Follow Me
Sumber gambar: google


Happy Hawra
SELAMAT ULANG TAHUN

Malam berkunang terang di atap rumahku.
Gemericik hujan jatuh memainkan denting suaranya.
Di hadapanku, sebuah layar kecil membuka sedikit pintu.

Gemetaran aku menghitung detik. Meracau, memilih
kalimat-kalimat basah yang hendak diturunkan. Seperti
hujan, kamu selalu diangankan. Lengang malam
semakin menyepikan.

Tidak seperti kemarin, sehimpun doa kerap dihantarkan.
Barangkali kamu sendiri tak pernah meminta
prosesi sakral ini. Tapi aku sudah berdebaran sejak tadi.

"Selamat ulang tahun," tulisku.
Meski akhirnya kalimat itu tak pernah sampai
kepadamu.

Februari 2015


**Puisi ini ditulis pada Februari 2015, kemudian dibukukan pada April 2015 dalam antologi puisi Taman Musim. 


Selamat ulang tahun untuk semua yang sedang berulang tahun. :))
Sumber gambar


Sebenarnya, berbicara tentang inspirasi itu luas sekali. Kita bisa mendapatkan inspirasi dari apapun dan siapapun, tanpa terkecuali. Bahkan dari hal-hal yang nggak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan kalau ditanya soal buku yang menginspirasi, maka akan ada banyak sekali judul-judul yang bisa saya tulis. Sebab saya belajar banyak dari sebuah buku. Banyak sekali. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang mencintai dan dicintai. Tentang memaafkan. Tentang berdamai. Tentang bertumbuh. Tentang segala pertentangan dan kebaikan. Saya yakin, bukan hanya saya yang pernah merasakannya.

Tapi, di sini saya ingin menuliskan 'Tentang' yang lain, yang belum saya sebutkan di atas. Yaitu menulis. Tentang menulis. Suatu hari, saya membaca sebuah buku berjudul "Filosofi Kopi", hasil pinjam dari seseorang. Kalian tahu kan, siapa penulisnya? Bahkan mungkin kalian sudah hafal siapa saja aktor yang memainkan filmnya. Buku tersebut diterbitkan pada Tahun 2006. Saya sendiri pertama kali membacanya saat SMA, entah sudah cetakan keberapa waktu itu.

Apa yang saya sukai dari buku itu? Isinya? Tentu saja. Tapi, apa yang menjadi berbeda? Apa yang lebih ajaib dari sebuah isi buku?

Sihirnya.

Saya mencermati prosa-prosa yang Dee tulis di buku itu. Sebelumnya, saya nggak tahu kalau ada jenis tulisan seperti itu. Saya kira, menulis itu selalu tentang 'menulis novel'. Karena jangankan membuat novel, menulis cerpen pun saya kesusahan. Yang biasa saya tulis sejak menyukai menulis adalah puisi. Saya menyukai puisi. Bahkan, sewaktu SMA, setiap kali ujian, dibandingkan mengerjakan soal, waktunya lebih banyak saya gunakan untuk menulis puisi atau tidur. Ya, saya menyukai puisi seperti saya menyukai tidur.

Di buku tersebut, berisi 18 tulisan satu dekadenya. Yang ia tulis dari tahun 1995-2005. Di dalamnya terdapat prosa-prosa lirik dan cerpen. Beberapa tulisan yang saya suka adalah 'Spasi', 'Surat Yang Tak Pernah Sampai', 'Diam', 'Salju Gurun', 'Cetak Biru', 'Kunci Hati' dan tentu saja 'Filosofi Kopi'. Buat saya, yang waktu itu kurang optimis dengan yang namanya menulis. Ketika membaca tulisan-tulisan Dee, saya merasa tulisannya begitu ajaib dan memikat. Sepertinya, Dee memang punya kemampuan menyihir. Ada semangat baru yang kemudian lahir di dalam diri saya. Mungkin orang lain tidak, tapi saya merasakannya. Sampai-sampai, saya ingin sekali bisa menulis seperti Dee. Maka, mencobalah saya... belajar sihir. Tapi karena nggak menemukan sekolah sihir, saya nggak jadi belajar sihir. Saya belajar menulis saja. Belajar nulis-nulis prosa seperti Dee di blog. Biasanya, yang saya tulis—selain puisi-- kebanyakan curhatan gaya abege yang sedang labil. Setelah mencoba sering-sering menulis prosa, saya akhirnya bisa (tetap) curhat, tapi dalam gaya yang berbeda. Lebih nggak blak-blakan dan terkesan ada fiksi yang hidup di tulisan saya. Betapa susahnya kan sebelumnya menulis fiksi itu. Lewat "Filosofi Kopi", saya menikmati tulisan saya yang bertumbuh. Dan selanjutnya, dan selanjutnya

Selain “Filosofi Kopi”, nih. Saya juga jatuh cinta dan tersihir sama “Rectoverso”, “Perahu Kertas”, dan “Madre”. Kalau “Supernova”, baru satu buku yang dibaca.


Terimakasih Ibu Suri (:

November, 2015
Happy Hawra

Sumber gambar


Hai, semuanya. Ada giveaway lagi, loh. Kali ini Penerbit Haru akan memberikan 1 eksemplar novel "Operation: Break the Cassanova's Heart", novel Philippines-lit pertama mereka. Cara ikutan? Simak aturan ini dulu, lalu isi Rafflecopter di bawah.


Peserta berdomisili di wilayah Indonesia.
Buku hadiah akan dikirimkan oleh Penerbit Haru
Silakan mengisi kolom Rafflecopter di bawah ini.
Giveaway berlangsung dari 4 November 2015 - 11 November 2015
Keputusan pemenang tidak dapat diganggu gugat.
Bila dalam 48 jam tidak ada respon dari pemenang, maka akan dipilih seorang pemenang baru.
Harap sertakan akun twitter saat konfirmasi pemenang.

Info selanjutnya silahkan klik di sini ya.


"Postingan ini dibuat untuk memenuhi syarat mengikuti Giveaway: Break the Cassanova's Heart"
Sumber gambar


Mempercayai itu sulit. Sama sulitnya dengan dipercayai. Jika segalanya tak bisa kau percaya, maka segalanya akan hilang mengudara. Kau mau menganggapnya seperti itu?


Barangkali, mungkin saat ini kau tahu jawabannya. Mengapa hari ini, hujan yang turun terasa detiknya saja. Padahal kan sudah lama, manusia bicara kepada awan di atasnya. Kepada langit di tingginya.

"Akankah kau mau datang ke bumi? Tak perlu lama-lama. Pun tak perlu hebat-hebat. Biar kita bisa menikmati saja sejuknya, sepinya, juga redanya."

Dan ia pun turun. Membuat manusia sementara tersenyum. Kemudian kecewa, karena hanya lewat saja. Namun, kau pun berpikir kan kalau sebenarnya hujan peduli? Maka hujan mengisyaratkan rinainya, agar manusia tau kalau sebenarnya ia tak pergi kemana-mana. Tak benar-benar hilang.


Barangkali hujan belum bisa percaya. Kepada manusia dan hati-hatinya. Apa manusia akan mensyukurinya? Apa manusia bahkan membencinya? Tanyanya, kepada dirinya sendiri. Kau pun berpikir kan, kalau sebenarnya hujan juga takut? Takut akan penolakan. Takut akan kehilangan. Padahal ia seharusnya takut, karena saat ini, ia telah kehilangan dirinya sendiri.

Semoga hujan bisa mempercayai siapa-siapa. Agar tak kehilangan siapa-siapa. Dan sebaliknya, dan sebaliknya.

Semoga hujan lekas turun. Dan kau lekas pulang.


1 November 2015.
Happy Hawra


**
Selamat kembali. Sebab rasanya terlalu lama pergi.
Sumber gambar


Dua orang perempuan cantik sedang duduk-duduk di taman kecil sekolah. Perempuan pertama bernama Rinai. Setiap orang yang mengetahui namanya, pasti punya ekspektasi yang tinggi terhadap perempuan satu ini. Dibacanya sebuah buku berjudul Perahu Kertas.

Sore yang mendung. Ada yang baru diketahui Rinai: Sahabatnya sedang jatuh cinta. Dia Gelora, perempuan kedua. Sama cantiknya. Orangnya heboh sekali. Terlihat ceria dalam segala suasana. Semangatnya bergelora kemana-mana. Tapi hari ini ada yang terasa berbeda dari Gelora.

Di sebelahnya, Gelora bertanya pada Rinai.

“Ri, kamu percaya nggak sih sama cinta pada pandangan pertama?”

“Ih, kok drama?”

Gelora melotot. “Serius, Rinai.”

Rinai diam. Tapi kemudian menggeleng. Ia teringat sesuatu.

“Kamu inget nggak yang dibilang Kak Dinda kemarin? Pesan Rasulullah ke sahabatnya Ali yang tentang menundukkan pandangan itu, tuh.”

Wahai Ali, Jangan melihat lagi setelah pandangan pertama, karena pandangan pertama adalah rezeki bagimu. Sebab itu terjadi secara tidak sengaja. Sedangkan pandangan kedua adalah keburukan bagimu. Yang itu, Ri?”

“Nah, iya itu. Mungkin aja ya pandangan pertama kita untuk seseorang itu bukan cinta. Hanya rezeki. Rezeki yang wujudnya asumsi. Perasaan bahwa kita jatuh cinta.”

Gelora mencermati kata-kata sahabatnya itu.

“Eh, emangnya... jatuh cinta itu rezeki ya?”

“Bisa jadi, kan? Sama kayak kesehatan, umur, harta. Jatuh cinta juga ada kadarnya. Ada batasnya. Bisa diusahakan. Bisa datang tanpa dikejar. Yang pasti sama-sama nikmat yang dikasih Allah buat manusia.”

“Terus, gimana sama pandangan kedua yang artinya keburukan?”

“Mungkin aja asumsi itu jadinya berkembang lebih. Bukan perasaan-perasaan bahwa kita jatuh cinta lagi. Tapi lebih kepada tentang seseorang mengagumi fisik seseorang lain. Bisa aja, kan? Eh, Ra omongan aku nyambung nggak sih?”

Rinai bingung sendiri. Sementara Gelora sendiri seperti tidak mendengarkan pertanyaan Rinai. Ia hanya memainkan pulpennya.

“Tapi jatuh cinta bisa berawal dari mata kan? Kita lihat dia, terus kita jatuh cinta deh.”

Gelora memilih bertanya lagi. Mungkin ingin meyakinkan dirinya sepenuh hati.

“Hmm... Kalau kamu bilang cinta itu berawal dari mata. Aku mungkin setuju. Soalnya, itu kan lagunya Kahitna. Berawal dari mata indanya senyuman...

Rinai malah nyanyi. Alhasil, dilemparlah ia pakai pulpen. Kahitna-able Rinai kambuh.

“Ah, males. Ujung-ujungnya nggak serius, kan.”

“Hahaha, itu juga serius kali, Ra. Gini ya, cinta itu bisa aja berawal dari mata. Tapi nggak berarti cinta itu ada saat pandangan pertama, kan?”

Gelora mengangguk. Separuh hatinya mengiyakan perkataan sahabatnya. Tapi separuhnya lagi mungkin tidak. Gelora masih setengah merasa kalau ia jatuh cinta dengan lelaki itu saat pertama kali melihatnya.

“Jadi, siapa cowok yang lagi kamu suka?”

Mata Riang menyelidik. Gelora kabur.

Langit masih saja mendung.

---

21 Juli 2015 || Happy Hawra

Sumber gambar


Hai, apa kabar?

Juli hujan belum kelihatan. Sama seperti kamu tidak kelihatan. Tapi masih sama-sama ada. Tapi hujan itu dekat. Tidak jauh seperti kamu. Kamu lebih tidak kelihatan.
Terkadang aku menunggu hujan, terkadang juga tidak. Tapi aku selalu menunggu kamu. Sebab kamu lebih sering menghilang dibanding hujan.
Hujan itu dingin. Persis, seperti kamu. Hujan juga bisa hangat. Mungkin kamu juga bisa. Jangan ketus-ketus, nanti dimarahin hujan!

Hujan itu nyaman. Tapi tidak meneduhkan. Sebab orang-orang selalu pergi berteduh karena hujan. Tapi hujan itu baik, meskipun tidak meneduhkan. Karena hujan membuat orang mencari tempat untuk berteduh. Membuat orang menemukan tempat yang mampu meneduhkan. Bahkan membuat orang saling menemukan. Saling meneduhkan. Hebat kan hujan? Aku tahu kamu pun bisa meneduhkan. Karena setiap orang punya kemampuan untuk membuat orang lain singgah dan akhirnya nyaman. Yang aku tidak tahu, kamu itu meneduhkan buatku tidak? Yang aku tidak tahu, kamu ingin membuat teduh siapa? Yang aku tidak tahu.... Ah bukan tidak tahu. Hanya belum tahu. Nanti juga tahu. Tapi nanti kan lama ya? Nunggu kamu juga lama.

Hujan itu luar biasa. Selalu ada orang yang mengistimewakan hujan. Karena hujan luar biasa. Karena hujan istimewa. Karena hujan punya rumah sendiri untuk memaknai hidup juga kehidupan. Tapi hujan bukan kamu. Kamu biasa. Kamu sederhana tapi rumit. Dan aku tidak ingin kok kamu seperti hujan. Kalau kamu luar biasa, apa jadinya aku yang biasa saja ini? Kalau kamu luar biasa, kesempatan aku mencari kamu akan sangat kecil. Begitupun sangat kecilnya kamu mau menemukan aku. Bahkan mungkin aku tidak lagi punya kesempatan. Jangan. Nanti aku jadi sebal. Jadi biasa saja. Jangan hebat-hebat. Jangan tinggi-tinggi. Kamu hanya perlu sederhana tapi istimewa.

Aku tidak apa-apa kalau bulan ini hujan tidak datang. Tapi aku bakal kenapa-kenapa kalau kamu yang tidak datang-datang. Bercanda! Dah!


Dalam Juli, 2015
Happy Hawra

Sumber gambar

“Gi, lihat deh. Dalam sebulan ini, aku selalu dapet SMS dari seseorang yang nggak aku kenal. Setiap hari dia ngirimin ramalan tentang kejadian yang bakal aku alami.”

“Terus kamu percaya?”

Reno tertawa. Sementara tangannya mengambil minuman yang sudah dingin sejak tadi, lantas meneguknya perlahan.

“Kamu tahu sendiri, aku kan nggak pernah percaya sama begituan. Lagian satupun nggak ada yang bener-bener kejadian. Apalagi hari ini, dia bilang aku bakal mati. Ngaco banget kan?”

Gio menunduk. Tak lama, terdengar bunyi pecahan gelas di dekatnya. Gio menemukan Reno dengan busa di mulutnya.

“Kamu sudah sadar kan sekarang, Reno? Bahwa tidak selamanya ramalanku salah.”

(100 kata)

~

Mei 2015

©Happy Hawra

Sumber gambar


Sepanjang waktu kamu menanti hari. Pada tiap-tiap sepi yang sering kamu sebut rindu, tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, selain hanya bisa menyimpan banyak doa--tanpa luka. Tapi tunggu, menunggu kan sebuah luka. Kamu sudah sangat hafal bagaimana pedihnya. Tapi tetap saja, tidak ada yang mampu menghentikanmu dari itu. Bahkan dirimu sendiri. Sebab menanti adalah hal yang pasti buatmu. Meski kamu sendiri, sama sekali tidak mengetahui kepastian yang sesungguhnya seperti apa. Kan kamu cuma manusia, tidak akan tahu segalanya, katamu.

Kamu tidak membayangkan akan melihatnya hari itu. Orang yang sudah lama kamu nanti kehadirannya datang, tepat ketika kamu akan beranjak pergi. Untuk beberapa detik, matamu bertemu dengan matanya yang selalu meneduhkan. Tapi kamu hanya bisa menoleh sesaat. Buru-buru masuk ke dalam kendaraan. Padahal jantungmu semakin cepat berdegup. Kalau bisa, mungkin kamu akan memilih untuk kembali lagi ke tempat itu. Sayangnya tidak. Kamu masih mengintip di balik jendela keterpisahan--antara matamu dengan matanya yang kembali beradu untuk kedua kalinya--.
Lantas sesudah itu, kamu pergi dan menjauh.


Kenapa hanya waktu yang tak berpihak pada dua pasang mata yang diam-diam saling bicara?


Kamu kecewa pada waktu. Ingin meminta penjelasan padanya sangat dalam. Padahal kamu tahu, terkadang ada sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan oleh siapa-siapa. Bahkan waktu sendiri mungkin tidak tahu jawaban atas penjelasan yang kamu minta. Ia hanya terus berputar dan berjalan. Meskipun kamu memintanya berkali-kali. Tetap saja, kalau waktumu belum sampai, kamu tidak akan pernah sampai.
Mungkin, yang dinamakan 'waktu yang tepat' adalah kesempatan atas doa-doa yang sempat terlupakan. Yang bisa jadi, kamu mengira sudah diabaikan. Bukankah kamu seringkali merasakannya?


Kenapa hanya waktu yang tak berpihak pada dua pasang mata yang diam-diam saling bicara?


Mau apalagi, toh kamu tidak punya daya apa-apa.

Jadi bersabar  lagi saja.

~

Mei 2015,
©Happy Hawra

#Antologi15


Judul Buku: Taman Musim

Desain Cover: Abdul Salam HS

Editor: Baehaqi Muhammad

ISBN: 9786029117509

Penerbit: GONG Publishing, 2015

Cetakan Pertama, April 2015


Penulis:

Abdul Salam HS [] Aeni Asma [] Amir Afandi [] Anna Lestari [] Ardian Je [] Ashera Fernanda [] Baehaqi Muhammad [] Dini Azzahran [] DS [] Gege Giani [] Happy Hawra [] Hilman Sutedja [] Muhzen Den [] Poetry Ann [] Roni F Maulana [] Tinta Nisa

----

dari tempias hujan yang membungkus
kenangan masa silam, telah kutulis syair
paling purba pada alis matamu
yang menjulang menembus perasaanku
yang lelah dan padam

sisa hujan malam ini menjelma kolam mawar
yang menggenang di aorta nadiku

akan selalu kuingat potret bibir dan alismu
akan selalu kusebut namamu
dalam doa-doaku, karena kau kekasih
yang pernah mengutukku menjadi
cahaya yang disempurnakan
lafadz kesunyian

[SYAIR HUJAN, Roni F Maulana]

----

Minggu, 26 April 2015, Rumah Dunia membuat perayaan World Book Day dengan melaunching beberapa buku. Salah satunya adalah buku "Antologi Puisi; Taman Musim", di mana dua puisi saya tergabung di dalamnya. Dan buku ini, menjadi antologi ke-15 saya. :)





Happy World Book Day!


~

Happy Hawra

Serang, 27 April 2015
Sumber gambar


Nama. Kita tidak akan saling mengetahui nama masing-masing sebelum dihadapkan pada sebuah perkenalan. Kecuali, kalau kita memang diam-diam mencari tahu. Tanpa peerlu perkenalan, bisa saja kita tahu nama dari seseorang. Sebab kita memang sama-sama sudah tahu, itu saja. Toh, rasanya aku juga tidak pernah berkenalan langsung denganmu, kamu pun sama. Tapi kita sepakat saling mengenal. Mungkin lebih tepatnya, kita menganggap diri kita sudah saling mengenal.

Aku tidak pernah berpikir bahwa urusan nama bisa berbuntut panjang. Aku kira sebuah nama tidak akan begitu kejamnya menguras sebagian pikiran. Nyatanya sebaliknya. Kita memang benar-benar tidak pernah tahu apa-apa yang telah Tuhan rencanakan. Kita tidak benar-benar tahu seberapa besar dan panjang rencana itu berjalan dalam kehidupan kita. Sebagaimana kita tidak menyadari, bahwa sebuah perjumpaan--yang didasari dengan perkenalan-- adalah cara yang Tuhan pilih untuk kita bisa saling menemukan. Meski aku sendiri juga tidak tahu, apakah aku telah menemukan?

Urusan nama ternyata tidak sederhana. Kalaulah sederhana, mungkin aku tidak akan berpikiran untuk menuliskannya. Sebab sudah lama aku merasa bahwa sebuah nama menjadi urusan yang--lagi-lagi aku katakan-- ini panjang. Ya, aku ulangi lagi. Tidak sederhana dan panjang.

Barangkali dengan waktu yang terus berjalan juga dengan keterbatasan pertemuan. Adakalanya kita memilih berdiam diri. Berpikir pada sebuah nama... yang tidak bisa kita hindari, meski kita sangat ingin menghindarinya. Bisa jadi ini bukan persoalan perasaan. Hanya sebuah nama yang memang sulit sekali diabaikan. Kalau bisa memilih untuk lupa, tentu kita ingin bisa melakukannya. Tapi melupakan bukan berarti kita mau menghilangkannya dari ingatan. Tentu tidak. Hanya memilih untuk lupa. Begitu saja. Agar jadinya sederhana. Agar jadinya tidak panjang.

Kalau saja aku bisa. Aku tidak ingin terus-terusan diingatkan pada satu nama. Apalagi ketika sepi begitu ingin menyepikan. Kalau saja aku bisa.

Ada sebuah nama, yang kalau aku bisa bilang sulit dilepaskan. Tetapi... mungkin kata 'sulit dilepaskan' hanya sebagian alasanku saja. Karena sebenarnya aku memang belum ingin menemukan nama lain. Sampai aku benar-benar tahu, bahwa bukan aku yang kamu cari. Sampai aku tahu.... bukan aku yang kamu tunggu.


Serang, 16 Maret 2015 | Happy Hawra
Sumber gambar


Ia tercekat. Napasnya mulai menipis perlahan. Matanya setengah kabur.

Tidak terbayang lagi perjalanan indah menyusuri taman. Mungkin juga tidak akan ada lagi pelukan saat pulang.

“Tabahlah. Kamu akan kuat menahannya. Selama ini kamu tak pernah henti menguatkanku. Aku yang tidak pernah tersenyum pada orang lain selain kamu.” Seseorang menempel di balik pintu kaca ruang gawat darurat. Wajahnya terlihat iba. matanya begitu pedih. Sayang sekali, selama ini dirinya tak pernah berdoa. Ia tak tahu apa bisa mencobanya di saat seperti ini.

Hidup ini terlalu sepi... dan gelap.

“Alin, bangunlah. Anjingmu kini sudah tiada.”

Doanya tidak terkabul. Alin ingin bertemu malaikat. Lebih dulu.

Sumber gambar


Sore tadi, saya menonton film "Merry Riana" yang beberapa hari lalu baru saya download.
Film tersebut diperankan oleh Chelsea Islan (Punya adik namanya Happy Islan *dijitak*) dan Dion Wiyoko. Keduanya adalah aktris favorit saya. Di film ini, mereka main dengan keren, :))

Satu scene yang paling memukul.

Ceritanya Alva sama Merry ketemuan di cafe. Alva nyiapin cincin buat dikasih ke Merry. Saat ketemu, si Merry sibuk sama saham online yang Alva juga ikut andil menanam saham di perusahaan tersebut.

Teruus...

Merry: "Aku punya sesuatu buat kamu, Va."

Alva: "Apa?" Alva senyum.

Merry: Merry nyodorin uang 200 dolar. "Ini utang aku ke kamu, Va. Kamu inget kan?"

Alva: Mukanya berubah. Mungkin mikir 'kirain mau ngasih apa.'
"Oke, makasih." Kemudian Alva naro uang itu di meja

Merry: "Uangnya disimpen dulu, Va. Nanti dikira tip buat pelayan."

Alva: Manggil pelayan, terus ngasih uang itu buat tip si pelayan.

Merry: "Alva, itu bukan uang 2 dollar. Kenapa kamu kasih uang itu ke pelayan?"

Alva: "Aku mau nanya deh, yang di pikiran kamu cuma uang aja ya? Mer, aku nggak mau ngomongin uang lagi."

Merry: "Kamu yang mulai bilang sedikit-sedikit uang. Hidup di Singapura beda sama di Jakarta. Harus punya penghasilan, harus punya pekerjaan. Kamu bilang hidup itu berhitung."

Alva: "Berhitung, Mer. Bukan uang."

Merry: "Ya sama aja lah. Aku sekarang ngerti kenapa semua orang berambisi untuk kaya. Karena uang bisa membeli segalanya. Aku bosen bokek, Va. Aku bosen nggak punya uang. Mungkin kamu nggak pernah ngerasain bokek makanya kamu nggak mikirin uang. Kamu nggak tau, betapa susahnya nggak punya uang. Betapa susahnya cari uang."

Alva: Senyum. "I'm done with you." Alva pergi.

***

Saya sendiripun pernah berpikiran seperti itu. Saat kesulitan, yang terpikir memang betapa ingin memiliki uang. Memang ya, ketika uang sangat menjadi momok utama untuk bertahan hidup. Lalu kita hanya akan berpikir bagaimana cara mendapatkan uang. Agar kita bisa lebih dari sekedar bertahan. Mungkin karena itu, nggak sedikir orang yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan uang. Untuk hidup. Untuk bertahan. Tapi, sesulit apapun kita, berdoalah agar Tuhan menjaga kita dari hal-hal yang tidak dibenarkan.

Jadi sejatinya uang bukan yang utama kan? Ya. Sebab uang bukanlah segalanya. Tapi peran orang-orang di sekeliling kita menjadi sangat berarti. (alm) Olga Syahputra juga bilang: "Uang bisa dicari, tapi orang yang menyenangkan sulit ditemukan."


Kebahagiaan ada bukan saat kita punya banyak uang. Tapi kebahagiaan tercipta saat kita punya hubungan baik dengan Tuhan dan orang-orang yang menyayangi kita.

"Sekarang aku mengerti. Sukses itu bukan sekedar kita punya uang banyak. Tapi sukses itu, saat kita bisa membuat orang lain punya harapan. Dari sana, kebahagiaan bisa kita dapatkan."--Merry Riana

Sumber gambar


Sumber gambar


Selamat mencari-cari. Semoga cepat menemukan kebahagiaannya :))

Happy Hawra
April 2015
Sumber gambar


Namaku Embun. Aku ini lahir dari ketiadaan. Sejak kecil aku tak punya Ayah. Membayangkan rupanya seperti apa saja aku tidak bisa. Tapi, suatu hari Ibu memperlihatkan satu foto lamanya bersama dengan Ayah. Sejak saat itu, aku tahu yang namanya Ayah itu seperti apa. Aku sudah tidak pernah menerka-nerka lagi.

Aku punya Ibu yang sederhana. Hidupnya berjalan mengalir seperti air kali di dekat rumahku. Ibu tidak banyak bicara. Tidak pula pernah bermimpi yang macam-macam. Aku bisa hidup dengan sehat pun sepertinya Ibu sudah senang. Ibu tidak pernah menyuruhku menjadi orang hebat, sekalipun ia ingin. Ibu selalu menyuruhku menjadi diriku sendiri. Sederhana saja keinginannya. Sebab, katanya, menjadi diri sendiri adalah kepuasan paling sempurna di hidup kita. Barangkali, mungkin Ibu tidak ingin aku menyiksa diri untuk terkungkung pada hal yang memang 'bukan aku'. Ibu tidak pernah memaksa. Tapi bukan berarti Ibu tidak ingin aku jadi apa-apa. Kan setiap Ibu pasti menginginkan kesuksesan dari anaknya. Tidak ada toh, Ibu yang ingin anaknya jadi gembel dan melarat.

Sejak kecil aku dibiasakan untuk memilih. Misalnya, ketika aku ingin membeli barang. Ada lebih dari satu pilihan barang yang ingin kubeli. Tapi, Ibu hanya menyuruhku memilih salah satu. Bukan karena Ibu tak mampu membelikannya untukku. Ibuku punya alasan lain. Ia ingin agar aku belajar menentukan prioritas. Sebab, kata Ibu, tidak semua yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan. Pun tidak semua yang kita inginkan, bisa kita dapatkan. Katanya lagi, hidup itu adalah sekumpulan pilihan. Makanya aku disuruh memilih. Ibu membiasakan aku berpikir dewasa. Aku nurut saja, aku pusing tidak mengerti, meskipun setelah itu bibirku manyun. Sebal karena tidak dituruti. Namanya juga anak-anak, kepingin segalanya.

Aku juga punya dua kakak laki-laki. Tapi nanti saja kuceritakannya. Kali ini aku mau tidur cepat, takut ketahuan Ibu. Nanti aku dimarahi kalau ketahuan begadang. Heuheuheu.
Oh iya, aku ini perempuan ya. Jangan ada yang mengira aku laki-laki. Awas saja!


Dini hari, 12 Maret 2015.

Happy Hawra
Sumber gambar


Kamu tahu apa yang kurasakan pada dua puluh empat jam waktu itu? Cuma satu, ragu.
Aku ragu mengirim semua kalimat dalam pesan yang ingin kusampaikan padamu. Sebab aku terlalu malu menghadapi reaksimu setelah itu. Malu, mungkin karena kamu tak akan suka. Juga malu karena takut kamu tak akan membacanya, apalagi membalas. Itu kan yang paling malas kamu lakukan. Atau hanya kepadaku kamu seperti itu? Lagian, aku juga tidak pernah mengirim pesan khusus untukmu. Kan aku malu menghadapimu. Jadi setiap kali aku mendengar kamu bicara dalam percakapan antara teman-teman kita, aku hanya memperhatikannya. Aku takut kamu kabur jika aku muncul. Padahal, aku sendiri saja sebenarnya yang merasa seperti itu. Mungkin menurutmu, semuanya baik-baik saja. Aku saja yang memang berlebihan.

Kamu tahu apa yang kulakukan selama dua puluh empat jam waktu itu? Menunggu.
Menunggu aku berani mengirimkan pesan itu buatmu. Membolak-balik setiap profilmu yang bisa dilihat. Sementara kamu, sedang asyik membaca satu demi satu pesan singkat yang orang tulis untukmu. Kamu terlihat senang. Sedang aku diam saja selama itu. Pura-pura tidak tahu, padahal kan sebenarnya aku tidak lupa. Kamu terlalu disukai banyak orang. Bisa dilihat kan berapa banyak orang yang menuliskan doa mereka untuk kamu? Aku jadi semakin ragu. Jadi... biar saja kamu kudoakan diam-diam. Tuhan kan pasti mau menerima. Toh, kamu juga tidak akan menunggu doa dariku kan. Menyadarinya saja mungkin tidak.

Tidak apa-apa. Selamat ulang tahun.


Februari 2015,

Happy Hawra



Jadi ceritanya abis blogwalking ke blognya Kak Salman, terus nemuin postingan mengenai donate for comments ini. Sesuai artinya donate for comments adalah mendonasikan rupiah pada setiap komentar yang ada di blog kita, ditujukan untuk tahun 2015 ini. DFC sendiri digagas oleh Mbak Oky.
Dengan adanya DFC ini saya ingin coba ikut berdonasi lewat komentar, meskipun belum bisa berdonasi banyak. Hitung-hitung belajar berbagi ^^

Untuk yang mau ikutan DFC, ini ada rambu-rambu dari Mbak Oky yang bisa memudahkan kalian mengikutinya.


1. Target nominal bebas, silakan kamu tentukan sendiri seikhlasnya. Boleh Rp500, Rp1000, maupun Rp10.000 /per komentar. Saya menargetkan Rp200 untuk setiap komentar yang masuk di blog post tahun 2015 ini, termasuk reply dari saya pribadi. Saya baru bisa berdonasi sebesar itu. Maklum, masih mahasiswa yang belum punya uang tetap sendiri hehe.
2. Komentar yang dihitung hanya dari entri post tahun 2015, yaitu post tanggal 1 Januari 2015 s.d. 31 Desember 2015.
3. Seluruh komentar dalam entri post apapun selama tahun 2015 akan dihitung. Komentar SPAM tidak dihitung.
4. Buat Master Post, let everybody know your good intention. Lalu pasang banner Donate for Comments di sidebar blog kamu, link-kan ke Master Post kamu. Agar pengunjung blogmu aware dengan proyek ini
5. Buat Wrap Up post yang berisi laporan seberapa banyak jumlah komentar dan dana yang berhasil dihimpun. Lalu laporkan juga untuk apa dan kemana dana tersebut kalian sumbangkan
6. Collected Donation. Apabila teman-teman tertarik, mari bergabung dengan Mbak Oky dan bersama-sama menyumbangkan donasi untuk satu atau dua badan amal tertenu. Feel free to contact her.

I will donate Rp200 for every comment in my 2015 posts, Insya Allah... (:

Ayo kita sama-sama berdonasi!

Untuk memudahkan penghitungan, saya akan menulis rekap perbulannya di postingan ini. Biar nggak lupa juga punya target berdonasi hehe.

Januari: 127  200 =  25.400
Februari: 51 x 200 = 10.200
Maret: 226 x 200 = 45.200
April: 34 x 200 = 6.800
Mei: 36 x 200 = 7200
Juni: 15 x 200 = 3000
Juli: 12 x 200 = 2400
Agustus: 2 x 200 = 400
September: 3 x 200 = 600
Oktober: 1 x 200 = 200
November
Desember

Sumber gambar


Akan ada waktu saat kamu mengenal cinta.
Akan ada waktunya saat pertemuan mengenalkan kamu tentang cinta
Akan ada waktunya saat tatapan mata membuat kamu jatuh cinta
Akan ada waktunya saat kekesalan melahirkan perasaan yang disebut cinta. Padahal itu menyebalkan. Padahal kamu membencinya.

Akan ada waktu saat kamu bicara tentang cinta.
Akan ada waktu kamu menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta.
Tapi akan ada waktu pula kamu tidak menyadari bahwa sebenarnya kamu sedang jatuh cinta dengan orang itu.

Akan ada waktu kamu ingin mengungkapkan cinta.
Tapi akan ada waktu pula kamu memilih diam. Menyimpan cinta yang hanya kamu sendiri yang tahu.
Akan ada waktu kamu ingin orang yang kamu cintai diam-diam itu tahu bahwa kamu mencintainya.
Tapi akan ada waktu pula kamu berharap orang yang kamu cintai diam-diam tidak pernah tahu bahwa kamu jatuh cinta kepadanya. Kamu hanya takut sesuatu menjadi berbeda setelah itu
.
Akan ada waktunya kamu kamu mengagumi seseorang yang belum tentu kamu mencintainya
Akan ada waktunya kamu mencintai orang yang kamu kagumi sejak lama.
Akan ada waktu kamu ragu akan orang yang mungkin kamu cintai.
Akan ada waktu kamu sama sekali tidak tahu siapa orang yang kamu cinta.

Akan ada waktu kamu tidak percaya cinta.
Tapi akan ada waktu pula kamu terlalu menggilai cinta. Kamu bukan hanya buta terhadap cinta, tapi juga bisu dan tuli. Cinta mampu membuatmu seperti itu.
Akan ada waktu kamu merasa ganjil akan seseorang yang mulai kamu cintai.

Akan ada waktu kamu melupakan cinta.
Akan ada waktu kamu memilih melupakan orang yang kamu cintai. Melepaskan kenangan begitu saja. Sebab kamu yakin bahwa itu mungkin jalan terbaik untuk kamu dan orang itu.
Akan ada waktu kamu meninggalkan orang yang kamu cintai begitu saja tanpa alasan yang pasti.
Akan ada waktu kamu yang ditinggalkan begitu saja tanpa kamu tahu apa alasannya.
Akan ada waktu kamu memilih mengakhiri cinta yang kamu simpan untuk orang yang kamu cinta.
Akan ada waktunya pula kamu menyimpan cinta itu selamanya. Meski kamu sudah bertemu orang lain.

Akan ada waktunya kamu digulanakan oleh cinta.
Akan ada waktunya kamu mencari-cari cinta.
Akan ada waktunya kamu mencari orang yang kamu cintai.
Akan ada waktunya kamu mencari orang yang seharusnya kamu cari.
Tapi akan ada waktunya kamu mencari orang yang tidak seharusnya kamu cari.
Akan ada waktunya kamu mencari tahu seperti apa orang yang kamu cintai.
Akan ada waktunya kamu mencari orang yang selama ini kamu selidiki diam-diam.

Akan ada waktunya kamu menunggu cinta.
Akan ada waktunya kamu menunggu orang yang diam-diam kamu cintai, yang kamu pun tahu kalau diapun diam-diam mencintaimu.
Tapi akan ada waktu pula kamu menunggu orang yang diam-diam kamu cintai meski kamu tidak pernah tahu apa orang itupun juga mencintaimu.
Akan ada waktu kamu terus menunggu sampai kamu benar-benar tahu.
Tapi akan ada waktu pula kamu lelah menunggu dan memilih melepaskannya.
Akan ada waktu kamu tidak sanggup untuk melepaskannya.

Akan ada waktu kamu bertemu dengan cinta.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini diam-diam kamu cintai.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini kamu cari.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini kamu tunggu.
Tapi akan ada waktu pula kamu dipertemukan dengan orang yang sangat baru dalam hidupmu. Kamu tidak pernah mengenal orang itu sebelumnya.
Akan ada waktu kamu ternyata dipertemukan dengan orang yang selama ini ada di dekatmu tapi kamu tak pernah menyadarinya.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini menjadi musuh bebuyutanmu.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan sahabat sendiri.
Akan ada waktu kamu belum menemukan siapapun. Padahal kamu telah mencari dan menunggu.


Akan ada waktu.... saat kamu benar-benar bersamanya. Siapapun itu.


Tunggu saja,


Ini hanya masalah waktu.


13 Februari 2015,
Saat hujan rindu jatuh pada malam yang jauh dari sebutan  subuh.

Happy Hawra
Sumber gambar



Sudah seberapa sering kita menyalahkan orang lain dalam suatu kejadian?

Pernahkah kita berpikir, mungkin saja orang yang kita salahkan itu bukanlah seseorang yang bersalah. Atau kalaupun seseorang itu memang bersalah, pernahkah kita mencoba untuk bertanya? Barangkali mencerna kejadian yang ada pun sepertinya kita mampu. Sayangnya, waktu itu kita terlalu panik hingga menimbulkan kemarahan dan emosi, yang sepertinya hanya bisa dialihkan dengan menyalahkan orang yang patut bertanggung jawab atas kejadian itu. Tapi, itu kan menurut kita. Padahal bisa jadi, kita sendiri yang sebenarnya salah.

Tapi, apa pernah kita memikirkannya?


Seringkali, ego tak mau menarik diri dari kita. Kadangkala kita terlalu takluk pada apa yang bisa kita percaya. Padahal kita sendiri belum memastikan kebenarannya seperti apa. Kita terlalu terburu-buru untuk menghakimi seseorang. Padahal, terburu-buru itu datangnya dari syaitan. Di pikiran kita hanya satu, harus ada seseorang yang memangku tanggung jawab atas peristiwa itu.


Kenapa kita tidak coba mengintrospeksi diri kita sendiri? Tidak bisakah seperti itu? Jawabannya adalah kita belum bisa berpikir dengan baik pada situasi yang kurang baik. Instropeksi bukan berarti kita menghakimi diri sendiri.


Lalu, apakah kita harus menyalahkan diri sendiri?
Tidak juga. Tidak perlu seperti itu. Yang ada hanya frustasi nanti. Kita akan merasa terbebani, barangkali takut memikirkan anggapan orang-orang kepada kita. Sama seperti orang-orang yang kita salahkan. Sekali lagi, instropeksi bukan berarti kita menghakimi diri sendiri.


Pernah tidak kita tahu bagaimana perasaan orang yang kita salahkan?

Kita lebih sering tidak mau tahu. Sebab kita berpikir bahwa itu memang kesalahannya. Tapi, memangnya tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar menyalahkan orang lain? Tentu ada. Banyak. Hanya sekali lagi, kita tidak mau berpikir dan menjernihkan pikiran kita. Kita belum sepenuhnya dewasa. Bisa jadi kita sendiri pun tidak paham makna dari konsep kedewasaan itu sendiri.


Tidak cukupkah kita menatap wajah penyesalan seseorang itu? Lalu, apa kita harus membebaninya lagi dengan kesalahan yang kita tujukan untuknya? Padahal, tanpa kita menyalahkannya pun, seseorang yang melakukan kesalahan akan mengakui bahwa ia memang salah. Tapi, ia juga perlu waktu untuk menata hatinya itu. Ketika seseorang itu benar-benar merasa bersalah dan kita terus-terusan menyalahkannya. Apa hatinya tidak tambah hancur?
Satu lagi konsep yang sulit untuk kita pahami. Perasaan.


Jadi, kapan kita akan berhenti menyalahkan?


Malam hari, 4 Februari 2015,

Happy Hawra

Ada yang ingin kutanyakan pada daun gugur yang terbang.

Mengapa ia memilih jatuh? Mengapa tak diam saja di tempatnya, bukankah daun-daun lain sudah begitu baik menemaninya? Apa mungkin ia bosan menjuntai di atas pepohonan dan ingin sesekali menikmati angin membawanya bersama debu dan tanah? Tidak. Maksudku bukan sesekali, sebab itu tak akan mungkin. Daun yang telah gugur dan jatuh tidak akan pernah bisa ke tempatnya lagi. Tidak akan. Meski ia meminta kepada Tuhan untuk dikembalikan.

Lalu, apa tujuan Tuhan menggugurkannya? Mungkinkah karena waktu? Ah, lagi-lagi waktu. Ternyata ia begitu berisik, sampai-sampai daunpun ia maki untuk berhenti hidup. Menyebalkan. Seperti kamu yang masih diam.


Ada yang ingin kutanyakan pada laut luas yang diciptakan Tuhan.

Bagaimana cara agar hatiku bisa seluas laut itu? Selapang ia menciptakan keindahan pada mata manusia yang memandang. Ombak-ombak yang kagum kepadanya membuat ia seringkali ikut menemani. Menari hingga lelah dan tak tahu lagi harus melakukan apa.
Bagaimana caranya agar aku bisa seperti itu? Melapangkan hati tanpa harus berpikir lagi untuk memendam benci. Tanpa harus sedih melihat kebahagiaan yang diciptakan Tuhan untuk orang lain. Bukankah Tuhan juga pasti akan mengirimkan kebahagiaan untukku? Ya, aku tahu. Hanya saja aku sering berpura-pura tidak tahu.

Bagaimana aku bisa meluaskan hatiku? Menggenggam kekuatan di tiap-tiap kelemahan. Semisal aku yang suatu saat nanti harus merelakanmu pergi, jika ternyata tidak ada takdir di antara kita berdua. Jika ternyata kita dihadapkan pada pilihan lain selain diri kita. Kamu bukan yang terbaik untukku. Dan aku juga bukan yang terbaik untuk menemanimu.
Bagaimana cara aku bisa menata hatiku kembali, jika suatu saat itu benar-benar terjadi?

Bagaimana laut mengusir karam dari dirinya?


Ada lagi yang ingin kutanyakan. Tapi pertanyaan ini kutujukan khusus untukmu.

Menurutmu, rindu itu seperti apa? Seperti pelangi di antara hujan dan panas? Atau seperti rerumputan yang bergoyang lembut? Lalu, seperti apa diriku di dalam doamu? Pernahkah kamu  mendoakanku barang sekali?

Pernahkah dalam beberapa malam, kamu menghabiskan waktu sendirian. Menikmati angin yang menyelimutimu dengan kedinginan. Menghempas perasaanmu yang dalam. Adakah dalam malam-malam  itu, kamu memegang gitar lalu menyanyikan lagu yang ingin kamu persembahkan untukku? Dan kamu ingin  menyampaikannya pada langit. Sebab, kamu berpikir barangkali akupun tengah menatap bintang di langit itu.

Jadi, apakah kamu pernah merindukanku?


Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Tentang rindu.
Kerinduan melihat sikap yang memenjarakan diriku begitu lama. Merindukan menatap mata yang sanggup membuatku jatuh cinta, layaknya aku mengagumi puisi. Tentang semua rindu yang belum mampu kusampaikan.

Tentang menunggu.
Menunggu aku yang masih menunggumu. Menunggu kamu memberanikan diri untuk sekedar menyapa... sedikit saja. Setelah itu aku tak akan lagi khawatir menunggu orang yang sia-sia. Menunggulah untuk yang pasti datang, bukan yang pasti tidak datang.
Bukankah begitu?


Jadi kapan mau menyapaku?

^^

31 Januari 2015. Ditulis saat fajar pagi hendak pergi.


Setelah semua mimpi yang kutulis. Inilah mimpi dari semua mimpi.

Ya. Mengejar-ngejar mimpi.

Seperti yang dikatakan oleh Pak Dedi Padiku, bahwa mimpi itu harus diraih bukan dihadiahkan.

Semoga semangat saya bisa sebesar beliau dalam mengejar-ngejar mimpi.


Selamat mengejar-ngejar mimpi!

#1Day1Dream hari kedua puluh


Sumber gambar

Mimpi saya yang lainnya adalah.......



Memberi


Kado


Rahasia


Untuk


Orang


Yang


Juga


Rahasia



#1Day1Dream hari kesembilan belas


Sumber gambar

Kali ini, aku ingin menulis satu mimpi. Yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakukan. Barangkali setelah itu aku benar-benar bisa mengerti diri sendiri. Memahami satu persatu manusia yang tinggal di sampingku. Dan merasakan betapa dunia begitu ajaib.


Sebab itu aku ingin melepas. Melepaskan apa yang patut kulepas. Itu saja.

Lepaskanlah, maka semoga yang lebih baik akan datang.
Lepaskanlah, maka semoga suasana hati akan lebih ringan.
Lepaskanlah, maka semoga kita menyadari tidak ada sesuatu yang sesungguhnya kita miliki. — Tere Liye

#1Day1Dream hari ke-delapan belas


Sumber gambar

Keinginan kecil dan sederhana. Mengumpulkan setiap kenangan ke dalam sebuah album. Itu saja.
Sebab setiap perjalanan dan kerinduan selalu patut untuk dikenang.

#1Day1Dream hari ketujuhbelas


Sumber gambar

Pengen punya rak buku sendiri.

Dari sejak kecil saya sudah suka baca buku. Semua buku-buku yang kakak saya punya saya baca. Mau itu fiksi atau nonfiksi. Bahkan buku tentang filsafat pun saya baca. Padahal masih kecil dan nggak paham. Selain novel, saya juga suka dengan buku yang berbau psikologi. Mungkin itu salah satu mengapa saya ingin menjadi seorang psikolog. Dulu. Sekarang saya sudah berada di kenyataan yang berbeda, hehe.

Entahlah, sudah berapa banyak buku yang saya sudah baca sejak kecil. Sampai-sampai buku-buku yang ada di rumah punya ruangannya sendiri. Tapi, sejak dulu, buku-buku yang saya baca semuanya milik kakak saya. Ketika kakak ipar saya yang suka baca juga, setiap kali punya buku baru, saya pasti pinjam untuk baca. Saya nggak pernah beli buku. Barangkali, punya buku pun karena dikasih. Begitulah untungnya punya kakak-kakak yang suka baca. Sama seperti suka drama korea. Sepertinya, sekeluarga punya selera yang sama.

Tapi, setelah saya besar, saya mulai nabung untuk beli buku sendiri. Biasanya di buku-buku yang saya baca terdapat nama kakak saya sebagai pemiliknya. Kali ini, buku yang saya baca pemiliknya adalah diri saya sendiri. Dan rasanya lebih menyenangkan saja.

Maka dari itu, dengan semakin bertambahnya buku yang saya punya, saya berkeinginan punya rak buku. Rak buku yang ada di rumah sudah terlalu penuh. Jadi, selama ini saya menyimpan buku-buku yang saya punya di dalam lemari plastik yang memang sengaja saya kosongkan untuk menampung buku-buku tersebut. Kadang, saya suka berkhayal punya rak buku yang besar dan buku-buku yang banyak. Ah!

Semoga terwujud.

#1Day1Dream hari keenambelas
Sumber gambar

Penulis kelahiran Jakarta tersebut adalah anak sulung dari empat saudaranya. Beliau sudah mulai menulis sejak kelas 3 SD yang pada saat itu berhasil membuat komik untuk diri sendiri. Baru kelas 3 SD aja Ibu Ifa ini sudah hebat ya.

Saya suka banget cara menulis beliau. Gaul tapi tetep kharismatik. Semua tulisan beliau bisa bikin saya ketawa, terus nangis, terus ketawa lagi. Kalau lagi bagian kocak, kocak banget. Kalau lagi bagian mengharukan, bikin sesak nafas. Iya, soalnya selain air mata yang berjatuhan, dada juga rasanya sakit karena tulisannya menusuk hati. Beneran, saya nggak bohong. Kalau nggak percaya, baca buku-buku beliau. Dijamin bikin nagih.

Buku-buku beliau yang sudah saya baca:

Strawberry Shortcake, Facebook On Love, Facebook On Love 2, Friendloveship, Love-Affair-& The Reunion. Nggak tahu sih apalagi. Soalnya beliau juga suka nulis antologi bareng penulis-penulis terkenal lainnya, kayak Tasaro GK (yang kemarin saya tulis) dan lain-lain. Saya juga pernah baca beberapa tulisan dalam antologi bersamanya, cuma lupa apa aja.

Saya kalau punya uang banyak, kepingin beli semua buku beliau. Semua buku beliau yang saya baca itu hasil minjem dan nemu ebooknya :D

Kata-kata beliau yang bisa dijadikan inspirasi dan motivasi:

Bagi saya, setiap hari harus terisi dengan banyak hal positif. Rugi banget rasanya kalau hanya diisi dengan nonton infotainment atau sinetron.
Ya, beginilah saya yang masih terus belajar dan nggak tahu kapan selesainya. Rasanya makin lama ilmu yang saya miliki ini masih jauh dari apa yang seharusnya dimiliki seorang muslimah.
Jalan masih panjang. Cita-cita duniawi saya hanya ingin dikenang anak dan suami saya sebagai ibu dan istri yang membanggakan. Hehehe…

Oh iya, beliau juga yang bikin saya tahu tentang alter ego. Soalnya beliau punya alter ego. Terus bikin saya mikir, jangan-jangan saya juga punya alter ego -.-
Yang mau tahu tentang apa itu alter ego bisa cari di google, banyak yang bisa kalian temukan di sana.

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang Ibu Ifa Avianty, bisa ke sini 

Semoga bermanfaat.

#1Day1Dream hari keempat belas
Sumber gambar
Tasaro GK.

Nama Tasaro adalah akronim dari nama lengkap beliau, yaitu Taufik Saptoto Rohadi. Sedangkan GK, diambil dari tempat kelahirannya yaitu Gunung Kidul.

Pertama kali mengenal nama beliau ketika saya membaca buku Niburu dan Kesatria Atlantis, di mana buku tersebut merupakan buku aksi fantasi atlantis pertama di Indonesia. Recommended banget buat dibaca. Nggak bakal nyesel deh. Seru, keren, menegangkan, membuat penasaran. Saingannya Harry Potter nih. Daebak!

Sumber gambar

Bagiku tidak ada kata menyerah. Bahkan hingga seluruh kata telah diangkat dari bumi.



Buku kedua yang saya baca adalah Galaksi Kinanthi. Buku yan menurut saya sangat haru dan romantis. Tentang perjalanan hidup seorang Kinanthi dan kisah cintanya dengan teman kecilnya Ajuj. Buku ini juga recommended buat dibaca.


Sumber gambar

Bagiku, Galaksi Cinta tidak akan pernah tiada. Ketika malam tak terlalu purnama, lalu kau saksikan bintang-bintang membentuk rasi menurut kehendak-Nya, cari aku di Galaksi Cinta. Aku tetap akan ada disana. 
Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani.
Dalam kehidupan nyata, kebersatuan cinta tidak selalu berarti dua keinginan saling memiliki bertemu pada satu titik. Bahkan, terkadang dua orang yang saling mengasihi sepenuh hati, saling menjaga dalam keterpisahan. Ketidakbersamaan.
Tersenyumlah... Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu.

Dan yang ini buku ketiga beliau yang saya baca.

Sumber gambar

Buku tersebut bercerita tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW dan seorang laki-laki Persia yang bernama Kashva. Saya suka buku ini, karena meskipun menceritakan tentang sejarah Islam tetapi disuguhkan dalam bentuk novel, sehingga tidak membosankan. Bahkan membaca buku ini membuat saya bisa lebih mengingat sosok-sosok sahabat nabi dan kisah mereka ketimbang ketika saya membaca buku pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam -_-
Buku ini juga recommended ^^

...mencintai itu, kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai, memakinya, merasa tak sanggu lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkannya.

Sebenarnya ada dua buku beliau lain yang saya sudah dan belum selesai saya baca. Yang satu adalah Rindu Purnama, ditulis duet dengan Ahmad Fuadi. Dan yang satunya, Kau Gila Maka Kucinta, tetapi belum selesai saya baca.


Dan masih banyak lagi buku beliau yang sudah diterbitkan. Lagi-lagi saya ingin 'berkode', belikan buku beliau yang belum saya punya ya, hahaha :D (ini bukan kode tapi minta)


Selain karena tulisan yang keren dan lagi-lagi romantis, alasan saya menyukai beliau adalah karena beliau itu... ganteng :D

Sumber gambar

Sumber gambar

Sumber gambar

Sumber gambar


Ah! Semoga suatu saat bisa bertemu.
(:

#1Day1Dream hariketigabelas
Sumber gambar

Pertama mengenal mbak Dee adalah seorang penulis ketika saya SMA. Sebelumnya, mbak Dee atau Dewi Lestari yang saya kenal adalah seorang penyanyi sekaligus istri dari Marcell Siahaan, seorang penyanyi juga. Saya mengetahui bahwa ternyata beliau adalah seorang penulis juga lewat buku pertamanya yang cukup populer mendobrak dunia sastra di Indonesia, yaitu Supernova: Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, yang pada tahu 2014 kemarin filmnya mulai muncul di bioskop-bioskop tanah air.

Menurut saya, buku yang bergenre scince fiction tersebut termasuk buku yang keren, meskipun di beberapa partnya banyak yang susah saya pahami karena terlalu ilmiah untuk dicerna oleh otak saya yang masih anak SMA polos dulu, hehe. Tapi saya suka, meskipun ilmiah tapi tetap romantis.

Berlanjut pada buku kedua beliau yang saya baca, yaitu "Perahu Kertas."
Keinginan membaca buku tersebut ketika saya melihat sebuah iklan film yang akan tayang di bioskop, ya Perahu Kertas itu. Melihat Official Traillernya di youtobe saja membuat saya tertarik ingin menonton. Setelah saya cari tahu ternyata film tersebut diadaptasi dari novel karya mbak Dee beberapa tahun silam. Mulailah saya cari-cari tahu tentang buku tersebut. Dan yang bikin bahagia, saya menemukan ebooknya di internet. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya eksekusi buku tersebut.

Kalian tahu apa yang saya rasakan setelah membaca buku tersebut?

Gila!

Mbak Dee gila!

Bikin saya jadi gila!

Kalian tahu, saya nggak peduli meski mata saya perih, punggung saya lelah, kepala saya pusing, hingga perut saya mual-mual karena terlalu lama duduk di depan layar netbook untuk baca Perahu Kertas. Saya nggak peduli semua itu karena saya nggak bisa berhenti membacanya :(
Saya begitu mencintai tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Kugy, Keenan, dan Remi.
'Radar Neptunus', 'Agen Neptunus', dan isi cerita yang nggak pernah saya lupa. Membaca berkali-kalipun nggak membuat saya jadi bosan.

Dari novel Perahu Kertas tersebut saya benar-benar menemukan kecintaan terhadap karya-karya beliau. Sebab saya begitu menyukai bagaimana beliau menuturkan kalimat demi kalimat, menyampaikannya dengan bahasa yang begitu menjiwai. Mbak Dee adalah seorang penulis yang nyentrik tetapi memiliki romantisme yang tinggi.

Menyusul Filosofi Kopi, Rectoverso, dan Madre yang kemudian saya baca.
Dari ketiga buku tersebut saya belajar bahwa sebuah karya tidak harus terkungkung oleh bentuk. Dulu, saya kira sebuah karya yang paling ternilai adalah novel. Ternyata tidak. Menurut beliau, idelah yang menentukan bentuk. Ada ide yang cukup diungkapkan lewat puisi, tapi ada juga ide yang perlu ruang lebih lebar seperti novel. Dan ketiga buku omnibook tersebut tak kalah romantis dan keren dengan novel-novel yang beliau buat. Bikin saya tambah jatuh cinta dengan karya-karyanya.

Rectoverso dan Madre sudah dibuat adaptasi filmnya, tapi Madre saya belum tonton. Susah mencari di youtobe atau di web lainnya. Kalau ada yang tahu link downloadnya, beritahu saya, ya. :D
Untuk Filosofi Kopi, April 2014 ini akan tayang di bioskop indonesia.

"Rectoverso adalah sebuah impian yang panjang, karena sketsanya dari tahun 2006. Ini awalnya datang dari lirik lagu, cerpen dan bertahun-tahun kemudian ada tawaran dari Marcella untuk memfilmkan. Jadi ini dari ruang dengar dan visual bisa terwujud. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Ini pengalaman yang multidimensi bagi aku. Semoga dapat menikmati karya besar ini." YangMuda.COM, Jakarta.


Yang terakhir...

Meskipun belum pernah bertemu, Mbak Dee selalu menjadi guru saya dalam belajar menulis. Semoga suatu saat saya bisa belajar langsung dengan beliau. Aamiin :)

Buku beliau yang sudah saya baca:

Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Sumber gambar
Sumber gambar

Perahu Kertas

Sumber gambar

Sumber gambar



Filosofi Kopi

Sumber gambar

Sumber gambar

Rectoverso

Sumber gambar

Sumber gambar

Madre

Sumber gambar

Sumber gambar
Sisanya, keempat buku Supernova lain belum baca. Petir, Akar, Partikel, dan Gelombang.

Monggo, yang mau kasih saya buku-buku tersebut ^_^


Selamat membaca,
Semoga bermanfaat.
Maaf kalau saya berlebihan ^^

Terimakasih,

#1Day1Dream hari kesebelas


Sumber gambar

Ide menulis mimpi ini terbesit dari grup chat di line beberapa hari yang lalu. Beratus-ratus chat yang inti dari kesemuanya itu adalah kerinduan untuk bertemu. Reuni kelas memang menjadi ritual kami setiap liburan semester datang. Meskipun setiap hal yang diagendakan tidak semuanya berjalan mulus sesuai keinginan. Ada saja yang menjadi kendala di setiap acara tersebut.

Kesibukan kuliah membuat kita terkadang merasa jenuh. Apalagi untuk orang-orang yang merantau. Rindu keluarga dan segala yang ada di kotanya. Dan bertemu teman lama adalah 'momen sakral' tersendiri yang ketika sudah bertemu, rasanya tidak akan sama ketika sedang berhadapan dengan teman-teman baru. Sehari terasa seperti setengah jam. Waktu tak pernah cukup mengungkap romantisme rindu yang ada. Ia terus berjalan tanpa mau tahu betapa kita, 'para perindu' ingin menikmatinya lebih lama.


Dari semua reuni kelas sewaktu SMA yang pernah terselenggara, tidak pernah benar-benar semua 'makhluk' ada. Maksudnya, belum pernah sekalipun personil kelas semuanya ada, Selalu saja ada kendala di dalamnya. Dari bentrok dengan jadwal hingga ke yang malas ikut datang. Atau ada juga yang tak sempat dapat kabar hingga yang tak pernah ada kabar. Ada.


Di liburan yang panjang ini, saya berharap ada satu hari saja—tak perlu muluk-muluk— bisa berkumpul (reuni) sekelas dengan formasi full team. Itu saja. Makan-makan, minum-minum, bisa belakangan. Tapi melihat setiap senyum dan wajah-wajah kerinduan dari tiap-tiap orang adalah yang paling menjadi tujuan. Semuanya sudah bisa mengisyaratkan bahwa saya, bahwa mereka semua tak pernah saling melupakan. Tak pernah membuang kenangan. Itu saja.


Keluarga Heho

Jeongmal bogosippo!

Mengulang kenangan adalah mimpi yang tak pernah hilang. Kebersamaan selalu menjadi obat paling mujarab ketika kita merasa seperti berjalan sendirian.

Selamat bermimpi!

#1Day1Dream hari kesepuluh


Tulisan spesial dari saya, untuk mereka yang tak pernah padam dari ingatan...

(:
Sumber gambar


Ada yang tahu, Alien itu apa?

Kalau kata Wikipedia, Alien adalah makhluk asing.


Pernah lihat, Alien?

Saya pernah...

Nggak percaya?

Saya cerita sedikit dulu.

Saya pernah lihat salah satu film India yang di dalamnya terdapat makhluk asing bernama Alien itu. Warnanya hijau, bisa dibilang Alien di film tersebut seperti monster kecil. Absurd banget, kayak gambar di atas. Tapi baik, nggak jahat. Yang jahat itu bawang merah.


Mau tahu, Alien paling menakjubkan yang pernah saya lihat?

Anti mainstream. Beda banget sama kebanyakan alien di film-film biasanya.


Nggak percaya lagi?

Nih lihat...

Sumber gambar

Mana ada sih di film-film lain, Alien seganteng ini?

Mau tahu, profesi dia di Bumi apa?


Profesor! Ya, p r o f e s o r !

Kalau saya jadi mahasiswanya, nggak pengen deh rasanya absen dari kelas.


Masih nggak percaya?

Sumber gambar
Tuh, waktu Aliennya lagi ngajar mahasiswa-mahasiswa di kampus.


Udah pernah liat Alien naik sepeda?
Nih, saya kasih lihat.


Sumber gambar


Nggak perlu lah naik motor atau mobil mahal. Naik sepeda aja udah cakep! :p


Satu lagi kehebatan yang Alien ini punya. Kekuatan super.


Keren, kan?

Banget!


Tapi, saya mau kasih satu fakta.


Alien yang seperti itu...


Cuma ada dalam drama T.T

Ya. D r a m a. T.T



Karena itu, saya punya mimpi untuk bertemu dengan Alien... ganteng... dan keren.

Seperti di atas.

Semoga terwujud.


#1Day1Dream hari kesembilan.


Banyak-banyaklah bermimpi, sebab mimpi itu gratis.

Selamat berkhayal! :)