Follow Me
Sumber gambar: disini


Bunyi alarm handphone yang terdengar sangat keras itu membuatku terbangun dari tidur panjang semalam. Rupanya, kini aku telah berjumpa lagi dengan pagi.

Ada yang menarik dari suasana di pagi hari. Pagi adalah dimana waktu kebanyakan orang-orang memulai semua rutinitas mereka. Entah itu berupa pekerjaan ataupun yang berkaitan dengan pendidikan. Untuk itu, mau tidak mau, suka tidak suka, pagi selalu menjadi pemenang dalam memaksa kita untuk terbangun dari lelapnya tidur.

Bagiku, ada yang lebih menarik lagi dari pagi, saat setelah aku mengenal lebih dalam lelaki bermata tirus di ruang kelas itu. Ia adalah Fajar, lelaki yang sampai hari ini masih membuat hatiku terpenjara oleh pesonanya. Barangkali karenanya aku menyukai pagi, menyukai fajar yang senantiasa datang menyapa terlebih dahulu sebelum matahari. Sebab pula, pagi membuatku bisa memandangi sosok Fajar.

*

Kini ia berjalan di depan mataku. Sesaat mata kita bertemu. Aku bertanya pada hatiku sendiri, adakah perempuan yang hatinya tak berdebar dengan kencang apabila berhadapan dengan lelaki yang akhir-akhir ini namanya tak pernah habis dalam pikiran? Kukira jawabannya tidak ada, karena aku tengah merasakannya sendiri. Jantungku berdebar kencang tanpa mau kompromi.

Aku mendengar namanya dipanggil oleh kedua orang temannya, temanku juga. Ini bukan kali pertama aku mendengar namanya. Ia adalah satu dari sepuluh lelaki penghuni ruang kelas ini, dengan lima belas perempuan hadir di dalamnya, termasuk aku. Ia, dengan gurat senyum yang khas di wajahnya dan bahu yang agak sedikit membungkuk, berjalan ke arah belakang menghampiri kedua teman yang memanggil namanya tersebut. Aku pun berjalan ke bangkuku, sementara hatiku menanti untuk ia panggil.

*

Aku bersiap ke atas panggung. Di café ini orang-orang bisa makan sambil menikmati alunan live music. Setiap hari Sabtu dan Minggu, aku biasa menyanyikan beberapa lagu di café ini, tepatnya dimulai dari dua bulan yang lalu.

Kali ini aku bernyanyi bukan karena tugasku sebagai penyanyi di sini, tetapi adanya permintaan dari teman-temanku yang memang saat ini kita sedang merayakan hari spesial. Rasanya aku tak mungkin menolak permintaan itu, terlebih Fajar yang tersenyum menganggukkan kepalanya kepadaku seolah-olah benar-benar menyuruhku untuk melakukannya.

“Ini adalah lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni. Lagu ini saya persembahkan untuk dua orang spesial di depan saya, Fajar dan Riani yang telah bertunangan dua hari lalu. Selamat untuk kalian berdua..”

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Aku menangis dalam hati. Adakah perempuan yang hatinya terluka karena melihat orang yang dicintai selama tujuh tahun, kini jari manisnya telah terlingkar oleh cincin dari perempuan lain? Adakah perempuan yang hatinya sakit karena harus berpura-pura tersenyum sebab orang yang dicintai tengah berbahagia, meski itu dengan orang lain? Kalaupun ada, berarti orangnya adalah aku. Senja yang gagal menjemput Fajar.

Kini, cerita cinta pertamamu sudah usai, Senja.
~
*485 kata*


Ada yang mendesir di hati ini, barangkali hanya aku yang paham alasannya. Aku sering memandangmu, mungkin kau tahu tetapi kau memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Atau memang kau tak pernah tahu bahwa ada aku yang kerap memandangimu dari sini, dari dunia maya yang tak dapat kutahu nyatanya.

Aku ingin bilang, kalau saja kita tak terpaut pada jarak dan bisa terus berbalas temu, mungkin aku tak kan seperti ini. Mencari ketika kau tak nampak, merindukanmu ketika tak pernah ada cuap yang terlihat.

Kalau saja aku berani, aku ingin bicara langsung padamu. Tentang kekhawatiran yang selama ini aku rasakan. Aku terlalu takut berharap karena aku sendiri takut kalau-kalau aku mengetahui perasaanmu yang ternyata aku salah mengartikannya. Aku mungkin ragu dan bisa saja aku ini keliru. Itulah kenapa aku ingin mengetahui kedalaman hatimu. Agar aku tahu, apakah ada hati yang sama dalamnya denganku.
~


Belum tuntas kau tawan hatiku, kini kau buat aku menjadi cemburu...

Aku kembali terjebak;
Kali ini bukan karena aku jatuh cinta padamu, terlebih karena aku merasa cemburu.

Kau, yang telah lama tak kuketahui kabarnya, kini nampak terlihat mengurai kata-kata untuk seseorang yang kau kenali — yang tak pernah kutahu dia siapa.

Aku, yang tengah terjebak dalam jurang kecemburuan.
~


Tiga detik lamanya
Kita diam
Mata kita berlari
Kita berpandangan
"Kapan lagi tatapan seperti ini bisa terjalin?"
Hanya hati yang mampu kita tanyai
~


Kita sama tahu
Kau bukan raja
Aku bukan ratu

Kita sama tahu
Kau bukan Romeo
Aku bukan Juliet

Tapi kita tak saling tahu
Bahwa kau ingin menjadi matahari
Aku ingin menjadi kuncup bunga

Sebab kita
Masih sama ragu jatuh cinta
~


Jangan salahkan aku
Yang lugu menatap matamu
Yang berharap agar waktu terhenti
Menggambar indah rindu dua pemalu

Jangan salahkan aku
Yang kacau mendengar debar jantungmu
Yang berkhayal akan ada takdir
Sehingga kita benar-benar jatuh

Jangan salahkan aku
Yang diam-diam menyimpan gambarmu
Yang kupandangi tiap-tiap senja
Wajah teduh pilihanku

Jangan salahkan aku
Yang masih saja menunggumu

2014


Aku tak butuh metafora
Atau mulai belajar menggambar alegori
Aku hanya ingin kita duduk berdua
Lalu berbicara semua hiperbola
~


Hatiku semakin dalam menyelam kapal
Tak pernah sampai tahu akan tiba ke muara
Sebab ada jiwa yang terus kurindu
Yang senantiasa hatinya tak dapat kucerna
Adakah kau tahu itu siapa?
Itu adalah dia
Wajah yang hadir di bola mata
~



Telah Terbit
Judul Buku : Ketika Cinta Memanggil #1
Penulis : Wien, Aeni As-Sayyidah, Ira Zahara Yasminia, dkk.
ISBN : 978-602-1363-14-0

Sinopsis :

------------------------------------------------------------------------------------
Ketika cinta memanggil, aku terlahir di muka bumi ini
Ketika cinta memanggil, kutunaikan sholat kurapal ayat-ayat suci
Ketika cinta memanggil, hidayah-Mu menyentuh kalbu tatkala aku terjatuh di lembah nista
Ketika cinta memanggil, kupersembahkan segala rinduku dalam sujud tahajud
Ketika cinta memanggil, aku kembali ke sisi-Mu dan meninggalkan dunia yang fatamorgana
Dan, panggillah aku dengan cinta-Mu, agar kelak 'ku dapat berjumpa dengan-Mu, di akhirat kelak

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hal yang membuat kecewa adalah ketika aku baru mengetahui kalau Ayah itu debu.

Sudah satu jam aku merenung mengurung diri di dalam sepi, kamarku. Rinai-rinai dalam kalbuku kini berubah menjadi isak tangis tak terbendung. Kulemparkan pandangan mataku tepat pada arah bingkai yang debu tertempel di tubuhnya. Ibu. Satu bulan sudah Ibu meninggal, meninggalkan semua keindahan. Hanya aku dan Ayah di sini. Tersimpan penat dan pekat saat rumah kami digusur, dan gubuk ini tempat kami berlindung.

Allahummaghfirli liwaliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Aamiin.
Kutempelkan kedua tangan di wajah sembari mengusap air mata, menyingkap mukena yang basah. Aku rindu Ayah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tim Penulis :
Halmawati Halim, Ain Saga, Tri Adnan, Maftuhah As Sa'diyah, Husna Syifa Ubaidillah, Afiyah Hawada, Jay Wijayanti, Alya Nur Fadhilah, Vita Ayu Kusuma Dewi, Norhayati. A. Azim, Feli natar, Happy Hawra, Ade Nurhidayah, Nasihah Trisnawati, Wulan Bachsin, Siti Ratnawati, Linda Safitri, Ana Izzatunnisa, Puti Wulandari, Sarda Feronica, Lu'lu Ngaqilah, Rela Sabtiana, Reny Rahmawati, Alya Nur Fadhilah, Titis kurniawati, Ira Ambarwati, Ika Usfarina, dan Halimah At-Taqiyyah.