Thursday, 12 March 2015

Namaku Embun

Sumber gambar


Namaku Embun. Aku ini lahir dari ketiadaan. Sejak kecil aku tak punya Ayah. Membayangkan rupanya seperti apa saja aku tidak bisa. Tapi, suatu hari Ibu memperlihatkan satu foto lamanya bersama dengan Ayah. Sejak saat itu, aku tahu yang namanya Ayah itu seperti apa. Aku sudah tidak pernah menerka-nerka lagi.

Aku punya Ibu yang sederhana. Hidupnya berjalan mengalir seperti air kali di dekat rumahku. Ibu tidak banyak bicara. Tidak pula pernah bermimpi yang macam-macam. Aku bisa hidup dengan sehat pun sepertinya Ibu sudah senang. Ibu tidak pernah menyuruhku menjadi orang hebat, sekalipun ia ingin. Ibu selalu menyuruhku menjadi diriku sendiri. Sederhana saja keinginannya. Sebab, katanya, menjadi diri sendiri adalah kepuasan paling sempurna di hidup kita. Barangkali, mungkin Ibu tidak ingin aku menyiksa diri untuk terkungkung pada hal yang memang 'bukan aku'. Ibu tidak pernah memaksa. Tapi bukan berarti Ibu tidak ingin aku jadi apa-apa. Kan setiap Ibu pasti menginginkan kesuksesan dari anaknya. Tidak ada toh, Ibu yang ingin anaknya jadi gembel dan melarat.

Sejak kecil aku dibiasakan untuk memilih. Misalnya, ketika aku ingin membeli barang. Ada lebih dari satu pilihan barang yang ingin kubeli. Tapi, Ibu hanya menyuruhku memilih salah satu. Bukan karena Ibu tak mampu membelikannya untukku. Ibuku punya alasan lain. Ia ingin agar aku belajar menentukan prioritas. Sebab, kata Ibu, tidak semua yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan. Pun tidak semua yang kita inginkan, bisa kita dapatkan. Katanya lagi, hidup itu adalah sekumpulan pilihan. Makanya aku disuruh memilih. Ibu membiasakan aku berpikir dewasa. Aku nurut saja, aku pusing tidak mengerti, meskipun setelah itu bibirku manyun. Sebal karena tidak dituruti. Namanya juga anak-anak, kepingin segalanya.

Aku juga punya dua kakak laki-laki. Tapi nanti saja kuceritakannya. Kali ini aku mau tidur cepat, takut ketahuan Ibu. Nanti aku dimarahi kalau ketahuan begadang. Heuheuheu.
Oh iya, aku ini perempuan ya. Jangan ada yang mengira aku laki-laki. Awas saja!


Dini hari, 12 Maret 2015.

Happy Hawra

Wednesday, 11 March 2015

Selamat

Sumber gambar


Kamu tahu apa yang kurasakan pada dua puluh empat jam waktu itu? Cuma satu, ragu.
Aku ragu mengirim semua kalimat dalam pesan yang ingin kusampaikan padamu. Sebab aku terlalu malu menghadapi reaksimu setelah itu. Malu, mungkin karena kamu tak akan suka. Juga malu karena takut kamu tak akan membacanya, apalagi membalas. Itu kan yang paling malas kamu lakukan. Atau hanya kepadaku kamu seperti itu? Lagian, aku juga tidak pernah mengirim pesan khusus untukmu. Kan aku malu menghadapimu. Jadi setiap kali aku mendengar kamu bicara dalam percakapan antara teman-teman kita, aku hanya memperhatikannya. Aku takut kamu kabur jika aku muncul. Padahal, aku sendiri saja sebenarnya yang merasa seperti itu. Mungkin menurutmu, semuanya baik-baik saja. Aku saja yang memang berlebihan.

Kamu tahu apa yang kulakukan selama dua puluh empat jam waktu itu? Menunggu.
Menunggu aku berani mengirimkan pesan itu buatmu. Membolak-balik setiap profilmu yang bisa dilihat. Sementara kamu, sedang asyik membaca satu demi satu pesan singkat yang orang tulis untukmu. Kamu terlihat senang. Sedang aku diam saja selama itu. Pura-pura tidak tahu, padahal kan sebenarnya aku tidak lupa. Kamu terlalu disukai banyak orang. Bisa dilihat kan berapa banyak orang yang menuliskan doa mereka untuk kamu? Aku jadi semakin ragu. Jadi... biar saja kamu kudoakan diam-diam. Tuhan kan pasti mau menerima. Toh, kamu juga tidak akan menunggu doa dariku kan. Menyadarinya saja mungkin tidak.

Tidak apa-apa. Selamat ulang tahun.


Februari 2015,

Happy Hawra

This entry was posted in