Friday, 21 February 2014

Berdamai dengan Masa Lalu



Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemputnya.1
Tahukah kau, Anakku, ada miliaran orang di dunia ini yang setiap hari mengalami kejadian sepertimu. Menemukan cinta pertama yang menggelora, menemukan cinta sejati mereka. Sayangnya, hanya satu dari seribu yang benar-benar bisa mewujudkan mimpi cinta pertama yang hebat itu. Sisanya? Ada yang bisa keluar dari jebakan perasaan itu secara berbaik hati, ada yang berpura-pura bisa mengikhlaskannya pergi.2
Mereka berpura-pura bilang kepada semua orang kalau ia telah berhasil melupakannya. Pura-pura berlapang dada melepaskannya, tapi apa yang terjadi saat ia tahu sang kekasih pujaan telah bertunangan atau menikah dengan orang lain. Sakit Jim, hati mereka berdengking sakit. Saat mereka tak sengaja dipertemukan lagi, hati mereka juga sakit. Karena mereka berpura-pura.3
Diungkapkan atau tidak mereka sudah memiliki perasaan tersebut. Mereka sudah terjebak dengan masa lalunya sama seperti kau, perbedaannya kau ditakdirkan menjalani dongeng ini, menunjukkan kalau kita selalu bisa berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan perasaan itu.4
Kau tak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalumu jika kau tidak memulainya dengan memaafkan diri sendiri. Kau harus mulai dengan memaafkan semua kejadian yang telah terjadi. Tidak ada yang patut disalahkan. Ini bukan salah orang tua Nayla, pemburu bayaran beduin atau pemilik semesta alam yang menakdirkan segalanya. Kau justru harus memulainya dengan tidak menyalahkan dirimu sendiri.5
Apakah dengan demikian kau bisa melupakan Nayla? Belum. Sayangnya belum. Untuk bisa sempurna berdamai dengan masa lalu itu kau harus juga menerima kenangan itu. Meletakannya di bagian terpenting hatimu, memberikannya singgasana dan mahkota. Karena bukannkah itu semua kenangan yang paling indah? Paling berkesan? Paling membahagiakan.6
Ah, kau pasti bertanya jika ia memang kenangan yang paling indah, mengapa kau selalu pilu mengenangnya. Mengapa? karena kau tak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Kau selalu menolaknya. Seketika. Tak pernah memeberikan celah kepada hati untuk berpikir dari sisi yang lain. Kau membunuh setiap penjelasan. Tidak sekarang, kau membunuh penjelasan itu esok pagi. Tidak esok pagi kau membunuh penjelasannya itu esok lusa.7
Masalahnya penerimaan itu bukan sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tetapi hatinya berdusta. Kita semua harus berlatih bersusah-payah untuk belajar menerima. Apakah itu sulit? Tidak, Jim. Itu mudah. Tetapi, kau memang tak pernah memulainya kau justru terjebak dalam lingkaran penyesalan. Tidak boleh anakku, urusan ini tidak boleh melibatkan walau sehelai sesal.8

Ketika waktu mempersilahkan kita untuk belajar mengerti.

Bagaimana cara pecinta sejati memainkan perannya lewat cinta yang terukir dengan abadi. Entah sebelumnya perasaan itu sudah saling terungkap, entah belum. Bisa saja hanya dengan isyarat yang mereka jadikan acuan, mereka sudah saling paham bahwa hati mereka sama-sama terpaut. Tapi, masalah yang mereka hadapi sebenarnya bukan tentang cinta yang tak terungkap, melainkan bagaimana mengenal makna pecinta sejati itu sendiri, untuk mereka — dua insan yang sedang memulai kisah cintanya.—  Untuk menjadi legenda dua pecinta sejati.

Ketika kita tertahan atas butir-butir cinta dan rindu yang ada. Ketika kita ingin menghapus keraguan. Ketika kita sedang saling mengingat. Kita berpikir;
Mungkin, ketika kita sama-sama menjadi masa lalu, ketika kita sama-sama telah menjadi kenangan. Kita bergolak pada perasaan yang begitu mendera diri kita. Kita ‘tak pernah mau berdamai dengan hati kita yang tertahan dengan rindu yang kandas. Hanya perasaan yang menusuk ketika kita mengingatnya. Kita berusaha untuk saling lupa, tapi semakin kita berusaha untuk lupa, semakin pula memori-memori itu teringat di diri kita. Kita terlalu berpura-pura untuk kuat. Padahal, kita sama-sama tak bisa — aku tak bisa, kamu 'tak bisa— untuk melewatinya.

Untuk itu, dongeng-dongeng itu mengajarkan kita untuk berdamai. Jangan sampai nyawa kita habis oleh keraguan dan ketidaksabaran itu. Dan dongeng itu mengajarkan kita untuk percaya bahwa kita akan kembali — bersama, sekali lagi— dipertemukan dengan cerita yang lebih indah;
Jika kita mau menunggu;
Jika kita mau bersabar;
Jika kita belajar untuk menerima;
Jika kita belajar untuk berdamai.

Dan, kita tidak akan pernah pergi dan menyerah sebelum kita percaya, bahwa — pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemputnya.9

~


1,2,3,4,5,6,7,8,9 Novel Kisah Sang Penandai - Tere Liye


This entry was posted in

Sunday, 9 February 2014

Antologi: IBU; dalam memoriku (BUKU #1)

Alhamdulillah ini antologi (bersama) saya yang kesepuluh :)

Cover IBU; dalam memoriku (BUKU #1)


Telah Terbit
Penerbit Meta Kata, Februari 2014

==================================
Judul: IBU; dalam memoriku (BUKU #1)
Penulis: Ocha Thalib, dkk
Penyusun: Risty Arvel
Desain Cover: de A media creative
Layout: de A media creative
ISBN: 978-602-1203-24-8
==================================

PENULIS LAINNYA:

Mulyoto M, Esthy Wikasanti, Sri Respati Ayuningsih, Shofy Ada, SydtNR, Debby Ummul Hidayah, Muthia Kamila, Nathanael Eka Nugraheni, Gusti Trisno, Nenny Makmun, Muhammad Ahes, Achmad Burhanuddin (Inueds Al Faqih), Luthvey Nurutdinova, Diantie Noor Rahmat, Fuad Al-bugury, Rela Sabtiana, Ranita Oktavia, Nurmawaddah AR, Istiana Manek, Melisa Dewi Tristiani, Ukhtyan Muhibbah Firdaus,
Andi Kumala Dewi, Winda Aulia Saad, Aldie Borneo, Tri Hartati, Kurnia Mahmud,
Andi Istanto, Maufiroh Nurhidayah, Laily Nurtawajjuh, Anlian, Happy Hawra, Husna Syifa Ubaidillah, Addysti Izdihar, Tri Adnan, Ain Saga, Siti Verawati, Epong Utami,
Dian Ambarwati, Chika Kanagaki, Arie Eka Junia, Riska Ayu Purnama Sari, Yara Purnama, Nazri Z. Syah Nazar, Rachmad Widodo, Alvita Hikmatul Laily, Anneke Annassia P.S, Anisa Sholihat, dan Fitri Susilowati.

09 Februari 2014. 7:47 a.m

Wednesday, 5 February 2014

Antologi: Motivasi Cinta

Antologi kesembilan. Yang ini cuma kata mutiara sih, tapi 'nggak apa-apa lah hahaha.

Cover 'Motivasi Cinta'


Telah Terbit!!!

Motivasi Cinta
Copyright © 2014 by Milevia, Anggi Putri bersama Nenny Makmun, dkk.
xi + 142 hlm. ; 13 x 19 cm

Editing Aksara : Lavira Az-Zahra.
Setting dan Layout : Lavira Az-Zahra.
Design : Lavira Az-Zahra.
ISBN : 978-602-14-7104-3.

Cetakan Pertama, Januari 2014.
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Diterbitkan Oleh :
Pena House
Jalan KNPI Gg. Cendrawasih, Bangkle, Blora
Jawa Tengah - 58200
Phone : 08995718264
Email : azzahra.house834@gmail.com
Website : www.penahouseagency.blogspot.com

Kontributor Puisi :
Milevia - Aditya Kusuma - Novel - Ferry Willi Riawan - Aldie_Borneo - Muhammad Lefand - Febiola Cindi - Ika Wahyuningtyas Yudha - Ismala Astari - Rizki Subbeh - Gia Setiawati - Erina Dwi Lestari - Koko Komarudin - Desilia R. Sari - Ivani Febiningtyas - Yara Purnama - Yuan Yunita – Aziza Zuhroh Sya’bandiyah - Maufiroh Nur Hidayah - Muhammad Abdurrahman - Farida Sundari - Ardyanto Allolayuk - Afni Ramadhani - Alifia Zakiyya - Michelle Marietta Secoa – Sugianto - Eka S Lubis - Ricky Ramdhan D - Tri Adnan - Vincentia Aprina C.M - Siti Qomariyah - Rosiana Febriyanti - Diny Anggraeni - Amie Suratmie - Linda Mustika H - Haura Az-Zahidah - Ahmad Farhan – Warningsih - Daruz Armedian - Dinda Mega Annisa - Shofy Ada - Wanda Jauhari Misluna - Kinanti Larasati Pandanwangi - Sindi Violinda - Nura Rianra - Muhammad Hafeedz Amar Riskha - Sri Purwaningsih Romadhon - Onya Hero - Melisa Dewi Tristiani - Yuni Marsela.

Kontributor Kata Mutiara :
Fadhia Ariani Intan S. D - Asep Awaludin - Ferry Willi Riawan - Novel - Dessy Ratna Puspita - Happy Hawra - Febiola Cindi Fatika Dita - Aziza Zuhroh Sya'bandiyah - Ismala Astari - Koko Komarudin - Desilia R. Sari - Dewi Susanti - Yara Purnama - Meliana Levina Prasetyo - Ahmad Farhan - Muhammad Abdurrahman - Farida Sundari - Malisa Ladini - Imas Hanifah N - Prajna Farravita - Tri Adnan - Ari Mahfudz - Sugianto - Michelle Marietta Secoa - Anggi Putri - Andi Istanto - Fenni Wardhiati - Melisa Dewi Tristiani - Vincentia Aprina C.M - Zelviyadita - Dela Oktadiani - Rosiana Febriyanti - Diny Anggraeni - Amie Suratmie - Linda Mustika H - Siti Qomariyah - Warningsih - Daruz Armedian - Risyda Munawarah K - Haniek Himatul Hanifah - Filla Giani - Isna Eviliyana - Nidhom VE - Rela Sabtiana - Indi Fadhilatanni - Ivani Febiningtyas - Nuraeny Ningsih - Muhammad Hafeedz Amar Riskha - Deta Oktariani - Sri Purwaningsih Romadhon - Yuni Marsela.

5 Februari 2014.

Monday, 3 February 2014

Antologi: Aksara Warna


Alhamdulillah. Ini antologi (bersama) saya yang kedelapan....

Cover 'Aksara Warna'


Telah Terbit!

Judul Buku : Aksara Warna (Antologi Puisi)
Penullis : Wien, Gia Setiawati, Syarifah Z, dkk.
Terbit : Februari 2014
ISBN : 978-602-14760-6-2
Ukuran Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Hal : 180 Halaman

Harga Rp. 48.000

Info Tentang Buku :

Buku ini merupakan kumpulan puisi dari "Annisa Writer's" hasil seleksi pada event Annisa. Berikut kutipan dari beberapa puisi dalam buku ini;

SEMUSIM RINDU PADA DAUN DAUN PINUS

Di setangkai pinus hijau ingatan itu tirus sebagai hujan yang dibawa udara malam.
Tentang hening yang mengkerut di keningmu menjelma di buliran sujud dalam tahajud.
Di malam khusu’ saat tercium bau wudhu yang mengaroma dari dua mata jatuh di waktu ke waktu mengalir menjadi teguh membatu pada istiqomahmu yang satu

"Jika Kau Pemilik Tulang Rusukku"

Wahai Akhi...
Rembulan genit tengah mengintip, dari balik jendela bilikku
Mencuri-curi pandang persis sepertiku yang tengah bercumbu dengan Kekasih mencari perhatian...

Dengarkah Kau wahai akhi
Bibirku tak bosan menyulam namamu dalam lembar do'a yang kian memanjang pada malam-malamku
Kau tahu kenapa? Karena amanah yang kelak Kau pikul demikian berat saat membimbingku..
Untuk itu tak jarang aku lupa menyebut namaku sendiri..

Enigma Buruh Tinta


Tercekat dalam congkaknya panggung opera ibukota
Membelai sadis rongga hati anak manusia
Bebutir embun menjerit di ujung retina
Pada dosa yang mengalun pahit
Bersenyawa melodi kemunafikan jiwa durjana

Tragedi itu bagai sembilu
Melumpuhkan semangat yang memburu
Bak batu cadas yang terkikis tpis

Tim Penulis :

Wien │ Sakura │ Gia Setiawati │ Syarifah Z │ Peni Apriani │ Nurlela │ Zahraton Nawra │ Nurhikmah Hakiki │Norhayati A. Azim │ Widya Rahmawati Al-Nur │ Aziza Zuhroh Sya'bandiyah │ Khanza Aliffia SP │ Novy Noorhayati Syahfida │ Hastira Soekardi │ Annisa Anita Dewi (Ami Kautsar) │ Dessy Ratna Puspita │ Tarian Pena │ Happy Hawra │ Fany Triyani │ Haniyah │ Dita Ayu │ Nurdiyah │ Jay Wijayanti │ Wa Ode Puspa Khairunnisa │ Kurnia Ratna │Intan Fauziyyah │ Izza A.R │ Isna Eviliyana │ Dian Kartina │ Fauziah Ramdani │ Febriyana │ Mukhdariah │ Nenny Makmun │ Luthvey Nurutdinova │ Alfa Anisa │ Lestari Al Fatih │ Nurlailatul Fadhilah │ Nina Nurjanah │ Yara Purnama │Dita Miranda │Mutia Pratiwi Berampu │ Halmawati Halim │ Gea Putri Alvianita │ Amy el-fasa │ Susi │ Dewi Susanti │ Alifia Zakiyya │Titikeke │ Irna Novia Damayanti │ Duwi Tika │ Rindi Wulandari │ Nidhom VE │ Julie Voldy │ Linda Mustika H │ Chika Kanagaki │ Munifa │Siti Nur Mutammimah │Rahmi Mardatillah │ Yuliana │ Shafiyyah Al-lathif │ Vhe AryaDavinatha │Nisa Rhiny │ Wahyu Eko Savitri │ Afifah Nurlaila │ Suryati │ Ranita Oktavia │Hawada Afiyah │ Muthi Ashriyanti │


Serang, 3 Februari 2014. 12:30

Sunday, 2 February 2014

Untukmu; Dua Insan, Dua Asmara, Dua Cerita

Di sini
Ibarat kau dan aku mengingat kembali
Ricau, gelak, dan arah yang tak ada kata jelas
Sebelum hari ini ketika kita datang bersama 'tanpa' bergandeng tangan

Dulu
Pernah tidak kita menyapa janji disini?
Menyebutnya sebagai nama yang kadang... Ah, manusia sangat tahu
Apa itu cinta yang menamai kita ke dalamnya
Benarkah?
Kau membuat aku tergugu, malu

Tak ada
Sangka yang membuat kita kini ada
Duduk bersua tanpa harus ada yang berpaling
Benarkah?
Sungguh, ini hanya antara kita berdua saja

Semoga... Kita... Memang... Berjodoh...

MAN 2 Kota Serang, 1 Februari 2014.
*Puisi ini saya buat untuk dua sahabat saya yang penuh cerita dan bikin ketawa. Iyung dan Uzi ^o^
This entry was posted in

Kau dan Puisi

Masih sanggup kucium jejakmu
Di antara tempat yang cukup lama tak membelaku
Kemarin aku harap sudah tidak ada bisu
Ketika aku berjalan, sedang tatapanmu masih sama
Seperti tak pernah ada harapan untuk 'kita'

Aku kembali melewatkanmu begitu saja
Untuk sejuta kesempatan yang mestinya aku sendiri tahu
Membiarkanmu pergi
Sama dengan membiarkan puisi yang 'tak pernah sampai

Mungkinkah 'kita' hanya remaja yang kurang mengerti?

Barangkali kenangan ini sudah harus kurapikan
Sebagai bait-bait kata yang 'tak pantas dibaca

MAN 2 Kota Serang, 1 Februari 2014
This entry was posted in

Masih Banyak

Masih banyak cerita yang belum kita tertawakan
Masih banyak cinta yang belum kita bicarakan
Masih banyak rindu yang menyimpan harapan
Masih banyak kisah yang belum sempat tersampaikan
Masih banyak lagi tentang kita
Dan dunia yang tidak bisa kita balikkan

MAN 2 Kota Serang, 1 Februari 2014
This entry was posted in