Thursday, 16 April 2015

Pada Sebuah Nama

Sumber gambar


Nama. Kita tidak akan saling mengetahui nama masing-masing sebelum dihadapkan pada sebuah perkenalan. Kecuali, kalau kita memang diam-diam mencari tahu. Tanpa peerlu perkenalan, bisa saja kita tahu nama dari seseorang. Sebab kita memang sama-sama sudah tahu, itu saja. Toh, rasanya aku juga tidak pernah berkenalan langsung denganmu, kamu pun sama. Tapi kita sepakat saling mengenal. Mungkin lebih tepatnya, kita menganggap diri kita sudah saling mengenal.

Aku tidak pernah berpikir bahwa urusan nama bisa berbuntut panjang. Aku kira sebuah nama tidak akan begitu kejamnya menguras sebagian pikiran. Nyatanya sebaliknya. Kita memang benar-benar tidak pernah tahu apa-apa yang telah Tuhan rencanakan. Kita tidak benar-benar tahu seberapa besar dan panjang rencana itu berjalan dalam kehidupan kita. Sebagaimana kita tidak menyadari, bahwa sebuah perjumpaan--yang didasari dengan perkenalan-- adalah cara yang Tuhan pilih untuk kita bisa saling menemukan. Meski aku sendiri juga tidak tahu, apakah aku telah menemukan?

Urusan nama ternyata tidak sederhana. Kalaulah sederhana, mungkin aku tidak akan berpikiran untuk menuliskannya. Sebab sudah lama aku merasa bahwa sebuah nama menjadi urusan yang--lagi-lagi aku katakan-- ini panjang. Ya, aku ulangi lagi. Tidak sederhana dan panjang.

Barangkali dengan waktu yang terus berjalan juga dengan keterbatasan pertemuan. Adakalanya kita memilih berdiam diri. Berpikir pada sebuah nama... yang tidak bisa kita hindari, meski kita sangat ingin menghindarinya. Bisa jadi ini bukan persoalan perasaan. Hanya sebuah nama yang memang sulit sekali diabaikan. Kalau bisa memilih untuk lupa, tentu kita ingin bisa melakukannya. Tapi melupakan bukan berarti kita mau menghilangkannya dari ingatan. Tentu tidak. Hanya memilih untuk lupa. Begitu saja. Agar jadinya sederhana. Agar jadinya tidak panjang.

Kalau saja aku bisa. Aku tidak ingin terus-terusan diingatkan pada satu nama. Apalagi ketika sepi begitu ingin menyepikan. Kalau saja aku bisa.

Ada sebuah nama, yang kalau aku bisa bilang sulit dilepaskan. Tetapi... mungkin kata 'sulit dilepaskan' hanya sebagian alasanku saja. Karena sebenarnya aku memang belum ingin menemukan nama lain. Sampai aku benar-benar tahu, bahwa bukan aku yang kamu cari. Sampai aku tahu.... bukan aku yang kamu tunggu.


Serang, 16 Maret 2015 | Happy Hawra
This entry was posted in

10 comments:

  1. sebuah nama, sebuah ceita :)
    mungkin kita memeang sama-sama mencari tahu tanpa kita ketahui.

    ReplyDelete
  2. Nah iya.. Sulit melepaskan karena dari kendali kita sendiri yah.. :)

    ReplyDelete
  3. hiks...hiks...bikin mellow niihh Mak ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh, belum punya anak. belum nikah juga. kok dipanggil mak :(

      hahaha, jangan menangis kak maya *nyodorin tisu*
      makasih udah berkunjung dan ngasih komentar :D

      Delete
  4. kayaknya kamu lagi sulit menggantikan nama seseorang dihati kamu ya :D

    ReplyDelete
  5. nah, diam-diam mencari tahu. pernah nih. wkwk

    ReplyDelete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^