Friday, 13 February 2015

Donate For Comments



Jadi ceritanya abis blogwalking ke blognya Kak Salman, terus nemuin postingan mengenai donate for comments ini. Sesuai artinya donate for comments adalah mendonasikan rupiah pada setiap komentar yang ada di blog kita, ditujukan untuk tahun 2015 ini. DFC sendiri digagas oleh Mbak Oky.
Dengan adanya DFC ini saya ingin coba ikut berdonasi lewat komentar, meskipun belum bisa berdonasi banyak. Hitung-hitung belajar berbagi ^^

Untuk yang mau ikutan DFC, ini ada rambu-rambu dari Mbak Oky yang bisa memudahkan kalian mengikutinya.


1. Target nominal bebas, silakan kamu tentukan sendiri seikhlasnya. Boleh Rp500, Rp1000, maupun Rp10.000 /per komentar. Saya menargetkan Rp200 untuk setiap komentar yang masuk di blog post tahun 2015 ini, termasuk reply dari saya pribadi. Saya baru bisa berdonasi sebesar itu. Maklum, masih mahasiswa yang belum punya uang tetap sendiri hehe.
2. Komentar yang dihitung hanya dari entri post tahun 2015, yaitu post tanggal 1 Januari 2015 s.d. 31 Desember 2015.
3. Seluruh komentar dalam entri post apapun selama tahun 2015 akan dihitung. Komentar SPAM tidak dihitung.
4. Buat Master Post, let everybody know your good intention. Lalu pasang banner Donate for Comments di sidebar blog kamu, link-kan ke Master Post kamu. Agar pengunjung blogmu aware dengan proyek ini
5. Buat Wrap Up post yang berisi laporan seberapa banyak jumlah komentar dan dana yang berhasil dihimpun. Lalu laporkan juga untuk apa dan kemana dana tersebut kalian sumbangkan
6. Collected Donation. Apabila teman-teman tertarik, mari bergabung dengan Mbak Oky dan bersama-sama menyumbangkan donasi untuk satu atau dua badan amal tertenu. Feel free to contact her.

I will donate Rp200 for every comment in my 2015 posts, Insya Allah... (:

Ayo kita sama-sama berdonasi!

Untuk memudahkan penghitungan, saya akan menulis rekap perbulannya di postingan ini. Biar nggak lupa juga punya target berdonasi hehe.

Januari: 127  200 =  25.400
Februari: 51 x 200 = 10.200
Maret: 226 x 200 = 45.200
April: 34 x 200 = 6.800
Mei: 36 x 200 = 7200
Juni: 15 x 200 = 3000
Juli: 12 x 200 = 2400
Agustus: 2 x 200 = 400
September: 3 x 200 = 600
Oktober: 1 x 200 = 200
November
Desember

Akan Ada Waktu

Sumber gambar


Akan ada waktu saat kamu mengenal cinta.
Akan ada waktunya saat pertemuan mengenalkan kamu tentang cinta
Akan ada waktunya saat tatapan mata membuat kamu jatuh cinta
Akan ada waktunya saat kekesalan melahirkan perasaan yang disebut cinta. Padahal itu menyebalkan. Padahal kamu membencinya.

Akan ada waktu saat kamu bicara tentang cinta.
Akan ada waktu kamu menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta.
Tapi akan ada waktu pula kamu tidak menyadari bahwa sebenarnya kamu sedang jatuh cinta dengan orang itu.

Akan ada waktu kamu ingin mengungkapkan cinta.
Tapi akan ada waktu pula kamu memilih diam. Menyimpan cinta yang hanya kamu sendiri yang tahu.
Akan ada waktu kamu ingin orang yang kamu cintai diam-diam itu tahu bahwa kamu mencintainya.
Tapi akan ada waktu pula kamu berharap orang yang kamu cintai diam-diam tidak pernah tahu bahwa kamu jatuh cinta kepadanya. Kamu hanya takut sesuatu menjadi berbeda setelah itu
.
Akan ada waktunya kamu kamu mengagumi seseorang yang belum tentu kamu mencintainya
Akan ada waktunya kamu mencintai orang yang kamu kagumi sejak lama.
Akan ada waktu kamu ragu akan orang yang mungkin kamu cintai.
Akan ada waktu kamu sama sekali tidak tahu siapa orang yang kamu cinta.

Akan ada waktu kamu tidak percaya cinta.
Tapi akan ada waktu pula kamu terlalu menggilai cinta. Kamu bukan hanya buta terhadap cinta, tapi juga bisu dan tuli. Cinta mampu membuatmu seperti itu.
Akan ada waktu kamu merasa ganjil akan seseorang yang mulai kamu cintai.

Akan ada waktu kamu melupakan cinta.
Akan ada waktu kamu memilih melupakan orang yang kamu cintai. Melepaskan kenangan begitu saja. Sebab kamu yakin bahwa itu mungkin jalan terbaik untuk kamu dan orang itu.
Akan ada waktu kamu meninggalkan orang yang kamu cintai begitu saja tanpa alasan yang pasti.
Akan ada waktu kamu yang ditinggalkan begitu saja tanpa kamu tahu apa alasannya.
Akan ada waktu kamu memilih mengakhiri cinta yang kamu simpan untuk orang yang kamu cinta.
Akan ada waktunya pula kamu menyimpan cinta itu selamanya. Meski kamu sudah bertemu orang lain.

Akan ada waktunya kamu digulanakan oleh cinta.
Akan ada waktunya kamu mencari-cari cinta.
Akan ada waktunya kamu mencari orang yang kamu cintai.
Akan ada waktunya kamu mencari orang yang seharusnya kamu cari.
Tapi akan ada waktunya kamu mencari orang yang tidak seharusnya kamu cari.
Akan ada waktunya kamu mencari tahu seperti apa orang yang kamu cintai.
Akan ada waktunya kamu mencari orang yang selama ini kamu selidiki diam-diam.

Akan ada waktunya kamu menunggu cinta.
Akan ada waktunya kamu menunggu orang yang diam-diam kamu cintai, yang kamu pun tahu kalau diapun diam-diam mencintaimu.
Tapi akan ada waktu pula kamu menunggu orang yang diam-diam kamu cintai meski kamu tidak pernah tahu apa orang itupun juga mencintaimu.
Akan ada waktu kamu terus menunggu sampai kamu benar-benar tahu.
Tapi akan ada waktu pula kamu lelah menunggu dan memilih melepaskannya.
Akan ada waktu kamu tidak sanggup untuk melepaskannya.

Akan ada waktu kamu bertemu dengan cinta.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini diam-diam kamu cintai.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini kamu cari.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini kamu tunggu.
Tapi akan ada waktu pula kamu dipertemukan dengan orang yang sangat baru dalam hidupmu. Kamu tidak pernah mengenal orang itu sebelumnya.
Akan ada waktu kamu ternyata dipertemukan dengan orang yang selama ini ada di dekatmu tapi kamu tak pernah menyadarinya.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan orang yang selama ini menjadi musuh bebuyutanmu.
Akan ada waktu kamu dipertemukan dengan sahabat sendiri.
Akan ada waktu kamu belum menemukan siapapun. Padahal kamu telah mencari dan menunggu.


Akan ada waktu.... saat kamu benar-benar bersamanya. Siapapun itu.


Tunggu saja,


Ini hanya masalah waktu.


13 Februari 2015,
Saat hujan rindu jatuh pada malam yang jauh dari sebutan  subuh.

Happy Hawra
This entry was posted in

Wednesday, 4 February 2015

Pernahkah Kita

Sumber gambar



Sudah seberapa sering kita menyalahkan orang lain dalam suatu kejadian?

Pernahkah kita berpikir, mungkin saja orang yang kita salahkan itu bukanlah seseorang yang bersalah. Atau kalaupun seseorang itu memang bersalah, pernahkah kita mencoba untuk bertanya? Barangkali mencerna kejadian yang ada pun sepertinya kita mampu. Sayangnya, waktu itu kita terlalu panik hingga menimbulkan kemarahan dan emosi, yang sepertinya hanya bisa dialihkan dengan menyalahkan orang yang patut bertanggung jawab atas kejadian itu. Tapi, itu kan menurut kita. Padahal bisa jadi, kita sendiri yang sebenarnya salah.

Tapi, apa pernah kita memikirkannya?


Seringkali, ego tak mau menarik diri dari kita. Kadangkala kita terlalu takluk pada apa yang bisa kita percaya. Padahal kita sendiri belum memastikan kebenarannya seperti apa. Kita terlalu terburu-buru untuk menghakimi seseorang. Padahal, terburu-buru itu datangnya dari syaitan. Di pikiran kita hanya satu, harus ada seseorang yang memangku tanggung jawab atas peristiwa itu.


Kenapa kita tidak coba mengintrospeksi diri kita sendiri? Tidak bisakah seperti itu? Jawabannya adalah kita belum bisa berpikir dengan baik pada situasi yang kurang baik. Instropeksi bukan berarti kita menghakimi diri sendiri.


Lalu, apakah kita harus menyalahkan diri sendiri?
Tidak juga. Tidak perlu seperti itu. Yang ada hanya frustasi nanti. Kita akan merasa terbebani, barangkali takut memikirkan anggapan orang-orang kepada kita. Sama seperti orang-orang yang kita salahkan. Sekali lagi, instropeksi bukan berarti kita menghakimi diri sendiri.


Pernah tidak kita tahu bagaimana perasaan orang yang kita salahkan?

Kita lebih sering tidak mau tahu. Sebab kita berpikir bahwa itu memang kesalahannya. Tapi, memangnya tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar menyalahkan orang lain? Tentu ada. Banyak. Hanya sekali lagi, kita tidak mau berpikir dan menjernihkan pikiran kita. Kita belum sepenuhnya dewasa. Bisa jadi kita sendiri pun tidak paham makna dari konsep kedewasaan itu sendiri.


Tidak cukupkah kita menatap wajah penyesalan seseorang itu? Lalu, apa kita harus membebaninya lagi dengan kesalahan yang kita tujukan untuknya? Padahal, tanpa kita menyalahkannya pun, seseorang yang melakukan kesalahan akan mengakui bahwa ia memang salah. Tapi, ia juga perlu waktu untuk menata hatinya itu. Ketika seseorang itu benar-benar merasa bersalah dan kita terus-terusan menyalahkannya. Apa hatinya tidak tambah hancur?
Satu lagi konsep yang sulit untuk kita pahami. Perasaan.


Jadi, kapan kita akan berhenti menyalahkan?


Malam hari, 4 Februari 2015,

Happy Hawra
This entry was posted in