Sunday, 30 March 2014

[FF] Hujan di Bulan April



Ini adalah April ketiga aku melihatnya di sana. Wanita tanpa nama itu menatap kosong ke depan, pada riak ombak yang mengalun panjang. Dia akan pergi setelah kakinya mulai lelah menahan dinginnya air laut. Berjalan dengan membawa kembali kado yang ia bawa saat datang.

Aku tahu wanita itu sedang menanti.

“Siapa yang kamu tunggu?” tanyaku suatu ketika. Tatapannya meredup saat ia memandangku.

“Aku menunggu Hujan..” wanita itu tersenyum samar.

Baginya menanti adalah jalan. Wanita itu yakin, Hujan — lelaki yang ia tunggu ― akan datang sesuai janjinya.

Punggungnya berbalik. Ia melangkah menjauh, bersama kado ulang tahun terakhir yang lelaki itu berikan kepadanya.

***

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Birthday Giveaway diirumahkata.blogspot.com"




Saturday, 29 March 2014

Sebuah Kehidupan



Kamu sepertinya lupa bahwa kehidupan ini akan terasa semakin berat. Kamu pasti tahu akan hal itu, tapi kamu hanya merasa lelah, padahal kamu telah berusaha semampumu. Kamu mencoba mengingat-ingat kalimat-kalimat terbaik yang pernah kamu dengar. Tetapi kamu berpikir tetap saja 'ini tak mudah'.

Kamu kini ada di persimpangan. Kamu terus berdiri di sana. Memejamkan mata dengan lekat seolah-olah kamu sedang berkhayal tentang sesuatu. Di dalam benakmu, kamu ingin sekali berlari, mencari hal-hal baru yang bisa kamu temukan, lebih dari yang saat ini kamu rasakan. Tapi kamu sadar bahwa kamu tidak bisa melakukannya karena tak satupun yang mampu kamu perbuat. Bahwa kamu menganggap dirimu hanya manusia lemah.

Samar-samar kamu membuka mata. Enam tahun yang lalu kamu masih baik-baik saja. Kamu memiliki ayah yang baik meski terkadang ia bersikap terlalu keras, sehingga seringkali membuatmu takut. Tapi kamu bahagia, kamu sangat berkecukupan. Meskipun terkadang kamu bersembunyi ketika membeli jajanan berlebihan karena takut dimarahi. Kamu takut sekali mendengar ketegasan suara ayahmu ketika sedang marah. Tapi kamu tetap menyayanginya, karena kamu tahu bahwa ayahmupun menyayangimu.

The greatest gift I ever had Came from God; I call him Dad!

Hingga sekarang kamu masih ingat. Ada hal baru yang terpaksa harus kamu tahu saat enam tahun yang lalu. Kehilangan. Ya, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh anak seumuranmu. Bahkan, sesuatu yang kamu baru tahu saat itu; bahwa di dunia ini ada yang namanya kehilangan. Ayahmu, dia meninggalkan dunia lebih cepat. Desember 2008, itu yang kamu ingat.

Kamu mau tak mau menyiapkan kehidupan baru. Mencoba untuk terasa sama. Meski kamu menyadarinya bahwa hidupmu sudah berbeda, hingga hari ini, kamu sangat tahu hal itu. Kecukupan yang kamu rasakan dulu entah kini masih sama atau tidak. Hanya kamu yang perlu tahu, katamu.

Kamu ingin menangis, tapi untuk apa? Kamu ingin bercerita, tapi untuk apa? Kamu tak pernah berani untuk mengatakannya, kamu selalu gagal mencoba. Terlebih kamu sangat yakin bahwa kamu sanggup untuk menahan segalanya. Akhirnya kamu selalu mencoba tersenyum sesantai mungkin.

Kamu mematut di sudut kamar.

Enam tahun yang lalu, umurmu masih tiga belas tahun. Kamu tersenyum, menertawakan dirimu yang kini hendak mencapai tahun ke-sembilan belas dalam hidupmu.

"Jangan meminta dikurangi bebanmu, tapi mintalah dikuatkan punggungmu."

Kamu berharap hari-hari akan selalu baik.

(:

Saturday, 15 March 2014

Sendiri



Sendiri. Itulah yang kini kerap menyiksaku. Berjumpa dengan sepi adalah situasi dimana aku sangat ingin melewatkannya. Selalu saja begitu. Barangkali, aku tak dapat menyalahkan dirimu atau menyalahkan waktu yang terlalu lama untuk bergilir. Mungkin saja ini memang tentang kesalahanku. Membiarkan setiap jeda merasukiku dengan paksa. Dan tentu saja, membiarkan ada waktu yang 'tak tergunakan dengan baik.

Sungguh. Kalau saja aku boleh berkata jujur, aku terlalu takut jika harus berjumpa dengan kesendirian lagi. Aku sangat tidak ingin menghadapi larutnya malam oleh rasa sepi. Karena aku takut, pada waktu-waktu tersebut, aku akan berulang-ulang memutar setiap jejak kenangan di kepalaku. Membongkar rasa ingin tahu yang harusnya terkubur, kemudian aku pun harus mengingat kenyataan bahwa kau adalah satu dari ketidakpastian yang ada.

Kupikir itu sudah jelas, yang kuinginkan hanyalah menutup mata lalu tertidur dengan pulas. Dan saat aku menemukan pagi, aku akan lupa pada malam yang terlalu pekat untuk bisa kupahami itu.

This entry was posted in

Tuesday, 4 March 2014

Antologi: Kopi Bercerita #3

Antologi ke-12 ^^

Cover Kopi Bercerita #3


Kopi Bercerita #3

Genre : Kumcer
Penulis :Boneka Lilin et Boliners
Editor & Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-1200-38-4
Tebal : 165 Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)

Sinopsis

Setelah suguhan tirai airnya, yang disisakan hujan hanya genangan dan kenangan. Setelah ketiadaan gelapnya, yang disajikan hari adalah terang benderang. Namun ada banyak warisan yang melekat erat di lidah dan hati dari tiap sesapan kopi.
Kopi terasa nikmat jika pahitnya telah diajak bersahabat. Rasakan sensasi hangat dari minuman hitam pekat. Secangkir kopi, menguar banyak cerita dari bumbungan kepul asapnya.
***
Kini tubuhku menjauh dari layar netbook, bergeser pada satu ruang di sudut kamar gelap. Kamar yang hampir satu tahun terakhir ini tak pernah kupasangi lampu.
Kusandarkan dagu di kedua lututku yang tertekuk, dengan tangan yang masih setia mencekik gelas yang kini berada tepat di bawah wajahku. Titik-titik air berjatuhan ke dalam gelas, bercampur dengan pekat kopiku. Bahuku mulai berguncang. Aku menangis.
Tuhan, aku lelah....

***
Penulis Kontributor:
Boneka Lilin, Waritsah Assilmi, Ayu Firda Marisca, Happy Hawra, Gilang Maulani, Muhamad Faisal Aliza, Dina Nur Wahyuni, Yuniar Putri Pratiwi, Meykke Santoso, Aula Bilal, Trio Syahputra, Ramona Nurmala Sari, Larasati Andi Yuana, Mutiara Desrina, Ajeng Maharani, Reny Rahmawati, Nurul Ilmah, Rini Nur Hidayah, M. Anzaikhan, Asih Putri Utami, Roswita Puji Lestari, Rere Zivago, Rela Sabtiana, Takiara Ayunir Dara Dayu, Alis susanti, Janette Roseline


Antologi: Senandung Cinta untuk Ibunda #1

Antologi ke-11.

Cover Senandung Cinta untuk Ibunda #1


Telah Terbit !

Judul Buku : Senandung Cinta untuk Ibunda#1 (Antologi Puisi)
Penulis : Maftuhatus As Sa'diyah, Syarif Husni, dkk.
Terbit : Februari, 2014
ISBN : 978-602-1363-00-3
Uk. Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Hal : 170 Hlm


Tentang Buku :

Senandung Cinta untuk Ibunda adalah buku antologi puisi dari para peserta terpilih event menulis "Senandung Cinta untuk Ibunda".
__________________
Cinta teruntuk ibunda, meski tak seutuhnya bisa dilukiskan dengan kata-kata, karena jasa, pengorbanan dan kasih yang tiada tara. Namun dalam deretan aksara dalam buku ini, senandung cinta ada untukmu wahai ibunda.
[Wien, penulis, Bandung]

__________________
Senandung Cinta untuk Ibunda, sejatinya bukanlah sekedar goresan kata-kata. Ia adalah prasasti yang dipahat atas nama cinta dan rindu. Sebab itu, ia akan mengabadi melintasi usia zaman. Senandung Cinta untuk Ibunda, sebuah persembahan sederhana untuk sosok yang tak pernah cukup kata untuk menceritakannya. Senandung Cinta untuk Ibunda, sebuah ungkapan cinta yang sayang untuk dilewatkan!
Selamat kepada para penulis. Semoga setiap amal dan kebaikan yang ada dalam buku ini, sekecil apapun itu, pahalanya juga mengalir untuk Ibu yang telah melahirkan sosok-sosok dalam buku ini!
[Syarif Husni, Cerpenis dan Ketua FLP Mataram, NTB]

_________________

Tim Penulis :
Shintia Rica, Rahmi Mardatillah, Ni Luh Indrayani, M Ridho Ilahi, Ayu Novianti, Bambang Kariyawan Ys, Z. Yunanis, Rizki Dwi Utami, Yusnita Septiani, Trisum, Susan, Siti Lutfiyah Masruroh, Zidni Rosyidah, Afiyah Asya Luvias, Al-Fian Dippahatang, Apriliana Rosidatul Islamiyah, Nunk Arif, Samudrawan Kertapati, Ainul Fitriyah, Febriyanti Pusparini, Elok Faiqamila Aulia, Faiz Firmansyah, Catur Nugraheni, Dona Novita, Joko Waluyo, Dwiyani Setiowati, Citra Sary, Hastira Soekardi, Siti Qotimah, Ismi Lailatul Rokhmah, Trias Apriani, Gabriella Rumondang Almadea Sihombing, Titi Nurmala Kekenusa, Risyda Munawarah K, Aziza Zuhroh Sya'bandiyah, Rizqiani Dian, Linda Mustika Hartiwi, Arif Sofyan, Fitriani Sari, Noorhayati Dessy, Nengsal Rusmayanti, Suci Amelia Harlen, Liya Kawai, Aqyas Dini Nisa, Megawati Bunga Mayang, Nurlailatul Fadhilah, Juni Purnama Hsb, Amalia Nina Purwari, Laily Dyah Ayu Indradewi, Fitria Suartini, Sonya Hervina Okthiara, Lilis Nurhalimah, Happy Hawra, Marzuki, Aliffia Hanu Wardhana, Fitriana Nur Hanifah, Anggy Dwi Priasmara, Athiyah Layla, Ardy Anto, Pasila Pradanisa Nugrahani, Wahyu Eko Savitri, Nura Rianra, Citra Putri Ramadani, Husnul Khotimah Aqiel, Hazal Ula, Ukhtyan Muhibbah Firdaus, Yeni Widayati, Putri Andrianingrum, Nurdiyah H, Catur Hari Mukti, Shafiyyah Al Lathif, Khotimatun Radhoh, Nella Yulidasari, Ulin Nurviana, Rahmat Alifin V, Hanifah Khoiriyyah Huda, Isna Eviliyana, Iis Sugiarti, Fadlil Mu’id, Muhammad Wahyu Afriansyah, Sri Wahyuni, Siti Masruhaturrahmah, Khusnul Fatonah, Chairul Huda Alma, Muizzatul Ainiyah, Ina Karlina, Jati Setyarini, Afif Permana, Adinda Noerma Yunita, Zelviyadita, Inueds Al Faqih, Rawina Nurmarianita, Huliyyatul Ashfiya, Anti Aufiyatus Tsalitsah, Widya Elyani, Adwa Qaireen, Irayatul Munawaroh, Addien Sjafar Qurnia, Tari, Inten Mustika Kusumaningtias, Ery Budiono, Yunengsih, Machfudzoh Nur Kholishoh