Thursday, 4 December 2014

Jiwa Ini Tandu

Sumber gambar
Langit begitu sendu malam ini. Bintang juga tak mau nampak. Malu-malu ia enggan memperlihatkan hatinya.

Malam ini dadaku bertabuh. Ada bulir-bulir kalimat yang ingin terserap namun tak mampu dibaca siapapun.


Karena setiap kata adalah kelu.


Mungkin ada yang dapat keluar dari lidah ini, ketika sesak sudah tak lagi tertahan. Diri saja sudah tak sanggup merasa, apalagi yang lain, mana pula mereka tahu. Bicara saja aku tak pernah. Terlebih kepadamu.

Benar, bagaimana bisa ada anggukan ketika keyakinan bersuara hilang. Hancur bahkan sebelum ia hendak melebur.


Sebab jiwa ini tandu.


Maka, jangan lihat aku yang menunduk malu. Pergilah, kembali setelah aku berani.

Jangan pula menatapku terlalu lama. Pergi saja, atur waktumu yang masih indah.


Tapi boleh jadi,

Bila kau memilih tetap di sana dan menunggu, maka biarkan senyummu menjadi penawar gelisahku.


Lalu aku akan meyakinkan diriku dan berhenti melupakanmu.


Sungguh.

~
This entry was posted in

Tuesday, 2 September 2014

September, Edelweiss, dan Kupu-kupu

Sumber gambar


Of all the things I still remember
Summer's never looked the same
The years go by and time just seems to fly
But the memories remain

In the middle of September we'd still play out in the rain
Nothing to lose but everything to gain
Reflecting now on how things could've been
It was worth it in the endChris Daughtry, September

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland foreverThe Sound of Music, Edelweiss

Kecil mungil bewarna
Warna-warni terangi alam
Sentuhan karya indah
Jika tergambar baik
Mata hati melihat kau sangat istimewa
Terbang melayang-layang menari hinggapi bunga-bungaMelly Goeslaw, Kupu-kupu
~

Tak ada yang istimewa dari bulan September. Ia hanya satu dari beberapa bulan setelahnya yang mungkin akan terasa sama, kosong. Tak ada yang namanya pertemuan. Yang ada hanya kenangan yang sama-sama kita nikmati di pelataran hati masing-masing. Hingga September selesai dengan sendirinya.

Sudah detik kesekian habis begitu saja untuk mengumpat rindu yang tak pernah bisa luruh karena jarak. September membuat puluhan waktu terasa lama, karena kita hanya duduk dan menunggu. Kita tak pernah mau berhenti menghitung waktu. Sebab hanya dengan itu kita—aku dan kamu— akan tersenyum, meski dada tetap merasa sesak sesekali. Mungkin ada banyak luka yang belum juga sembuh di sana. Tapi kita sepakat untuk merawatnya.

Di pertengahan September nanti, semoga saja hujan dapat turun. Meskipun hujan kali ini akan terasa lebih sepi. Setidaknya kita masih bisa coba untuk merasakan setiap rintiknya. Sama seperti aku dan kamu. Sepasang manusia yang merasa kesepian. Kita hanya tahu cerita-cerita tentang keindahan tanpa pernah merasakannya. Barangkali kita hanya dua manusia yang mengagumi edelweiss di tepi jurang. Melewati rintangan-rintangan yang berat untuk sampai ke puncak gunung, hanya untuk menikmati keindahan padang edelweiss, tanpa berani memetiknya. Sebab, katanya, memetik edelweiss di tepi jurang, selain taruhannya nyawa, hanya akan membuat kering dan menghilangkan satu dari sekian banyak nilai kesempurnaannya. Kita pun sama, hanya mampu diam dan menikmati rindu tanpa pernah bisa jujur. Karena kita sama-sama tahu, mungkin setelah itu akan ada jarak yang sulit untuk disulam kembali. Dan mungkin saja, kita mendadak lebih bisu dan sungkan dari biasanya. Ingin tersenyum tapi malu. Ingin menatap tapi takut tak mampu. Rumit. Seperti sepasang pecinta yang layak dikasihani.

Biarlah kita terus menjadi kepompong, sampai kita sama-sama berhasil untuk bermetamorfosis. Bukan hanya menjadi kupu-kupu, tetapi menjadi kupu-kupu yang sangat indah.
~~
This entry was posted in

Tuesday, 12 August 2014

'The Liebster Award'



Ada yang tahu apa itu The Liebster Award?

Barangkali, The Liebster Award atau disingkat TLA, menjadi hal 'asing tak asing' di kalangan blogger. Asing, sebab baru kali pertama mendengarnya. Tak asing, sebab sudah pernah mendapatkannya. Tentu, saya masuk ke dalam kategori pertama.

Jadi, mengapa kali ini saya ingin menulis tentang TLA di blog ini yaitu bermula dari salah satu pengunjung blog yang memberikan saya award ini, yang kemudian saya temukan di dalam kolom komentar. Orang tersebut adalah Wiliana Nana, pemilik dari blog willynana.blogspot.com.

Setelah saya mencari tahu hingga hilir-mudik mencari bunga-bunga yang kembang, ternyata TLA ini adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh seorang blogger ke blogger lain secara berantai, dari satu blog ke blog lainnya. Awal mula penghargaan ini berasal dari Jerman.

Cara Kerja dan Peraturan

Setelah membaca cara kerja TLA dari blog panekuk.blogspot.com saya menjadi lebih paham mengenai penghargaan ini. Cara kerja award ini mirip seperti surat berantai, setiap blogger yang dapet award ini mesti nyolek blogger lain untuk melakukan hal yang sama. Nah, setiap blogger punya kebebasan penuh untuk menerima award ini atau mengabaikannya. Kata mbak Frida, kalau diabaikan bisa menyinggung yang memberi, hehehe. Dan konon katanya, kalau di luar negeri sana, orang yang menolak award ini akan dikucilkan dari dunia per-blog-an. Apa iya sampai segitunya?


Lantas, adakah aturan main dari award ini? Tentu saja ada. Ini dia The Official Rules of Liebster Award dari wordingwell.com. Saya mengambil yang sudah diterjemahkan saja oleh panekuk.blogspot.com.

1. Berterimakasih sama orang yang menominasikan kamu, dan cantumkan alamat blog dia di blog kita.
2. Tampilkan gambar The Liebster Award di blogmu, boleh di post atau di widget. Terserah.
3. Jawab 11 pertanyaan dari orang yang menominasikanmu untuk TLA.
4. Tulis 11 fakta random tentang dirimu.
5. Nominasikan 5-11 bolger yang menurutmu pantas untuk mendapatkan award ini, yaitu blog yang memiliki follower kurang dari 1000.
6. Bikin 11 pertanyaan baru untuk blogger yang kamu nominasikan di TLA
7. Masukkan peraturan dari The Liebster Award di postinganmu.
8. Setelah postinganmu di publish, kamu mesti ngasih tau orang-orang yang kamu nominasikan dalam TLA, kasih mereka tautan postinganmu.

Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada Wiliana Nana karena telah memberikan penghargaan ini kepada saya. Salam kenal yaa! :)

Pertanyaan-pertanyaan dari Wiliana

1. Adakah blog seseorang yang membuat kalian terinspirasi? Sertakan alamat blognya
Ada. Blog salah satu penulis yang saya kagumi azharologia.com

2. Plus minus nya blog gue dong?
Plusnya: Cerpennya bagus. Suka posting tentang makanan, bikin ngiler. Dan banyak postingan cerita tentang SMA yang mengingatkan saya kalau saya sudah bukan anak SMA lagi, hahaha.
Minusnya: Tulisannya kurang rapi, gitu aja sih. :)

3. Kalau dapet uang 100 juta mau diapakan? Alasannya?
Kalau dapet 100 juta sih bisa buat pergi Haji. Alasannya ya karena kewajiban umat muslim (bagi yang mampu), mumpung ada uangnya. Kapan lagi coba? Hehehe.

4. Apa talent yang kalian punya?
Bikin orang ketawa, nangis, manyun, kayang, sampe salto, itu talent bukan? XD

5. Pilih selfie atau dipotoin pake kamera slr sama photographer terkenal?
Karena saya ga jago selfie, jadi lebih milih dipotoin.

6. Lagu apa yang sekarang lagi sering di dengerin?
Banyak sih. When You Say Nothing At All, Eternal Flame, You and Me, Tuhan Maha Romantis, Jangan Pernah Berubah nya Marcell (tapi lebih suka dengerin versinya Virzha Idol)

7. Apa impian kalian?
Nulis buku

8. Lagi pengen banget pergi ke suatu tempat gak? Kemana?
Ke Canberra, Sydney, Melbourne, Perth, Brisbane, dan masih banyak. Pokoknya keliling Australia dah.

9. Pilih gunung atau laut?
Lebih jarang naik gunung sih, jadi laut aja.

10. Lebih senang main di dunia maya atau dunia real?
Of course dunia nyata, karena saya hidup di sana, hehehe.

11. Tulis kata-kata mutiara atau quotes nya dong? Bebas tentang apa aja :)
Menulislah, maka kau tak akan jadi gila. (Hehehe).
`

Kemudian, 11 Fakta Random Tentang Saya

1. Anak ke-11 dari 14 bersaudara

2. Penikmat drama korea sejak tahun 2002

3. Masih memegang status sebagai mahasiswa

4. Paling seneng dikasih novel dan dvd gratis

5. Dari Lee Dong Wook masih jadi Oppa sampe Lee Dong Wook udah jadi Ahjussi, saya masih tetep suka nulis-nulis di udara (dibilang kebiasaan aneh sama orang rumah)

6. Suka nyanyi (tapi ga bagus2 -.-) dan suka denger orang nyanyi

7. Ga bisa nangis di depan orang, ga bisa liat orang nangis di depan

8. Punya ruangan favorit di rumah: Kamar tidur dan Kamar mandi. Soalnya cuma bisa nangis di kedua tempat itu, hahaha.

9. Punya keponakan yang ganteng-ganteng serigala dan cantik-cantik. Ga ada mereka ga rame, tapi ada mereka jadi rese. Ups...

10. Seneng dengerin orang cerita, tapi ga bisa cerita. Suka denger orang yang curhat, tapi ga bisa curhat.

11. Fakta terakhir. Saya ini.... Alien, lho


11 Blogger Nominator The Liebster Award dari Saya:

Arif Chasan http://garishorizon.blogspot.com/
Ayu Citraningtias http://aiyuchee.blogspot.com/
Doni Dwi Setya http://celotehnyasidony.blogspot.com/
Nur Ramadhani http://diirumahkata.blogspot.com/
Hilda Ikka http://cokelatgosong.blogspot.com/
Yuliana Permatasari http://thelittlepresent.blogspot.com/
Reny Puji http://renypj.blogspot.com/
Farida DN http://faridadn.blogspot.com/
Sri Efrianty http://pengejalangit.blogspot.com/
Indah Budi Utari http://missutari.blogspot.com/
Rahardian Shandy http://komedi-romantis.blogspot.com/

11 Pertanyaan Untuk Nominee

1. Apa alasan pertama kali kamu memutuskan untuk bikin blog?
2. Film yang paling keren yang pernah ditonton?
3. Apa kebiasaan unik yang kamu punya?
4. Adakah impian kamu yang saat ini sudah tercapai?
5. Novel terbaik yang pernah kamu baca?
6. Lebih suka belanja online atau langsung? Alasannya?
7. Suka nonton drama atau cinema Korea? Kalo suka, drama/cinema apa yang paling kamu suka?
8. Penyanyi yang disuka? Boleh di dalam negeri ataupun luar negeri. Kasih alesan ya.
9. Apa yang kamu rasakan tentang kakak/adikmu?
10. Bagaimana cara kamu mengetahui bahwa kamu sedang jatuh cinta?
11. Apa harapanmu untuk 20 tahun yang akan datang?

Saya tunggu partisipasinya yaa! (:
This entry was posted in

Wednesday, 2 July 2014

Yang Terlupakan dari Ramadhan


Saya tidaklah semuslimah yang orang-orang bayangkan. Saya pun tidak sebaik yang orang-orang pikirkan. Saya hanya seseorang yang sedang menjalani proses belajar menjadi keduanya.

*
Ada satu hal yang baru saya sadari saat ini. Satu momen di bulan ramadhan yang hampir 'terlupakan'. Satu momen — yang kalau dingat-ingat kembali — ternyata memiliki efek yang luar biasa terhadap hidup saya hingga kini. Satu momen itu adalah saat pertama kali saya membuat sebuah keputusan untuk berjilbab (dengan konsisten).

Waktu itu, tepat pada 1 Ramadhan, di tahun 2009 (kalau saya tidak salah ingat tahunnya), saya membuat keputusan — yang menurut saya — adalah sebuah keputusan yang sangat besar bagi diri saya sendiri. Bahwa saya memutuskan untuk berjilbab (dengan konsisten). Mengapa ini adalah keputusan besar bagi saya? Sebab saya harus mengingat bahwa ada keharusan akan konsekuensi dan konsistensi yang harus saya hadapi di dalamnya.

Keputusan untuk berjilbab juga menjadi keputusan yang berat. Saya rasa, perempuan lain pun mungkin pernah merasakan hal yang sama seperti saya. Karena, seperti yang sudah saya katakan di atas, di dalam keputusan tersebut ada konsekuensi-konsekuensi yang harus saya terima dan ada pula konsistensi yang harus dijalankan setelahnya. Maka dari itu, bisa dibilang, keputusan ini tidaklah mudah. Saya harus mengumpulkan kekuatan agar hati saya tidak berubah sewaktu-waktu, tidak tergiur oleh pergaulan yang bisa jadi dapat mempengaruhi keputusan saya tersebut. Tetapi alhamdulillah, ternyata saya mampu menghadapi itu semua hingga sekarang.

Saya mungkin tergolong anak yang paling lama 'memiliki keyakinan' untuk benar-benar berjilbab di dalam keluarga. Rasanya memang sulit, mungkin karena saya tidak pernah membiasakannya. Terlebih lagi di kalangan teman-teman saya, mungkin saya menjadi salah satu perempuan yang 'telat berjilbab'. Sewaktu SMA, saya pernah berdiskusi bersama beberapa teman-teman perempuan saya mengenai "kapan pertama kali berjilbab di sekolah?". Ternyata banyak dari mereka yang menjawab bahwa sejak SD sudah sekolah menggunakan jilbab, bahkan ada yang sejak TK sudah dibiasakan sekolah menggunakan jilbab. Sedang saya sendiri menjawab dengan malu-malu, "bahkan ospek SMP pun saya ga berjilbab". Yang ada, saya mendapat jawaban wajah-wajah yang tidak percaya (sejujurnya teman-teman dekat saya memang tidak pernah percaya semua yang saya katakan. Karena katanya saya memiliki muka yang kriminal #padahalsayaimutimutloh :p. Terlebih lagi, karena saya juga sering mengerjai dan menipu mereka. Katanya juga, mereka tidak bisa membedakan apakah saya sedang jujur atau bohong, muka saya terlalu meyakinkan buat mereka, hahaha).

Tapi waktu itu apa yang saya katakan memang benar. Waktu Ospek SMP, di kelas saya hanya ada dua perempuan yang berjilbab. Sesekali saya memperhatikan mereka, sebenarnya saya juga ingin seperti itu, tapi apa daya ada keraguan yang saya rasakan. Untungnya, di tahun saya masuk adalah tahun pertama dimana sekolah tersebut mewajibkan murid perempuan untuk berjilbab. Karena di tahun-tahun sebelumnya, SMP tersebut tidak mewajibkan murid perempuan berjilbab. Seragam kebangsaannya pun pendek, baik laki-laki maupun perempuannya, ya seperti waktu SD saja. Maka dari itu saya bersyukur sekali sekolah tersebut akhirnya mewajibkan siswi memakai jilbab.

Sampai saat ini, saya tidak pernah menyesal terhadap keputusan untuk berjilbab yang pernah saya buat, saya sangat senang meskipun awalnya saya takut kalau-kalau saya akan berubah pikiran, entah besok, lusa, atau beberapa tahun kemudian. Tapi ternyata saya sanggup mengatasi ketakutan saya tersebut. Semuanya adalah proses belajar buat saya. Mungkin, jika waktu itu saya tidak membuat keputusan besar tersebut, bisa saja saya tidak seperti saya yang sekarang.(bukan Tegar penyanyi cilik ya). Sebenarnya berjilbab itu tidak sulit, yang sulit adalah memantapkan hati untuk menyegerakannya.
Terimakasih untuk hidayah ramadhan yang diberikan.

Selamat Ramadhan! Semoga tidak ada kepura-puraan dalam menjalaninya... :)
~

Saturday, 14 June 2014

Saat Cinta Melupa


"Lupakanlah cinta yang kita tak punya kemampuan untuk mengatakan dan membuktikannya. Lupakanlah cinta yang keindahannya hanya fatamorgana di padang pasir. Lupakanlah cinta yang bahkan kita masih ragu untuk menyebutnya cinta. Cintailah saja hal-hal yang kita memang sanggup mencintainya. (A.N.A)"

Rasanya adalah hal yang wajar saat aku mengatakan "apa yang kurasakan, nampaknya adalah cinta". Pun dengan apa yang pernah kutulis kemarin, atas keraguan perasaanku. Semuanya menunjukkan bahwa aku sedang berada dalam dimensi 'jatuh'. Tetapi, seiring berlewatnya waktu, kesederhanaan perasaan yang kurasakan semakin pudar. Kesederhanaan tentang bagaimana jiwa memaknai rasa. Ia kini telah berganti menjadi imaji-imaji yang rumit. Mungkin ini adalah sebab dari terlalu dalamnya aku menyelami hatiku sendiri.

Katanya, kita terlalu ambisius apabila mempertahankan cinta yang tak jelas muaranya. Karena setelah itu, yang ada hanyalah rasa keingintahuan yang besar dan kita akan menemukan realita ketidakpastian di sana. Dan aku merasakan keduanya. Pertama, tentang rasa ingin tahu. Tahukah, seberapa sering aku bertanya pada diri sendiri, tentang hal-hal kecil mengenai ia, yang kuubah menjadi pertanyaan besar yang rasanya sulit untuk dijawab? Lalu setelah itu, habislah otakku untuk menerka-nerka segalanya. Kedua, saat pikiran lelah bekerja untuk menerka, maka kemudian bergantilah pemikiran-pemikiran atau terkaan-terkaan tersebut menjadi sebuah pernyataan yang tidak pernah kutahu letak kepastiannya. Disitulah realita kepastian membuat semua rasa pesimisme naik hingga ubun-ubun. Sebab itu, aku harus segera sadar bahwa cinta memang butuh kesiapan yang besar kalau-kalau takdir yang kuharap memang tidak menghampiriku.

Mungkin dari situlah aku harus mulai belajar bagaimana cara melupakan. Sejenak saja, aku ingin sejenak lupa. Tentang rasa yang bergejolak di jiwa yang tak bisa lagi aku temui ujungnya. Tentang ia, yang tak kutahu kedalaman hatinya. Tentang aku pula, yang tak pernah sanggup untuk berkata. Karena jika terus dibiarkan rasanya akan membuat diriku sendiri menjadi semakin tidak produktif.

Maka kutulis lagi, sejenak saja, aku ingin sejenak lupa. Lupakanlah cinta, meski terasa luka.
This entry was posted in

Sunday, 8 June 2014

Antologi: Surat Untukmu Sahabat #1

Cover Surat Untukumu Sahabat #1

Telah terbit :

Judul Buku : Surat Untukmu Sahabat#1
Penulis : Eka Novirna, Mukhlis Amin, Halmawati Halim, dkk.
ISBN : 978-602-1363-18-8
________________________________________________

Sinopsis :

Untukmu sahabat baikku
yang telah kukenal dan yang belum kukenal
Terimakasih untukmu sahabatku
karenamu hidupku berwarna indah
karenamu langkah ini terasa mudah
kau teguhkan aku di saat aku mulai goyah
kau ingatkan aku di saat aku lupa
kau ajak aku pada indahnya jalan ukhuwah
bersamamu sukaku bertambah
bersamamu dukaku melemah

Kau sahabat terbaikku
sahabat dunia dan akhiratku

_________________________________________________

Seperti kaki langit yang berpagut dengan senja hari, tak pernah usai menyapa dan tak bosan menanti matahari tenggelam. Apa kabarmu dan ponakanku yan solehah? Semoga Allah menjaga jendela hatimu agar senantiasa terkuak untuk menghembuskan selaksa pujian dan syukur. Hari ini adalah hariku yang paling menggembirakan karena demikian banyak nikmat dan karunia Allah yang aku rasakan. Kamu masih ingat foto gadisku yang aku kirim beberapa waktu lalu kan? Ya betul, dia Fakhiraku! Alhamdulillah dia telah dimudahkan oleh Allah dalam menyelesaikan hafalan Al Qur’annya dalam sebuah daurah atau karantina selama 40 hari. Apa yang selalu aku pinta padamu tak pernah berlebih, kecuali serupa doa-doa tulus pada Allah, agar anak-anakku bisa menjadi hafidz dan hafidzah akhirnya terkabul kini. He…he tapi Ibrahimku masih terus berjuang di kampusnya untuk bisa menjadi seorang hafidz. Doa-doa tulusmu ya!
Berkisah tentang engkau sahabatku, maka sungguh separuh kenangan masa SMA kita seolah menjadi layar lebar mengabadikan sebuah persaudaraan yang mengharukan. Walau kita berbeda sekolah namun seolah ada kekuatan rasa untuk saling memberi perhatian.
____________________________________________________

Tim Penulis :

Eka Novirna, Agung Maemunah, Erni Sariningsih, Mukhlis Amin, Wulan Arya, Ulva Yuni, Imroatul Khasanah, Ahlal Kamal, Ela Maryam Saraswati, Ummu Maila, Dewi Nur Halimah, Zahraton Nawra, Halmawati Halim, Eka, Melani Ika Savitri, Lyliy, Riska Nurdiana, Yunita Nurisfa Mayasari, Yulisa Maharani, Nur Anshari, Dini Anggre Widiyani, Citra N, Ade Nurhidayah, Ana Retno Mutia, Rima Musfithah, Umul Mu'minin, Happy Hawra, dan Ruspeni Daesusi.

Monday, 19 May 2014

[FF Cinta Pertama] Lelaki Fajar

Sumber gambar: disini


Bunyi alarm handphone yang terdengar sangat keras itu membuatku terbangun dari tidur panjang semalam. Rupanya, kini aku telah berjumpa lagi dengan pagi.

Ada yang menarik dari suasana di pagi hari. Pagi adalah dimana waktu kebanyakan orang-orang memulai semua rutinitas mereka. Entah itu berupa pekerjaan ataupun yang berkaitan dengan pendidikan. Untuk itu, mau tidak mau, suka tidak suka, pagi selalu menjadi pemenang dalam memaksa kita untuk terbangun dari lelapnya tidur.

Bagiku, ada yang lebih menarik lagi dari pagi, saat setelah aku mengenal lebih dalam lelaki bermata tirus di ruang kelas itu. Ia adalah Fajar, lelaki yang sampai hari ini masih membuat hatiku terpenjara oleh pesonanya. Barangkali karenanya aku menyukai pagi, menyukai fajar yang senantiasa datang menyapa terlebih dahulu sebelum matahari. Sebab pula, pagi membuatku bisa memandangi sosok Fajar.

*

Kini ia berjalan di depan mataku. Sesaat mata kita bertemu. Aku bertanya pada hatiku sendiri, adakah perempuan yang hatinya tak berdebar dengan kencang apabila berhadapan dengan lelaki yang akhir-akhir ini namanya tak pernah habis dalam pikiran? Kukira jawabannya tidak ada, karena aku tengah merasakannya sendiri. Jantungku berdebar kencang tanpa mau kompromi.

Aku mendengar namanya dipanggil oleh kedua orang temannya, temanku juga. Ini bukan kali pertama aku mendengar namanya. Ia adalah satu dari sepuluh lelaki penghuni ruang kelas ini, dengan lima belas perempuan hadir di dalamnya, termasuk aku. Ia, dengan gurat senyum yang khas di wajahnya dan bahu yang agak sedikit membungkuk, berjalan ke arah belakang menghampiri kedua teman yang memanggil namanya tersebut. Aku pun berjalan ke bangkuku, sementara hatiku menanti untuk ia panggil.

*

Aku bersiap ke atas panggung. Di café ini orang-orang bisa makan sambil menikmati alunan live music. Setiap hari Sabtu dan Minggu, aku biasa menyanyikan beberapa lagu di café ini, tepatnya dimulai dari dua bulan yang lalu.

Kali ini aku bernyanyi bukan karena tugasku sebagai penyanyi di sini, tetapi adanya permintaan dari teman-temanku yang memang saat ini kita sedang merayakan hari spesial. Rasanya aku tak mungkin menolak permintaan itu, terlebih Fajar yang tersenyum menganggukkan kepalanya kepadaku seolah-olah benar-benar menyuruhku untuk melakukannya.

“Ini adalah lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni. Lagu ini saya persembahkan untuk dua orang spesial di depan saya, Fajar dan Riani yang telah bertunangan dua hari lalu. Selamat untuk kalian berdua..”

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Aku menangis dalam hati. Adakah perempuan yang hatinya terluka karena melihat orang yang dicintai selama tujuh tahun, kini jari manisnya telah terlingkar oleh cincin dari perempuan lain? Adakah perempuan yang hatinya sakit karena harus berpura-pura tersenyum sebab orang yang dicintai tengah berbahagia, meski itu dengan orang lain? Kalaupun ada, berarti orangnya adalah aku. Senja yang gagal menjemput Fajar.

Kini, cerita cinta pertamamu sudah usai, Senja.
~
*485 kata*

Friday, 16 May 2014

Memandangimu



Ada yang mendesir di hati ini, barangkali hanya aku yang paham alasannya. Aku sering memandangmu, mungkin kau tahu tetapi kau memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Atau memang kau tak pernah tahu bahwa ada aku yang kerap memandangimu dari sini, dari dunia maya yang tak dapat kutahu nyatanya.

Aku ingin bilang, kalau saja kita tak terpaut pada jarak dan bisa terus berbalas temu, mungkin aku tak kan seperti ini. Mencari ketika kau tak nampak, merindukanmu ketika tak pernah ada cuap yang terlihat.

Kalau saja aku berani, aku ingin bicara langsung padamu. Tentang kekhawatiran yang selama ini aku rasakan. Aku terlalu takut berharap karena aku sendiri takut kalau-kalau aku mengetahui perasaanmu yang ternyata aku salah mengartikannya. Aku mungkin ragu dan bisa saja aku ini keliru. Itulah kenapa aku ingin mengetahui kedalaman hatimu. Agar aku tahu, apakah ada hati yang sama dalamnya denganku.
~
This entry was posted in

Terjebak



Belum tuntas kau tawan hatiku, kini kau buat aku menjadi cemburu...

Aku kembali terjebak;
Kali ini bukan karena aku jatuh cinta padamu, terlebih karena aku merasa cemburu.

Kau, yang telah lama tak kuketahui kabarnya, kini nampak terlihat mengurai kata-kata untuk seseorang yang kau kenali — yang tak pernah kutahu dia siapa.

Aku, yang tengah terjebak dalam jurang kecemburuan.
~
This entry was posted in

Sunday, 11 May 2014

Berpandangan



Tiga detik lamanya
Kita diam
Mata kita berlari
Kita berpandangan
"Kapan lagi tatapan seperti ini bisa terjalin?"
Hanya hati yang mampu kita tanyai
~
This entry was posted in

Matahari dan Kuncup Bunga



Kita sama tahu
Kau bukan raja
Aku bukan ratu

Kita sama tahu
Kau bukan Romeo
Aku bukan Juliet

Tapi kita tak saling tahu
Bahwa kau ingin menjadi matahari
Aku ingin menjadi kuncup bunga

Sebab kita
Masih sama ragu jatuh cinta
~
This entry was posted in

Aku Masih Menunggu



Jangan salahkan aku
Yang lugu menatap matamu
Yang berharap agar waktu terhenti
Menggambar indah rindu dua pemalu

Jangan salahkan aku
Yang kacau mendengar debar jantungmu
Yang berkhayal akan ada takdir
Sehingga kita benar-benar jatuh

Jangan salahkan aku
Yang diam-diam menyimpan gambarmu
Yang kupandangi tiap-tiap senja
Wajah teduh pilihanku

Jangan salahkan aku
Yang masih saja menunggumu

2014
This entry was posted in

Saturday, 10 May 2014

Duduk Berdua



Aku tak butuh metafora
Atau mulai belajar menggambar alegori
Aku hanya ingin kita duduk berdua
Lalu berbicara semua hiperbola
~
This entry was posted in

Wajah di Bola Mata



Hatiku semakin dalam menyelam kapal
Tak pernah sampai tahu akan tiba ke muara
Sebab ada jiwa yang terus kurindu
Yang senantiasa hatinya tak dapat kucerna
Adakah kau tahu itu siapa?
Itu adalah dia
Wajah yang hadir di bola mata
~

This entry was posted in

Antologi: Ketika Cinta Memanggil



Telah Terbit
Judul Buku : Ketika Cinta Memanggil #1
Penulis : Wien, Aeni As-Sayyidah, Ira Zahara Yasminia, dkk.
ISBN : 978-602-1363-14-0

Sinopsis :

------------------------------------------------------------------------------------
Ketika cinta memanggil, aku terlahir di muka bumi ini
Ketika cinta memanggil, kutunaikan sholat kurapal ayat-ayat suci
Ketika cinta memanggil, hidayah-Mu menyentuh kalbu tatkala aku terjatuh di lembah nista
Ketika cinta memanggil, kupersembahkan segala rinduku dalam sujud tahajud
Ketika cinta memanggil, aku kembali ke sisi-Mu dan meninggalkan dunia yang fatamorgana
Dan, panggillah aku dengan cinta-Mu, agar kelak 'ku dapat berjumpa dengan-Mu, di akhirat kelak

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hal yang membuat kecewa adalah ketika aku baru mengetahui kalau Ayah itu debu.

Sudah satu jam aku merenung mengurung diri di dalam sepi, kamarku. Rinai-rinai dalam kalbuku kini berubah menjadi isak tangis tak terbendung. Kulemparkan pandangan mataku tepat pada arah bingkai yang debu tertempel di tubuhnya. Ibu. Satu bulan sudah Ibu meninggal, meninggalkan semua keindahan. Hanya aku dan Ayah di sini. Tersimpan penat dan pekat saat rumah kami digusur, dan gubuk ini tempat kami berlindung.

Allahummaghfirli liwaliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Aamiin.
Kutempelkan kedua tangan di wajah sembari mengusap air mata, menyingkap mukena yang basah. Aku rindu Ayah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tim Penulis :
Halmawati Halim, Ain Saga, Tri Adnan, Maftuhah As Sa'diyah, Husna Syifa Ubaidillah, Afiyah Hawada, Jay Wijayanti, Alya Nur Fadhilah, Vita Ayu Kusuma Dewi, Norhayati. A. Azim, Feli natar, Happy Hawra, Ade Nurhidayah, Nasihah Trisnawati, Wulan Bachsin, Siti Ratnawati, Linda Safitri, Ana Izzatunnisa, Puti Wulandari, Sarda Feronica, Lu'lu Ngaqilah, Rela Sabtiana, Reny Rahmawati, Alya Nur Fadhilah, Titis kurniawati, Ira Ambarwati, Ika Usfarina, dan Halimah At-Taqiyyah.

Saturday, 3 May 2014

Dare To Dream

Sumber gambar: http://www.wallsave.com/wallpapers/1024x768/dream-world/251257/dream-world-251257.jpg


"Semua orang adalah pemimpi. Mereka melihat segalanya bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa dari kita membiarkan suatu impian mati, namun yang lain memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka yang selalu berharap impiannya akan jadi nyata." ─ Woodrow Wilson

Saat saya terdiam, saya melamun, dan dalam lamunan itu seringkali saya berpikir tentang mimpi-mimpi dan menghayalkannya. Saya adalah seorang pemimpi, maka wajar jika saya punya banyak mimpi. Tapi dari banyaknya mimpi tersebut, ada dua mimpi yang ingin saya tulis di sini.

Pertama, adalah mimpi saya untuk menjadi seorang penulis terkenal.
Kenapa saya ingin menjadi penulis? Sebab saya suka menulis, sebab saya suka membaca. Sebenarnya sederhana saja.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada saya, "Pernah ga sih kamu bener-bener fokus sama satu hal? Tentang apa?."
Saya diam lama sekali. Saya bertanya kepada diri saya apakah saya pernah mengerjakan sesuatu yang membuat saya fokus. Saya berpikir dan akhirnya menemukan jawabannya. "Ternyata aku pernah fokus sama satu hal. Nulis..."

Ya, alasan lainnya mengapa saya ingin menjadi penulis bahwa ternyata menulis adalah pekerjaan yang membuat saya bisa betah seharian di dalam kamar selain baca novel dan nonton. Kenapa saya bisa mengatakan saya fokus? Sebab, setelah saya pikir, menulis adalah pekerjaan paling konsisten yang pernah saya lakukan sampai saat ini. Dari kecil saya mulai belajar menulis, meski hanya sebatas menulis karangan-karangan anak SD. Tetapi saya suka. Lalu saya belajar membuat puisi saat SMP dan mulai menekuninya saat SMA. Hingga saat ini, lebih dari puisi, saya bisa lebih banyak belajar membuat cerpen, dan prosa-prosa lainnya. Sesuatu yang tadinya saya pikir saya tidak mampu membuatnya. Apapun pekerjaan yang nanti saya lakukan, saya akan tetap menulis. Insya Allah.
"Berusahalah untuk mencapai sesuatu yang luar biasa dalam hidup kalian setiap tiga sampai lima tahun. Konsistenlah selama itu, maka insya Allah akan ada terobosan prestasi yang tercapai", kata Kiai Rais dalam novel Rantau 1 Muara. Saya percaya.

Ada hal yang lebih menguatkan lagi mengapa saya ingin menjadi penulis, yaitu karena saya ingin dikenang dalam keabadian. Meskipun nanti saya telah tiada, saya akan tetap abadi dalam karya-karya yang saya tulis. Imam Al-Ghazali juga berkata, "jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah."

Dan kenapa saya ingin terkenal? Karena dalam mimpi menjadi seorang penulis, ada mimpi terselubung lain yang saya miliki. Kalian tahu apa itu? Saya ingin sekali suatu hari nanti saya bisa diundang menjadi pembicara dalam bedah buku ataupun seminar, dan didampingi dengan dua penulis terkenal yang saya kagumi yaitu Dee 'Dewi Lestari' dan Tasaro GK. Saya akan sangat bahagia jika mimpi tersebut bisa menjadi nyata. Mungkin saking bahagianya saya bisa sampai menangis di tempat. Hehehe terharu tau. :)
Nah, untuk itu saya harus memiliki karya-karya yang nantinya bisa melejit. Jika saya hanya menjadi penulis biasa, tentu saja Mbak Dee dan Mas Tasaro GK tidak akan mungkin mengenal saya. Lagipula saya juga bukan selebriti. Bukankah begitu?

Jadi, untuk mewujudkan mimpi saya tersebut, saya ingin menulis buku dan menerbitkannya. Dengan target terbit pada tanggal 24 Desember 2014. Semoga mimpi saya tercapai. Aamiin. (Tolong diaminkan ya, hehehe) :)

Wah, satu mimpi saja sepertinya sudah sangat panjang ya, hehehe. Tapi boleh kan saya melanjutkan menuliskan yang kedua? Semoga tidak bosan membacanya :)

Kedua, saya ingin sekali pergi ke Australia.
Saya berkeinginan pergi ke Australia itu sejak SMP. Sebenarnya tidak ada alasan yang kuat sih kenapa saya ingin pergi ke sana. Hanya saja waktu itu nama "Australia" terdengar menarik di telinga saya. Sewaktu main monopoli juga Australia itu negara yang sering saya incar, abis mahal sih, hahaha. Maklum lah, namanya juga masih kecil. Setelah saya mulai besar, saya tahu ternyata Australia itu bukan cuma Australia, tetapi di dalamnya ada Sydney, Melbourne, Perth, dan tempat-tempat lainnya yang memang indah. Ada Tasmania juga di sana, itu mengingatkan saya sama kartun Tazmania Devil hihihi.
Tadinya sih saya berkeinginan untuk kuliah di sana. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya takut ga bisa hidup sendirian di negeri orang. Jadi, alternatif lainnya saya ingin pergi ke sana setelah menikah nanti. Pergi berdua ke Australia sama pasangan, bukankah romantis jadinya? HUAHAHAHA. Memangnya cuma pasangan kak Dude-Alyssa saja yang bisa pergi ke Turki, foto-foto, dan jalan-jalan berdua, terus bikin orang yang liat di infotainment iri? Hahaha. Atau yang lebih romantis lagi kayak pasangan Alif dan Dinara di dalam novel Rantau 1 Muara. Apalagi, Ahmad Fuadi menulis seperti ini di novelnya, "A couple who travel together, grow together." Kan jadinya tambah romantis hahahaha. Yaudah lah ya, namanya juga mimpi. Yang penting ndak membuat rugi orang toh? *ngikik*

Oh iya, sampai lupa... Target pergi ke Australia saya ingin pada tanggal 24 November 2019, saya sudah bisa pergi ke sana.

Teruuuuuuus
Jika mimpi saya tersebut tidak tercapai, pastinya saya akan sangat sedih. Mengingat keduanya adalah mimpi-mimpi terbesar saya. Hiks...

Tapi saya percaya, sesulit apapun mimpi yang hendak kita capai, sekeras apapun dinding yang menghalanginya, suatu hari nanti kita akan mampu melewatinya. Tentu dengan usaha yang keras dan doa yang kuat. Sebab, mimpi bukan hanya milik mereka yang berbakat, tetapi milik semua orang yang berani untuk bermimpi. Dan kita akan tersenyum bersama-sama suatu hari nanti, ketika mimpi-mimpi kita menjadi nyata.

"Tidak meremehkan impian setinggi apapun, karena Tuhan Maha Mendengar. Cita-cita yang baru berupa bisikan di dalam hati terdalam, telah terdengar oleh-Nya dan bisa menjadi nyata." ─ Ahmad Fuadi

I declare, I will accomplish my dream. Mudah-mudahan semua mimpi saya bisa menjadi nyata. Aamiin. (:

~~

Yuk, berbagi mimpi di Giveaway Dream To Dream. Yuk, sama-sama mengamini mimpi-mimpi baik yang ada di sana (:

Friday, 18 April 2014

Para Pemendam Rasa



Tanyakan arti cinta pada para pemendam rasa.



Mereka adalah para pecinta yang sedang mencoba untuk bertahan.
Bukan karena cintanya terhadap seseorang yang mengambil sepotong hatinya teramat besar, tapi karena mereka belum mampu untuk melepaskan diri dari bayang-bayang sepotong hatinya tersebut. Rumah mereka adalah kenangan. Sekalipun ada luka yang mereka rasa, kenangan akan selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang, untuk menyulam benang-benang kerinduan.

Mereka adalah para pecinta yang menanti bagian jiwanya yang sudah terbelah sejak lama.
Mereka yang tengah disibukkan memikirkan wajah sepotong hatinya sebelum mereka menyudahi malam dan beranjak untuk terlelap. Para pecinta yang berkata dalam hatinya "barangkali, sepotong hatiku berada di sana". Ya, seringkali cinta memang tak mampu membuat akal bekerja dengan baik.

Mereka adalah para pecinta yang terperangkap dalam ruang reka tanpa daya.
Sejak nama yang menahan jiwa mereka menjadi pemenuh sebagian isi kepala, mereka terus saja mengingatnya, bahkan ketika mereka berpikir bahwa mungkin mengingatnya adalah dosa. Karena ketika diam dan kesepian menjadi bagian dari hari, dan tidak ada apapun yang dapat mengganggu konsentrasi, semuanya pasti akan kembali kepada sepotong hati yang menahan jiwanya.

Mereka adalah para pecinta yang mendulang rasa yang begitu renta tapi tak pernah jadi kata-kata.
Dalam situasi yang terselimuti oleh jeda, mereka selalu ingin tahu apa yang ada di hati sepotong hatinya. Namun sayang, mereka tidak pernah benar-benar tahu. Maka itu, Tasaro mengatakan, tidak ada yang membuat begitu penasaran selain perasaan seseorang yang engkau menyimpan sayang kepadanya.

Mereka adalah para pecinta yang tidak peduli apa istilah yang benar-benar mampu menamai perasaan itu.
Seringkali mereka dihadapkan pada kebingungan akan posisi sepotong hatinya itu. Memang seharusnya tidak ada yang tumbuh. Mereka, para pecinta yang tak sanggup lagi berbicara persoalan romantisme

Mereka adalah para pecinta yang terjebak dalam ruang tunggu tanpa tepi waktu.

Mereka adalah para pecinta yang ahli memendam rasa.

Mereka akan menunggu,


Sebab,

Mereka tahu,


Bahwa cinta tidak sesederhana itu.
~
This entry was posted in

Wednesday, 16 April 2014

Sayap yang Tak Patah

Sumber gambar: http://content1.lovelytoday.com/2011/12/11/5950.59464041.hap3.jpg


“Sayap cinta sesungguhnya tak pernah patah. Karena kasih selalu sampai di sana. Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain. Sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.”


***

Gaun birumu tergerai ke bawah, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sudah lama mempersiapkan semua ini. Aku pun sama. Tampil dengan jas yang membuat diriku terlihat lebih bersinar.

“Kau tahu? Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku,” katamu, tersenyum tersipu, seakan malu untuk mengatakannya. Hari ini, kukira jantung kita berdebar lebih kencang dari biasanya.

***

Aku teringat sore itu, tepatnya sebulan yang lalu. Sore pertama aku bertemu denganmu setelah tiga tahun lamanya meninggalkan kota ini. Saat itu, hujan tiba-tiba saja turun. Terbesat dalam pikiran untuk membatalkan pertemuan kali ini. Aku takut kalau-kalau kamu kehujanan. Tapi kemudian kamu mengirim pesan bahwa sebentar  lagi kamu akan tiba dan berkata bahwa kamu pun sudah mempersiapkan payung, seolah memintaku untuk tidak khawatir.

Tak lama kamu pun datang, tampil dengan dress sederhana bermotif geometric ditambah dengan balero yang membuat kamu tampak sempurna. Kamu tersipu, mungkin kamu merasa tampil agak berlebihan, tapi menurutku, kamu terlihat sangat cantik hari ini. Membuatku sedikit tak percaya diri.

Dua cangkir kopi diantarkan ke meja. Aku membetulkan posisi dudukku. Aroma kopi yang menyengat membuat kita tak sabar untuk menyeruputnya. Lima detik kemudian kita sama-sama terhanyut memburu kopi yang berada di hadapan.

***

“Apa kamu bahagia?” pertanyaan retoris. Tapi aku tahu, kamu hanya menginginkan sebuah keyakinan yang sesungguhnya.

“Mana mungkin aku tidak bahagia duduk berdua bersamamu seperti ini. Bahkan, aku sudah tidak butuh lagi bidadari dari surga, sebab salah satunya telah turun ke bumi. Tentu saja, bidadari itu hadir untuk menemaniku.”

Kamu, adalah anugerah.

***

Kini, kedua kopi yang menemani kita sedari tadi sudah tinggal sisa-sisa ampas kopinya saja. Perbincangan-perbincang tentang aku yang merasakan hidup di negeri kangguru selama tiga tahun pun sudah habis. Sepertinya kamu pun tak tahu harus mencari topik apa lagi untuk dibicarakan. Tapi aku, sebenarnya masih menyimpan satu hal yang sangat ingin kusampaikan tapi belum juga dapat keluar dari mulutku. Satu hal yang sangat sakral. Aku masih mencari jeda yang tepat untuk itu. Alasan lainnya adalah karena aku terlalu gugup.
Aku mengeluarkan kotak berbungkus beludru hitam dari saku celana. Kedua mata kita bertemu. Aku kira ini kesempatan yang tepat.

“Dara, aku tidak tahu banyak hal tentang cinta. Tapi aku yakin, kamu adalah seseorang yang mampu untuk menjadi pelengkap kisah hidupku setelah ini. Would you marry me?” Meski gugup, akhirnya kalimat itu sampai kepadamu. Entahlah, apa kalimat itu terdengar lebay atau tidak. Mungkin kamu berpikir kali ini aku tampak seperti orang lain di matamu. Tapi toh kamu tak peduli, kamu malah tersenyum penuh haru sampai-sampai telaga embun di matamu mulai menetes perlahan. Kamu bahagia, aku apalagi.

Kamu mengangguk pasti.

***

“Saya terima nikahnya Dara Husna binti Joni Setiawan dengan mas kawinnya tersebut tunai.” Dua jam yang lalu kalimat tersebut telah kuucapkan. Kini kita telah resmi. Alhamdulillah.

Ah, sudah sangat jelas bukan? Hari ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam kehidupanku. Hari dimana aku, David Arya mengikat janji pernikahan dengan wanita berwajah teduh yang akhir-akhir ini namanya seringkali muncul di kepalaku. Wanita itu adalah Dara Husna. Seseorang yang kini akan kujaga sampai akhir hayatku.

Kini, baik aku maupun kamu sudah tak butuh lagi mereka-reka rasa. Barangkali aku sudah tak harus lagi menulis puisi-puisi rindu yang sejatinya memang tak pernah sampai kepadamu. Sebab mulai hari ini, aku dan kamu akan selalu berjalan bersisian. Berjalan berdua menyapa matahari sambil bergandengan tangan dan menikmati sepotong sore yang santai ditemani hadirnya senja.

From this moment, life has begun
From this moment, you are the one
Right beside you is where I belong,
From this moment on

From this moment I have been blessed
I love only, for your happiness
And for your love
I’d give my last breath,
From this moment on

I give my hand to you with all my heart,
I can’t wait to live my life with you
I can’t wait to You and I will never be apart,
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you.
I promise you this.
There is nothing I wouldn't give
From... this... moment on.

You're the reason. I believe in love,
And you're the answer to my prayers, from up above
All we need is just the two of us.
My dreams came true because of you.

From this moment as long as I live
I will love you
I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment

Lagu From This Moment On dari Shania Twain selesai dinyanyikan oleh grup wedding singer yang berada di ujung sana. Rasanya lagu itu benar-benar  mewakili segenap perasaan yang tak dapat tersampaikan hanya dengan berkata-kata. Aku menggenggam tanganmu. Mungkin ini adalah kebahagiaan sempurna untuk kita berdua.

***

(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!)

Saturday, 5 April 2014

Cinta (yang) Jatuh



Akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang seperti menahanku. Jika bisa dikatakan, sesuatu yang tertahan itu membuatku sedikit gusar.
~~

Aku hanya mahasiswi biasa, usiaku 18 tahun. Bagi mahasiswi semester dua sepertiku, kuliah merupakan aktivitas yang cukup menghabiskan sebagian waktu. Sangat melelahkan apabila sedang terkukung oleh kepadatan di dalamnya. Barangkali, ada kalanya mahasiswi sepertiku ini menemukan sedikit celah untuk melupakan persoalan kuliah yang masih jauh dari kata akhir. Salah satunya adalah kata yang sakral diperbincangkan. Yaitu cinta.

Cinta. Adalah lima huruf yang sanggup mengubah setiap insan yang telah terpaut dalam dekapannya. Sehingga tak salah apabila Ayatul Husna di dalam buku Ketika Cinta Bertasbih mendefinisikan cinta seperti ini...

Menurutku,
cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan,
mengubah kandang jadi taman,
mengubah penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibah
Itulah cinta!

Jika ada seseorang bertanya apakah aku pernah jatuh cinta, dengan jelas akan kujawab, "Tentu saja". Bukankah jatuh cinta adalah sebuah penghayatan terhadap peran jenis kita?
Namun, jika seseorang menyuruhku untuk mendefinisikan cinta, mungkin saja aku tak mampu menjawabnya. Sebab, terkadang cinta tak butuh definisi.

Kegusaran yang membuat jiwaku tertahan kali ini mungkin juga adalah efek dari jatuh cinta. Meskipun hingga saat ini aku masih saja ragu untuk menyebut perasaan ini sebagai cinta. Aku tak pernah berani berkata bahwa aku jatuh cinta, sebab aku takut bahwa yang kualami ini hanyalah sekedar perasaan yang bisa saja orang-orang menyebutnya sebuah kekaguman kita terhadap seseorang (lawan jenis), bukan cinta. Tapi, lama-lama aku berpikir dan meyakinkan diriku sendiri, kalau bukan cinta, apalagi kata yang sanggup menyebut rasa yang membuatku menjadi lebih puitis. Selain itu, aku jadi lebih sering menghayati lagu-lagu romantis, mencari tahu makna dari berbagai novel roman yang sedang kubaca maupun menonton drama-drama yang tak pernah lepas dari cerita romantika. Jadi kalau bukan cinta, maka kusebut apalagi?

Tuhan, mungkinkah kini aku sadar bahwa rasa yang telah lama menahan jiwaku ini adalah cinta?
~~


Mmm.... cinta! Menurutku,
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang
lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku malu pada
keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan
terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!

(Definisi cinta menurut Anna Altafunnisa dalam buku Ketika Cinta Bertasbih)


Sunday, 30 March 2014

[FF] Hujan di Bulan April



Ini adalah April ketiga aku melihatnya di sana. Wanita tanpa nama itu menatap kosong ke depan, pada riak ombak yang mengalun panjang. Dia akan pergi setelah kakinya mulai lelah menahan dinginnya air laut. Berjalan dengan membawa kembali kado yang ia bawa saat datang.

Aku tahu wanita itu sedang menanti.

“Siapa yang kamu tunggu?” tanyaku suatu ketika. Tatapannya meredup saat ia memandangku.

“Aku menunggu Hujan..” wanita itu tersenyum samar.

Baginya menanti adalah jalan. Wanita itu yakin, Hujan — lelaki yang ia tunggu ― akan datang sesuai janjinya.

Punggungnya berbalik. Ia melangkah menjauh, bersama kado ulang tahun terakhir yang lelaki itu berikan kepadanya.

***

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Birthday Giveaway diirumahkata.blogspot.com"




Saturday, 29 March 2014

Sebuah Kehidupan



Kamu sepertinya lupa bahwa kehidupan ini akan terasa semakin berat. Kamu pasti tahu akan hal itu, tapi kamu hanya merasa lelah, padahal kamu telah berusaha semampumu. Kamu mencoba mengingat-ingat kalimat-kalimat terbaik yang pernah kamu dengar. Tetapi kamu berpikir tetap saja 'ini tak mudah'.

Kamu kini ada di persimpangan. Kamu terus berdiri di sana. Memejamkan mata dengan lekat seolah-olah kamu sedang berkhayal tentang sesuatu. Di dalam benakmu, kamu ingin sekali berlari, mencari hal-hal baru yang bisa kamu temukan, lebih dari yang saat ini kamu rasakan. Tapi kamu sadar bahwa kamu tidak bisa melakukannya karena tak satupun yang mampu kamu perbuat. Bahwa kamu menganggap dirimu hanya manusia lemah.

Samar-samar kamu membuka mata. Enam tahun yang lalu kamu masih baik-baik saja. Kamu memiliki ayah yang baik meski terkadang ia bersikap terlalu keras, sehingga seringkali membuatmu takut. Tapi kamu bahagia, kamu sangat berkecukupan. Meskipun terkadang kamu bersembunyi ketika membeli jajanan berlebihan karena takut dimarahi. Kamu takut sekali mendengar ketegasan suara ayahmu ketika sedang marah. Tapi kamu tetap menyayanginya, karena kamu tahu bahwa ayahmupun menyayangimu.

The greatest gift I ever had Came from God; I call him Dad!

Hingga sekarang kamu masih ingat. Ada hal baru yang terpaksa harus kamu tahu saat enam tahun yang lalu. Kehilangan. Ya, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh anak seumuranmu. Bahkan, sesuatu yang kamu baru tahu saat itu; bahwa di dunia ini ada yang namanya kehilangan. Ayahmu, dia meninggalkan dunia lebih cepat. Desember 2008, itu yang kamu ingat.

Kamu mau tak mau menyiapkan kehidupan baru. Mencoba untuk terasa sama. Meski kamu menyadarinya bahwa hidupmu sudah berbeda, hingga hari ini, kamu sangat tahu hal itu. Kecukupan yang kamu rasakan dulu entah kini masih sama atau tidak. Hanya kamu yang perlu tahu, katamu.

Kamu ingin menangis, tapi untuk apa? Kamu ingin bercerita, tapi untuk apa? Kamu tak pernah berani untuk mengatakannya, kamu selalu gagal mencoba. Terlebih kamu sangat yakin bahwa kamu sanggup untuk menahan segalanya. Akhirnya kamu selalu mencoba tersenyum sesantai mungkin.

Kamu mematut di sudut kamar.

Enam tahun yang lalu, umurmu masih tiga belas tahun. Kamu tersenyum, menertawakan dirimu yang kini hendak mencapai tahun ke-sembilan belas dalam hidupmu.

"Jangan meminta dikurangi bebanmu, tapi mintalah dikuatkan punggungmu."

Kamu berharap hari-hari akan selalu baik.

(:

Saturday, 15 March 2014

Sendiri



Sendiri. Itulah yang kini kerap menyiksaku. Berjumpa dengan sepi adalah situasi dimana aku sangat ingin melewatkannya. Selalu saja begitu. Barangkali, aku tak dapat menyalahkan dirimu atau menyalahkan waktu yang terlalu lama untuk bergilir. Mungkin saja ini memang tentang kesalahanku. Membiarkan setiap jeda merasukiku dengan paksa. Dan tentu saja, membiarkan ada waktu yang 'tak tergunakan dengan baik.

Sungguh. Kalau saja aku boleh berkata jujur, aku terlalu takut jika harus berjumpa dengan kesendirian lagi. Aku sangat tidak ingin menghadapi larutnya malam oleh rasa sepi. Karena aku takut, pada waktu-waktu tersebut, aku akan berulang-ulang memutar setiap jejak kenangan di kepalaku. Membongkar rasa ingin tahu yang harusnya terkubur, kemudian aku pun harus mengingat kenyataan bahwa kau adalah satu dari ketidakpastian yang ada.

Kupikir itu sudah jelas, yang kuinginkan hanyalah menutup mata lalu tertidur dengan pulas. Dan saat aku menemukan pagi, aku akan lupa pada malam yang terlalu pekat untuk bisa kupahami itu.

This entry was posted in

Tuesday, 4 March 2014

Antologi: Kopi Bercerita #3

Antologi ke-12 ^^

Cover Kopi Bercerita #3


Kopi Bercerita #3

Genre : Kumcer
Penulis :Boneka Lilin et Boliners
Editor & Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-1200-38-4
Tebal : 165 Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)

Sinopsis

Setelah suguhan tirai airnya, yang disisakan hujan hanya genangan dan kenangan. Setelah ketiadaan gelapnya, yang disajikan hari adalah terang benderang. Namun ada banyak warisan yang melekat erat di lidah dan hati dari tiap sesapan kopi.
Kopi terasa nikmat jika pahitnya telah diajak bersahabat. Rasakan sensasi hangat dari minuman hitam pekat. Secangkir kopi, menguar banyak cerita dari bumbungan kepul asapnya.
***
Kini tubuhku menjauh dari layar netbook, bergeser pada satu ruang di sudut kamar gelap. Kamar yang hampir satu tahun terakhir ini tak pernah kupasangi lampu.
Kusandarkan dagu di kedua lututku yang tertekuk, dengan tangan yang masih setia mencekik gelas yang kini berada tepat di bawah wajahku. Titik-titik air berjatuhan ke dalam gelas, bercampur dengan pekat kopiku. Bahuku mulai berguncang. Aku menangis.
Tuhan, aku lelah....

***
Penulis Kontributor:
Boneka Lilin, Waritsah Assilmi, Ayu Firda Marisca, Happy Hawra, Gilang Maulani, Muhamad Faisal Aliza, Dina Nur Wahyuni, Yuniar Putri Pratiwi, Meykke Santoso, Aula Bilal, Trio Syahputra, Ramona Nurmala Sari, Larasati Andi Yuana, Mutiara Desrina, Ajeng Maharani, Reny Rahmawati, Nurul Ilmah, Rini Nur Hidayah, M. Anzaikhan, Asih Putri Utami, Roswita Puji Lestari, Rere Zivago, Rela Sabtiana, Takiara Ayunir Dara Dayu, Alis susanti, Janette Roseline


Antologi: Senandung Cinta untuk Ibunda #1

Antologi ke-11.

Cover Senandung Cinta untuk Ibunda #1


Telah Terbit !

Judul Buku : Senandung Cinta untuk Ibunda#1 (Antologi Puisi)
Penulis : Maftuhatus As Sa'diyah, Syarif Husni, dkk.
Terbit : Februari, 2014
ISBN : 978-602-1363-00-3
Uk. Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Hal : 170 Hlm


Tentang Buku :

Senandung Cinta untuk Ibunda adalah buku antologi puisi dari para peserta terpilih event menulis "Senandung Cinta untuk Ibunda".
__________________
Cinta teruntuk ibunda, meski tak seutuhnya bisa dilukiskan dengan kata-kata, karena jasa, pengorbanan dan kasih yang tiada tara. Namun dalam deretan aksara dalam buku ini, senandung cinta ada untukmu wahai ibunda.
[Wien, penulis, Bandung]

__________________
Senandung Cinta untuk Ibunda, sejatinya bukanlah sekedar goresan kata-kata. Ia adalah prasasti yang dipahat atas nama cinta dan rindu. Sebab itu, ia akan mengabadi melintasi usia zaman. Senandung Cinta untuk Ibunda, sebuah persembahan sederhana untuk sosok yang tak pernah cukup kata untuk menceritakannya. Senandung Cinta untuk Ibunda, sebuah ungkapan cinta yang sayang untuk dilewatkan!
Selamat kepada para penulis. Semoga setiap amal dan kebaikan yang ada dalam buku ini, sekecil apapun itu, pahalanya juga mengalir untuk Ibu yang telah melahirkan sosok-sosok dalam buku ini!
[Syarif Husni, Cerpenis dan Ketua FLP Mataram, NTB]

_________________

Tim Penulis :
Shintia Rica, Rahmi Mardatillah, Ni Luh Indrayani, M Ridho Ilahi, Ayu Novianti, Bambang Kariyawan Ys, Z. Yunanis, Rizki Dwi Utami, Yusnita Septiani, Trisum, Susan, Siti Lutfiyah Masruroh, Zidni Rosyidah, Afiyah Asya Luvias, Al-Fian Dippahatang, Apriliana Rosidatul Islamiyah, Nunk Arif, Samudrawan Kertapati, Ainul Fitriyah, Febriyanti Pusparini, Elok Faiqamila Aulia, Faiz Firmansyah, Catur Nugraheni, Dona Novita, Joko Waluyo, Dwiyani Setiowati, Citra Sary, Hastira Soekardi, Siti Qotimah, Ismi Lailatul Rokhmah, Trias Apriani, Gabriella Rumondang Almadea Sihombing, Titi Nurmala Kekenusa, Risyda Munawarah K, Aziza Zuhroh Sya'bandiyah, Rizqiani Dian, Linda Mustika Hartiwi, Arif Sofyan, Fitriani Sari, Noorhayati Dessy, Nengsal Rusmayanti, Suci Amelia Harlen, Liya Kawai, Aqyas Dini Nisa, Megawati Bunga Mayang, Nurlailatul Fadhilah, Juni Purnama Hsb, Amalia Nina Purwari, Laily Dyah Ayu Indradewi, Fitria Suartini, Sonya Hervina Okthiara, Lilis Nurhalimah, Happy Hawra, Marzuki, Aliffia Hanu Wardhana, Fitriana Nur Hanifah, Anggy Dwi Priasmara, Athiyah Layla, Ardy Anto, Pasila Pradanisa Nugrahani, Wahyu Eko Savitri, Nura Rianra, Citra Putri Ramadani, Husnul Khotimah Aqiel, Hazal Ula, Ukhtyan Muhibbah Firdaus, Yeni Widayati, Putri Andrianingrum, Nurdiyah H, Catur Hari Mukti, Shafiyyah Al Lathif, Khotimatun Radhoh, Nella Yulidasari, Ulin Nurviana, Rahmat Alifin V, Hanifah Khoiriyyah Huda, Isna Eviliyana, Iis Sugiarti, Fadlil Mu’id, Muhammad Wahyu Afriansyah, Sri Wahyuni, Siti Masruhaturrahmah, Khusnul Fatonah, Chairul Huda Alma, Muizzatul Ainiyah, Ina Karlina, Jati Setyarini, Afif Permana, Adinda Noerma Yunita, Zelviyadita, Inueds Al Faqih, Rawina Nurmarianita, Huliyyatul Ashfiya, Anti Aufiyatus Tsalitsah, Widya Elyani, Adwa Qaireen, Irayatul Munawaroh, Addien Sjafar Qurnia, Tari, Inten Mustika Kusumaningtias, Ery Budiono, Yunengsih, Machfudzoh Nur Kholishoh


Friday, 21 February 2014

Berdamai dengan Masa Lalu



Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemputnya.1
Tahukah kau, Anakku, ada miliaran orang di dunia ini yang setiap hari mengalami kejadian sepertimu. Menemukan cinta pertama yang menggelora, menemukan cinta sejati mereka. Sayangnya, hanya satu dari seribu yang benar-benar bisa mewujudkan mimpi cinta pertama yang hebat itu. Sisanya? Ada yang bisa keluar dari jebakan perasaan itu secara berbaik hati, ada yang berpura-pura bisa mengikhlaskannya pergi.2
Mereka berpura-pura bilang kepada semua orang kalau ia telah berhasil melupakannya. Pura-pura berlapang dada melepaskannya, tapi apa yang terjadi saat ia tahu sang kekasih pujaan telah bertunangan atau menikah dengan orang lain. Sakit Jim, hati mereka berdengking sakit. Saat mereka tak sengaja dipertemukan lagi, hati mereka juga sakit. Karena mereka berpura-pura.3
Diungkapkan atau tidak mereka sudah memiliki perasaan tersebut. Mereka sudah terjebak dengan masa lalunya sama seperti kau, perbedaannya kau ditakdirkan menjalani dongeng ini, menunjukkan kalau kita selalu bisa berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan perasaan itu.4
Kau tak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalumu jika kau tidak memulainya dengan memaafkan diri sendiri. Kau harus mulai dengan memaafkan semua kejadian yang telah terjadi. Tidak ada yang patut disalahkan. Ini bukan salah orang tua Nayla, pemburu bayaran beduin atau pemilik semesta alam yang menakdirkan segalanya. Kau justru harus memulainya dengan tidak menyalahkan dirimu sendiri.5
Apakah dengan demikian kau bisa melupakan Nayla? Belum. Sayangnya belum. Untuk bisa sempurna berdamai dengan masa lalu itu kau harus juga menerima kenangan itu. Meletakannya di bagian terpenting hatimu, memberikannya singgasana dan mahkota. Karena bukannkah itu semua kenangan yang paling indah? Paling berkesan? Paling membahagiakan.6
Ah, kau pasti bertanya jika ia memang kenangan yang paling indah, mengapa kau selalu pilu mengenangnya. Mengapa? karena kau tak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Kau selalu menolaknya. Seketika. Tak pernah memeberikan celah kepada hati untuk berpikir dari sisi yang lain. Kau membunuh setiap penjelasan. Tidak sekarang, kau membunuh penjelasan itu esok pagi. Tidak esok pagi kau membunuh penjelasannya itu esok lusa.7
Masalahnya penerimaan itu bukan sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tetapi hatinya berdusta. Kita semua harus berlatih bersusah-payah untuk belajar menerima. Apakah itu sulit? Tidak, Jim. Itu mudah. Tetapi, kau memang tak pernah memulainya kau justru terjebak dalam lingkaran penyesalan. Tidak boleh anakku, urusan ini tidak boleh melibatkan walau sehelai sesal.8

Ketika waktu mempersilahkan kita untuk belajar mengerti.

Bagaimana cara pecinta sejati memainkan perannya lewat cinta yang terukir dengan abadi. Entah sebelumnya perasaan itu sudah saling terungkap, entah belum. Bisa saja hanya dengan isyarat yang mereka jadikan acuan, mereka sudah saling paham bahwa hati mereka sama-sama terpaut. Tapi, masalah yang mereka hadapi sebenarnya bukan tentang cinta yang tak terungkap, melainkan bagaimana mengenal makna pecinta sejati itu sendiri, untuk mereka — dua insan yang sedang memulai kisah cintanya.—  Untuk menjadi legenda dua pecinta sejati.

Ketika kita tertahan atas butir-butir cinta dan rindu yang ada. Ketika kita ingin menghapus keraguan. Ketika kita sedang saling mengingat. Kita berpikir;
Mungkin, ketika kita sama-sama menjadi masa lalu, ketika kita sama-sama telah menjadi kenangan. Kita bergolak pada perasaan yang begitu mendera diri kita. Kita ‘tak pernah mau berdamai dengan hati kita yang tertahan dengan rindu yang kandas. Hanya perasaan yang menusuk ketika kita mengingatnya. Kita berusaha untuk saling lupa, tapi semakin kita berusaha untuk lupa, semakin pula memori-memori itu teringat di diri kita. Kita terlalu berpura-pura untuk kuat. Padahal, kita sama-sama tak bisa — aku tak bisa, kamu 'tak bisa— untuk melewatinya.

Untuk itu, dongeng-dongeng itu mengajarkan kita untuk berdamai. Jangan sampai nyawa kita habis oleh keraguan dan ketidaksabaran itu. Dan dongeng itu mengajarkan kita untuk percaya bahwa kita akan kembali — bersama, sekali lagi— dipertemukan dengan cerita yang lebih indah;
Jika kita mau menunggu;
Jika kita mau bersabar;
Jika kita belajar untuk menerima;
Jika kita belajar untuk berdamai.

Dan, kita tidak akan pernah pergi dan menyerah sebelum kita percaya, bahwa — pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemputnya.9

~


1,2,3,4,5,6,7,8,9 Novel Kisah Sang Penandai - Tere Liye


This entry was posted in

Sunday, 9 February 2014

Antologi: IBU; dalam memoriku (BUKU #1)

Alhamdulillah ini antologi (bersama) saya yang kesepuluh :)

Cover IBU; dalam memoriku (BUKU #1)


Telah Terbit
Penerbit Meta Kata, Februari 2014

==================================
Judul: IBU; dalam memoriku (BUKU #1)
Penulis: Ocha Thalib, dkk
Penyusun: Risty Arvel
Desain Cover: de A media creative
Layout: de A media creative
ISBN: 978-602-1203-24-8
==================================

PENULIS LAINNYA:

Mulyoto M, Esthy Wikasanti, Sri Respati Ayuningsih, Shofy Ada, SydtNR, Debby Ummul Hidayah, Muthia Kamila, Nathanael Eka Nugraheni, Gusti Trisno, Nenny Makmun, Muhammad Ahes, Achmad Burhanuddin (Inueds Al Faqih), Luthvey Nurutdinova, Diantie Noor Rahmat, Fuad Al-bugury, Rela Sabtiana, Ranita Oktavia, Nurmawaddah AR, Istiana Manek, Melisa Dewi Tristiani, Ukhtyan Muhibbah Firdaus,
Andi Kumala Dewi, Winda Aulia Saad, Aldie Borneo, Tri Hartati, Kurnia Mahmud,
Andi Istanto, Maufiroh Nurhidayah, Laily Nurtawajjuh, Anlian, Happy Hawra, Husna Syifa Ubaidillah, Addysti Izdihar, Tri Adnan, Ain Saga, Siti Verawati, Epong Utami,
Dian Ambarwati, Chika Kanagaki, Arie Eka Junia, Riska Ayu Purnama Sari, Yara Purnama, Nazri Z. Syah Nazar, Rachmad Widodo, Alvita Hikmatul Laily, Anneke Annassia P.S, Anisa Sholihat, dan Fitri Susilowati.

09 Februari 2014. 7:47 a.m

Wednesday, 5 February 2014

Antologi: Motivasi Cinta

Antologi kesembilan. Yang ini cuma kata mutiara sih, tapi 'nggak apa-apa lah hahaha.

Cover 'Motivasi Cinta'


Telah Terbit!!!

Motivasi Cinta
Copyright © 2014 by Milevia, Anggi Putri bersama Nenny Makmun, dkk.
xi + 142 hlm. ; 13 x 19 cm

Editing Aksara : Lavira Az-Zahra.
Setting dan Layout : Lavira Az-Zahra.
Design : Lavira Az-Zahra.
ISBN : 978-602-14-7104-3.

Cetakan Pertama, Januari 2014.
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Diterbitkan Oleh :
Pena House
Jalan KNPI Gg. Cendrawasih, Bangkle, Blora
Jawa Tengah - 58200
Phone : 08995718264
Email : azzahra.house834@gmail.com
Website : www.penahouseagency.blogspot.com

Kontributor Puisi :
Milevia - Aditya Kusuma - Novel - Ferry Willi Riawan - Aldie_Borneo - Muhammad Lefand - Febiola Cindi - Ika Wahyuningtyas Yudha - Ismala Astari - Rizki Subbeh - Gia Setiawati - Erina Dwi Lestari - Koko Komarudin - Desilia R. Sari - Ivani Febiningtyas - Yara Purnama - Yuan Yunita – Aziza Zuhroh Sya’bandiyah - Maufiroh Nur Hidayah - Muhammad Abdurrahman - Farida Sundari - Ardyanto Allolayuk - Afni Ramadhani - Alifia Zakiyya - Michelle Marietta Secoa – Sugianto - Eka S Lubis - Ricky Ramdhan D - Tri Adnan - Vincentia Aprina C.M - Siti Qomariyah - Rosiana Febriyanti - Diny Anggraeni - Amie Suratmie - Linda Mustika H - Haura Az-Zahidah - Ahmad Farhan – Warningsih - Daruz Armedian - Dinda Mega Annisa - Shofy Ada - Wanda Jauhari Misluna - Kinanti Larasati Pandanwangi - Sindi Violinda - Nura Rianra - Muhammad Hafeedz Amar Riskha - Sri Purwaningsih Romadhon - Onya Hero - Melisa Dewi Tristiani - Yuni Marsela.

Kontributor Kata Mutiara :
Fadhia Ariani Intan S. D - Asep Awaludin - Ferry Willi Riawan - Novel - Dessy Ratna Puspita - Happy Hawra - Febiola Cindi Fatika Dita - Aziza Zuhroh Sya'bandiyah - Ismala Astari - Koko Komarudin - Desilia R. Sari - Dewi Susanti - Yara Purnama - Meliana Levina Prasetyo - Ahmad Farhan - Muhammad Abdurrahman - Farida Sundari - Malisa Ladini - Imas Hanifah N - Prajna Farravita - Tri Adnan - Ari Mahfudz - Sugianto - Michelle Marietta Secoa - Anggi Putri - Andi Istanto - Fenni Wardhiati - Melisa Dewi Tristiani - Vincentia Aprina C.M - Zelviyadita - Dela Oktadiani - Rosiana Febriyanti - Diny Anggraeni - Amie Suratmie - Linda Mustika H - Siti Qomariyah - Warningsih - Daruz Armedian - Risyda Munawarah K - Haniek Himatul Hanifah - Filla Giani - Isna Eviliyana - Nidhom VE - Rela Sabtiana - Indi Fadhilatanni - Ivani Febiningtyas - Nuraeny Ningsih - Muhammad Hafeedz Amar Riskha - Deta Oktariani - Sri Purwaningsih Romadhon - Yuni Marsela.

5 Februari 2014.

Monday, 3 February 2014

Antologi: Aksara Warna


Alhamdulillah. Ini antologi (bersama) saya yang kedelapan....

Cover 'Aksara Warna'


Telah Terbit!

Judul Buku : Aksara Warna (Antologi Puisi)
Penullis : Wien, Gia Setiawati, Syarifah Z, dkk.
Terbit : Februari 2014
ISBN : 978-602-14760-6-2
Ukuran Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Hal : 180 Halaman

Harga Rp. 48.000

Info Tentang Buku :

Buku ini merupakan kumpulan puisi dari "Annisa Writer's" hasil seleksi pada event Annisa. Berikut kutipan dari beberapa puisi dalam buku ini;

SEMUSIM RINDU PADA DAUN DAUN PINUS

Di setangkai pinus hijau ingatan itu tirus sebagai hujan yang dibawa udara malam.
Tentang hening yang mengkerut di keningmu menjelma di buliran sujud dalam tahajud.
Di malam khusu’ saat tercium bau wudhu yang mengaroma dari dua mata jatuh di waktu ke waktu mengalir menjadi teguh membatu pada istiqomahmu yang satu

"Jika Kau Pemilik Tulang Rusukku"

Wahai Akhi...
Rembulan genit tengah mengintip, dari balik jendela bilikku
Mencuri-curi pandang persis sepertiku yang tengah bercumbu dengan Kekasih mencari perhatian...

Dengarkah Kau wahai akhi
Bibirku tak bosan menyulam namamu dalam lembar do'a yang kian memanjang pada malam-malamku
Kau tahu kenapa? Karena amanah yang kelak Kau pikul demikian berat saat membimbingku..
Untuk itu tak jarang aku lupa menyebut namaku sendiri..

Enigma Buruh Tinta


Tercekat dalam congkaknya panggung opera ibukota
Membelai sadis rongga hati anak manusia
Bebutir embun menjerit di ujung retina
Pada dosa yang mengalun pahit
Bersenyawa melodi kemunafikan jiwa durjana

Tragedi itu bagai sembilu
Melumpuhkan semangat yang memburu
Bak batu cadas yang terkikis tpis

Tim Penulis :

Wien │ Sakura │ Gia Setiawati │ Syarifah Z │ Peni Apriani │ Nurlela │ Zahraton Nawra │ Nurhikmah Hakiki │Norhayati A. Azim │ Widya Rahmawati Al-Nur │ Aziza Zuhroh Sya'bandiyah │ Khanza Aliffia SP │ Novy Noorhayati Syahfida │ Hastira Soekardi │ Annisa Anita Dewi (Ami Kautsar) │ Dessy Ratna Puspita │ Tarian Pena │ Happy Hawra │ Fany Triyani │ Haniyah │ Dita Ayu │ Nurdiyah │ Jay Wijayanti │ Wa Ode Puspa Khairunnisa │ Kurnia Ratna │Intan Fauziyyah │ Izza A.R │ Isna Eviliyana │ Dian Kartina │ Fauziah Ramdani │ Febriyana │ Mukhdariah │ Nenny Makmun │ Luthvey Nurutdinova │ Alfa Anisa │ Lestari Al Fatih │ Nurlailatul Fadhilah │ Nina Nurjanah │ Yara Purnama │Dita Miranda │Mutia Pratiwi Berampu │ Halmawati Halim │ Gea Putri Alvianita │ Amy el-fasa │ Susi │ Dewi Susanti │ Alifia Zakiyya │Titikeke │ Irna Novia Damayanti │ Duwi Tika │ Rindi Wulandari │ Nidhom VE │ Julie Voldy │ Linda Mustika H │ Chika Kanagaki │ Munifa │Siti Nur Mutammimah │Rahmi Mardatillah │ Yuliana │ Shafiyyah Al-lathif │ Vhe AryaDavinatha │Nisa Rhiny │ Wahyu Eko Savitri │ Afifah Nurlaila │ Suryati │ Ranita Oktavia │Hawada Afiyah │ Muthi Ashriyanti │


Serang, 3 Februari 2014. 12:30

Sunday, 2 February 2014

Untukmu; Dua Insan, Dua Asmara, Dua Cerita

Di sini
Ibarat kau dan aku mengingat kembali
Ricau, gelak, dan arah yang tak ada kata jelas
Sebelum hari ini ketika kita datang bersama 'tanpa' bergandeng tangan

Dulu
Pernah tidak kita menyapa janji disini?
Menyebutnya sebagai nama yang kadang... Ah, manusia sangat tahu
Apa itu cinta yang menamai kita ke dalamnya
Benarkah?
Kau membuat aku tergugu, malu

Tak ada
Sangka yang membuat kita kini ada
Duduk bersua tanpa harus ada yang berpaling
Benarkah?
Sungguh, ini hanya antara kita berdua saja

Semoga... Kita... Memang... Berjodoh...

MAN 2 Kota Serang, 1 Februari 2014.
*Puisi ini saya buat untuk dua sahabat saya yang penuh cerita dan bikin ketawa. Iyung dan Uzi ^o^
This entry was posted in

Kau dan Puisi

Masih sanggup kucium jejakmu
Di antara tempat yang cukup lama tak membelaku
Kemarin aku harap sudah tidak ada bisu
Ketika aku berjalan, sedang tatapanmu masih sama
Seperti tak pernah ada harapan untuk 'kita'

Aku kembali melewatkanmu begitu saja
Untuk sejuta kesempatan yang mestinya aku sendiri tahu
Membiarkanmu pergi
Sama dengan membiarkan puisi yang 'tak pernah sampai

Mungkinkah 'kita' hanya remaja yang kurang mengerti?

Barangkali kenangan ini sudah harus kurapikan
Sebagai bait-bait kata yang 'tak pantas dibaca

MAN 2 Kota Serang, 1 Februari 2014
This entry was posted in

Masih Banyak

Masih banyak cerita yang belum kita tertawakan
Masih banyak cinta yang belum kita bicarakan
Masih banyak rindu yang menyimpan harapan
Masih banyak kisah yang belum sempat tersampaikan
Masih banyak lagi tentang kita
Dan dunia yang tidak bisa kita balikkan

MAN 2 Kota Serang, 1 Februari 2014
This entry was posted in

Saturday, 18 January 2014

Antologi: The Last Love #1

Wah alhamdulillah, ini antologi bersama aku yang ketujuh. Sudah terbit! :)

Cover The Last Love #1


The Last Love #1
Copyright © 2014 by Jay Wijayanti, dkk
iv + 218 hlm. ; 13 x 19 cm


Editing Aksara : Lavira Az-Zahra.
Setting dan Layout : Lavira Az-Zahra.
Design : Pena Team.
ISBN : 978-602-16-3160-7


Cetakan Pertama, Januari 2014
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang


Diterbitkan Oleh :
Pena House
Jalan KNPI Gg. Cendrawasih, Bangkle, Blora
Jawa Tengah - 58200
Phone : 08995718264
Email : azzahra.house834@gmail.com
Website : www.penahouseagency.blogspot.com


Sinopsis :
Merupa denting rindu
Pada rerintiknya yang membasahi bumi cintaku
Adalah rasa bertabur kidung kirana
Tereja bersama bias bianglala
Melesap ke dalam lubuk jiwa paling didamba; paling dicinta...
(Muhrodin ‘AM’)

Rerintik pula mengusik hatiku mulai merindumu
Lelaki hujan, lesap cintamu mulai menyemaikan cintaku
Kanvas hidupku mulai berwarna karenamu
Mungkinkah jua engkau adalah sandaran hati dari-Nya?
(Lavira Az-Zahra)

Aih, jangan pernah kau meragu
Ada rindu pada tiap rintik yang membasahi puing-puing hatiku
Pun di sebalik senyum itu
Ada bisik-bisik cinta yang menelisik ke dalam sukma
(Muhrodin ‘AM’)

Lelaki hujanku
Bilamana rasaku rasamu jua
Pun diriku untukmu adalah takdir-Nya
Jagalah rasamu, biarkan kidung kirana membahana melalui suara hatimu
Biarkan hujan meleburkan kita menjadi satu
Satukan puing-puing hatimu dan hatiku
(Lavira Az-Zahra)

Satu dalam rindu
Menderas aksara bersama jarum-jarum cinta yang derainya adalah anugerah dari-Nya
Bertahta di antara lubuk jiwa
Merenda setia pada untaian bahagia
(Muhrodin ‘AM’)

Setia pada bentang yojana
Pemisah antara raga
Namun tidaklah hatimu untukku
Biarkan angin yang menyampaikan rindu
Biarkan rintik yang mendamaikan hatimu
Aku dan kamu... Satu...
(Lavira Az-Zahra)

*02/01/2014__Cinta Terakhir di Awal Tahun oleh
Muhrodin ‘AM’ dan Lavira Az-Zahra

Kontributor Puisi :
Ulfa Wulandari - Sindi Violinda - Yuan Yunita - Arni Windasari - Anisa Sholihat - Susilaning Setyawati Hardjono - Putri Wahyuningsih - Anggi Putri - Nikodemus Niko - Verawati Fajrin - Muhammad Rifai - Ferry Rimbawan - Khadijah Anwar - Ahda Jaudah - Novy Noorhayati Syahfida - Uthari Vilapike - Gia Setiawati - Zahrotun Nisa' - Reeva Thalib - Hera Oktavia Wulandari - Bilqis Anisah – AQSHA - Isroni Muhammad Zulfa - Asep Awaludin - Hani Nuraini - Nur Lathifah - Nabila Puteri P - Ranita Oktavia - Imas Hanifah Nurhasanah - Dessy Ratna Puspita - Khanza Aliffia SP - Amy El-Fasa - Dita Arisca Sari - Desyana Putri - Nabila Al Qoshwa - Aziza Zuhroh Sya'bandiyah - Novel-Syarah Seimahuira-Rusdi El Umar-Erna Nur Fatimah-Dida Wahyu Lestari - Anna Rosdiana - Arina Nur Permata Ilmi - Annisa Nurjannah - Farihatun Nafiah - Aditya Kusuma - Nurul Warits M. P - M. Arir Fikri Abdillah - Ferry Willi Riawan - Linda Budi Rahayu - Irna Nuraini – Maymunah - Hajirratul Qud Siyah-Refdinal Muzan-Muhammad Lefand-Dewi Susanti-Elly Raheliyawati - Ratna Pratiwi - Sinta Laila - Neneng Nurhasanah - Ismala Astari - Happy Hawra - Sijay Elsyakir - Dwi Riswanandi - Mohammad Awaludin - Jay Wijayanti - Ardyanto Allolayuk - Desilia R. Sari - Rafi'il Hani Izam - Latifah Ayu Kusuma - Rony Wiranto - Rahmadhani Rizky A. P - Afni Ramadhani - Nurhikmah Hakiki - Koko Komarudin - Ivani Febiningtyas - Novi Diah Wismaningrum - Iin Mega Arnis - Heru Patria - Rahmi Mimi - Ahmad Farhan - Annisa Salvia - Prajna Farravita - Ressa Andi Pratiwie - Yara Purnama - Isnana Ade Pratiwi - Hastira Soekardi - Nuraeny Ningsih - Choirul Chamdiyatus Sholichah - Zahraton Nawra - Sasmi Rinto Ningrum - Rizki Subbeh - Farida Sundari.

Kata Mutiara The Last Love :
Zee Tanita, Ivani Febiningtyas, Ilmalana Dewi, Dessy Ratna Puspita, Mohammad Awaludin, Lita Maisyarah Dechy, Amy El-Fasa, Asep Awaludin, Ahda Jaudah, Hikmah Ayu Lestari.


Serang, 18 Januari 2014. 21:39.