Monday, 19 May 2014

[FF Cinta Pertama] Lelaki Fajar

Sumber gambar: disini


Bunyi alarm handphone yang terdengar sangat keras itu membuatku terbangun dari tidur panjang semalam. Rupanya, kini aku telah berjumpa lagi dengan pagi.

Ada yang menarik dari suasana di pagi hari. Pagi adalah dimana waktu kebanyakan orang-orang memulai semua rutinitas mereka. Entah itu berupa pekerjaan ataupun yang berkaitan dengan pendidikan. Untuk itu, mau tidak mau, suka tidak suka, pagi selalu menjadi pemenang dalam memaksa kita untuk terbangun dari lelapnya tidur.

Bagiku, ada yang lebih menarik lagi dari pagi, saat setelah aku mengenal lebih dalam lelaki bermata tirus di ruang kelas itu. Ia adalah Fajar, lelaki yang sampai hari ini masih membuat hatiku terpenjara oleh pesonanya. Barangkali karenanya aku menyukai pagi, menyukai fajar yang senantiasa datang menyapa terlebih dahulu sebelum matahari. Sebab pula, pagi membuatku bisa memandangi sosok Fajar.

*

Kini ia berjalan di depan mataku. Sesaat mata kita bertemu. Aku bertanya pada hatiku sendiri, adakah perempuan yang hatinya tak berdebar dengan kencang apabila berhadapan dengan lelaki yang akhir-akhir ini namanya tak pernah habis dalam pikiran? Kukira jawabannya tidak ada, karena aku tengah merasakannya sendiri. Jantungku berdebar kencang tanpa mau kompromi.

Aku mendengar namanya dipanggil oleh kedua orang temannya, temanku juga. Ini bukan kali pertama aku mendengar namanya. Ia adalah satu dari sepuluh lelaki penghuni ruang kelas ini, dengan lima belas perempuan hadir di dalamnya, termasuk aku. Ia, dengan gurat senyum yang khas di wajahnya dan bahu yang agak sedikit membungkuk, berjalan ke arah belakang menghampiri kedua teman yang memanggil namanya tersebut. Aku pun berjalan ke bangkuku, sementara hatiku menanti untuk ia panggil.

*

Aku bersiap ke atas panggung. Di café ini orang-orang bisa makan sambil menikmati alunan live music. Setiap hari Sabtu dan Minggu, aku biasa menyanyikan beberapa lagu di café ini, tepatnya dimulai dari dua bulan yang lalu.

Kali ini aku bernyanyi bukan karena tugasku sebagai penyanyi di sini, tetapi adanya permintaan dari teman-temanku yang memang saat ini kita sedang merayakan hari spesial. Rasanya aku tak mungkin menolak permintaan itu, terlebih Fajar yang tersenyum menganggukkan kepalanya kepadaku seolah-olah benar-benar menyuruhku untuk melakukannya.

“Ini adalah lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni. Lagu ini saya persembahkan untuk dua orang spesial di depan saya, Fajar dan Riani yang telah bertunangan dua hari lalu. Selamat untuk kalian berdua..”

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Aku menangis dalam hati. Adakah perempuan yang hatinya terluka karena melihat orang yang dicintai selama tujuh tahun, kini jari manisnya telah terlingkar oleh cincin dari perempuan lain? Adakah perempuan yang hatinya sakit karena harus berpura-pura tersenyum sebab orang yang dicintai tengah berbahagia, meski itu dengan orang lain? Kalaupun ada, berarti orangnya adalah aku. Senja yang gagal menjemput Fajar.

Kini, cerita cinta pertamamu sudah usai, Senja.
~
*485 kata*

Friday, 16 May 2014

Memandangimu



Ada yang mendesir di hati ini, barangkali hanya aku yang paham alasannya. Aku sering memandangmu, mungkin kau tahu tetapi kau memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Atau memang kau tak pernah tahu bahwa ada aku yang kerap memandangimu dari sini, dari dunia maya yang tak dapat kutahu nyatanya.

Aku ingin bilang, kalau saja kita tak terpaut pada jarak dan bisa terus berbalas temu, mungkin aku tak kan seperti ini. Mencari ketika kau tak nampak, merindukanmu ketika tak pernah ada cuap yang terlihat.

Kalau saja aku berani, aku ingin bicara langsung padamu. Tentang kekhawatiran yang selama ini aku rasakan. Aku terlalu takut berharap karena aku sendiri takut kalau-kalau aku mengetahui perasaanmu yang ternyata aku salah mengartikannya. Aku mungkin ragu dan bisa saja aku ini keliru. Itulah kenapa aku ingin mengetahui kedalaman hatimu. Agar aku tahu, apakah ada hati yang sama dalamnya denganku.
~
This entry was posted in

Terjebak



Belum tuntas kau tawan hatiku, kini kau buat aku menjadi cemburu...

Aku kembali terjebak;
Kali ini bukan karena aku jatuh cinta padamu, terlebih karena aku merasa cemburu.

Kau, yang telah lama tak kuketahui kabarnya, kini nampak terlihat mengurai kata-kata untuk seseorang yang kau kenali — yang tak pernah kutahu dia siapa.

Aku, yang tengah terjebak dalam jurang kecemburuan.
~
This entry was posted in

Sunday, 11 May 2014

Berpandangan



Tiga detik lamanya
Kita diam
Mata kita berlari
Kita berpandangan
"Kapan lagi tatapan seperti ini bisa terjalin?"
Hanya hati yang mampu kita tanyai
~
This entry was posted in

Matahari dan Kuncup Bunga



Kita sama tahu
Kau bukan raja
Aku bukan ratu

Kita sama tahu
Kau bukan Romeo
Aku bukan Juliet

Tapi kita tak saling tahu
Bahwa kau ingin menjadi matahari
Aku ingin menjadi kuncup bunga

Sebab kita
Masih sama ragu jatuh cinta
~
This entry was posted in

Aku Masih Menunggu



Jangan salahkan aku
Yang lugu menatap matamu
Yang berharap agar waktu terhenti
Menggambar indah rindu dua pemalu

Jangan salahkan aku
Yang kacau mendengar debar jantungmu
Yang berkhayal akan ada takdir
Sehingga kita benar-benar jatuh

Jangan salahkan aku
Yang diam-diam menyimpan gambarmu
Yang kupandangi tiap-tiap senja
Wajah teduh pilihanku

Jangan salahkan aku
Yang masih saja menunggumu

2014
This entry was posted in

Saturday, 10 May 2014

Duduk Berdua



Aku tak butuh metafora
Atau mulai belajar menggambar alegori
Aku hanya ingin kita duduk berdua
Lalu berbicara semua hiperbola
~
This entry was posted in

Wajah di Bola Mata



Hatiku semakin dalam menyelam kapal
Tak pernah sampai tahu akan tiba ke muara
Sebab ada jiwa yang terus kurindu
Yang senantiasa hatinya tak dapat kucerna
Adakah kau tahu itu siapa?
Itu adalah dia
Wajah yang hadir di bola mata
~

This entry was posted in

Antologi: Ketika Cinta Memanggil



Telah Terbit
Judul Buku : Ketika Cinta Memanggil #1
Penulis : Wien, Aeni As-Sayyidah, Ira Zahara Yasminia, dkk.
ISBN : 978-602-1363-14-0

Sinopsis :

------------------------------------------------------------------------------------
Ketika cinta memanggil, aku terlahir di muka bumi ini
Ketika cinta memanggil, kutunaikan sholat kurapal ayat-ayat suci
Ketika cinta memanggil, hidayah-Mu menyentuh kalbu tatkala aku terjatuh di lembah nista
Ketika cinta memanggil, kupersembahkan segala rinduku dalam sujud tahajud
Ketika cinta memanggil, aku kembali ke sisi-Mu dan meninggalkan dunia yang fatamorgana
Dan, panggillah aku dengan cinta-Mu, agar kelak 'ku dapat berjumpa dengan-Mu, di akhirat kelak

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hal yang membuat kecewa adalah ketika aku baru mengetahui kalau Ayah itu debu.

Sudah satu jam aku merenung mengurung diri di dalam sepi, kamarku. Rinai-rinai dalam kalbuku kini berubah menjadi isak tangis tak terbendung. Kulemparkan pandangan mataku tepat pada arah bingkai yang debu tertempel di tubuhnya. Ibu. Satu bulan sudah Ibu meninggal, meninggalkan semua keindahan. Hanya aku dan Ayah di sini. Tersimpan penat dan pekat saat rumah kami digusur, dan gubuk ini tempat kami berlindung.

Allahummaghfirli liwaliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Aamiin.
Kutempelkan kedua tangan di wajah sembari mengusap air mata, menyingkap mukena yang basah. Aku rindu Ayah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tim Penulis :
Halmawati Halim, Ain Saga, Tri Adnan, Maftuhah As Sa'diyah, Husna Syifa Ubaidillah, Afiyah Hawada, Jay Wijayanti, Alya Nur Fadhilah, Vita Ayu Kusuma Dewi, Norhayati. A. Azim, Feli natar, Happy Hawra, Ade Nurhidayah, Nasihah Trisnawati, Wulan Bachsin, Siti Ratnawati, Linda Safitri, Ana Izzatunnisa, Puti Wulandari, Sarda Feronica, Lu'lu Ngaqilah, Rela Sabtiana, Reny Rahmawati, Alya Nur Fadhilah, Titis kurniawati, Ira Ambarwati, Ika Usfarina, dan Halimah At-Taqiyyah.

Saturday, 3 May 2014

Dare To Dream

Sumber gambar: http://www.wallsave.com/wallpapers/1024x768/dream-world/251257/dream-world-251257.jpg


"Semua orang adalah pemimpi. Mereka melihat segalanya bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa dari kita membiarkan suatu impian mati, namun yang lain memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka yang selalu berharap impiannya akan jadi nyata." ─ Woodrow Wilson

Saat saya terdiam, saya melamun, dan dalam lamunan itu seringkali saya berpikir tentang mimpi-mimpi dan menghayalkannya. Saya adalah seorang pemimpi, maka wajar jika saya punya banyak mimpi. Tapi dari banyaknya mimpi tersebut, ada dua mimpi yang ingin saya tulis di sini.

Pertama, adalah mimpi saya untuk menjadi seorang penulis terkenal.
Kenapa saya ingin menjadi penulis? Sebab saya suka menulis, sebab saya suka membaca. Sebenarnya sederhana saja.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada saya, "Pernah ga sih kamu bener-bener fokus sama satu hal? Tentang apa?."
Saya diam lama sekali. Saya bertanya kepada diri saya apakah saya pernah mengerjakan sesuatu yang membuat saya fokus. Saya berpikir dan akhirnya menemukan jawabannya. "Ternyata aku pernah fokus sama satu hal. Nulis..."

Ya, alasan lainnya mengapa saya ingin menjadi penulis bahwa ternyata menulis adalah pekerjaan yang membuat saya bisa betah seharian di dalam kamar selain baca novel dan nonton. Kenapa saya bisa mengatakan saya fokus? Sebab, setelah saya pikir, menulis adalah pekerjaan paling konsisten yang pernah saya lakukan sampai saat ini. Dari kecil saya mulai belajar menulis, meski hanya sebatas menulis karangan-karangan anak SD. Tetapi saya suka. Lalu saya belajar membuat puisi saat SMP dan mulai menekuninya saat SMA. Hingga saat ini, lebih dari puisi, saya bisa lebih banyak belajar membuat cerpen, dan prosa-prosa lainnya. Sesuatu yang tadinya saya pikir saya tidak mampu membuatnya. Apapun pekerjaan yang nanti saya lakukan, saya akan tetap menulis. Insya Allah.
"Berusahalah untuk mencapai sesuatu yang luar biasa dalam hidup kalian setiap tiga sampai lima tahun. Konsistenlah selama itu, maka insya Allah akan ada terobosan prestasi yang tercapai", kata Kiai Rais dalam novel Rantau 1 Muara. Saya percaya.

Ada hal yang lebih menguatkan lagi mengapa saya ingin menjadi penulis, yaitu karena saya ingin dikenang dalam keabadian. Meskipun nanti saya telah tiada, saya akan tetap abadi dalam karya-karya yang saya tulis. Imam Al-Ghazali juga berkata, "jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah."

Dan kenapa saya ingin terkenal? Karena dalam mimpi menjadi seorang penulis, ada mimpi terselubung lain yang saya miliki. Kalian tahu apa itu? Saya ingin sekali suatu hari nanti saya bisa diundang menjadi pembicara dalam bedah buku ataupun seminar, dan didampingi dengan dua penulis terkenal yang saya kagumi yaitu Dee 'Dewi Lestari' dan Tasaro GK. Saya akan sangat bahagia jika mimpi tersebut bisa menjadi nyata. Mungkin saking bahagianya saya bisa sampai menangis di tempat. Hehehe terharu tau. :)
Nah, untuk itu saya harus memiliki karya-karya yang nantinya bisa melejit. Jika saya hanya menjadi penulis biasa, tentu saja Mbak Dee dan Mas Tasaro GK tidak akan mungkin mengenal saya. Lagipula saya juga bukan selebriti. Bukankah begitu?

Jadi, untuk mewujudkan mimpi saya tersebut, saya ingin menulis buku dan menerbitkannya. Dengan target terbit pada tanggal 24 Desember 2014. Semoga mimpi saya tercapai. Aamiin. (Tolong diaminkan ya, hehehe) :)

Wah, satu mimpi saja sepertinya sudah sangat panjang ya, hehehe. Tapi boleh kan saya melanjutkan menuliskan yang kedua? Semoga tidak bosan membacanya :)

Kedua, saya ingin sekali pergi ke Australia.
Saya berkeinginan pergi ke Australia itu sejak SMP. Sebenarnya tidak ada alasan yang kuat sih kenapa saya ingin pergi ke sana. Hanya saja waktu itu nama "Australia" terdengar menarik di telinga saya. Sewaktu main monopoli juga Australia itu negara yang sering saya incar, abis mahal sih, hahaha. Maklum lah, namanya juga masih kecil. Setelah saya mulai besar, saya tahu ternyata Australia itu bukan cuma Australia, tetapi di dalamnya ada Sydney, Melbourne, Perth, dan tempat-tempat lainnya yang memang indah. Ada Tasmania juga di sana, itu mengingatkan saya sama kartun Tazmania Devil hihihi.
Tadinya sih saya berkeinginan untuk kuliah di sana. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya takut ga bisa hidup sendirian di negeri orang. Jadi, alternatif lainnya saya ingin pergi ke sana setelah menikah nanti. Pergi berdua ke Australia sama pasangan, bukankah romantis jadinya? HUAHAHAHA. Memangnya cuma pasangan kak Dude-Alyssa saja yang bisa pergi ke Turki, foto-foto, dan jalan-jalan berdua, terus bikin orang yang liat di infotainment iri? Hahaha. Atau yang lebih romantis lagi kayak pasangan Alif dan Dinara di dalam novel Rantau 1 Muara. Apalagi, Ahmad Fuadi menulis seperti ini di novelnya, "A couple who travel together, grow together." Kan jadinya tambah romantis hahahaha. Yaudah lah ya, namanya juga mimpi. Yang penting ndak membuat rugi orang toh? *ngikik*

Oh iya, sampai lupa... Target pergi ke Australia saya ingin pada tanggal 24 November 2019, saya sudah bisa pergi ke sana.

Teruuuuuuus
Jika mimpi saya tersebut tidak tercapai, pastinya saya akan sangat sedih. Mengingat keduanya adalah mimpi-mimpi terbesar saya. Hiks...

Tapi saya percaya, sesulit apapun mimpi yang hendak kita capai, sekeras apapun dinding yang menghalanginya, suatu hari nanti kita akan mampu melewatinya. Tentu dengan usaha yang keras dan doa yang kuat. Sebab, mimpi bukan hanya milik mereka yang berbakat, tetapi milik semua orang yang berani untuk bermimpi. Dan kita akan tersenyum bersama-sama suatu hari nanti, ketika mimpi-mimpi kita menjadi nyata.

"Tidak meremehkan impian setinggi apapun, karena Tuhan Maha Mendengar. Cita-cita yang baru berupa bisikan di dalam hati terdalam, telah terdengar oleh-Nya dan bisa menjadi nyata." ─ Ahmad Fuadi

I declare, I will accomplish my dream. Mudah-mudahan semua mimpi saya bisa menjadi nyata. Aamiin. (:

~~

Yuk, berbagi mimpi di Giveaway Dream To Dream. Yuk, sama-sama mengamini mimpi-mimpi baik yang ada di sana (: