Tuesday, 21 July 2015

[Cerpen] Ada Yang Merasa Jatuh Cinta: Gelora (1)

Sumber gambar


Dua orang perempuan cantik sedang duduk-duduk di taman kecil Kampus.  Perempuan pertama bernama Rinai. Setiap orang yang mengetahui namanya, pasti punya ekspektasi yang tinggi terhadap perempuan satu ini. Dibacanya sebuah buku berjudul Perahu Kertas.

Sore yang mendung. Ada yang baru diketahui Riang: Sahabatnya sedang jatuh cinta. Dia Gelora, perempuan kedua. Sama cantiknya. Orangnya heboh sekali. Terlihat ceria dalam segala suasana. Semangatnya bergelora kemana-mana. Tapi hari ini ada yang terasa berbeda dari Gelora.

Di sebelahnya, Gelora bertanya pada Rinai.

“Ri, kamu percaya nggak sih sama cinta pada pandangan pertama?”

“Ih, kok drama?”

Gelora melotot. “Serius, Rinai.”

Rinai diam. Tapi kemudian menggeleng. Ia teringat sesuatu.

“Kamu inget nggak yang dibilang Kak Dinda kemarin? Pesan Rasulullah ke sahabatnya Ali yang tentang menundukkan pandangan itu, tuh.”

Wahai Ali, Jangan melihat lagi setelah pandangan pertama, karena pandangan pertama adalah rezeki bagimu. Sebab itu terjadi secara tidak sengaja. Sedangkan pandangan kedua adalah keburukan bagimu. Yang itu, Ri?”

“Nah, iya itu. Mungkin aja ya pandangan pertama kita untuk seseorang itu bukan cinta. Hanya rezeki. Rezeki yang wujudnya asumsi. Perasaan bahwa kita jatuh cinta.”

Gelora mencermati kata-kata sahabatnya itu.

“Eh, emangnya... jatuh cinta itu rezeki ya?”

“Bisa jadi, kan? Sama kayak kesehatan, umur, harta. Jatuh cinta juga ada kadarnya. Ada batasnya. Bisa diusahakan. Bisa datang tanpa dikejar. Yang pasti sama-sama nikmat yang dikasih Allah buat manusia.”

“Terus, gimana sama pandangan kedua yang artinya keburukan?”

“Mungkin aja asumsi itu jadinya berkembang lebih. Bukan perasaan-perasaan bahwa kita jatuh cinta lagi. Tapi lebih kepada tentang seseorang mengagumi fisik seseorang lain. Bisa aja, kan? Eh, Ra omongan aku nyambung nggak sih?”

Rinai bingung sendiri. Sementara Gelora sendiri seperti tidak mendengarkan pertanyaan Rinai. Ia hanya memainkan pulpennya.

“Tapi jatuh cinta bisa berawal dari mata kan? Kita lihat dia, terus kita jatuh cinta deh.”

Gelora memilih bertanya lagi. Mungkin ingin meyakinkan dirinya sepenuh hati.

“Hmm... Kalau kamu bilang cinta itu berawal dari mata. Aku mungkin setuju. Soalnya, itu kan lagunya Kahitna. Berawal dari mata indanya senyuman...

Rinai malah nyanyi. Alhasil, dilemparlah ia pakai pulpen. Kahitna-able Rinai kambuh.

“Ah, males. Ujung-ujungnya nggak serius, kan.”

“Hahaha, itu juga serius kali, Ra. Gini ya, cinta itu bisa aja berawal dari mata. Tapi nggak berarti cinta itu ada saat pandangan pertama, kan?”

Gelora mengangguk. Separuh hatinya mengiyakan perkataan sahabatnya. Tapi separuhnya lagi mungkin tidak. Gelora masih setengah merasa kalau ia jatuh cinta dengan lelaki itu saat pertama kali melihatnya.

“Jadi, siapa cowok yang lagi kamu suka?”

Mata Riang menyelidik. Gelora kabur.

Langit masih saja mendung.

---

21 Juli 2015 || Happy Hawra

Wednesday, 8 July 2015

Hujan dan Kamu

Sumber gambar


Hai, apa kabar?

Juli hujan belum kelihatan. Sama seperti kamu tidak kelihatan. Tapi masih sama-sama ada. Tapi hujan itu dekat. Tidak jauh seperti kamu. Kamu lebih tidak kelihatan.
Terkadang aku menunggu hujan, terkadang juga tidak. Tapi aku selalu menunggu kamu. Sebab kamu lebih sering menghilang dibanding hujan.
Hujan itu dingin. Persis, seperti kamu. Hujan juga bisa hangat. Mungkin kamu juga bisa. Jangan ketus-ketus, nanti dimarahin hujan!

Hujan itu nyaman. Tapi tidak meneduhkan. Sebab orang-orang selalu pergi berteduh karena hujan. Tapi hujan itu baik, meskipun tidak meneduhkan. Karena hujan membuat orang mencari tempat untuk berteduh. Membuat orang menemukan tempat yang mampu meneduhkan. Bahkan membuat orang saling menemukan. Saling meneduhkan. Hebat kan hujan? Aku tahu kamu pun bisa meneduhkan. Karena setiap orang punya kemampuan untuk membuat orang lain singgah dan akhirnya nyaman. Yang aku tidak tahu, kamu itu meneduhkan buatku tidak? Yang aku tidak tahu, kamu ingin membuat teduh siapa? Yang aku tidak tahu.... Ah bukan tidak tahu. Hanya belum tahu. Nanti juga tahu. Tapi nanti kan lama ya? Nunggu kamu juga lama.

Hujan itu luar biasa. Selalu ada orang yang mengistimewakan hujan. Karena hujan luar biasa. Karena hujan istimewa. Karena hujan punya rumah sendiri untuk memaknai hidup juga kehidupan. Tapi hujan bukan kamu. Kamu biasa. Kamu sederhana tapi rumit. Dan aku tidak ingin kok kamu seperti hujan. Kalau kamu luar biasa, apa jadinya aku yang biasa saja ini? Kalau kamu luar biasa, kesempatan aku mencari kamu akan sangat kecil. Begitupun sangat kecilnya kamu mau menemukan aku. Bahkan mungkin aku tidak lagi punya kesempatan. Jangan. Nanti aku jadi sebal. Jadi biasa saja. Jangan hebat-hebat. Jangan tinggi-tinggi. Kamu hanya perlu sederhana tapi istimewa.

Aku tidak apa-apa kalau bulan ini hujan tidak datang. Tapi aku bakal kenapa-kenapa kalau kamu yang tidak datang-datang. Bercanda! Dah!


Dalam Juli, 2015
Happy Hawra

This entry was posted in