Saturday, 31 January 2015

Ada yang Ingin Kusampaikan Padamu


Ada yang ingin kutanyakan pada daun gugur yang terbang.

Mengapa ia memilih jatuh? Mengapa tak diam saja di tempatnya, bukankah daun-daun lain sudah begitu baik menemaninya? Apa mungkin ia bosan menjuntai di atas pepohonan dan ingin sesekali menikmati angin membawanya bersama debu dan tanah? Tidak. Maksudku bukan sesekali, sebab itu tak akan mungkin. Daun yang telah gugur dan jatuh tidak akan pernah bisa ke tempatnya lagi. Tidak akan. Meski ia meminta kepada Tuhan untuk dikembalikan.

Lalu, apa tujuan Tuhan menggugurkannya? Mungkinkah karena waktu? Ah, lagi-lagi waktu. Ternyata ia begitu berisik, sampai-sampai daunpun ia maki untuk berhenti hidup. Menyebalkan. Seperti kamu yang masih diam.


Ada yang ingin kutanyakan pada laut luas yang diciptakan Tuhan.

Bagaimana cara agar hatiku bisa seluas laut itu? Selapang ia menciptakan keindahan pada mata manusia yang memandang. Ombak-ombak yang kagum kepadanya membuat ia seringkali ikut menemani. Menari hingga lelah dan tak tahu lagi harus melakukan apa.
Bagaimana caranya agar aku bisa seperti itu? Melapangkan hati tanpa harus berpikir lagi untuk memendam benci. Tanpa harus sedih melihat kebahagiaan yang diciptakan Tuhan untuk orang lain. Bukankah Tuhan juga pasti akan mengirimkan kebahagiaan untukku? Ya, aku tahu. Hanya saja aku sering berpura-pura tidak tahu.

Bagaimana aku bisa meluaskan hatiku? Menggenggam kekuatan di tiap-tiap kelemahan. Semisal aku yang suatu saat nanti harus merelakanmu pergi, jika ternyata tidak ada takdir di antara kita berdua. Jika ternyata kita dihadapkan pada pilihan lain selain diri kita. Kamu bukan yang terbaik untukku. Dan aku juga bukan yang terbaik untuk menemanimu.
Bagaimana cara aku bisa menata hatiku kembali, jika suatu saat itu benar-benar terjadi?

Bagaimana laut mengusir karam dari dirinya?


Ada lagi yang ingin kutanyakan. Tapi pertanyaan ini kutujukan khusus untukmu.

Menurutmu, rindu itu seperti apa? Seperti pelangi di antara hujan dan panas? Atau seperti rerumputan yang bergoyang lembut? Lalu, seperti apa diriku di dalam doamu? Pernahkah kamu  mendoakanku barang sekali?

Pernahkah dalam beberapa malam, kamu menghabiskan waktu sendirian. Menikmati angin yang menyelimutimu dengan kedinginan. Menghempas perasaanmu yang dalam. Adakah dalam malam-malam  itu, kamu memegang gitar lalu menyanyikan lagu yang ingin kamu persembahkan untukku? Dan kamu ingin  menyampaikannya pada langit. Sebab, kamu berpikir barangkali akupun tengah menatap bintang di langit itu.

Jadi, apakah kamu pernah merindukanku?


Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Tentang rindu.
Kerinduan melihat sikap yang memenjarakan diriku begitu lama. Merindukan menatap mata yang sanggup membuatku jatuh cinta, layaknya aku mengagumi puisi. Tentang semua rindu yang belum mampu kusampaikan.

Tentang menunggu.
Menunggu aku yang masih menunggumu. Menunggu kamu memberanikan diri untuk sekedar menyapa... sedikit saja. Setelah itu aku tak akan lagi khawatir menunggu orang yang sia-sia. Menunggulah untuk yang pasti datang, bukan yang pasti tidak datang.
Bukankah begitu?


Jadi kapan mau menyapaku?

^^

31 Januari 2015. Ditulis saat fajar pagi hendak pergi.
This entry was posted in

12 comments:

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^