Monday, 27 April 2015

Antologi Puisi: Taman Musim


#Antologi15


Judul Buku: Taman Musim

Desain Cover: Abdul Salam HS

Editor: Baehaqi Muhammad

ISBN: 9786029117509

Penerbit: GONG Publishing, 2015

Cetakan Pertama, April 2015


Penulis:

Abdul Salam HS [] Aeni Asma [] Amir Afandi [] Anna Lestari [] Ardian Je [] Ashera Fernanda [] Baehaqi Muhammad [] Dini Azzahran [] DS [] Gege Giani [] Happy Hawra [] Hilman Sutedja [] Muhzen Den [] Poetry Ann [] Roni F Maulana [] Tinta Nisa

----

dari tempias hujan yang membungkus
kenangan masa silam, telah kutulis syair
paling purba pada alis matamu
yang menjulang menembus perasaanku
yang lelah dan padam

sisa hujan malam ini menjelma kolam mawar
yang menggenang di aorta nadiku

akan selalu kuingat potret bibir dan alismu
akan selalu kusebut namamu
dalam doa-doaku, karena kau kekasih
yang pernah mengutukku menjadi
cahaya yang disempurnakan
lafadz kesunyian

[SYAIR HUJAN, Roni F Maulana]

----

Minggu, 26 April 2015, Rumah Dunia membuat perayaan World Book Day dengan melaunching beberapa buku. Salah satunya adalah buku "Antologi Puisi; Taman Musim", di mana dua puisi saya tergabung di dalamnya. Dan buku ini, menjadi antologi ke-15 saya. :)





Happy World Book Day!


~

Happy Hawra

Serang, 27 April 2015

Thursday, 16 April 2015

Pada Sebuah Nama

Sumber gambar


Nama. Kita tidak akan saling mengetahui nama masing-masing sebelum dihadapkan pada sebuah perkenalan. Kecuali, kalau kita memang diam-diam mencari tahu. Tanpa peerlu perkenalan, bisa saja kita tahu nama dari seseorang. Sebab kita memang sama-sama sudah tahu, itu saja. Toh, rasanya aku juga tidak pernah berkenalan langsung denganmu, kamu pun sama. Tapi kita sepakat saling mengenal. Mungkin lebih tepatnya, kita menganggap diri kita sudah saling mengenal.

Aku tidak pernah berpikir bahwa urusan nama bisa berbuntut panjang. Aku kira sebuah nama tidak akan begitu kejamnya menguras sebagian pikiran. Nyatanya sebaliknya. Kita memang benar-benar tidak pernah tahu apa-apa yang telah Tuhan rencanakan. Kita tidak benar-benar tahu seberapa besar dan panjang rencana itu berjalan dalam kehidupan kita. Sebagaimana kita tidak menyadari, bahwa sebuah perjumpaan--yang didasari dengan perkenalan-- adalah cara yang Tuhan pilih untuk kita bisa saling menemukan. Meski aku sendiri juga tidak tahu, apakah aku telah menemukan?

Urusan nama ternyata tidak sederhana. Kalaulah sederhana, mungkin aku tidak akan berpikiran untuk menuliskannya. Sebab sudah lama aku merasa bahwa sebuah nama menjadi urusan yang--lagi-lagi aku katakan-- ini panjang. Ya, aku ulangi lagi. Tidak sederhana dan panjang.

Barangkali dengan waktu yang terus berjalan juga dengan keterbatasan pertemuan. Adakalanya kita memilih berdiam diri. Berpikir pada sebuah nama... yang tidak bisa kita hindari, meski kita sangat ingin menghindarinya. Bisa jadi ini bukan persoalan perasaan. Hanya sebuah nama yang memang sulit sekali diabaikan. Kalau bisa memilih untuk lupa, tentu kita ingin bisa melakukannya. Tapi melupakan bukan berarti kita mau menghilangkannya dari ingatan. Tentu tidak. Hanya memilih untuk lupa. Begitu saja. Agar jadinya sederhana. Agar jadinya tidak panjang.

Kalau saja aku bisa. Aku tidak ingin terus-terusan diingatkan pada satu nama. Apalagi ketika sepi begitu ingin menyepikan. Kalau saja aku bisa.

Ada sebuah nama, yang kalau aku bisa bilang sulit dilepaskan. Tetapi... mungkin kata 'sulit dilepaskan' hanya sebagian alasanku saja. Karena sebenarnya aku memang belum ingin menemukan nama lain. Sampai aku benar-benar tahu, bahwa bukan aku yang kamu cari. Sampai aku tahu.... bukan aku yang kamu tunggu.


Serang, 16 Maret 2015 | Happy Hawra
This entry was posted in

Thursday, 9 April 2015

#FFRabu - Di Penghujung Doa

Sumber gambar


Ia tercekat. Napasnya mulai menipis perlahan. Matanya setengah kabur.

Tidak terbayang lagi perjalanan indah menyusuri taman. Mungkin juga tidak akan ada lagi pelukan saat pulang.

“Tabahlah. Kamu akan kuat menahannya. Selama ini kamu tak pernah henti menguatkanku. Aku yang tidak pernah tersenyum pada orang lain selain kamu.” Seseorang menempel di balik pintu kaca ruang gawat darurat. Wajahnya terlihat iba. matanya begitu pedih. Sayang sekali, selama ini dirinya tak pernah berdoa. Ia tak tahu apa bisa mencobanya di saat seperti ini.

Hidup ini terlalu sepi... dan gelap.

“Alin, bangunlah. Anjingmu kini sudah tiada.”

Doanya tidak terkabul. Alin ingin bertemu malaikat. Lebih dulu.

Saturday, 4 April 2015

Sebab Uang Bukan Segalanya

Sumber gambar


Sore tadi, saya menonton film "Merry Riana" yang beberapa hari lalu baru saya download.
Film tersebut diperankan oleh Chelsea Islan (Punya adik namanya Happy Islan *dijitak*) dan Dion Wiyoko. Keduanya adalah aktris favorit saya. Di film ini, mereka main dengan keren, :))

Satu scene yang paling memukul.

Ceritanya Alva sama Merry ketemuan di cafe. Alva nyiapin cincin buat dikasih ke Merry. Saat ketemu, si Merry sibuk sama saham online yang Alva juga ikut andil menanam saham di perusahaan tersebut.

Teruus...

Merry: "Aku punya sesuatu buat kamu, Va."

Alva: "Apa?" Alva senyum.

Merry: Merry nyodorin uang 200 dolar. "Ini utang aku ke kamu, Va. Kamu inget kan?"

Alva: Mukanya berubah. Mungkin mikir 'kirain mau ngasih apa.'
"Oke, makasih." Kemudian Alva naro uang itu di meja

Merry: "Uangnya disimpen dulu, Va. Nanti dikira tip buat pelayan."

Alva: Manggil pelayan, terus ngasih uang itu buat tip si pelayan.

Merry: "Alva, itu bukan uang 2 dollar. Kenapa kamu kasih uang itu ke pelayan?"

Alva: "Aku mau nanya deh, yang di pikiran kamu cuma uang aja ya? Mer, aku nggak mau ngomongin uang lagi."

Merry: "Kamu yang mulai bilang sedikit-sedikit uang. Hidup di Singapura beda sama di Jakarta. Harus punya penghasilan, harus punya pekerjaan. Kamu bilang hidup itu berhitung."

Alva: "Berhitung, Mer. Bukan uang."

Merry: "Ya sama aja lah. Aku sekarang ngerti kenapa semua orang berambisi untuk kaya. Karena uang bisa membeli segalanya. Aku bosen bokek, Va. Aku bosen nggak punya uang. Mungkin kamu nggak pernah ngerasain bokek makanya kamu nggak mikirin uang. Kamu nggak tau, betapa susahnya nggak punya uang. Betapa susahnya cari uang."

Alva: Senyum. "I'm done with you." Alva pergi.

***

Saya sendiripun pernah berpikiran seperti itu. Saat kesulitan, yang terpikir memang betapa ingin memiliki uang. Memang ya, ketika uang sangat menjadi momok utama untuk bertahan hidup. Lalu kita hanya akan berpikir bagaimana cara mendapatkan uang. Agar kita bisa lebih dari sekedar bertahan. Mungkin karena itu, nggak sedikir orang yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan uang. Untuk hidup. Untuk bertahan. Tapi, sesulit apapun kita, berdoalah agar Tuhan menjaga kita dari hal-hal yang tidak dibenarkan.

Jadi sejatinya uang bukan yang utama kan? Ya. Sebab uang bukanlah segalanya. Tapi peran orang-orang di sekeliling kita menjadi sangat berarti. (alm) Olga Syahputra juga bilang: "Uang bisa dicari, tapi orang yang menyenangkan sulit ditemukan."


Kebahagiaan ada bukan saat kita punya banyak uang. Tapi kebahagiaan tercipta saat kita punya hubungan baik dengan Tuhan dan orang-orang yang menyayangi kita.

"Sekarang aku mengerti. Sukses itu bukan sekedar kita punya uang banyak. Tapi sukses itu, saat kita bisa membuat orang lain punya harapan. Dari sana, kebahagiaan bisa kita dapatkan."--Merry Riana

Sumber gambar


Sumber gambar


Selamat mencari-cari. Semoga cepat menemukan kebahagiaannya :))

Happy Hawra
April 2015