Saturday, 14 June 2014

Saat Cinta Melupa


"Lupakanlah cinta yang kita tak punya kemampuan untuk mengatakan dan membuktikannya. Lupakanlah cinta yang keindahannya hanya fatamorgana di padang pasir. Lupakanlah cinta yang bahkan kita masih ragu untuk menyebutnya cinta. Cintailah saja hal-hal yang kita memang sanggup mencintainya. (A.N.A)"

Rasanya adalah hal yang wajar saat aku mengatakan "apa yang kurasakan, nampaknya adalah cinta". Pun dengan apa yang pernah kutulis kemarin, atas keraguan perasaanku. Semuanya menunjukkan bahwa aku sedang berada dalam dimensi 'jatuh'. Tetapi, seiring berlewatnya waktu, kesederhanaan perasaan yang kurasakan semakin pudar. Kesederhanaan tentang bagaimana jiwa memaknai rasa. Ia kini telah berganti menjadi imaji-imaji yang rumit. Mungkin ini adalah sebab dari terlalu dalamnya aku menyelami hatiku sendiri.

Katanya, kita terlalu ambisius apabila mempertahankan cinta yang tak jelas muaranya. Karena setelah itu, yang ada hanyalah rasa keingintahuan yang besar dan kita akan menemukan realita ketidakpastian di sana. Dan aku merasakan keduanya. Pertama, tentang rasa ingin tahu. Tahukah, seberapa sering aku bertanya pada diri sendiri, tentang hal-hal kecil mengenai ia, yang kuubah menjadi pertanyaan besar yang rasanya sulit untuk dijawab? Lalu setelah itu, habislah otakku untuk menerka-nerka segalanya. Kedua, saat pikiran lelah bekerja untuk menerka, maka kemudian bergantilah pemikiran-pemikiran atau terkaan-terkaan tersebut menjadi sebuah pernyataan yang tidak pernah kutahu letak kepastiannya. Disitulah realita kepastian membuat semua rasa pesimisme naik hingga ubun-ubun. Sebab itu, aku harus segera sadar bahwa cinta memang butuh kesiapan yang besar kalau-kalau takdir yang kuharap memang tidak menghampiriku.

Mungkin dari situlah aku harus mulai belajar bagaimana cara melupakan. Sejenak saja, aku ingin sejenak lupa. Tentang rasa yang bergejolak di jiwa yang tak bisa lagi aku temui ujungnya. Tentang ia, yang tak kutahu kedalaman hatinya. Tentang aku pula, yang tak pernah sanggup untuk berkata. Karena jika terus dibiarkan rasanya akan membuat diriku sendiri menjadi semakin tidak produktif.

Maka kutulis lagi, sejenak saja, aku ingin sejenak lupa. Lupakanlah cinta, meski terasa luka.
This entry was posted in

Sunday, 8 June 2014

Antologi: Surat Untukmu Sahabat #1

Cover Surat Untukumu Sahabat #1

Telah terbit :

Judul Buku : Surat Untukmu Sahabat#1
Penulis : Eka Novirna, Mukhlis Amin, Halmawati Halim, dkk.
ISBN : 978-602-1363-18-8
________________________________________________

Sinopsis :

Untukmu sahabat baikku
yang telah kukenal dan yang belum kukenal
Terimakasih untukmu sahabatku
karenamu hidupku berwarna indah
karenamu langkah ini terasa mudah
kau teguhkan aku di saat aku mulai goyah
kau ingatkan aku di saat aku lupa
kau ajak aku pada indahnya jalan ukhuwah
bersamamu sukaku bertambah
bersamamu dukaku melemah

Kau sahabat terbaikku
sahabat dunia dan akhiratku

_________________________________________________

Seperti kaki langit yang berpagut dengan senja hari, tak pernah usai menyapa dan tak bosan menanti matahari tenggelam. Apa kabarmu dan ponakanku yan solehah? Semoga Allah menjaga jendela hatimu agar senantiasa terkuak untuk menghembuskan selaksa pujian dan syukur. Hari ini adalah hariku yang paling menggembirakan karena demikian banyak nikmat dan karunia Allah yang aku rasakan. Kamu masih ingat foto gadisku yang aku kirim beberapa waktu lalu kan? Ya betul, dia Fakhiraku! Alhamdulillah dia telah dimudahkan oleh Allah dalam menyelesaikan hafalan Al Qur’annya dalam sebuah daurah atau karantina selama 40 hari. Apa yang selalu aku pinta padamu tak pernah berlebih, kecuali serupa doa-doa tulus pada Allah, agar anak-anakku bisa menjadi hafidz dan hafidzah akhirnya terkabul kini. He…he tapi Ibrahimku masih terus berjuang di kampusnya untuk bisa menjadi seorang hafidz. Doa-doa tulusmu ya!
Berkisah tentang engkau sahabatku, maka sungguh separuh kenangan masa SMA kita seolah menjadi layar lebar mengabadikan sebuah persaudaraan yang mengharukan. Walau kita berbeda sekolah namun seolah ada kekuatan rasa untuk saling memberi perhatian.
____________________________________________________

Tim Penulis :

Eka Novirna, Agung Maemunah, Erni Sariningsih, Mukhlis Amin, Wulan Arya, Ulva Yuni, Imroatul Khasanah, Ahlal Kamal, Ela Maryam Saraswati, Ummu Maila, Dewi Nur Halimah, Zahraton Nawra, Halmawati Halim, Eka, Melani Ika Savitri, Lyliy, Riska Nurdiana, Yunita Nurisfa Mayasari, Yulisa Maharani, Nur Anshari, Dini Anggre Widiyani, Citra N, Ade Nurhidayah, Ana Retno Mutia, Rima Musfithah, Umul Mu'minin, Happy Hawra, dan Ruspeni Daesusi.