Wednesday, 30 November 2016

Switch Alpha 12, Teman Ringankan Beban


Akhir-akhir ini tuh ya, rasanya pengen banget bisa tidur nyenyak. Tanpa beban, tanpa tumpuk-tumpukan pikiran, tanpa merasa berdosa kalo nggak sengaja ketiduran. Iya, kadang-kadang kalo situasi lagi dikejar deadline kayak gini, ketiduran itu rasanya kayak mau sholat diambang adzan waktu sholat selanjutnya. Resah plus deg-degan. Duh, bisa kekejar nggak ya. :”D

Hvft, butuh kopi.

Memang ya, suka duka jadi mahasiswa semester akhir itu campur-campur. Grutak-grutuk sana-sini deh pokoknya. Ya ngejar-ngejar dosen lah, ngurus surat ke sana-sini, nunggu balesan sms, sampe ke yang mikirin, apa hari ini dospemku moodnya lagi bagus? :(

Jadi, semenjak mulai ngerjain proposal skripsi, bawa laptop ke sana-sini tuh kayaknya udah pasti. Pindah-pindah perpustakaan cari-cari buku, nggak lupa sambil aktifin wifinya dulu. Lumayan, kan. :D

Tapi pernah nggak sih, ngerasa laptopnya cepet panas? Atau barangkali berisik karena ada suara kipas? Nggak nyaman banget, deh, pokoknya. Apalagi kalo tiba-tiba mati gitu aja, alias nggak kuat dipake lama-lama, padahal lagi serius-seriusnya. Uh, perih banget kan jadinya? :”

Untungnya, sekarang ada yang namanya Switch Alpha 12. Notebook 2-in1- hybrid yang udah pake teknologi terbaru, yaitu LiquidLoop. Hayo, LiquidLoop itu apa coba?

Kayak gini, taraaaa~
LiquidLoop itu sistem pendingin yang bisa menstabilkan suhu mesin laptop tanpa kipas. Tanpa kipas, man~ Jadi nggak bakal lagi deh kita yang namanya denger suara bising-bising tetangga dari arah laptop kita. Wuh, mantap toh, jadi tenang kita kalo lagi belajar atau kerja. Cocok buat ngerjain skripsi juga. Wuh! Wuh! *iket tali di kepala*

Sistem pendingin tanpa kipas ini bisa hemat daya baterai juga. Aku kan sering banget tuh lama-lama di depan laptop. Eh tau-tau abis aja baterainya. Apalagi kalo sewaktu-waktu lupa bawa chargernya. Haduh! Untung ya, Switch Alpha 12 awet dan tahan lama.

Selain itu, Switch Alpha 12 tuh enak banget dibawa. Ukurannya tipis, bobotnya juga ringan. Bah, mau dibawa-bawa kemana aja juga nggak bikin capek badan. Mau dibawa ke perpustakaan, café, taman, atau rawa-rawa juga bisa. Mudah saja! Hahaha. Eh, tapi aku kalo ngerjain skripsi nggak sampai ke rawa-rawa banget, sih. Paling juga ke semak-semak aja. *plak*


Udah tipis, ringan, Switch Alpha 12 ini fleksibel pula. Bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan. Mau diubah jadi tablet juga bisa. Gak percaya? Aih sih macem-macem... Ini ada engsel magnetnya, lho. Kita tinggal lepas-pasang keyboard docking-nya kalo mau ubah-ubah. Fungsi keyboard docking ini kayak screen protection. Jadi, kita bisa tetap ngetik dengan baik meski di ruangan yang lampunya redup, disko-disko. Layarnya pun punya resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) yang dilengkapi teknologi IPS. Teknologi BlueLight Shield pun juga ada. Jadi mata kita nggak cepat capek walaupun pakai laptopnya dalam waktu yang cukup lama. Nggak perlu kucek-kucek mata lagi pas ngerjain skripsi juga :')

Eh iya, Switch Alpha 12 juga dilengkapi fasilitas kickstand yang bisa diatur sudutnya sampai 165 derajat sesuai dengan sudut pandang yang kita mau.




Kelebihan lainnya, notebook ini juga ngasih fitur port USB Type-C dengan USB 3.1 di mana kecepatan transfer datanya mencapai 5 Gbps, alias 10 kali lipat lebih kencang dibanding USB 2.0. 

So, guys. Switch Alpha 12 itu powerful dan fanless banget, pasti bisa deh bikin kita tambah fleksibel dan semangat. Bisa mendukung kita buat belajar dan kerja. Pas buat jadi teman ringankan beban. :D

Skripsi, ayo siap-siap, kita lanjut berjuang. Biar cepat menang sampai ke tahap sidang. :")

Semangat! (:




Friday, 25 November 2016

Menjadi Bersama

Source
Apa ya, hal paling dominan yang berubah dalam hidup kita ketika usia bertambah?

Aku suka memikirkan sesuatu, bertanya kepada pikiran sendiri, dan tidak jarang mendapat ketidaktahuan baru. Aku harus apa? Nanti bagaimana? Kira-kira…..

Hidup adalah cara menemukan jawaban-jawaban. Sebab kita tidak bisa menjadi sejarah untuk hari yang sedang kita hadapi. Sehingga seringnya kita harus bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan solusi terbaik dalam mengatasi berbagai situasi. Keadaan yang tidak memungkinkan, kadang-kadang juga bisa berpeluang besar untuk menang. Tidak semua yang sulit itu tidak bisa dilakukan, kan? Kata-kata, memang yang paling pandai menenangkan. Akan tetapi kenyataan, membuat kita menjadi pasrah pada ketakutan. Tapi tidak juga sih, karena kita harus terus semangat kan, untuk menemukan jalan terang?

Ketika angka menjadi bertambah, aku seperti sedang melakukan aba-aba di garis start. Deg-degan. Sudah siapkah kakiku berlari sampai kejauhan? Bagaimana kalau aku jatuh, luka-luka, lalu tidak bisa meneruskan jalan? Strategi apa yang harus kupakai supaya menang? Tentu setiap orang punya impian jadi juara dalam hidupnya, kan?

Eh, bagaimana kalau kita cari perlombaan yang bisa diiringi teman? Mungkin saja jauh lebih mudah. Jauh lebih semangat dan menyenangkan. Kita tidak sendirian lagi, bukan? Bisa berbagi beban, meski nanti tersesat-sesat di sepanjang perjalanan. Ah, yang penting sanggup bersama-sama sampai tujuan. Bisa sambil bercerita dan juga mendengarkan. Tidak seperti saat kita sedang berjalan sendirian, bingung apa yang nyaman untuk dilakukan. Lalu galau, galau, galau…

Hihihihi. Sudah nggak nyambung ini tulisan. Ah sudahan. X)

Friday, 18 November 2016

Ayo Memilih!



Teman-teman blogger, sudah pada tau kan kalau tanggal 15 februari 2017 nanti akan ada apa? Ya ya ya ya benar, pemilu alias pilkada alias pilihsajaaku. Sering kita lihat di televisi-televisi, setiap harinya berita tentang Ahok-Agus-Anies selalu mencuat di sana. Entah mengenai strategi kampanye mereka― dengan melakukan berbagai cara pendekatan kepada warga― sampai kepada ricuhnya dugaan penistaan agama. Ramai sekali, ya, Jakarta.

Bukan cuma Jakarta lho, yang bakal ada pilkada 2017 nanti, tetapi beberapa provinsi dan kota/kabupaten lainnya juga. Didapat informasi dari okezone, pilkada ini akan digelar di 7 provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten. Dan pilkada tersebut akan serentak digelar pada tanggal 15 Februari 2017 mendatang. Jangan-jangan, gara-gara keseringan ngikutin perkembangan pertarungan pasangan calon (paslon) gubernur DKI Jakarta, kita lupa sama paslon provinsi kita sendiri. Atau lebih parahnya, kita nggak tau siapa aja calon gubernur/bupati/walikota dari provinsi dan kota kita. Duh, nggak mungkin kan, ya? Hihihi.

Di provinsi saya, yaitu Banten, juga sama seperti Jakarta. Bakal ada pemilihan gubernur juga. Meski saya sendiri nggak paham sama persoalan hati politik, tapi setidaknya saya tau lah siapa paslon dari provinsi saya yang sekarang mungkin lagi sibuk kampanye di mana-mana. Adalah Wahidin Halim-Andhika Hazrumy, sebagai paslon nomor urut 1. Dan Rano Karno-Embay Mulya Syarif sebagai paslon dengan nomor urut 2.

Hih, palingan juga abis searching ya, Hep?

Nggak lah, enak aja. Abis liat baliho tau.

Bahahaha.

Tapi tapi, cuma tau nama aja nggak cukup tho?

Terus gimana cara milihnya? Kalo saya nggak terdaftar di pemilih tetap padahal sudah punya ktp, gimana cara ikutnya? Atau kalo saya mau golput aja emangnya kenapa? Eh boleh nggak sih, saya pilih calon yang kasih duit ke saya?

Beberapa waktu yang lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Banten dan KPU Kota Serang menggaet Komunitas Banten Muda untuk mengikuti sosialisasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Banten. Kebetulan, saya menjadi salah satu pesertanya. Yang menjadi narasumber hari itu adalah Pak Agus Supriyatna (Ketua KPU Provinsi Banten), Om Ali Faisal (Komisioner KPU Kota Serang), dan Om Irvan Hq (Ketua Komunitas Banten Muda). Dari sosialisasi tersebut tentunya menambah pengetahuan bagi diri saya, sehingga kerap kali saya bilang “oh, gitu ya,” atau “hmm, mengerikan,” ketika para narasumber memaparkannya. Hahaha.

Jadi jadi, siapa tau apa yang saya tulis hari ini bisa bermanfaat juga buat teman-teman yang baca. Semoga ya…

Gimana sih cara milihnya?

Dateng ke TPS, dong. Setelah dikasih kertas suara, coblos pilihannya. Dicoblos ya bukan dicontreng. Dicoblosnya di satu nomor aja ya, jangan semua nomor dicoblos. Nanti nggak sah. Soalnya di setiap pemilu atau pilkada, masih banyak aja sih kertas-kertas suara yang dianggap nggak sah. Hati-hati ya, sayang kan kalau suaranya hilang gitu aja. Nanti jadi serak. #halah

Kalo saya nggak terdaftar di pemilih tetap padahal sudah punya ktp, gimana cara ikutnya?

KPU saat ini sudah mengumumkan apa yang disebut DPS, yaitu Daftar Pemilih Sementara. Kita bisa mengecek apakah nama kita ada di daftar pemilih atau tidak. Kalau tidak ada, kita bisa lapor kepada PPS, yakni Panitia Pemungutan Suara tingkat desa. Akan ada rentang waktu pencermatan kembali DPS, baru kemudian ada DPS HP (Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan), baru setelahnya menjadi DPT (Daftar Pemilih Tetap). Kalau nama kita masih tidak ada dalam DPT, kita bisa tetap datang ke TPS dengan membawa KTP Elektronik. Nanti akan dipanggil oleh panitia di TPS tempat kita memilih. Akan tetapi, kalau kita belum mempunyai KTP Elektronik, kita bisa mengurusnya di DISDUKCAPIL (Dinas Penduduk Kecamatan Sipil) untuk meminta surat keterangan belum KTP Elektronik. Surat keterangan itu menjadi bukti bahwa kita sudah direkam dan kedudukan hukumnya sama dengan KTP Elektronik.

Saya mau golput aja, boleh nggak?

Kata Om Ali Faisal, kalau kita sudah memenuhi persyaratan sebagai pemilih, maka jangan pernah kita menyia-nyiakan suara kita. Meskipun tidak memilih adalah bagian dari pilihan, itu tetap saja cara pandang yang salah. Bagaimana kalau semua orang punya pikiran yang sama untuk golput? Maka tidak akan pernah terjadi adanya pemimpin. Maka tidak akan pernah terjadi adanya sistem. Maka tidak akan pernah terjadi adanya pemerintahan daerah yang baik. Dan kita, bisa menjadi liar tanpa adanya pemimpin.

Kata Om Irvan Hq juga, kita harus menggunakan suara kita demi perubahan sistem yang lebih baik.

Kalau saya mau pilih calon yang paling banyak kasih duit aja, boleh nggak?

Tolak uangnya, jangan pilih orangnya. Mengambil pelajaran dari analogi yang diberikan Om Ali, bahwasanya ketika kita mengambil uang yang diberikan oleh calon kepala daerah, setelah ia terpilih maka hak suara kita sudah habis saat itu juga. Apakah kita mau, harga diri kita dibayar semurah itu?

Ingat, stop politik uang.


Tuh, saya, yang itu

Jadi, pilih siapa ya?

Kata Najwa Shihab alias Mbak Nana dalam acara Mata Najwa, ia mengatakan bahwa ada tiga hal yang bisa kita perhatikan ketika ingin memilih seorang pemimpin. Seperti apa rekam jejaknya, bagaimana karakternya, dan apa saja program kerja yang akan dijalankannya. Nah tuh, bisa diperhatikan baik-baik tuh paslon gubernur kita.

Jadi, mari gunakan suara kita sebaik-baiknya. Jangan lupa Hari Rabu, 15 Februari 2017 nanti, ya. Jangan lupa, Hep. Hihihi.

AIKA bersama Pak Agus dan Om Ali

Thursday, 3 November 2016

Mengingat Rasi

Source

Tiga tahun Jani menyukai laki-laki bernama Rasi. Sewaktu SMA, Rasi adalah siswa paling pintar di satu angkatan, terlebih dalam bidang fisika—yang bagi Jani bikin ngantuk sekali. Kepandaian Rasi membuatnya cukup populer di kalangan guru-guru. Hmm, kalau di kalangan siswi-siswi sih, ya sudah tidak diragukan lagi.

Tapi Jani tidak kenal-kenal amat dengan Rasi. Di luar segala kelebihannya, Rasi tidak cukup menarik hati seorang Jani. Malah Jani bertanya dalam hati, mengapa banyak perempuan mendambakan seorang Rasi?

Masuk ke semester empat, Rasi dan beberapa siswa dari kelasnya dipindahkan ke kelas Jani. Dan Jani masih biasa-biasa saja. Tidak banyak cuap-cuap pula di antara keduanya.

Pernah suatu hari, Rasi meledek Jani. Waktu itu di jam olahraga, Jani tidak ikut berolahraga dengan teman-teman satu kelasnya karena sedang sakit. Dan Jani memilih untuk tinggal di dalam kelas saja. 

Beberapa saat, Rasi kembali ke kelas seorang diri. Entah mengambil apa dari tasnya. Rasi pun pergi dan menutup pintu. Namun setelah itu, pintu kembali terbuka dan kepala Rasi muncul di sana.

“Woy, lari, Jani, lari. Biar capeknya sama nih,” kata Rasi dengan mimik-mimik tertawa dan keringat di mana-mana.

“Rasain,” jawab Jani sembari menjulurkan lidah.

“Haha, payah.” Kemudian pintu ditutup lagi.

Suatu hari lagi, gantian Jani yang meledek Rasi. Ketika pernah suatu kali seorang guru bahasa inggris meledek Rasi yang mirip nenek-nenek karena tercium aroma fresh care di badannya. Jani ikut-ikutan. Pada jam istirahat, Rasi sedang latihan drama di dalam kelas. Jani berjalan di luar kelas dan melewati jendela yang kebetulan Rasi pun sedang duduk di sampingnya dan melihat ke arah luar jendela.

“Eh, nenek lagi apa duduk-duduk?” ledek Jani. Rasi pun melemparkan potongan kertas yang sedang dipegangnya, tapi mulutnya tersenyum.

Bagi Jani, ingatan-ingatan kecil tersebut memang kejadian yang biasa saja. Tapi mampu membuat Jani senyum-senyum sendiri. Terlebih saat ia dikerjai oleh Rasi.

Jani mengulang ingatannya di suatu bulan ramadhan. Waktu itu Jani datang ke sekolah kesiangan. Ia masuk kelas dan semua teman-temannya sudah pergi ke masjid dan aula untuk solat duha. Rasi masuk ke kelas, ternyata ia pun terlambat datang. Usai menaruh tas, Rasi langsung berlari ke luar. Sementara Jani masih sibuk melepas sepatunya di lantai.

Tak lama, Jani pun menuju pintu kelas, tetapi ia kaget karena pintu kelas itu terkunci. Ketika menengok ke jendela, Rasi tertawa dan melambaikan tangannya. Ternyata, Rasi bilang kepada office boy sekolah yang kebetulan ada di depan kelas, kalau di kelas mereka sudah tidak ada siapa-siapa.  Jani pun memukul-mukul jendela dan meminta Rasi membukakan pintunya. Rasi masih tertawa di sana, meskipun setelah itu ia mengejar office boy yang sudah jauh di depan.

Meski menyebalkan tapi waktu itu Jani juga merasa sedikit senang.

Menginjak kelas 12, Jani dan Rasi sama-sama mendapat duduk di bangku belakang. Sehingga banyak hal baru yang Jani tau tentang Rasi. Seperti ternyata, Rasi sering bersenandung sendiri. Jani juga pernah melihat Rasi bernyanyi dengan gitar. Suaranya mampu melelehkan hati, dan lagu-lagu yang dibawanya sungguh dalam sekali, meskipun berbahasa inggris.

Kemudian Jani lebih sering memperhatikan Rasi. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun, hal tersebut tidak bisa lagi dilakukan Jani ketika mereka sudah lulus dari SMA. Sebab Rasi kuliah di luar kota.

Maka setiap kali ada kesempatan reuni, Jani merasa hatinya gelisah sendiri. Semua pertanyaan tentang Rasi menumpuk di kepalanya. Jani selalu penasaran. Jani selalu ingin tahu. Jani menjadi rindu.

Rasa sesal di dasar hati, diam tak mau pergi. Haruskah aku lari dari kenyataan ini. Pernah ku mencoba  tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti.*

~

*) Yang Terlupakan - Iwan Fals

This entry was posted in

Friday, 28 October 2016

Tasaro GK dan Tetraloginya

Source

Dua hari kemarin, saya mendatangi sebuah acara yang digelar oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Banten. Acara tersebut dihelat untuk merayakan Hari Kunjung Perpustakaan yang sebenarnya jatuh pada tanggal 14 September. Gambar pembuka di atas adalah jadwal rangkaian acaranya.

Dari beberapa acara tersebut, ada dua acara yang saya ikuti di sana. Yang pertama karena memang tak sengaja, namun yang kedua jelas sudah menyiapkan aba-aba.

Yang pertama dan tak sengaja adalah ketika saya menemani teman untuk mencari buku di dalam perpustakaan, ternyata tidak lama lagi akan dimulai acara talkshow bertema “Remaja, Internet, dan Membaca” di luar gedungnya. Jadi, sembarian saja kami mendaftar acara itu. Toh gratis, dan dapet snack dan souvenir lagi kata si Mas-mas panitianya. Kan, jadi nggak bisa nolak, ya, kalau kayak gitu mah. #halah

Tapi, talkshow tersebut memang bikin saya melek terhadap penggunaan internet, sih. Terutama dalam bermedia sosial. Ternyata ada banyak sekali kasus-kasus yang berawal dari ketidaksadaran kita sebagai pengguna. Masalah privasi di akun-akun sosial, misalnya. Atau informasi-informasi yang kita berikan, yang tanpa sadar bisa mengundang orang lain melakukan tindakan kriminal, dan sebagainya dan sebagainya. Terutama perempuan sih, dari masih bayi sampai Ibu-ibu, harus benar-benar waspada.

Yang kedua adalah acara bedah bukunya Tasaro GK. Saya sempat kaget sewaktu melihat seorang teman membagikan poster bedah buku beliau di facebook.

“Teh, itu beneran?”

Saya masih aja nanya saking nggak percayanya, padahal Tasaro GK nya ada lho dan komentar di sana. Ah, demi apa pokoknya.

Ketemu Tasaro GK adalah salah satu harapan kecil saya. Sejak membaca “Nibiru dan Ksatria Atlantis,” saya begitu terpukau dengan keajaibannya. Gila, orang macem apa dia, pikir saya. Hanya saja, enam tahun menanti kelanjutannya, kok masih nggak ada kabar juga sih, Bah? Padahal tiap tahun isu kelanjutan Nibiru selalu muncul di media.

Semakin jauh, saya dibuat ‘sangat jatuh cinta’ ketika membaca Galaksi Kinanthi. Buat saya, kisah cinta paling deep masih Ajuj dan Kinanthi juaranya. :’)

Tasaro GK dan Dee adalah dua penulis yang paling saya favoritkan. Keduanya nggak pernah main-main soal riset. Jika Dee dengan Supernova-nya, maka Tasaro dengan Muhammad-nya.

Buku Muhammad pun dibedah di mana-mana. Termasuk kemarin, di Serang.

Yang menjadi pembedah buku, kebetulan saya nggak ingat siapa namanya, membedah dengan pilihan-pilihan kata yang membuat kami, terutama saya sebagai penonton menjadi terbawa dengan suasana. Barangkali, membuat semua orang penasaran bagaimana sebenarnya proses kreatif Tasaro dalam menulis novel biografi Muhammad tersebut. Secara spekulatif, kita pasti nggak menyangkal kalau itu adalah pekerjaan yang berat. Sebab tokoh yang diambil sungguh tidak main-main. Tasaro pun bercerita bahwa beliau sempat berhenti menulis karena merasa takut dan rendah. Siapa saya menulis tentang ini, pikirnya. Namun setelah mendapatkan kekuatan dari sebuah ayat Al-Quran, ia kembali untuk melanjutkan menulis sebuah kisah sejarah yang dicampur dengan fiksi tersebut.

Lewat diskusi, Tasaro mengatakan bahwa sejarah sebenarnya sudah memberitahu kita apa yang akan terjadi ketika kita melakukan sesuatu. Karena ketika kita melakukan hal yang sama, maka kita akan mengalami hal yang sama pula. Beliau juga menuturkan tentang dua isu yang paling sering diserang, yakni perang dan poligami. Bagaimana setiap pernikahan Rasulullah berbeda sekali dengan motivasi pernikahan saat ini.

Banyak penonton yang bertanya bagaimana rahasia Tasaro bisa membalut sebuah kisah sejarah dengan fiksi semenarik dan sebagus Muhammad-dan-segala-hujannya tersebut. Sementara, beliau sendiri menjawab, “rahasianya adalah tidak ada rahasia.” Kami semua tertawa.

Tasaro menuturkan, bahwa satu hal yang perlu dipelajari oleh seorang penulis adalah kecerdasan mengoneksi. Sebab penulis juga merupakan seorang sutradara, produser, dan actor sebuah cerita dalam waktu bersamaan. Sehingga beliau mengatakan kalau penulis novel beda tipis dengan halnya orang gila. Karena mereka harus menjadi banyak orang dalam waktu yang sama dan harus konsisten.

Jadi, Abah Tasaro teh sudah kena penyakit gila stadium berapa? XD

Terakhir, Tasaro berpesan, “Cintai naskah Anda, maka akan ada banyak jalan menuju Roma.” #eaaa

Acara tersebut ditutup dengan book-signing! Nah, ini yang paling saya tunggu. Saya pun mengeluarkan buku dan langsung pasang kuda-kuda. Hiyaak!

Tiga buku milik saya, tiga buku milik Kakak saya :D

Rela berberat-berat demi untuk dapetin t(j)inta dari Tasaro GK. Hahaa. Bawa buku yang beratnya bikin takjub. Lumayan, kan, orang-orang jadi pada merhatiin saya. #haiyah

Saya pun berkesempatan foto bareng. Iya dong, Abah kan baik. *kasih emot hati*


Yang ini foto berdua aja.

kok fotonya jadi melebar gini -_-

Kalau yang ini foto sendiri.


Iya, Tasaro-nya sendiri maksudnya.

Huhuy, ganteng ya. Adakah Tasaro versi umur 20-an? XD


Senang pokoknya :D

Monday, 10 October 2016

Memilih Tempat Wisata Menarik bersama Anak-anak

source

Untuk mengisi liburan bersama anak, biasanya kita mencari tempat atau kegiatan yang akan membuat mereka belajar. Pengalaman atau experience melakukan sesuatu di luar rumah akan merangsang perkembangan otak, juga melatih panca indra yang anak-anak miliki. Nah, mumpung masih jauh dari liburan sekolah, yuk, cari tahu tujuan yang pas untuk keluarga! Jangan lupa sambil membuka situs online booking untuk hotel, ya, siapa tahu langsung dapat inspirasi dan berangkat weekend ini! Wah! Silahkan pesan sekarang.

Pertama, bisa diawali dengan mengenali anak atau keponakan maupun sepupu yang akan kita ajak berlibur. Cari tahu apa, sih, kesukaannya? Apakah menyukai satwa? Atau malah tertarik pada tumbuhan berbunga dan berbuah? Kalau sudah, langkah selanjutanya bisa dengan mencari tujuan yang sesuai dengan minat anak tersebut.

Jadi, kira-kira apa saja, sih, tempat atau kegiatan yang bisa kita lakukan bersama anak-anak?

Pergi ke tempat-tempat bersejarah

source
Di zaman sekarang, sudah banyak yang melupakan pentingnya mengetahui sejarah. Padahal, tahu asal-usul dari negara sendiri atau suatu tempat akan membuat seseorang menghargai perjuangan para pahlawan dan nantinya, merekalah yang akan menjaga peninggalan-peninggalan tersebut.

Kita bisa mengajak anak-anak ke museum, misalnya. Museum masih bisa ditemukan di kota besar dan relatif dekat serta mudah dijangkau daripada tempat seperti candi Borobudur yang berada di luar kota.

Di Jakarta, ada Museum Nasional atau sering disebut Museum Gajah yang letaknya di pusat kota. Lalu, berpindah ke Jakarta bagian utara, ada Museum Fatahilah, Museum Bank Indonesia, juga Museum Wayang yang berada di komplek Kota Tua. Kemudian ada juga tempat bersejarah lain seperti Tugu Proklamasi. Anak-anak akan banyak bertanya, barulah tugas kita adalah untuk menjawabnya. Jadi, ingat-ingat lagi yuk, apa yang sudah pernah kita baca dan pelajari! Jangan sampai anak-anak bangsa lupa pada sejarah negaranya sendiri.

Ke kebun binatang

source
Kebun binatang adalah tempat di mana anak-anak dari usia di bawah satu tahun, bisa menikmati dan belajar jenis-jenis binatang. Kita juga bisa sambil mengajarkan bagaimana binatang-binatang tersebut hidup, makan, dan berkembang biak. Dengan begitu, anak-anak akan belajar dengan cara yang menyenangkan. Ajari juga tentang kasih sayang pada binatang, ya!

Agrowisata

source

Agrowisata cocok sekali dilakukan dengan keluarga. Berwisata ke taman buah seperti Mekar Sari yang ada di Cibubur, contohnya, bisa menanamkan pengetahuan pada anak-anak tentang berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan jenis buah-buahan. Selain dengan anak atau keponakan, kita juga bisa mengajak keluarga besar untuk merasakan pengalaman memetik langsung buah-buahan dari pohonnya.

Suaka margasatwa

source
Menurunnya populasi binatang tertentu membuat banyak pihak khawatir akan kepunahan beberapa spesies. Sebut saja harimau sumatera atau badak jawa yang hanya tinggal beberapa ekor, dan bahkan hanya ada di Indonesia. Suaka margasatwa menjadi salah satu alternatif wisata yang menyenangkan untuk berlibur bersama anak-anak.

Di Pulau Serangan, Bali terdapat suaka margasatwa yang menarik, yakni konservasi penyu. Selain bisa melihat bagaimana proses penetasan dari mulai telur sampai menetas serta mengetahui jenis-jenis penyu dan kura-kura, di sana  kita juga diizinkan mengadopsi penyu untuk kita lepaskan ke lautan. Wah, bisa dibayangkan bukan, anak-anak atau keponakan kita belajar tentang penyu yang dilanjutkan melepasnya  ke laut?

Apabila ingin berwisata ke Pulau Serangan, namun kota kita berada jauh dari sana, baiknya kita mencari penginapan untuk memudahkan kita. Tentunya, penginapan yang bisa nyaman untuk keluarga. Hotel Ayodya Resort Bali yang terletak di Nusa Dua bisa menjadi pilihan. Selain lokasinya yang strategis, Ayodya Resort juga menawarkan fasilitas lengkap dengan interior dan view yang menawan. Kita bisa menghemat waktu untuk mengejar jam buka konservasi yang dimulai dari pukul 09.00-17.00 WITA, jadi anak-anak memiliki banyak kesempatan untuk belajar  sambil having fun di sana.

Masih banyak tujuan liburan yang cocok untuk anak selain empat hal tadi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membuat mereka bersenang-senang, bukan?

Saturday, 24 September 2016

Apa Kabar Kemudian

Source: favim.com

Kamu mengingat-ingat sesuatu di tahun lalu. Ketika seorang temanmu berkata sambil menunggu, “habis ini, kamu pasti nulis.” Kamu meninggikan alis sebelah kanan, lantas bertanya dalam hati ada apa gerangan.

“Kan habis ketemu.” Seperti paham kebingungan, temanmu menjelaskan. Tapi kamu masih diam.

“Aku tau. Aku suka baca lho.” Kamu sekarang sadar kalau ia sedang mengejekmu.

“Dasar ih, stalker. Nggak akan nih, liat aja.” Sudah terlanjur gengsi. Kamu harus menentang. Meskipun ketika kamu berpikir ulang, kamu ternyata membenarkan. 

Satu bulan. Dua bulan. Sepertinya sudah jauh dari waktu pertemuan. Kamu menulis kemudian. Hmm, tidak akan ketahuan, bukan?

*

Kadang, kamu merasa, keinginan menulis menjadi lebih besar ketika mendapatkan sebuah pertemuan. Barangkali apa saja. Terlebih kalau itu adalah pertemuan yang... Hmm... kalau ditakar-takar, sungguh merupakan kesempatan yang langka. Mungkin. Bisa jadi, pertemuan mampu memberikan stimulus kepadamu. Dibanding ketiadaan yang kemudian merupa menjadi kemalasan. 

Lantas kamu bisa menganggap bahwa tidak ada keinginan yang besar. Bahwa kepalamu seakan mengatakan, ”Entah. Kok nggak begitu pingin aja, ya.”

See?

Kalau diartikan, kamu memang pemalas. Tidak ingin menjadi begitu bekerja keras. Otakmu tidak mau diajak meliar ke arah lain. Di kepalamu seperti hanya ada satu. Sungguh sulit ya menjadi apa. Kini, jarimu menjelma sebagai pertanyaan-pertanyaan. Sementara sebuah layar, ia menampakkan keinginan.

*

Sudah lebih dari satu tahun. Mungkin nanti akan jadi dua tahun atau tiga tahun. Semoga kamu sudah jauh lebih baik di apa kabar kemudian. :D

---

Tidak usah dimengerti, apalagi dihayati. Kamu bukan Zainuddin. :p
This entry was posted in

Tuesday, 20 September 2016

Akademi Indonesia Kreatif (AIKA) 2016

Baca: 5 Mahasiswa AIKA Memulai Proses Belajar di Kantor Redaksi biem.co (17/08/2016)
Hmm, kok masih tetep Kabupaten Serang ya ~.~

Hmm, apakabar? Wah kayaknya lama banget ya nggak nulis. Makin ke sini, makin merasa nggak produktif, deh. *emot nunduk di whatsapp*

Saya ingin berkabar. Jadi ceritanya Sabtu lalu, tepatnya tanggal 17 September 2016, saya resmi menjadi salah satu―hmm apa ya sebutannya. Mahasiswa? Ranger?―dari Akademi Indonesia Kreatif (AIKA), setelahnya saya sebut AIKA.

Jadi, AIKA itu semacam ajang bakat yang kalau malam eliminasi suka dibawain koper, ya?

Bukan, itu mah Penghuni Terakhir.

Hmm. AFI, keles.

Saya jadi membayangkan ajang-ajang jaman dulu yang sekarang udah nggak ada. AFI, Penghuni Terakhir, sampai ke Be A Man. By the way, ada yang tau acara Be A Man, nggak? Dulu saya suka nungguin lho buat nonton acara itu. Sampai-sampai saya sering pindah nonton tv di warung nemenin Abah, karena sepi aja di rumah. Soalnya acaranya malem banget. Kadang bisa mulai jam 11 malem. Kangen Abah jadinya.

Kalau nggak tahu, Be A Man itu acara di mana semua pesertanya adalah laki-laki yang ke-perempuan-perempuanan gitu, bahasa kasarnya waria lah. Jangan salah tapi, ada yang cantik gila lho. XD

Jadi, mereka bak waria-waria yang diperkasakan lah karena sistemnya kayak pelatihan militer gitu. Kan, lucu ya, lihat banci-banci dimiliterin, alay-alay gemez geli gimanaaa gitu. Suka banyak konfliknya juga sih kayak Penghuni terakhir.

Hmm, kenapa jadi asyik bahas acara jaman dulu. Back, back, back.

Jadi, AIKA itu adalah semacam beasiswa dalam bentuk pelatihan yang diberikan Banten Muda untuk anak-anak muda yang ingin belajar dan berkiprah di bidang kreatif. Dalam hal ini, yaitu Kepenulisan, Web Developer, Desain Grafis, dan Multimedia. Hanya saja, kali ini bidang yang baru dibuka adalah Kepenulisan. Dan saya mendaftar di bidang Kepenulisan.

Untuk bisa diterima, saya harus mengikuti beberapa proses. Mulai dari mengirimkan berkas-berkas pendaftaran, kemudian seminggu setelahnya saya dihubungi lewat sms dan telepon untuk melakukan wawancara. Saya nggak tau berapa banyak yang ikut, tapi tersaringlah sebanyak 10 orang untuk melakukan wawancara.

Sumber: Panitia (10/08/2016)

Usai sesi wawancara, dikatakan bahwa kami akan dihubungi lewat telepon jika berhasil lolos. Kalau tidak ada telepon dalam waktu seminggu, artinya kami nggak lolos. Maka, sehari setelah lebaran, saat saya baru mulai tidur, ditelepon lah saya oleh panitia. Ngantuk-ngantuk gimana gitu ya jawab teleponnya :D

Sehingga, pada Sabtu lalu, mulailah saya dan keempat orang lainnya, yaitu: Putri dari Tangerang, Resti dari Pandeglang, Aldi dan Jisung dari Cilegon. Bersama mereka, tertawalah kami di Kantor Redaksi biem.co. Karena Pak Mahdi―yang jadi mentor―bikin ngakak mulu.

Pertemuan pertama dilakukan sesi perkenalan dan penandatanganan kontrak. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri dan menceritakan tentang mimpi, cita-cita, dan pengalaman hidup dari yang terbaik hingga terburuk. Kata Pak Mahdi, hal tersebut dilakukan agar bisa mengetahui karakteristik satu sama lain. Ini juga adalah upaya agar kami tahu di mana letak titik potensial kami ketika selesai pelatihan di AIKA nanti. Seperti misalnya, Jisung dan Putri yang mungkin cocok menjadi wartawan politik, Resti menjadi wartawan yang berhubungan dengan pendidikan, Aldi mungkin bisa fokus ke wartawan olahraga, dan saya sendiri katanya cocok di Human Interest-nya. Pas giliran saya malah ditanya, “Kamu ngerti maksudnya Human Interest, kan?” Hahaha.

Itu hanya opsi dari Pak Mahdi. Tentu saja nanti kami yang akan menentukan sendiri di mana nyamannya kami.

Pak Mahdi juga mengenalkan diri dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman hidupnya yang terasa berliku-liku itu. Di akhir kalimat, beliau bertanya mana bagian yang nyata dan fiksi dari cerita beliau tadi. Tapi kemudian itu jadi misteri karena kami nggak tau apakah memang ada yang fiksi dalam cerita tersebut. Sebab ceritanya meyakinkan sekali. Dan kami semua terpukau.

Setelah itu kami makan siang bersama. Dilanjut dengan sholat dzuhur. Kemudian, karena menunggu petinggi-petinggi di biem.co yang belum datang, akhirnya kami menggunakan waktu untuk download-download cantik. Sampai akhirnya Om Irvan (CEO Banten Muda) dan Kak Chogah (Pimred biem.co) datang dan memberikan petuah-petuah bermanfaat untuk kami berlima agar kami bisa mempergunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya dan seserius mungkin. Terlihat dari isi kontrak yang lumayan berat juga. Semoga dalam hal ini tidak serta merta menjadi beban untuk kami berlima, khususnya saya :')

Sumber: Panitia (17/08/2016)

Barulah kemudian sesi penandatanganan kontrak oleh Pak Mahdi dan masing-masing dari kami. Jadi, setiap hari Sabtu selama tiga bulan, kami akan dilatih teknis-teknis menulis berita, bagaimana berkomunikasi dengan narasumber, membuat daftar pertanyaan dan lain sebagainya. Selain berita, nantinya kami juga akan diajari bagaimana membuat artikel, product review, dan advertorial. Di sini, memang tidak ada sangkut-pautnya dengan sastra. Di sana, kami akan ‘digembleng’ menjadi jurnalis. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa sekali, mengingat saya dulu pernah sedikit membayangkan menjadi seorang jurnalis.

Sumber: Panitia (17/08/2016) Penandatanganan Kontrak AIKA 2016

Setelah pelatihan tiga bulan berakhir nanti, kami harus melakukan magang di biem.co selama satu tahun. Saya sendiri berharap, selama kegiatan pelatihan dan magang nanti, mudah-mudahan aktivitas kami di luar itu tidak ada yang terganggu. Mengingat kebanyakan dari kami adalah mahasiswa dan juga ada yang sedang mencari kerja. Dan saya pun lagi, ehm, skripsian *bisik-bisik*. Oh iya, by the way, ternyata kami adalah angkatan pertama di program ini. Wooho.

Doakan kami, ya.  Semoga bisa menuju puncak gemilang cahaya mengukir cita seindah asa. Menuju puncak impian di hati, bersatu janji kawan sejati. Pasti berjaya di akademi fantasi~ *malah nyanyi AFI

Terimakasih Banten Muda. Terimakasih biem.co. :))

Eh, iya, selesainya, Om Irvan langsung menanyai kami apakah hari Minggunya ada acara atau tidak. Kami diajak ikut piknik bersama keluarga Banten Muda. Cerita pikniknya menyusul aja, ya. ^_^

This entry was posted in

Monday, 1 August 2016

Merawat Keyakinan

Source


Akan ada pertanyaan di setiap kali pulang: di mana letak iman sekarang?

Aku punya banyak keraguan, terlebih ada pula banyak ketakutan. Aku tidak pernah ingin menyimpannya di mana-mana, tapi aku sendiri belum tahu apa mantra penghilang paling mujarab dari keduanya.

Setiap kali aku memikirkan sesuatu, aku juga memikirkan yang lain. Mungkin yang masih berputar-putar kuat di kepalaku sekarang adalah yang sebenarnya kekosongan. Sesungguhnya, aku tidak bisa melihat apa-apa dari sana, barangkali, memang tidak akan ada banyak juga yang terjadi. Aku pun sangat tidak ingin harapanku berundak-undak. Tapi seperti ada energi yang datang dari kekosongan itu. Aku tidak tahu apa. Tapi aku merasa sedikit punya keyakinan kalau kekosongan-kekosongan itu akan menjadi bulat dan penuh kemudian.

Sementara, ada pusaran di mana aku bisa melihat sesuatu dengan mata yang jelas. Paling tidak sedikit demi sedikit aku merasakan permainan yang menyenangkan di sana. Aku tidak perlu menunggu sebuah kata-kata hidup hanya untuk aku tahu keadaan di pusaran itu. Bagaimana kehidupan di dalamnya. Bagaimana suasana-suasana hati yang mengelilinginya. Karena pusaran itu sendiri yang kerap mendatangiku. Aku merasa sebuah kesegaran muncul. Aku banyak menerima pertanyaan, padahal seringnya akulah yang punya banyak pertanyaan. Kepada apa yang kulakukan. Kepada kekosongan. Akan tetapi, aku merasa ada keraguan dan ketakutan yang berbeda tumbuh di sana. Aku tahu apa.

Kadang aku pikir aku ingin mengungsi, tapi setelah kupikir lagi, aku juga kan tidak pernah tinggal di mana-mana sebelumnya. Jadi untuk apa, ya? Toh, sesungguhnya, yang paling aku butuhkan adalah termometer. Bukan yang hanya bisa untuk mengecek suhu tubuh, tetapi juga suhu iman. Semoga Allah selalu jadi yang pertama, ya.

Friday, 22 July 2016

Diri Sendiri; Tempat Pulang Paling Murni

Source


Setiap kali kita merasa rindu: bertemu, bicara, bercanda, tertawa, melihat, mengamati, membaca, menulis, dan nikmat-nikmat lainnya. Sebenarnya ada kenikmatan lain yang kerap lupa disadari, atau karena sesuatu itu terlalu nyempil di ujung sehingga kita―atau hanya saya― mungkin jadi nggak kepikiran, padahal efek perasaannya yang paling besar. Kenikmatan lain itu adalah diri kita sendiri. Bisa memahami diri kita sendiri sebagai manusia, bukankah itu sebuah kenikmatan yang besar? Oleh karenanya, saya rindu diri saya sendiri. I miss myself very much, don’t you?

Capek-capek kita kenalan sama orang, iseng-iseng cari tahu kesukaannya, apa yang dia cari, apa impiannya, sampai ngobrolin tentang kesukaannya. Tapi kadang kita lupa buat kenalan sama diri sendiri, bahkan nggak tahu apa yang kita sendiri sebenarnya suka, nggak tahu apa yang mau kita cari, nggak pernah ngobrol sama diri sendiri. Kamu kira, ngobrol sama diri sendiri itu kurang kerjaan, ya? Penting tahu. Asal jangan kelebihan aja. Apa-apa yang berlebih, kan, emang nggak baik, kata Rasulullah.

Gimana mau menghadapi orang lain, ya, kalau menghadapi diri sendiri pun takut.
Gimana mau membuka dan menerima perasaan orang lain, ya, kalau menghadapi perasaan sendiri aja susahnya luar biasa. Sudah setan ada di mana-mana, ditambah dengan nafsu yang memang sudah dasarnya kepunyaan manusia. Saya banget, kali, ya.

Katanya, menjadi orang dewasa itu berarti berani menghadapi perasaan sendiri dan menjalani resikonya. Saya suka merasa nggak mampu, kemudian pilihannya ya cuma lari. Lari dari kenyataan? Hoho, nggak deng, lari beneran. Sehat, kan? Saya paling suka kepala saya kalau habis dibawa lari-lari olahraga. Kayak kotoran-kotoran di kepala tuh abis disedot pake vacuum cleaner. Meski nggak bener-bener bersih, sih. Sederhananya, kepala jadi agak enteng aja, gitu. Nah, sayangnya, saya jarang olahraga. Jadi otaknya jarang bersih, deh. X")

Mengembalikan diri kita kepada seutuhnya kita adalah perkara yang mesti kita jalankan. Sama halnya seperti saya saat ini. Bukan karena saya habis amnesia lalu saya lupa siapa diri saya. Saya hanya merasa kehilangan kekuatan aja. Kehilangan energi yang setiap orang tuh sebenernya punya jumlah porsi yang sama. Hanya yang jadi beda, kita melakukan pertahanan atau membuat strategi untuk membuat jumlah porsi energi itu tetap maksimal atau tidak. Atau kita hanya terus berjalan pasrah, meski di depan kita adalah monster-monster besar yang harusnya kita tembak dengan senjata. Karena nggak ada yang kita lakukan, lama-lama energi itu akan habis sendiri, dan akhirnya kita menjadi manusia yang kalah. Game over. Knock out. Failed. Lose. Iya, kalau di game masih dikasih kesempatan buat Try again. Kalau di dunia nyata, game over artinya game over. Selanjutnya terima nasib. Neraka atau surga. Sengsara atau bahagia.

Saya kira ada banyak sekali yang perlu diperbaiki dengan diri sendiri. Dari mulai pikiran, hati, shalat, ngaji, doa, nulis, baca. Selebihnya, ya, dengan teman bicara. Siapa saja atau apa. Jendela, kursi, atau bunga di meja. Biar nggak sunyi dan menyayat seperti belati kayak puisinya Subagio Sastrowardoyo yang dinyanyiin sama Banda Neira itu. #halah

Dan cara melakukan yang perlu diperbaiki itu adalah dengan menemukannya sendiri.

Selamat melakukan perjalanan. Selamat menuju. Selamat pulang. Selamat menemukan. Selamat kembali. Karena tempat pulang paling murni adalah diri sendiri.

Dan lalu...
Rasa itu tak mungkin lagi kini. Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu. Bersamamu.

Dan lalu...
Bicara tentang rasa.
Bawa aku pulang, rindu. Segera.

Jelajahi waktu. Ke tempat berteduh hati kala biru.

Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini. Meringankan lara.
Bawa aku pulang, rindu. Bersamamu.

Dan lalu...
O, langkahku tak lagi jauh kini. Memudar biruku.
Jangan lagi pulang. Jangan lagi datang.
Jangan lagi pulang, rindu. Pergi jauh.

Dan lalu...

(Float - Pulang)

Wednesday, 13 July 2016

Pagi; Semacam Doa yang Ingin Kita Kembangkan

Source


Pagi hari dan semua yang masih sendiri.

Aku ingin bangun kali ini. Kadang-kadang, keinginan adalah teman paling lemah dari ragu-ragu. Tak lebih kuat dari malas. Tak selalu bisa mengalahkan putus asa. Katakan saja, ada sedikit lebih energi.

Aku menggelar biruku. Aku sadar kalau kepalaku sepenuh-penuhnya debu. Mungkin aku butuh kemoceng. Atau lap basah. Atau ..... seseorang? Tidak nyambung, kan? Kukira tidak selamanya kita perlu berusaha menyambung-nyambungkan. Mungkin hanya perlu ada? Cukup ada. Kukira itu dulu. Dan... urusan nanti... aku tidak tahu. “Dia mengetahui, sedang kamu tidak.” Sudah lazimnya seperti itu.

Hari ini tanpa siapa-siapa. Mungkin esok kita sudah sama-sama lupa. Mengingat dan melupakan layaknya bukan dua hal yang berbeda. Coba saja mengingat-ingat, akhirnya lupa juga. Sekeras mungkin mencoba lupa, yang ada malah semakin teringat-ingat. Hidup seperti itu memang bikin sakit kepala. Makanya, tidak usah hidup ....

seperti itu.

Hidup ini lucu sekaligus pedih. Orang-orang bisa tertawa semaunya, tapi juga bisa menangis sejadi-jadinya. Siapa ya, yang hatinya paling bolong karena luka?

Lima menit dalam biru, aku jadi tahu, kita hanya butuh menjadi perempuan dan laki-laki yang bahagia. Itu dulu. Jangan lupa. Berdoa. Dan menjadi.

This entry was posted in

Wednesday, 1 June 2016

Kuliah Kerja Nyantai

Logo 'TEAMBAKAU'


Saya mahasiswa. Eh, mahasiswi. Semester 6. Dan baru saja selesai KKN. Tapi bukan ‘Kuliah Kerja Nyata’, melainkan ‘Kuliah Kerja Nyantai’. Ehehehe.

Kenapa saya bilang ‘Kuliah Kerja Nyantai’? Karena memang kerjanya nyantai. Eh, bukan kerja sih. Pengabdian kepada masyarakat. Tapi KKN itu memang nyantai sih, namanya juga piknik. Iya, anggap aja piknik. Tidur di hotel, makan enak, pemandangan tempatnya bagus.

Serius KKN-nya gitu?

Ya nggak lah.

Aslinya, rumah yang saya dan teman-teman lain tempatin itu besar, enak, tapi suka bau kambing (terutama saat hujan) dan agak horor. Padahal ya, sejauh mata memandang, di rumah itu nggak ada kambing. Tapi kok bisa ya bau kambing? Apa mungkin sebenarnya itu bukan bau kambing, tapi bau teman-teman saya? Eh nggak ding, teman-teman saya lebih kepada bau serigala, ceunah si Porong mah. :p

For Your Info, KKN yang saya ikutin ini bukan KKN pada umumnya. Tahu lah apa maksud dari KKN pada umumnya. Mengabdi di tempat yang jauh dari jangkauan hati. Maksudnya..... Hmm... Maksudnya....

Oke. Maksudnya pelosok. Kayak rumahnya si Depi. Dih ngapain coba ya nyebut nama itu orang, nanti anaknya GR lagi. Tapi ya mau gimana, abis kalau inget pelosok ingetnya dia sih. Dasar pelosok.

Iya. Jadi.... Nggak kayak tempat-tempat KKN yang biasanya pelosok itu .. Alias susah transport, jarang ada WC, airnya jelek, nggak ada sinyal, dan sebagainya. Emang sih, nggak semua tempat pengabdian kayak gitu. Ada aja yang memang lebih beruntung, nggak segitunya. Nah, lokasi KKN kami ini sangat terjangkau. Nggak susah transport, air bersih, dan.... Deket sama kampus!

“Anjir. Lo KKN apa lagi maen? Masa disitu.”

“Dih parah, itu mah bukan KKN namanya.”

“Sumpah curang, enak bangeeeeeet.”

Dan sebagainya, dan sebagainya. Itu komentar teman-teman saya waktu saya menyebutkan lokasi saya KKN. Itu yang sebenarnya bikin saya males jawab kalau ditanya tempat KKN nya di mana. Karena pasti pada jawab begitu.

Makanya kalau ada yang nanya lagi, “Hepi, katanya lagi KKN ya? KKN di mana? Nanti mau mampir ke sana nih.”

Saya jawab aja, “Hmm.... #&*%$gafahf@^\kg”

Artinya: Ada deh.


KKN yang saya ikutin ini secara non formal bisa disebut dengan KKN Dosen. Artinya, KKN ini sebenarnya adalah project dosen (yang menjadi pembimbing), tapi yang menjalankan projectnya adalah mahasiswa. Kalau secara formal disebut dengan KKN-PPM.

Sebentar, saya nyontek dulu kepanjangannya ya.

Oh. Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat. Tapi bukan yang dari Kemenpora, melainkan dari Dikti. Jadi waktu itu saya mendaftar alasannya karena yang saya dengar kalau KKN nya cuma di weekend dan (katanya) dapet dana. Okelah gapapa saya gak punya hari libur (karena memang Senin-Jumat kuliah, sedangkan KKN Jumat-Minggu) yang penting nggak keluar biaya. Itu sih yang awalnya saya pikirkan. Karena memang kalau ikut KKN Tematik pasti keluar banyak biaya, yang artinya tabungan saya nggak akan cukup buat bayar KKN Tematik + UKT semester 7 nanti. Jadi saya membulatkan tekad untuk daftar KKN ini. Meskipun pada kenyataannya tetep wae ngeluarkeun duit. Meski nggak sebanyak yang teman-teman saya keluarin waktu KKM Mandiri sih. Ya tau sendiri lah gimana susahnya nunggu turun dana. Sampai sekarang aja belum turun semua dana yang dijanjikan. Ya, mudah-mudahan aja segera turun lah. Lumayan.

Maka jadilah dengan 36 mahasiswa. Kami mendapat tugas untuk menjalankan sebuah project yang juga menjadi program kerja utama kami, yang bertema “Pemberdayaan dan Pendidikan Anak Jalanan Usia Produktif (PANJAL-UP) Melalui Pelatihan Teknologi Sablon Kaos “Distro–BDK (Badak-Baduy-Krakatau) Untuk Membangun Kelompok Wirausaha Mandiri Berkelanjutan dan Solusi Problematika Anak Terlantar di Kota Seragon (Serang-Rangkasbitung-Cilegon)”

Panjang yak.

Nah, kenapa kami bisa mengambil lokasi yang dekat dengan kampus? Karena di kertas yang tertera hanya menyebutkan lokasi sebatas ‘Kota Serang’, tidak disebutkan tempat tujuannya. Yang ternyata setelah mencari tahu, kami memang dibebaskan mencari sendiri tempatnya. Jadi yasudah, nemu rumah yang cocok. Di sanalah kemudian kami bermukim setiap hari Jumat-Minggu.

Segampang itu? Tentu saja nggak.

Pertama, rumah yang ‘awalnya’ akan kami tempati itu ternyata bermasalah. Bukan rumahnya sih yang bermasalah, tapi mbak-mbaknya. Masa di sana kita Cuma boleh numpang tidur. Kamar yang ditempatin Cuma satu Nggak boleh ke dapur, nggak boleh ke kamar mandi. Padahal katanya awalnya oke-oke aja. Emang sih murah, tapi ya nggak gitu-gitu juga. Tapi yaa apa boleh buat kami memutuskan untuk pindah.

Akhirnya barang-barang yang udah ditaro di rumah sana dipindah setelah kita dapet rumah baru. Rumah kosong. Tanpa dihuni dua tahun. Karena kepala keluarganya meninggal. Wadidaw.

Tapi nggak sih, nggak horor. Cuma sedikit. Dan ini juga mungkin cuma saya dan satu teman lelaki saya yang menyadarinya. Kolam kamar mandi sebelah kanan selalu kosong kalau didatengin lagi. Padahal pas ditinggal penuh. Yang di sebelah aja penuh. Saya menyadarinya waktu saya ada di kamar mandi itu. Sampai-sampai saya nggak jadi ngapa-ngapain di kamar mandi, malah bengong. Terus nyari lubang ke sekitar kolam. Masa iya bocor? Dan memang nggak ada lubang. Akhirnya saya malah langsung lari keluar dari kamar mandi itu. Bego. Haha.

Tapi nggak tahu sih, firasat saya aja kali ya itu mah.

Kedua, kumpul fullteam 36 orang? Mustahil. Setengahnya aja udah syukur. Dari pembukaan bahkan sampai penutupan belum pernah kumpul fullteam sama sekali. Malah ada satu orang yang nggak pernah dateng. Padahal di grup line ada. Serius deh. Aneh ya? KKN macam apa ini -_-

Ketiga, super wacana. Ini yang jadi masalah. Karena tempat KKN nya dekat kampus. Yang artinya nggak jauh-jauh banget dari kosan masing-masing (buat yang ngekos. Buat yang nggak ya mamam lu). Pada pulang-pulangan mulu. Mau mandi, pulang. Mau tidur, pulang. Mau poop doang aja pulang. Masalahnya saya nggak bisa kayak gitu. Habis waktu dan biaya men. Jarak dari kampus ke rumah saya itu butuh satu jam, pulang-pergi 20 ribu. Bayangin aje. Jadi mau nggak mau, yang tinggal di daerah Cilegon ya ngurung wae di basecamp. Sampai waktunya pulang. Nah yang pada pulang-pulangan ini. Janji balik lagi jam 10 pagi. Jam 12 sama sekali belum ada yang dateng. Janji rapat jam 7 malem, jam 9 malem baru mulai. Dasar permen mentos.

Ya gitu lah pokona mah. Capek juga yak ngetiknya. Udahan lah. Seneng kok tapinya punya temen-temen baru. Nambah kenalan. Malah ada yang jadian juga kok. Bahahaha.

Makasih ya teman-teman TEAMBAKAU! Muah-muah dah semuanya.



Basecamp TEAMBAKAU
Bye basecamp~

Oh iya, by the way, proker kite masuk di Banten Headline. Klik deh.

Serang, 1 Juni 2016
This entry was posted in

Thursday, 19 May 2016

Kata-kata dan Kepala yang Sudah Lama Tak Ada Isinya

Sumber gambar


Segelas kopi.  Sebuah notebook di depan mata.  Dan kepala yang sudah lama tak ada isinya.

Hari-hari, lama tak benar-benar jadi hari. Senin-Minggu melulu, tak sampai juga kepadamu kabar baru. Seluruh tubuhmu yang hidup adalah kekuatan-kekuatan kosong yang diciptakan sendiri. Tak ada masalalu. Tak ada dirimu. Tak ada kata-kata, perihal yang membuatmu lebih putus asa.

Kamu ingin memainkan jari-jari panjangmu. Tapi tiada bisa kamu menembus putihnya yang lebih dulu memakimu. Berkata, tak usah pura-pura punya cerita. Basi! Seluruhnya sudah basi! Kendati demikian, penamu malah dipatahkannya dan layarmu mendadak mati. Kemudian kamu datang kembali sebagai seorang putri tidur. Kamu jatuh... Lelap... Dan imajimu, tetap saja tiada. Bodoh. Bahkan di alam bawah sadar, kamu tak bisa menemukan siapa-siapa. Kamu tidak pula mendapatkan apa-apa.

“Mungkin, seharusnya kamu sudah mati sekarang ini.” Kertas putihmu bicara sekali lagi. Dengan nada lebih pelan kali ini. Tapi tetap .... menyakiti.

Udara dan sepi, mungkin pulang ke kampungnya. Keduanya teman bicara paling juara. Tetapi mereka pun minta cuti untuk tidak menemani. Kemudian malam menjadi lebih pengap dari biasanya. Dan ruangan ini, kamu seringkali hanya meninggalkan debu dan sampah saja. Katamu, kamu muak kepada hampa. Sementara isi ruangan ini seluruhnya muak kepadamu. Tak ada yang bahagia. Kamu atau benda-benda di sekelilingmu. Semuanya saling berbalik, memilih jalan pergi sendiri. Kamu tahu untuk apa?

“Apa arti bahagia?”

“Bertemu dengannya tiba-tiba.”

“Meski tidak lama?”

“Meski tidak lama.”

“Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah bertemu?”

“Tidak ada.”

“Lantas, untuk apa kesempatan itu ada?”

“Untuk mengharap kesempatan-kesempatan lainnya ada.”

Semuanya saling berbalik, memilih jalan pergi sendiri. Kamu tahu untuk apa?
Untuk mengembalikanmu yang sudah hampir gila.

260. Setidaknya, masih ada yang bisa orang lain baca. Tidak peduli seberapa basinya.

This entry was posted in

Friday, 6 May 2016

World Book Day 2016

Pendopo Rumah Dunia
23 April adalah hari yang istimewa bagi setiap penggiat literasi di seluruh dunia, sebab tanggal tersebut diperingati sebagai hari buku sedunia atau world book day. Dan 23 April 2016 memang sudah tertinggal jauh dari hari ini, namun rasanya sayang sekali kalau saya tidak menulis tentang hari tersebut. Meski rasanya sudah hambar dan basi, saya tak peduli. Biarkan saya menulis agar blog ini tidak hampa dan sepi. Halah.

Kali pertama saya tahu dan merasakan momen World Book Day adalah setahun yang lalu, ketika saya masih belajar di Majelis Puisi dan Kelas Menulis Rumah Dunia. Di mana tahun tersebut pula saya pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang 'nyentrik' itu. Tahun lalu, pada perayaan World Book Day 2015, Rumah Dunia--yang seingat saya--menerbitkan tiga buku; antologi puisi, antologi cerpen, dan antologi essai, Semua karya-karya tersebut ditulis oleh beberapa alumnus Rumah Dunia. Saya sendiri ikut menulis untuk antologi puisi, meski waktu itu saya belum jadi alumni. Buku tersebut pernah saya posting di sini.

Sementara tahun ini--maksud saya 23 April lalu--Rumah Dunia membuat perayaan World Book Day menjadi lebih luar biasa dibanding tahun sebelumnya. Ada 53 buku yang dilaunching di hari tersebut. Gol A Gong--atau kami biasa memanggilnya Mas Gong--berkata, bahwa ini adalah sebuah rekor dunia. Dan acara ini tak mungkin terselenggara tanpa kerja keras Mas Gong dan para relawan hebatnya. Tak ketinggalan para penulis buku juga tentunya.

Di tahun ini, saya ikut berpartisipasi dalam antologi cerpen angkatan. Begini penampakannya:

Cover buku "Bermain di Ranting Waktu"
Buku "Bermain di Ranting Waktu" di antara buku-buku yang dijual. Tapi itu punya saya, karena sisanya udah sold out :p
*gaya*
World Book Day 2016 di Rumah Dunia berlangsung pukul 08.00 - 23.00. Paginya adalah lomba menulis untuk tingkat sekolah. Siang harinya adalah launching buku dan diskusi film. Sedang malam harinya adalah pentas seni. Saya sendiri baru datang pukul 14.30 tepat ketika teman-teman angkatan saya di atas panggung Auditorium untuk membicarakan tentang antologi cerpen kami. Saya hanya senyum-senyum melihat mereka dari depan pintu. Mau masuk ke dalam sudah tak ada jalan. Semua kursi, bahkan tangganya saja penuh. Banget. Luar biasa. Akhirnya saya bersama satu teman saya nyempil lesehan di depan panggung heuheu.

Beberapa penulis yang saya ambil gambarnya:

Bang Rudi Rustiadi, penulis buku "Tur Literasi"

Teh Gita Rizki, penulis buku "Yakin (Masih) Mau Pacaran?"

Bang Hilman Sutedja, penulis buku "Lege"

Kak Ade Ubaidil, penulis buku "Mbah Sjukur"
Selain launching buku, terdapat pula diskusi mengenai film terbaru yang baru saja tanggal 4 Mei kemarin tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Judul film tersebut yaitu MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta). Ternyata dan tak disangka, sutradara film tersebut adalah orang Banten. Salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Serang. Baru menjadi sutradara, garapannya sudah film nasional. Daebak.

Diskusi Film "MARS" bersama Om John de Rantau (Sutradara), Mas Gong (Penulis), dan Mas Sahrul Gibran (Sutradara)
Diskusi ini dimulai dari perjalanan seorang Sahrul Gibran menjadi sutradara. Kemudian ia bercerita bagaimana ketika diusir dari kosan karena tak mampu bayar, bekerja serabutan di perusahaan, sampai ia nekat merantau ke Jakarta. Tujuannya hanyalah satu. Menggapai mimpi gilanya menjadi seorang sutradara. Namun setiap jalan yang ia tempuh tak selalu mulus. Bahkan di tengah jalan, ketika mimpinya sudah mulai terjamah, ia sempat menyerah pada kegilaannya ketika ayahnya meninggal. Sebab satu hal, apa yang diperjuangkannya selama ini, tak lain dan tak bukan demi untuk ayahnya seorang. Barangkali, hidup yang kita jalani memang seperti itu. Kadang-kadang, alasan terbesar dan terkuat bagi kita meraih sesuatu bukanlah karena diri sendiri, melainkan karena orang lain. Tapi, akhirnya ia mampu mencapai titik semangat itu kembali. Berkat nasihat-nasihat dari om John de Rantau. Lalu bercerita pulalah, om John. Tentang Sahrul Gibran, tentang film MARS, tentang rumah dunia, buku, dan film. Awalnya saya tidak tahu siapa John de Rantau ini. Ternyata beliau adalah sutradara maestro di Indonesia. Sudah ratusa npenghargaan diraihnya. Pernah nonton film "Denias: Senandung di Atas Awan" ? Nah, beliau inilah sutradaranya. :o

Ada kata-kata yang masih saya ingat dari om John de Rantau kemarin, yakni: "Bahwa dunia ini diciptakan oleh orang-orang gila. Setiap orang bisa menulis, namun hanya yang gilalah yang bisa membuatnya menjadi luar biasa."

Saya dan Om John, di antara remang-remang cahaya Auditorium Rumah Dunia
(Saya baru sadar, harusnya om John yang saya minta pegang buku itu. Hahaha)
Kata Mas Gong, peluncuran 53 buku kemarin sudah tinggal kenangan. Sudah menjadi sejarah. Namun tahun depan, rekor baru akan dimunculkan. Launching 100 buku pada World Book Day 2017. Tuh, Hep... Nulis, Hep. Jangan malas.

Sudah, ya. Salam Literasi ^-^