Saturday, 12 July 2014

[FF] Di Bawah Payung Kuning



Hujan masih di sini. Masih menemaniku menyaksikan dari jauh sosoknya yang teduh di balik payung kuning itu. Jilbab ungu yang menjuntai menutupi bagian tubuhnya semakin menyiratkan kecantikan di wajahnya. Aku terpana. Aku jatuh cinta padanya untuk kesekian kali.

Selalu begitu. Setiap kali hujan turun aku menikmati rutinitas yang menurutku menyenangkan. Menatapnya diam-diam adalah ketenangan. Ia masih setia dengan payung kuningnya. Pandangannya menatap nanar ke depan. Entahlah, mungkin ia memang benar-benar menunggu bus untuk pulang. Pernah ia melirikku sekilas lalu ia menunduk dan melanjutkan langkahnya lagi dengan ringan. Meski sebentar, lirikan dari bola mata bening itu membawa efek yang luar biasa untukku. Membuat detak jantungku menjadi tak teratur.

Aku masih menantinya dari sini, tempat di mana aku bisa memandangnya dengan jelas. Tapi, sosok yang kunanti hadirnya belum juga terlihat. Apa mungkin ia tak lewat jalan ini kali ini? Atau karena ia tahu, aku selalu memandanginya? Mungkinkah ia takut padaku? Kubuang saja perasaan-perasaan tak berguna itu. Aku masih ingin menunggunya.

Aku melirik jam di tanganku. Rupanya aku sudah duduk di sini selama satu jam. Namun orang yang kutunggu belum juga muncul. Aku kecewa kali ini. Aku berdiri dengan lemas, lalu melangkah untuk pergi dari tempat ini.

Ah, gadis di bawah payung kuning itu. Tak sadarkah ia, sosok pria yang mengintipnya diam-diam, mencandu wajahnya dan selalu jatuh cinta kerap melihatnya? Aku mengeluh dalam diam dan membayangkan andai saja ada keberanian yang menguatkanku, lantas akan kusapa ia dengan lembut. Lalu kita bisa duduk berdua.

Lamunanku buyar saat aku melihat betapa banyaknya orang yang berkumpul di pinggir jalan. Mungkinkah ada sesuatu di balik kerumunan tersebut? Aku ragu. Tadinya aku berniat untuk tidak melihat apa yang sedang terjadi di sana. Namun, ada satu yang membuat langkahku untuk berhenti, di sini, di dekat payung yang biasa ia bawa.

Aku tertegun. Mengapa ia meninggalkan payung kesayangannya ini? Kemana ia pergi? Aku mengambil payung kuning tersebut dan berjalan sedikit ke arah kerumunan.

Dan aku tersentak kaget. Gadis yang kutunggu sedari tadi kini telah berada di hadapanku, berada tepat di bawahku. Terkulai diam tak bergerak dengan tubuh bersimbah darah.

Tanpa wajah teduh yang selalu kutahu. Tanpa payung kuningnya itu.

“Aku mencintaimu. Tapi ternyata Tuhan lebih cinta lagi…” lirihku. Lalu dunia ini lebih gelap dari yang aku kira.
~~

Telah dibukukan dalam antologi "Ketika Cinta Memanggil"

Wednesday, 2 July 2014

Yang Terlupakan dari Ramadhan


Saya tidaklah semuslimah yang orang-orang bayangkan. Saya pun tidak sebaik yang orang-orang pikirkan. Saya hanya seseorang yang sedang menjalani proses belajar menjadi keduanya.

*
Ada satu hal yang baru saya sadari saat ini. Satu momen di bulan ramadhan yang hampir 'terlupakan'. Satu momen — yang kalau dingat-ingat kembali — ternyata memiliki efek yang luar biasa terhadap hidup saya hingga kini. Satu momen itu adalah saat pertama kali saya membuat sebuah keputusan untuk berjilbab (dengan konsisten).

Waktu itu, tepat pada 1 Ramadhan, di tahun 2009 (kalau saya tidak salah ingat tahunnya), saya membuat keputusan — yang menurut saya — adalah sebuah keputusan yang sangat besar bagi diri saya sendiri. Bahwa saya memutuskan untuk berjilbab (dengan konsisten). Mengapa ini adalah keputusan besar bagi saya? Sebab saya harus mengingat bahwa ada keharusan akan konsekuensi dan konsistensi yang harus saya hadapi di dalamnya.

Keputusan untuk berjilbab juga menjadi keputusan yang berat. Saya rasa, perempuan lain pun mungkin pernah merasakan hal yang sama seperti saya. Karena, seperti yang sudah saya katakan di atas, di dalam keputusan tersebut ada konsekuensi-konsekuensi yang harus saya terima dan ada pula konsistensi yang harus dijalankan setelahnya. Maka dari itu, bisa dibilang, keputusan ini tidaklah mudah. Saya harus mengumpulkan kekuatan agar hati saya tidak berubah sewaktu-waktu, tidak tergiur oleh pergaulan yang bisa jadi dapat mempengaruhi keputusan saya tersebut. Tetapi alhamdulillah, ternyata saya mampu menghadapi itu semua hingga sekarang.

Saya mungkin tergolong anak yang paling lama 'memiliki keyakinan' untuk benar-benar berjilbab di dalam keluarga. Rasanya memang sulit, mungkin karena saya tidak pernah membiasakannya. Terlebih lagi di kalangan teman-teman saya, mungkin saya menjadi salah satu perempuan yang 'telat berjilbab'. Sewaktu SMA, saya pernah berdiskusi bersama beberapa teman-teman perempuan saya mengenai "kapan pertama kali berjilbab di sekolah?". Ternyata banyak dari mereka yang menjawab bahwa sejak SD sudah sekolah menggunakan jilbab, bahkan ada yang sejak TK sudah dibiasakan sekolah menggunakan jilbab. Sedang saya sendiri menjawab dengan malu-malu, "bahkan ospek SMP pun saya ga berjilbab". Yang ada, saya mendapat jawaban wajah-wajah yang tidak percaya (sejujurnya teman-teman dekat saya memang tidak pernah percaya semua yang saya katakan. Karena katanya saya memiliki muka yang kriminal #padahalsayaimutimutloh :p. Terlebih lagi, karena saya juga sering mengerjai dan menipu mereka. Katanya juga, mereka tidak bisa membedakan apakah saya sedang jujur atau bohong, muka saya terlalu meyakinkan buat mereka, hahaha).

Tapi waktu itu apa yang saya katakan memang benar. Waktu Ospek SMP, di kelas saya hanya ada dua perempuan yang berjilbab. Sesekali saya memperhatikan mereka, sebenarnya saya juga ingin seperti itu, tapi apa daya ada keraguan yang saya rasakan. Untungnya, di tahun saya masuk adalah tahun pertama dimana sekolah tersebut mewajibkan murid perempuan untuk berjilbab. Karena di tahun-tahun sebelumnya, SMP tersebut tidak mewajibkan murid perempuan berjilbab. Seragam kebangsaannya pun pendek, baik laki-laki maupun perempuannya, ya seperti waktu SD saja. Maka dari itu saya bersyukur sekali sekolah tersebut akhirnya mewajibkan siswi memakai jilbab.

Sampai saat ini, saya tidak pernah menyesal terhadap keputusan untuk berjilbab yang pernah saya buat, saya sangat senang meskipun awalnya saya takut kalau-kalau saya akan berubah pikiran, entah besok, lusa, atau beberapa tahun kemudian. Tapi ternyata saya sanggup mengatasi ketakutan saya tersebut. Semuanya adalah proses belajar buat saya. Mungkin, jika waktu itu saya tidak membuat keputusan besar tersebut, bisa saja saya tidak seperti saya yang sekarang.(bukan Tegar penyanyi cilik ya). Sebenarnya berjilbab itu tidak sulit, yang sulit adalah memantapkan hati untuk menyegerakannya.
Terimakasih untuk hidayah ramadhan yang diberikan.

Selamat Ramadhan! Semoga tidak ada kepura-puraan dalam menjalaninya... :)
~