Friday, 18 April 2014

Para Pemendam Rasa



Tanyakan arti cinta pada para pemendam rasa.



Mereka adalah para pecinta yang sedang mencoba untuk bertahan.
Bukan karena cintanya terhadap seseorang yang mengambil sepotong hatinya teramat besar, tapi karena mereka belum mampu untuk melepaskan diri dari bayang-bayang sepotong hatinya tersebut. Rumah mereka adalah kenangan. Sekalipun ada luka yang mereka rasa, kenangan akan selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang, untuk menyulam benang-benang kerinduan.

Mereka adalah para pecinta yang menanti bagian jiwanya yang sudah terbelah sejak lama.
Mereka yang tengah disibukkan memikirkan wajah sepotong hatinya sebelum mereka menyudahi malam dan beranjak untuk terlelap. Para pecinta yang berkata dalam hatinya "barangkali, sepotong hatiku berada di sana". Ya, seringkali cinta memang tak mampu membuat akal bekerja dengan baik.

Mereka adalah para pecinta yang terperangkap dalam ruang reka tanpa daya.
Sejak nama yang menahan jiwa mereka menjadi pemenuh sebagian isi kepala, mereka terus saja mengingatnya, bahkan ketika mereka berpikir bahwa mungkin mengingatnya adalah dosa. Karena ketika diam dan kesepian menjadi bagian dari hari, dan tidak ada apapun yang dapat mengganggu konsentrasi, semuanya pasti akan kembali kepada sepotong hati yang menahan jiwanya.

Mereka adalah para pecinta yang mendulang rasa yang begitu renta tapi tak pernah jadi kata-kata.
Dalam situasi yang terselimuti oleh jeda, mereka selalu ingin tahu apa yang ada di hati sepotong hatinya. Namun sayang, mereka tidak pernah benar-benar tahu. Maka itu, Tasaro mengatakan, tidak ada yang membuat begitu penasaran selain perasaan seseorang yang engkau menyimpan sayang kepadanya.

Mereka adalah para pecinta yang tidak peduli apa istilah yang benar-benar mampu menamai perasaan itu.
Seringkali mereka dihadapkan pada kebingungan akan posisi sepotong hatinya itu. Memang seharusnya tidak ada yang tumbuh. Mereka, para pecinta yang tak sanggup lagi berbicara persoalan romantisme

Mereka adalah para pecinta yang terjebak dalam ruang tunggu tanpa tepi waktu.

Mereka adalah para pecinta yang ahli memendam rasa.

Mereka akan menunggu,


Sebab,

Mereka tahu,


Bahwa cinta tidak sesederhana itu.
~
This entry was posted in

Wednesday, 16 April 2014

Sayap yang Tak Patah

Sumber gambar: http://content1.lovelytoday.com/2011/12/11/5950.59464041.hap3.jpg


“Sayap cinta sesungguhnya tak pernah patah. Karena kasih selalu sampai di sana. Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain. Sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.”


***

Gaun birumu tergerai ke bawah, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sudah lama mempersiapkan semua ini. Aku pun sama. Tampil dengan jas yang membuat diriku terlihat lebih bersinar.

“Kau tahu? Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku,” katamu, tersenyum tersipu, seakan malu untuk mengatakannya. Hari ini, kukira jantung kita berdebar lebih kencang dari biasanya.

***

Aku teringat sore itu, tepatnya sebulan yang lalu. Sore pertama aku bertemu denganmu setelah tiga tahun lamanya meninggalkan kota ini. Saat itu, hujan tiba-tiba saja turun. Terbesat dalam pikiran untuk membatalkan pertemuan kali ini. Aku takut kalau-kalau kamu kehujanan. Tapi kemudian kamu mengirim pesan bahwa sebentar  lagi kamu akan tiba dan berkata bahwa kamu pun sudah mempersiapkan payung, seolah memintaku untuk tidak khawatir.

Tak lama kamu pun datang, tampil dengan dress sederhana bermotif geometric ditambah dengan balero yang membuat kamu tampak sempurna. Kamu tersipu, mungkin kamu merasa tampil agak berlebihan, tapi menurutku, kamu terlihat sangat cantik hari ini. Membuatku sedikit tak percaya diri.

Dua cangkir kopi diantarkan ke meja. Aku membetulkan posisi dudukku. Aroma kopi yang menyengat membuat kita tak sabar untuk menyeruputnya. Lima detik kemudian kita sama-sama terhanyut memburu kopi yang berada di hadapan.

***

“Apa kamu bahagia?” pertanyaan retoris. Tapi aku tahu, kamu hanya menginginkan sebuah keyakinan yang sesungguhnya.

“Mana mungkin aku tidak bahagia duduk berdua bersamamu seperti ini. Bahkan, aku sudah tidak butuh lagi bidadari dari surga, sebab salah satunya telah turun ke bumi. Tentu saja, bidadari itu hadir untuk menemaniku.”

Kamu, adalah anugerah.

***

Kini, kedua kopi yang menemani kita sedari tadi sudah tinggal sisa-sisa ampas kopinya saja. Perbincangan-perbincang tentang aku yang merasakan hidup di negeri kangguru selama tiga tahun pun sudah habis. Sepertinya kamu pun tak tahu harus mencari topik apa lagi untuk dibicarakan. Tapi aku, sebenarnya masih menyimpan satu hal yang sangat ingin kusampaikan tapi belum juga dapat keluar dari mulutku. Satu hal yang sangat sakral. Aku masih mencari jeda yang tepat untuk itu. Alasan lainnya adalah karena aku terlalu gugup.
Aku mengeluarkan kotak berbungkus beludru hitam dari saku celana. Kedua mata kita bertemu. Aku kira ini kesempatan yang tepat.

“Dara, aku tidak tahu banyak hal tentang cinta. Tapi aku yakin, kamu adalah seseorang yang mampu untuk menjadi pelengkap kisah hidupku setelah ini. Would you marry me?” Meski gugup, akhirnya kalimat itu sampai kepadamu. Entahlah, apa kalimat itu terdengar lebay atau tidak. Mungkin kamu berpikir kali ini aku tampak seperti orang lain di matamu. Tapi toh kamu tak peduli, kamu malah tersenyum penuh haru sampai-sampai telaga embun di matamu mulai menetes perlahan. Kamu bahagia, aku apalagi.

Kamu mengangguk pasti.

***

“Saya terima nikahnya Dara Husna binti Joni Setiawan dengan mas kawinnya tersebut tunai.” Dua jam yang lalu kalimat tersebut telah kuucapkan. Kini kita telah resmi. Alhamdulillah.

Ah, sudah sangat jelas bukan? Hari ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam kehidupanku. Hari dimana aku, David Arya mengikat janji pernikahan dengan wanita berwajah teduh yang akhir-akhir ini namanya seringkali muncul di kepalaku. Wanita itu adalah Dara Husna. Seseorang yang kini akan kujaga sampai akhir hayatku.

Kini, baik aku maupun kamu sudah tak butuh lagi mereka-reka rasa. Barangkali aku sudah tak harus lagi menulis puisi-puisi rindu yang sejatinya memang tak pernah sampai kepadamu. Sebab mulai hari ini, aku dan kamu akan selalu berjalan bersisian. Berjalan berdua menyapa matahari sambil bergandengan tangan dan menikmati sepotong sore yang santai ditemani hadirnya senja.

From this moment, life has begun
From this moment, you are the one
Right beside you is where I belong,
From this moment on

From this moment I have been blessed
I love only, for your happiness
And for your love
I’d give my last breath,
From this moment on

I give my hand to you with all my heart,
I can’t wait to live my life with you
I can’t wait to You and I will never be apart,
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you.
I promise you this.
There is nothing I wouldn't give
From... this... moment on.

You're the reason. I believe in love,
And you're the answer to my prayers, from up above
All we need is just the two of us.
My dreams came true because of you.

From this moment as long as I live
I will love you
I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment

Lagu From This Moment On dari Shania Twain selesai dinyanyikan oleh grup wedding singer yang berada di ujung sana. Rasanya lagu itu benar-benar  mewakili segenap perasaan yang tak dapat tersampaikan hanya dengan berkata-kata. Aku menggenggam tanganmu. Mungkin ini adalah kebahagiaan sempurna untuk kita berdua.

***

(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!)

Saturday, 5 April 2014

Cinta (yang) Jatuh



Akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang seperti menahanku. Jika bisa dikatakan, sesuatu yang tertahan itu membuatku sedikit gusar.
~~

Aku hanya mahasiswi biasa, usiaku 18 tahun. Bagi mahasiswi semester dua sepertiku, kuliah merupakan aktivitas yang cukup menghabiskan sebagian waktu. Sangat melelahkan apabila sedang terkukung oleh kepadatan di dalamnya. Barangkali, ada kalanya mahasiswi sepertiku ini menemukan sedikit celah untuk melupakan persoalan kuliah yang masih jauh dari kata akhir. Salah satunya adalah kata yang sakral diperbincangkan. Yaitu cinta.

Cinta. Adalah lima huruf yang sanggup mengubah setiap insan yang telah terpaut dalam dekapannya. Sehingga tak salah apabila Ayatul Husna di dalam buku Ketika Cinta Bertasbih mendefinisikan cinta seperti ini...

Menurutku,
cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan,
mengubah kandang jadi taman,
mengubah penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibah
Itulah cinta!

Jika ada seseorang bertanya apakah aku pernah jatuh cinta, dengan jelas akan kujawab, "Tentu saja". Bukankah jatuh cinta adalah sebuah penghayatan terhadap peran jenis kita?
Namun, jika seseorang menyuruhku untuk mendefinisikan cinta, mungkin saja aku tak mampu menjawabnya. Sebab, terkadang cinta tak butuh definisi.

Kegusaran yang membuat jiwaku tertahan kali ini mungkin juga adalah efek dari jatuh cinta. Meskipun hingga saat ini aku masih saja ragu untuk menyebut perasaan ini sebagai cinta. Aku tak pernah berani berkata bahwa aku jatuh cinta, sebab aku takut bahwa yang kualami ini hanyalah sekedar perasaan yang bisa saja orang-orang menyebutnya sebuah kekaguman kita terhadap seseorang (lawan jenis), bukan cinta. Tapi, lama-lama aku berpikir dan meyakinkan diriku sendiri, kalau bukan cinta, apalagi kata yang sanggup menyebut rasa yang membuatku menjadi lebih puitis. Selain itu, aku jadi lebih sering menghayati lagu-lagu romantis, mencari tahu makna dari berbagai novel roman yang sedang kubaca maupun menonton drama-drama yang tak pernah lepas dari cerita romantika. Jadi kalau bukan cinta, maka kusebut apalagi?

Tuhan, mungkinkah kini aku sadar bahwa rasa yang telah lama menahan jiwaku ini adalah cinta?
~~


Mmm.... cinta! Menurutku,
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang
lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku malu pada
keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan
terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!

(Definisi cinta menurut Anna Altafunnisa dalam buku Ketika Cinta Bertasbih)