Wednesday, 16 April 2014

Sayap yang Tak Patah

Sumber gambar: http://content1.lovelytoday.com/2011/12/11/5950.59464041.hap3.jpg


“Sayap cinta sesungguhnya tak pernah patah. Karena kasih selalu sampai di sana. Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain. Sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.”


***

Gaun birumu tergerai ke bawah, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sudah lama mempersiapkan semua ini. Aku pun sama. Tampil dengan jas yang membuat diriku terlihat lebih bersinar.

“Kau tahu? Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku,” katamu, tersenyum tersipu, seakan malu untuk mengatakannya. Hari ini, kukira jantung kita berdebar lebih kencang dari biasanya.

***

Aku teringat sore itu, tepatnya sebulan yang lalu. Sore pertama aku bertemu denganmu setelah tiga tahun lamanya meninggalkan kota ini. Saat itu, hujan tiba-tiba saja turun. Terbesat dalam pikiran untuk membatalkan pertemuan kali ini. Aku takut kalau-kalau kamu kehujanan. Tapi kemudian kamu mengirim pesan bahwa sebentar  lagi kamu akan tiba dan berkata bahwa kamu pun sudah mempersiapkan payung, seolah memintaku untuk tidak khawatir.

Tak lama kamu pun datang, tampil dengan dress sederhana bermotif geometric ditambah dengan balero yang membuat kamu tampak sempurna. Kamu tersipu, mungkin kamu merasa tampil agak berlebihan, tapi menurutku, kamu terlihat sangat cantik hari ini. Membuatku sedikit tak percaya diri.

Dua cangkir kopi diantarkan ke meja. Aku membetulkan posisi dudukku. Aroma kopi yang menyengat membuat kita tak sabar untuk menyeruputnya. Lima detik kemudian kita sama-sama terhanyut memburu kopi yang berada di hadapan.

***

“Apa kamu bahagia?” pertanyaan retoris. Tapi aku tahu, kamu hanya menginginkan sebuah keyakinan yang sesungguhnya.

“Mana mungkin aku tidak bahagia duduk berdua bersamamu seperti ini. Bahkan, aku sudah tidak butuh lagi bidadari dari surga, sebab salah satunya telah turun ke bumi. Tentu saja, bidadari itu hadir untuk menemaniku.”

Kamu, adalah anugerah.

***

Kini, kedua kopi yang menemani kita sedari tadi sudah tinggal sisa-sisa ampas kopinya saja. Perbincangan-perbincang tentang aku yang merasakan hidup di negeri kangguru selama tiga tahun pun sudah habis. Sepertinya kamu pun tak tahu harus mencari topik apa lagi untuk dibicarakan. Tapi aku, sebenarnya masih menyimpan satu hal yang sangat ingin kusampaikan tapi belum juga dapat keluar dari mulutku. Satu hal yang sangat sakral. Aku masih mencari jeda yang tepat untuk itu. Alasan lainnya adalah karena aku terlalu gugup.
Aku mengeluarkan kotak berbungkus beludru hitam dari saku celana. Kedua mata kita bertemu. Aku kira ini kesempatan yang tepat.

“Dara, aku tidak tahu banyak hal tentang cinta. Tapi aku yakin, kamu adalah seseorang yang mampu untuk menjadi pelengkap kisah hidupku setelah ini. Would you marry me?” Meski gugup, akhirnya kalimat itu sampai kepadamu. Entahlah, apa kalimat itu terdengar lebay atau tidak. Mungkin kamu berpikir kali ini aku tampak seperti orang lain di matamu. Tapi toh kamu tak peduli, kamu malah tersenyum penuh haru sampai-sampai telaga embun di matamu mulai menetes perlahan. Kamu bahagia, aku apalagi.

Kamu mengangguk pasti.

***

“Saya terima nikahnya Dara Husna binti Joni Setiawan dengan mas kawinnya tersebut tunai.” Dua jam yang lalu kalimat tersebut telah kuucapkan. Kini kita telah resmi. Alhamdulillah.

Ah, sudah sangat jelas bukan? Hari ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam kehidupanku. Hari dimana aku, David Arya mengikat janji pernikahan dengan wanita berwajah teduh yang akhir-akhir ini namanya seringkali muncul di kepalaku. Wanita itu adalah Dara Husna. Seseorang yang kini akan kujaga sampai akhir hayatku.

Kini, baik aku maupun kamu sudah tak butuh lagi mereka-reka rasa. Barangkali aku sudah tak harus lagi menulis puisi-puisi rindu yang sejatinya memang tak pernah sampai kepadamu. Sebab mulai hari ini, aku dan kamu akan selalu berjalan bersisian. Berjalan berdua menyapa matahari sambil bergandengan tangan dan menikmati sepotong sore yang santai ditemani hadirnya senja.

From this moment, life has begun
From this moment, you are the one
Right beside you is where I belong,
From this moment on

From this moment I have been blessed
I love only, for your happiness
And for your love
I’d give my last breath,
From this moment on

I give my hand to you with all my heart,
I can’t wait to live my life with you
I can’t wait to You and I will never be apart,
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you.
I promise you this.
There is nothing I wouldn't give
From... this... moment on.

You're the reason. I believe in love,
And you're the answer to my prayers, from up above
All we need is just the two of us.
My dreams came true because of you.

From this moment as long as I live
I will love you
I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment

Lagu From This Moment On dari Shania Twain selesai dinyanyikan oleh grup wedding singer yang berada di ujung sana. Rasanya lagu itu benar-benar  mewakili segenap perasaan yang tak dapat tersampaikan hanya dengan berkata-kata. Aku menggenggam tanganmu. Mungkin ini adalah kebahagiaan sempurna untuk kita berdua.

***

(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!)

7 comments:

  1. Replies
    1. hahaha. ah, aku juga galau gara-gara lagu di atas :')

      Delete
  2. Huwoooo pernah bikin cerita macam begini juga tapi endingnya.....ngetwist huahaha bikin pembacanya ketipu deh
    salam kenal kak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iyakah? Hahaha. Salam kenal juga ya :)

      Delete
    2. Wah, iyakah? Salam kenal juga :)

      Delete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^