Sumber gambar

Ia tercekat. Napasnya mulai menipis perlahan. Matanya setengah kabur.

Tidak terbayang lagi perjalanan indah menyusuri taman. Mungkin juga tidak akan ada lagi pelukan saat pulang.

“Tabahlah. Kamu akan kuat menahannya. Selama ini kamu tak pernah henti menguatkanku. Aku yang tidak pernah tersenyum pada orang lain selain kamu.” Seseorang menempel di balik pintu kaca ruang gawat darurat. Wajahnya terlihat iba. matanya begitu pedih. Sayang sekali, selama ini dirinya tak pernah berdoa. Ia tak tahu apa bisa mencobanya di saat seperti ini.

Hidup ini terlalu sepi… dan gelap.

“Alin, bangunlah. Anjingmu kini sudah tiada.”

Doanya tidak terkabul. Alin ingin bertemu malaikat. Lebih dulu.