tanya"
"Kau menderita karena ada yang tak beres. Katakan"

Suatu hari Ibunya bertanya kepada suami Ji Suk lewat telepon. "Jun Su, ini Ibu"
"Ibu, ada apa?"
"Kau habis bertengkar dengan Ji Suk?"
"Tentu saja tidak"
"Terus kenapa dia datang sendiri? Tingkahnya aneh. Kau pasti tahu ada apa. Katakan"
"Dia tak bertingkah aneh, dia hanya kangen dengan Ibu. Makanya dia pulang" kata Suami Ji Suk sambil nahan nangis.
"Kenapa suaramu? Ada apa?"
"Tidak Bu, tidak ada apa-apa"
"Ini membingungkan, katakan sekarang"
"Ji Suk menyuruhku merahasiakannya. Ibu, Ji Suk sedang sakit"
"Dia harus ke RS. Kenapa malah kemari? Sudah kuduga, dia jadi kurus. Ibu akan mengantarnya ke RS besok"
"Ibu, dia sudah ke RS. Dia terkena kanker pankreas stadium akhir. Aku tak bisa hidup tanpa dirinya, apa yang harus kulakukan?" Jun Su nangis.
Ibunya kaget. Diem sambil terisak.

Bedanya sama Wedding Dress, kalo di WD Ibunya yang kena kanker. Tapi kalo disini, anaknya yang kena kanker. Tapi sama-sama sakit :'(

Ibunya masuk ke dalam kamar. Memijati kaki Ji Suk.
"Apa kau akan pulang lebih awal besok? Bisakah tinggal disini lebih lama?"
"Aku harus merawat anakku." Ibunya nangis.
"Kapan ya aku bisa datang lagi?"
"Kau bisa kesini bulan depan, jangan berkata seperti itu. Kau bisa kesini bulan depan dan bulan berikutnya"
Ji Suk bingung mendengar perkataan Ibunya.
"Tak ada yang bisa mengambilmu dariku. Tak ada yang akan mengambil anakku selama aku masih hidup." Ibunya nangis.
"Anakku, jangan khawatir. Ada Ibu. Ibu disini, Ibu ada disini. Akan ku lindungi anakku. Ibu akan melindungimu"
Ji Suk mengeluarkan air matanya T_T "Ibu...."

"Oh Tuhan, aku tak bisa hidup seperti ini. Aku tak bisa hidup tanpanya. Ambil aku juga. Aku tak bisa hidup tanpa anakku."
Ji Suk nangis kenceng. "Ibu... Maafkan aku"
"Kenapa kau harus meminta maaf?"
"Banyak. Karena tidak menurut. Karena membuat Ibu kesepian. Karena mengecewakan Ibu. Karena menutup telepon lebih dulu"
"Anakku jangan seperti itu. Tidak perlu  minta maaf. Maafkan Ibu..."

Sedih bangeeeeeet :'( :'(

Besoknya, Ibunya mengantar Ji Suk ke stasiun.
"Bu, aku harus berangkat. Aku harus bersama Hye Yeong (anaknya). Aku sudah menjenguk Ibu"
"Anakku, jangan khawatir. Kau tak akan pergi duluan. Ibu tahu segalanya tentangmu. Kau taka kan pergi duluan, jadi jangan takut. Ibu akan melindungimu. Ibu akan melakukan apa saja meski harus ke ujung dunia. Pergilah..Ibu tidak akan menangis jika tak terjadi apa-apa, jadi kau jagan menangis"
Ji Suk masuk ke dalem kereta. Ji Suk nangis, Ibu Ji Suk nangis. Aku juga nangis... :'(

Sedih banget pokoknya. Rasanya udah kayak pertemuan terakhir :'(
***

Dan emang bener seperti pertemuan terakhir. Setelah itu Ji Suk meninggal.
"Nenek, aku kangen Ibu. Kapan Ibu pulang?" kata Hye Yeong.
"Akan kuberitahu Ibumu kalau kau kangen. Jadi anak baik, ya?" Hye Yeong mengangguk.
***

Anakku, Ibu masih terus hidup. Meski Ibu telah mengantarmu pergi. Hari-hari telah berlalu. Semakin dekat bertemu denganmu. Seharusnya Ibu cepat menyusulmu dan berbicara denganmu agar kau tak kesepian.
Ibu sungguh bodoh. Ibu tidak bisa tidur karena khawatir. Ibu tak bisa bertemu denganmu meski sudah mati.

Anakku, jika kau mendengar kematianku, jangan biarkan aku tersesat. Kau harus mencariku.
Anakku, apa kau tahu? Hal terbaik yang pernah aku lakukan dalam hidupku adalah melahirkanmu. Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah juga melahirkanmu. Maafkan Ibu berkata seperti ini. Tapi jadilah anakku lagi di kehidupan mendatang.
Ibu menyayangimu, putriku....

:'( :'( :'(
***

Serang, 23 Oktober 2013. 21:16
*nangis*


This entry was posted in

Tuesday, 22 October 2013

Belajar Bahasa, Belajar Ingat Dosa

Ini kayaknya ekstrim banget ya judulnya hahaha. Gak apa-apa, biar serem-serem lucu :D
***

Kemarin sore, Serang ramai dengan hujannya. Mobil sama motor pun kayak berenang di air :v
Dan kemarin, hujan membasahiku dalam perjalanan menuju kampus *_*
Pake jas hujan tetep aja basah, sepatu aku aja udah berasa abis kejebur @_@
Eh pas nyampe kelas, hanya ada beberapa orang dan dosen yang udah dateng. Padahal aku udah bela-belain menerjang ombak #lebay ~_~
(Ini kenapa tulisannya banyak emot haha)

Kemarin sore ada mata kuliah B. Indonesia. Aku baru liat dosen B. Indonesia ngejelasinnya sampe ga nafas gitu, cepet banget. Aku malah cengo bukannya dengerin. Maklum, katanya lagi ngejar bahan UTS yang diundur heuheuheu.
Setelah itu kita disuruh ngerjain soal. La la la la... Ceritanya udah selese. Temen-temen aku juga udah banyak yang beres. Terus aku ke depan, ngasih buku buat dapet nilai dari dosen. Entahlah, sore itu aku berasa jadi anak SD yang minta-minta nilai hoho.
Ketika aku udah ngasih tugasnya ke dosen dan nunggu, ada satu temen yang nyeletuk,
"Kayaknya kalo penulis mah dapet cepe deh, harus dapet cepe"
"Hah?" aku kaget karena tiba-tiba ada yang ngajak ngomong di samping haha.
Tapi setelah itu aku ngeh dan jawab, "Penulis jadi-jadian. Jangan gitu.. Tadi pagi aja aku baru dapet kritikan EYD dari pembaca blog. Serius :|" dan setelah itu dia cuma nyengir. Aku ikutan nyengir.

Dan ternyata nilaiku emang gak sesempurna yang aku harapkan. Aku sedikit kecewa gara-gara satu soal yang bikin aku mikir (padahal semuanya juga mikir haha).
Harus banyak belajar nih, jangan cuma nulis tanpa dosa mulu heuheu............


Serang, 22 Oktober 2013. 4:07
Menulis dalam pagi setelah mengerjakan makalah Pancasila

This entry was posted in

Monday, 21 October 2013

Aku Cemburu

Aku cemburu, pada mereka yang hari ini berkutat dengan kesibukannya.
Aku cemburu, pada mereka yang saat ini mengumbar aura bahagianya.
Aku pun cemburu atas pengalaman baru yang mereka anggap sebagai keajaiban.

Sebenarnya aku cemburu, mendapati setiap cerita menarik yang mereka lontarkan.
Bisa menyibukkan diri sehingga aku pun tak dapat mereka dengar.
Lalu siapa yang dapat melihatku? Apa aku harus merusak kebahagiaan mereka dengan semua keluhku?
Aku yang tak mau.

Aku cemburu, mengapa aku terus berdiri disini. Terpaku di tempat yang sudah sangat ku hafal. Maka apa yang dapat aku kisahkan?

Aku cemburu, menjadi sosok yang diam sebagai pengamat. Sedang mereka mulai beranjak menggeluti hal-hal yang menyenangkan.

Aku cemburu pada mereka yang kini sudah berubah, sudah berbeda, sudah semakin menjadi manusia.


Sedang aku..

Masih disini, sempat menulis apa yang aku cemburukan.


Aku cemburu. Sungguh....


Serang, 21 Oktober 2013. 13:42
Menulis sebelum bertemu kuliah sore

This entry was posted in

Saturday, 19 October 2013

Kepada Cinta

Kepada Engkau
Satu setengah tahun lalu yang menghempas nafas
Menjadi debar tiap waktu aku berjalan
Melihat dan menatap lamat
Punggungmu yang berlalu dengan ratapan yang entah apa
                                
Ketika dada menggumam sebuah nama
Mengapa namamu yang harus aku tera?
Mengapa hujan tak turun dan buat aku merasa
Siapa dia, siapa aku adanya

Lalu ia?
Tahukah setiap perahu yang aku muarakan
Sadarkah setiap suara yang aku rindukan
Dan ingatkah
Jika masa pernah menaruh kita kepada ruang yang sama
Mengembalikan kita pada waktu yang tak terduga

Saat masa mengubah dewasa
Semoga saja aku menjadi sanggup
Menunggu insan yang masih kueja
Dalam doa merapal namanya

19 Oktober 2013
"Diikutsertakan dalam Lomba Puisi Cinta"
This entry was posted in

Monday, 14 October 2013

Jang Geum: "Memilih Hidup Senang Ternyata Sangat Berat"

Ketika Dayang Han dan Jang Geum sedang berbicara di ruangan, tiba-tiba Dayang Jung datang bersama dengan Yeong San. Lalu keempatnya duduk. Dayang Jung berhadapan dengan Dayang Han, sedangkan Jang Geum dan Yeong San keduanya duduk disamping mereka (Dayang).

Dayang Jung: (bertanya kepada Dayang Han) "Apakah kau tak suka jika aku menjadi dayang utama kerajaan? Mengapa kau tak datang menemuiku untuk mengucapkan selamat?"

Dayang Han: "Bukan begitu, Nyonya. Maafkan aku, aku memang sengaja melakukannya"

Dayang Jung: "Mengapa begitu?"

Dayang Han: "Maaf Nyonya, aku hanya merasa kau tak seharusnya berada di posisi itu"

Dayang Jung: "Kau ini, mengapa mengatakan hal yang begitu menyakitkan kepada aku yang baru diangkat menjadi dayang utama" (Sambil tertawa)

Dayang Han: "Posisi itu akan terasa melelahkan bagimu, Nyonya. Aku mengetahui kebiasaanmu melebihi siapapun yang mengenalmu"

Dayang Jung: (Bertanya kepada Dayang Han) "Lalu menurutmu apakah aku ini harus hidup susah atau senang?" (Tersenyum)

Dayang Han: (Diam)

Dayang Jung: (Bertanya kepada Yeong-San) "Bagaimana menurutmu?"

Yeong-San: "Kau harus hidup dengan senang, Nyonya" (Tersenyum manis)

Dayang Jung: (Menatap Jang Geum dan bertanya hal yang sama)

Jang Geum: "Hmm.. Kau harus menjalani hidup seperti apa yang kau suka. Aku pernah memilih untuk hidup senang.... tapi ternyata sangat berat :(" (Suara merendah dengan gaya khas anak-anak yang lucu)

Dayang Jung: "Hahahaha... Kau ini benar-benar sangat lucu"

Dayang Jung, Dayang Han, Yeong San dan Jang Geum semuanya tertawa bersama


*Hmm iseng... efek menonton kembali drama masa kecil. Jewel In The Palace :)


Serang, 14 Oktober 2013. Malam Idul Adha. 19:49
This entry was posted in

Saturday, 5 October 2013

AUDISI MENULS "CINTA TERPENDAM"-DL 9 Oktober 2013

Banyak yang bilang jatuh cinta berjuta rasanya, apalagi jatuh cinta untuk pertama kali. Saat kedua mata bertemu, saat harapanku ada padanya, saat keindahan duniawi terpancar alamiah, saat itu pula aku hanya bisa memendam rasa. Bukan karna aku tak mampu menggapai, tapi ada seseorang yang sedang menggenggam erat tangannya. Atau kepribadiannya yang terlalu sempurna yang tak mungkin kumiliki. Atau mungkin ada alasan tertentu lainnya.
Mozaiker pernah mengalami hal serupa? Jangan hanya menjadi pengagum, memandangnya dengan jarak 2 meter sudah membuat bahagia. Ini saatnya Mozaiker membuat event untuk kalian. Tuangkan semua ide gilamu tentang cinta terpendam dalam sebuah tulisan.

SYARAT &KETENTUAN:
1.      Lomba terbuka untuk umum.
2.      Wajib me-Like fanpage MozaikIndie Publishermeng-add FB Mozaik Indie Publisher dan  Nova Pjn (https://www.facebook.com/nova.blank) sebagai PJ event.
3.      Peserta wajib menyebarluaskan info lomba ini dengan cara meng-copy-paste di catatan FB masing-masing. Tag 20teman FB termasuk FB  Mozaik IndiePublisher dan  Nova Pjn (sebagai buktitelah mendaftar event ini).
Jikalewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format:#AudisiCintaTerpendam[linkblogmu] mention: @MozaikIndie dan minim 5 orang temanmu.

4.      Kisah nyata yang belum pernah dipublikasikan, bisa kisah sendiri (sudut pandang orang pertama, aku atau saya) atau menceritakan orang lain dengan sudut pandang orangketiga (dia), nama orangnya boleh disamarkan. Jika yang ditulis adalah kisah orang lain maka harus ada keterangan dari orang yang bersangkutan bahwa itu adalah kisah nyata.

5.      Tiap peserta hanya boleh mengirimkan masing-masing 1 naskah terbaiknya.
6.      Ditulis di kertas A4, Font; Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 1,5, margin 3333(cm),  tidak mengandung SARA dan Pornografi.
7.      Panjang naskah 6-8 halaman, dan harus menyertakan biodata narasi maksimal 100 kata diakhir naskah.
8.      Kirimnaskah kamu ke email audisicintaterpendam@yahoo.com dengan ketentuan subject dan nama file sbb : CT_nama penulis_judul naskah. Contoh :CP_Merry Januarti_Kusentuh dalam mimpimu. Semua berkas dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
9.      Update peserta bisa dilihat di catatan FB Nova Pjn yang akan dilakukan 1 minggusekali.
10.  Lomba dimulai hari ini 9 September 2013 dengan deadline 9 Oktober 2013. Pengumuman peserta yang lolos menyusul tergantung kondisi dan banyaknya naskah yang masuk.
REWARD
-20 naskah yang lolos akan dibukukan di MozaikIndie Publisher.
Jika kualitas naskah sangat menjual, akan kami coba ajukan dulu ke penerbit mayor.
- 2 naskah terbaik berhak mendapat 1 bukti buku terbit dan sovenir cantik dari PJ.
- Semua penulis kontributor terpilih mendapatkan royalti berupa potongan harga 15% per buku yang dapat dipesan melalui Mozaik Indie Publisher .Sehingga semakin banyak buku yang kamu jual sebanyak itu pula royalti yang kamu peroleh. Kita sama-sama bisa mempromosikan bukunya dan menjualnya.
Nah, tunggu apalagi. Jika ada hal yang kurang jelas dan ingin ditanyakan, harap ajukan pertanyaan di kolom komentar atau bisa juga menghubungi PJ event.


Salam Pena



Mozaik dan NovaPjn
This entry was posted in