Tuesday, 2 September 2014

September, Edelweiss, dan Kupu-kupu

Sumber gambar


Of all the things I still remember
Summer's never looked the same
The years go by and time just seems to fly
But the memories remain

In the middle of September we'd still play out in the rain
Nothing to lose but everything to gain
Reflecting now on how things could've been
It was worth it in the endChris Daughtry, September

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland foreverThe Sound of Music, Edelweiss

Kecil mungil bewarna
Warna-warni terangi alam
Sentuhan karya indah
Jika tergambar baik
Mata hati melihat kau sangat istimewa
Terbang melayang-layang menari hinggapi bunga-bungaMelly Goeslaw, Kupu-kupu
~

Tak ada yang istimewa dari bulan September. Ia hanya satu dari beberapa bulan setelahnya yang mungkin akan terasa sama, kosong. Tak ada yang namanya pertemuan. Yang ada hanya kenangan yang sama-sama kita nikmati di pelataran hati masing-masing. Hingga September selesai dengan sendirinya.

Sudah detik kesekian habis begitu saja untuk mengumpat rindu yang tak pernah bisa luruh karena jarak. September membuat puluhan waktu terasa lama, karena kita hanya duduk dan menunggu. Kita tak pernah mau berhenti menghitung waktu. Sebab hanya dengan itu kita—aku dan kamu— akan tersenyum, meski dada tetap merasa sesak sesekali. Mungkin ada banyak luka yang belum juga sembuh di sana. Tapi kita sepakat untuk merawatnya.

Di pertengahan September nanti, semoga saja hujan dapat turun. Meskipun hujan kali ini akan terasa lebih sepi. Setidaknya kita masih bisa coba untuk merasakan setiap rintiknya. Sama seperti aku dan kamu. Sepasang manusia yang merasa kesepian. Kita hanya tahu cerita-cerita tentang keindahan tanpa pernah merasakannya. Barangkali kita hanya dua manusia yang mengagumi edelweiss di tepi jurang. Melewati rintangan-rintangan yang berat untuk sampai ke puncak gunung, hanya untuk menikmati keindahan padang edelweiss, tanpa berani memetiknya. Sebab, katanya, memetik edelweiss di tepi jurang, selain taruhannya nyawa, hanya akan membuat kering dan menghilangkan satu dari sekian banyak nilai kesempurnaannya. Kita pun sama, hanya mampu diam dan menikmati rindu tanpa pernah bisa jujur. Karena kita sama-sama tahu, mungkin setelah itu akan ada jarak yang sulit untuk disulam kembali. Dan mungkin saja, kita mendadak lebih bisu dan sungkan dari biasanya. Ingin tersenyum tapi malu. Ingin menatap tapi takut tak mampu. Rumit. Seperti sepasang pecinta yang layak dikasihani.

Biarlah kita terus menjadi kepompong, sampai kita sama-sama berhasil untuk bermetamorfosis. Bukan hanya menjadi kupu-kupu, tetapi menjadi kupu-kupu yang sangat indah.
~~
This entry was posted in