Saturday, 13 February 2016

Dari Pantun Jadi Domain



Awal Tahun 2015, saya pernah mengikuti project menulis #1Day1Dream yang diadakan oleh Komunitas Kancut Keblenger, dan salah satu yang pernah saya tulis adalah saya kepingin banget pake domain. Sebenarnya sih mau pake domain atau nggak sama saja, mungkin terlihat lebih gaya saja. Alamat blog juga bisa jadi lebih pendek, dan kemungkinan lebih gampang diingat juga. Begitu sih dari yang pernah saya baca.

Tapi belum kesampean :p

Kemarin, waktu saya buka handphone, saya agak penasaran karena melihat ada banyak (nggak banyak-banyak banget sih) notifikasi dari Twitter. Jarang-jarang langsung banyak mention gitu soalnya. Ternyata ada beberapa mention, retweet, dan like dari @blogfam dan Mbak @lischantik. Waktu saya telusurin sampai mention terbaru yang paling bawah, saya mendapatkan ucapan selamat karena telah mendapatkan domain gratis dari @blogfam. Begini penampakannya:


Sumber gambar: @blogfam


Kok bisa? Nah, itu pertanyaan saya pada awalnya. Kemudian barulah saya teringat dengan pantun yang pernah saya tweet di ulang tahun @blogfam yang ke-12 pada 6 Desember 2015 lalu. Saya ingat karena sebelumnya, @blogfam memberikan like di pantun itu. Iya, waktu itu @blogfam mengadakan lomba pantun dan saya ikutan. Tapi waktu itu saya nggak tahu hadiahnya apa, ikutan saja. Yaa, nggak nyangka sih jadinya menang dan akhirnya dapat domain gratis (setahun). Terimakasih, Blogfam ^-^


Itulah alamat domain yang saya pilih.

Kenapa riangriang? Sebenarnya saya terinspirasi dari dua hal. Yang pertama, gara-gara saya baca Teman Imaji karya Mutia Prawitasari, di sana ada tokoh bernama Kica dan sering dipanggil kica-kica yang artinya kunang-kunang. Kica ini dibuatkan website oleh Banyu dengan nama kicakica.com. Saya suka aja namanya, kicakica. Yang kedua, saya suka nama studio yang sedang dirintis oleh Masgun alias Kurniawan Gunadi (Penulis Hujan Matahari). Nama studionya adalah Langitlangit Creative. Gara-gara kicakica dan langitlangit, akhirnya saya mencari nama unik yang bisa diulang seperti dua nama tadi. Karena nama saya Happy, akhirnya saya kepikiran untuk mencari padanan nama yang punya kesamaan arti. Ketemulah saya nama riang, yang artinya juga senang, bahagia. Maka jadilah riangriang. Sebelumnya, nama ini pernah saya coba gunakan di akun tumblr. Dan kelihatannya sih lucu, unik (Menurut saya. Kalau menurut kamu nggak, ya rapopo :p ). Tapi nggak lama, akun tumblr tersebut akhirnya saya ubah lagi seperti username yang sering saya pakai yaitu heppiemovic.

Waktu saya ditanya Om Bisot (yang mengurusi pembelian domain saya) mengenai nama domain, saya akhirnya terpikir lagi menggunakan nama riangriang. Tapi sebelumnya, saya nanya dulu sama pakar per-blog-an (yang saya ganggu malem-malem cuma buat nanya soal blog, yang namanya juga dirahasiakan :p).

"www.riangriang.com
bagus nggak?"

"Bagus."

"Oke."

Iya, gitu aja cukup kok. Yang penting ada yang bilang bagus. XD

Dan lahirlah domain beralamat www.riangriang.com yang dibantu oleh Om Bisot. Terimakasih Om Bisot, Blogfam, Kak Salman, dan semuanya. Terimakasih banyak banyak banyak :)))
Semoga domain ini berumur panjang ya :D

Selamat ulang tahun lagi, Blogfam. Semoga Blogfam jaya selalu. Merdeka! Yeay. ^-^


Happy Hawra

Wednesday, 10 February 2016

Manakala Babi-babi Menghidu Rasa

Sumber gambar


Pada sepat hampa, kita berterus terang
soal masa. Merah jambu yang dihidupkan
raga. Sesungguhnya, tak butuh kita timpa.

Selepas seloka, bertubi-tubi kita tulis riwayat
kopi. Mereka yang kehilangan cemasnya, kelak
akan mati dihujani pahit sendiri.

Sesekali, pun kita perlu rayakan puisi. Kau kira
babi-babi sudi melumuri dirinya sendiri? Tidak
dengan kita, gemar memukat air mata.

Kelak, akan kita ajari babi-babi itu menghidu rasa;
rindu, pilu, sampai mereka luka. Hingga tak ada
cara lain menjadi dingin, kecuali jatuh cinta.

Februari 2016


Puisi ini ditulis dalam rangka  mengikuti #NulisBarengAlumni Kampus Fiksi dengan tema 'Babi'

Sunday, 7 February 2016

Yang Diam dan Sembunyi

Sumber gambar


Bagaimana bila kamu mencintai yang memilih diam dan sembunyi.

Di antara laki-laki yang pernah mendatangimu, kamu lebih memilihnya. Yang bahkan kamu sendiri tidak pernah tahu apakah dalam hatinya--dia juga memilihmu. Tapi kamu tahu, setelah kamu menelusuri ke dalam matanya, ke dasar hatinya, ada sesuatu yang menjadi alasanmu ingin sekali lebih sering bertemu dengannya. Sebab setiap kali melihatnya, kamu merasakan gempa bumi pribadi menjalar hebat dalam dadamu.

Kamu biasa saja waktu orang bilang ia juara sejagat raya. Tapi kamu tidak biasa saat sedang 'khusyuk' mendengarkan suaranya. Kamu begitu mencintai suasana dalam dirinya ketika menyanyikan nada. Sesederhana itu kamu menyukainya. Tapi itu bukan apa-apa, karena kamu sepertinya memang mulai mencintainya. Ya, kamu mencintai apa-apa yang ada dalam dirinya. Padahal kamu belum tahu, ia mencintai apa-apa yang ada dalam dirimu atau tidak.

Bagimu, dia adalah penyepi. Yang paling ahli menyembunyikan hati. Paling tabah mengendalikan diri. Sementara kamu sendiri adalah yang paling sempurna menanti-nanti. Tapi kamu sangat percaya bahwa 'diam tidak melulu soal kepecundangan.' (*)

Kamu sekali lagi percaya, 'bahwa mencintai bukan hanya soal waktu, soal keberanian, atau soal kesempatan. Namun, soal keimanan dan ketakwaan.' (**)

Kamu ikhlas menunggu, tanpa paham batas waktu.


Happy Hawra

(*) Azhar Nurun Ala, dalam "Jatuh"
(**) Kurniawan Gunadi, dalam "Hujan Matahari"


Ditulis untuk #NulisBarengAlumni Kampus Fiksi dengan tema Ikhlas.

Friday, 5 February 2016

Alien Kampus Fiksi 15

19 Alien KF15


Kalau tulisan pertama adalah versi serius. Maka tulisan kedua ini adalah versi yang paling seriusnya. (Serius membuka aib maksudnya. Jangan husnudzan dulu makanya).

Ini adalah 18 paket UN yang telah disebutkan pada postingan sebelumnya. Tapi  tampang tante-tante kayak mereka udah nggak pantes lagi diingatkan perkara UN. Jadi sebut saja mereka 18 alien KF15

Mentari Puteri Utami. Alias Puput. Alias Putri nomor 1 dari Kerajaan Ala-ala.
Mbakput ini berasal dari Mojokerto. Ngomong-ngomong soal Mbakput, Mbakput ini hidupnya dangdut banget. Terus totalitas kalau soal teknik menulis dan peragain adegan-adegan dalam film maupun cerpen. Gayanya itu lho. Nggak nahan..

Tapi orangnya kocak kok. Heboh. Baik sekali telah merelakan dua gantungannya dicuri swiper-swiper cantik. Tau lah siapa swiper-swiper cantik itu ;)))

Oh iya, Mbakput ini juragan warnet di Mojokerto. Cerita unik di warnet Mbak Puput. Katanya, warnet Mbakput itu adalah patokan rumah-rumah tetangganya yang dapet kiriman paket. Nggak jarang juga ada paket-paket aneh yang nyasar di warnet Mbakput. Kayak misalnya dua pasang obat kuat. Setelah ditelusuri, ternyata tetangganya tanpa bilang-bilang menggunakan namanya untuk pesan obat kuat itu. Hanjir... kocak sekali....

Katanya juragan warnet. Tapi bedak, cream, lipstick, sampe deodoran semuanya minta. Juragan macam apa itu!


Devi Liandani. Penggangu tidur kedua di malam pertama setelah Mbakput. Musuh besar di KampusFiksi15. Dan sampai sekarang kita belum baikan. Devi alias si Teteh ini yang paling rajin di kamar. Rajin apa coba? Rajin mulungin sendok-sendok makan. Di tasnya (atau yang Mbak Banin sebut dengan lemari) ada satu kardus makan yang kalau dibuka isinya sendok-sendok bekas anak-anak makan. Nggak ngerti deh pokoknya sama si Teteh yang satu ini.

Devi ini yang selalu merayakan hari jadi dengan pacarnya yang dipanggil Bebi. Dari hari ke-567 sampai hari ke-1000, dia nggak akan lupa.

"Ada kisah sedih selama di mobil tadi."
"Apa? Mas Reza sama Mas Kiki kentut di mobil?"
"Aku dikira 26 tahun sama Mas Reza masa."

Terimakasih Mas Reza, aku jadi bahagia.

Teh, kamu kapan paketin jaketku? XD

FYI. Saya, Devi, dan Mbakput ini adalah penganut mazhab suudzhan dan aliran fitnah. Mbakput kalau kehilangan sesuatu, di pikiran buruknya cuma ada dua pilihan. Kalau bukan ulah Devi, ya ulah Hepi. Kalau bukan ulah Hepi, ya ulah Devi. Nggak ada lagi yang bisa dicurigai. Padahal sebenarnya, Mbak Puput itu cuma lupa naro.

Hal yang sama pun dirasakan saya dan Devi. Kalau Devi kehilangan tupperware, matanya langsung melirik tajam ke arah saya. Dan saya cuma bisa ketawa. Karena di pikiran buruknya Devi, kalau ada barangnya yang hilang cuma ada satu pilihan. Kalau bukan ulah Hepi, ya ulah Hepi. Nggak ada lagi. Padahal sebenernya, Devi itu lupa naro tupperwarenya.

Saya juga sama, waktu saya nggak menemukan HP di kamar. Mata saya langsung melirik Devi. Karena di pikiran buruk saya, kalau ada barang saya yang hilang cuma ada satu pilihan. Kalau bukan ulah Devi, ya ulah Devi. Nggak ada lagi. Padahal sebenernya, HP saya itu keselip di antara rongga-rongga kasur.  XD

Ya, begitulah kehidupan para penganut mazhab suudzhan. Pikirannya tidak pernah positif.


Emma Lini Rizky, asli Surabaya. Pengganggu tidur ketiga di siang hari yang indah. Ups.
Karena wajahnya yang cinaable itu, kami sekamar sepakat memanggilnya dengan sebutan Aling. Aling ini masih semester 2, perempuan paling muda di antara tante-tante yang ada. Sehingga Aling ini adalah yang paling dilindungi sejagat raya KF. Ia juga aset berharga di kamar candi. Karena kejujuran dan kepolosannya, semua orang jadi gemes sama Aling. Termasuk Pak Edi dan segenap tim Kampus Fiksi.

Sebercanda apapun orang-orang, Aling akan tetap menanggapinya dengan serius. Makanya, Mbak Nabil, penghuni kamar blok sebelah yang juga asli Surabaya selalu mengkhawatirkan Aling yang satu kamar dengan manusia-manusia seperti saya dan Devi. Padahal ya, di kamar itu jumlahnya delapan orang, tapi yang dicurigai Mbak Nabil bisa mengusik jalan hidup Aling cuma kami berdua. Nggak ngerti lagi sama jalan pikirannya Mbak Nabil -_-
Mbak Nabil nggak tau sih, kalau kita nggak akan jadi tidur kalau Aling belum dapet tidur (dengan sebelumnya kita sudah ambil posisi tidur duluan)

"Aling... kamu bisa bahasa Mandarin? Kalau bahasa Mandarinnya Devi cantik apa?"
"Wah... itu sulit kakak. Aku nggak bisa jawabnya."

Di situ saya ngakak bahagia.


Siti Nur Banin, asal dari Tuban. Setelah ngobrol-ngobrol bersama di kamar, ternyata Mbaknin seorang calon ibu muda yang tengah mengandung bayinya yang berusia tiga bulan. Ini twist pertama di Kampus Fiksi 15.

Terus Mbak Banin cerita banyak tentang awal mula kisah cinta dengan suaminya yang bertemu di sebuah pertandingan catur. Singkat cerita, empat tahun kemudian, Mbaknin dan suaminya menikah.

"Nama saya Banin, kalau kalian mengerti bahasa Arab, Banin itu artinya laki-laki. Kisahnya panjang kalau saya menceritakan kenapa saya diberi nama Banin padahal saya ini perempuan."

"Sebenarnya saya ini adalah peserta Kampus Fiksi angkatan 18. Tapi karena saya terlanjur dihamili oleh suami saya, maka saya meminta Mbak Ve agar bisa memajukan saya di angkatan sebelumnya. Karena takut bayinya keburu berojol dan saya tidak sempat mengikuti ajang Kampus Fiksi ini."

Asli. Antara ngakak dan geli denger Mbak Banin ngomong begitu.

Yang lucu juga adalah ketika Mbak Ve berdiri di samping Mbak Banin dan membandingkan perut mereka berdua sambil ngomong sendiri. "Ini hamil. Ini nggak hamil. Logikanya tuh di manaaa?

Satu pesan buat Mbak Banin, kami tidak akan melupakan cerita tentang semut Edi, semut Ve, dan semut Wahyu mu itu.


Meilanny. Asli dari Tangerang. Waktu saya bilang kalau saya orang Serang, Mbakmel langsung antusias.
"Wah, iya? Kamu Serangnya di mana? Dulu aku juga tinggal di Serang." Dan ternyata Mbakmel ini alumni Prisma pada masanya.

Dan twist selanjutnya adalaaaaah.......

Mbakmel adalah ibu-ibu dengan dua orang anak! Anak pertamanya sudah kelas 6 SD. Padahal sebelumnya saya berpikir kalau yang setiap hari telepon dan kirim-kiriman voice note  itu adalah pacarnya, tapi ternyata suaminya! Karena dari mukanya saya percaya kalau Mbakmel ini bahkan umurnya belum sampai 30 tahun. Ternyata umurnya 34! Kamu awet muda sekali. Mbak. Dan semua ini baru terbongkar saat malam penutupan KF15. GILS GILS GILS....

Dan terbongkar juga kalau ternyata Mbakmel ini adalah artis media sosial yang merangkap jadi admin dari KOBIMO (Kelas belajar menulis online, kalau tidak salah). Mbakput, Devi, dan Mbaknin nggak percaya kalau orang yang selama ini mereka tau ada di depannya. Sebenernya saya roaming bagian ini.

Terus gara-gara Mbakmel mengakui keartisannya, kami sekamar jadi saling mencurigai satu sama lain. Jangan-jangan di antara kami, salah satunya adalah Ilana Tan! OH JADI INI TWIST TERBESAR DI JAGAT RAYA KF15? SALAH SATU PESERTA KF 15 ADALAH ILANA TAN?

Riska Dwi Agustin. Asal Magetan. Mbak Riska ini umurnya 24 tahun, padahal saya kira nggak jauh beda sama saya. Mbak Riska ini yang paling lama kalau ngaca. Sebelum keluar kamar, ngaca. Masuk kamar lagi, ngaca. Nggak ngerti sama jalan pikiran si kaca.

"Saya lebih suka dipanggil Riska Suratno karena saya mengagumi Bapak saya..." Hmm. Ini twistnya di bagian mana ya, Mbak? *dipecut*

Jadi gimana, Mbak? Udah bisa liat candi dari jendela? Kalau belum, belajar lagi untuk membuka mata batinmu.


Mitri Komalasari. Yang lagi ngekos di Jogjakarta. Mbak Mitri iki kayaknya suka sama yang berbau-bau Jepang. Dari gantungan sampe baju ala-ala Jepang. Katanya juga kerja di tempat ramen. Tapi kok herannya nggak pernah sih Mbak Mitri nawarin makan ramen di tempatnya? Mbak Mitri iki canggih, soalnya kuliah di jurusan Sistem Informasi.


Nabilah JKT48. E maksud saya Nabila Azzahra Syahbani (Namamu berat banget kayaknya ya, Mbak. Seberat hatimu melangkah ke jenjang walimah). #dipecutmbaknabil (Sumpah Mbaaak, aku bercandaaaa)

Mbak Nabil asli Surabaya. Mbak Nabil adalah orang yang paling-paling-paling ditunggu sama penghuni awal kamar candi. Jadi, saking gabutnya nungguin peserta lain yang nggak dateng-dateng, kita yang udah dateng ini sampai download jam penjemputan peserta. Di jadwal penjemputan, setelah Aling, peserta yang akan datang ke asrama adalah Mbak Nabil. Makanya kita sampe latihan menyapa peserta yang bakal jadi penghuni kamar candi dengan memakai nama Nabila. "Kamu pasti Nabila ya. Kita udah tau kalau kamu Nabila. Udah ngaku aja." Tapi semua itu palsu. Nabila nggak pernah datang sampai kamar candi penuh.

Dan yang namanya Nabila itu baru dateng waktu mau magrib. Cewa!

Oh iya, saya sama Devi adalah yang-paling-sering-banget bohongin Mbak Nabil. Kata Mbak Nabil, muka kami berdua ini susah untuk dibedakan ketika lagi bercanda atau lagi serius. Makanya, setiap kami mengungkapkan suatu fakta, Mbak Nabil akan tanya siapapun di sebelahnya untuk memastikan bahwa apa yang kami katakan adalah sebuah kebenaran. Bener-bener heran sama jalan pikiran Mbak yang satu ini.

*banyak dosa sama Mbak Nabil* *sungkem sama Mbak Nabil*

Tapi aku ngefans sama kamu kok, Mbak. Serius. Aku sayang Mbak Nabil. Titik dua bintang kecil di langit yang biru pokoknya!


Ika Dewi Vihara B.S (Belum Selesai). Asal dari Kediri. Mbak Ika iki adalah Ibu Negara di KF15. Teman setia memakan twister yang keburu umes. Mbak Ika ini yang paling nggak terima kalau Agus Mulyadi jadi bintang tamu di acara KF15. Katanya, nggak ada yang lebih ganteng lagi apa?
Nggak ngerti sama Buneg ini, sukanya ngomong pake bahasa jawa. Tapi rata-rata memang peserta banyak yang menggunakan bahasa jawa kalau ngobrol. Saya mah apa, hanya bisa meng-amin-kannya saja. Oh iya, terima kasih loh Mbak udah ngasih link buat belajar bahasa Korea. Yeay~


Ervina Maulidah Khabib. Asli dari Temanggung tapi KTP Solo. Mbak Vivin ini sang pakar kecantikan. Suka nggak mau diganggu siapa-siapa kalau lagi selfie.

"Eh,minggir-minggir. Jangan pada ganggu ya... Hari ini aku belum selfie soalnya." Dan semuanya diusir nggak boleh ikutan foto -_-

Nggak ngerti sama jalan pikiran hpnya Mbak Vivin.

Setelah ngobrol sama Mbak Vivin, ternyata beliau ini kerja di penerbitan sebagai editor non fiksi. Kata Devi, cerpennya Mbak Vivin itu keren banget.


Nani Susiani. Asal dari Sleman. Ketua suku paling preman di KF15. Kalau gambar, bisa keren banget. Nggak ngerti lagi sama tangannya Mbak Vroh ini.

"Mbak, kamu kok bisa dipanggil Vroh sih? Ceritanya kayak gimana?"
"Jadi, anjing-anjing yang di depan itu....bla bla bla bla.... suka bunyi guk guk guk guk..... terus..... vroh vroh vroh."
"Oh......."

Aslinya waktu itu saya nggak bisa mencerna apa yang dikatakan sama Mbak Vroh. Maka jadilah percakapan di atas.


Putri Fajri Pratiwi. Asal dari Planet Bekasi. Putri nomor 3 dari Kerajaan Ala-ala yang dipanggil Uti. Mbak Uti ini yang menyebar isu per-grup-whatsapaan. Katanya, saya udah bikin grup whatsapp buat KF15. Padahal kan emang udah. Eh... belum. Kemarin Mbak Uti ini mengakui kalau dirinya adalah mahasiswa semester 12. *pukpuk hangat mbak uti*


Putri Utami Rahmania. Dari Bandung tapi Asal Aceh. Putri nomor 2 dari Kerajaan Ala-ala yang berhasil memperjuangkan namanya sebagai Putri yang dipanggil Putri. Kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan Unpad. Sedang dalam proses mengakhiri masa lajangnya kuliahnya. Semua akun medsosnya bernama putrikuputrimu (Mbak, aku udah promote sosmedmu. Jangan lupa royaltinya ya)


Sri Suwarni Yuliatiningsih. Asal dari Yogyakarta. Peserta yang paling awet duduk sama Massukin. Katanya, mereka seperti sedang berada dalam sidang perceraian. Nining adalah yang pernah protes karena dipanggil Mbak. Soalnya kata Nining, kita itu seumuran.


Zahrotunnisa. Asal Banyumas. Pokoknya yang paling teringat dari Jahroh ini adalah gelas besarnya yang sering dibawa kemana-mana.


Sukindar. Alias Massukin dari Gunung Kidul. Kalau denger Gunung Kidul, saya itu teringat sama Tasaro GK. Massukin, kamu tau Tasaro GK nggak? Tepuk tangan yang gemuruh untuk puisi dari Massukin di malam penutupan KF15 kemarin.

Oh iya, Mas. Kayaknya kamu lebih cocok dipanggil Tante Sukin deh. #input


Sayyid Mustofa Herlan. Asli dari Cirebon. Kuliah di UIN Bandung. Waktu saya tanya, "Kamu  kuliah di UIN Bandung? Kenal si ini nggak?"
"Nggak."
"Kalau si ini?"
"Nggak."
"Kalau si itu?"
"Nggak juga."
Jadi kamu kenalnya siapa sih? Untung nggak jadi nanya, takutnya nanti Dedek Iid (begitu yang lain memanggilnya) bilang lagi kalau hidupnya flat flat saja. Dedek-dedek-annya Mbak Banin di KF15.

Eka Restu Anggraeni. Asli Gresik. Twist selanjutnya adalah saya baru tau kalau ternyata Mbak Eka ini sedang hamil juga. Dan baru tau juga kalau cowok yang suka bergabung di antara kita adalah suaminya -.-

Saya termasuk follower instagramnya Mbak Eka. Dan beliau suka posting-posting jualannya. Entahlah jualan apa.

Paket ID Diamond

Diamond 1
1 Nano Spray Versi 3 + 3 box So Shin
Rp. 3.650.000

Diamond 2
1 Magic Stick + 1 Pendant Aura + 1 box So Shin
Rp. 2.950.000

Waktu liat kata diamond dan pendant aura, saya kira Mbak Eka ini lagi jualan seperangkat alat get rich. -_-

*

Gimana ya, kayak yang masih kerasa hampa-hampa gitu pulang dari Jogja. Padahal baru 3 hari kenal kalian, tapi udah rindu aja. *ketika hepi mulai baper*

Mari kita saling mengenal lagi tante-tante yang baik hatinya. Tapi kalau udah kenal jangan ilfeel ya. *tutup mata*

Salam MPC ya!
*btw gimana sih awal mula tercipta MPC ini?* Maafkan saya kurang gaul soalnya.

~

Happy Hawra

Thursday, 4 February 2016

Kampus Fiksi: Bukan Dangdut Academy

Peserta Kampus Fiksi 15 bersama Pal Edi Akhiles, tim Divapress, dan Alumni KF
Menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman. - Kampus Fiksi

Pernahkah pada suatu hari, kamu mendengar tentang Kampus Fiksi? Barangkali membacanya lewat tulisan siapa saja yang kamu jumpai. Bagi yang belum pernah mendengar cerita Kampus Fiksi, silahkan mengikhlaskan hati untuk membaca tulisan ini. Bagi yang sudah pernah merasakannya, silahkan juga membacanya. Boleh pakai ikhlas, boleh juga tidak. Pakai apa saja lah yang nggak bikin kamu hampa--karena cinta. Duh, belum apa-apa udah dangdut banget rasanya.

Jadi, apa itu Kampus Fiksi?
Kampus khayalan.
Kampus imajinatif.
Kampus gaib.

Bukan.

Kampus fiksi adalah sebuah pelatihan menulis (fiksi) yang diadakan oleh DivaPress setiap dua bulan sekali di Jogjakarta. Dan Pak Edi Akhiles selaku CEO DivaPress, adalah yang juga menjabat sebagai Rektor dari Kampus Fiksi ini. Selain Kampus Fiksi, ada juga Kampus Non Fiksi dan Kampus Fiksi Roadshow.

Kampus Fiksi menyediakan 20 - 25 seat per angkatannya. Kayak Dangdut Academy yang harus melewati proses audisi untuk mendapatkan golden ticket ke Jakarta, peserta KampusFiksi juga sama. Harus melewati proses seleksi untuk dapetin golden ticket ke Jogjakarta. Bedanya, kalian nggak perlu nyanyi-nyanyi sambil goyang-goyang di depan Saiful Jamil atau Inul Daratista . Kalian hanya perlu kirim cerpen saat dibukanya pendaftaran dan lolos seleksi. Terus dapet golden ticket? Nggak. Dapet kiriman undangan dari email aja :p

Kampus Fiksi lahir sejak tahun 2013. Kabar gembiranya, Kampus Fiksi bersifat gratis. Setelah dinyatakan lolos seleksi, kamu hanya perlu menunggu undangan untuk datang ke Jogja yang akan dikirim oleh Tim KF lewat email. Sesampainya di Jogja, kamu tidak perlu takut terlantar dan kesusahan. Karena Kampus Fiksi ini memberikan fasilitas penjemputan, penginapan, makan, cemilan, bahkan sertifikat, member card dan souvenir satu dus buku yang berjumlah 55 eksemplar. Bahagia banget pokoknya.

Saya sendiri mengikuti seleksi tersebut pada awal tahun 2015. Dan barulah dikirimi undangan pada Januari 2016. Lumayan menunggu lama, karena kita harus bersabar mengantri giliran angkatan. Maka pada tanggal 29 - 31 Januari 2016, Kampus Fiksi angkatan 15 dimulai kisahnya.

28 Januari 2016.  Pukul 10 pagi saya berangkat dari Stasiun Serang menuju Jogjakarta. Selama dua-puluh-tahun hidup di dunia, baru kali pertama ini saya naik kereta (hidup saya kurang piknik sekali) dan sendiri (kalau yang ini, saya sudah fasih sekali). Ini perjalanan pertama saya ke luar kota sendirian.

Ketika teman-teman kampus saya sibuk dengan KRS nya. Saya pun sibuk mencari-cari sinyal yang nggak banget buat KRS-an di kereta. Kebetulan hari itu sudah masuk jadwal KRS-an. Biar saya juga nggak lupa kontrak mata kuliah, saya mengisi KRS di dalam kereta.

Aih, lupakan tentang KRS.

Perjalanan Serang-Jogja memakan waktu selama 12 jam. Maka ketika jam 10 malam, sampailah saya di Stasiun Lempuyangan. Mas Kiki, yang sering menyebut dirinya sebagai tukang panggul Kampus Fiksi (jadi inget disuruh follow tukangpanggul) ternyata sudah stand by menjemput di pintu keluar. Bersama dengan satu lagi laki-laki, namanya Mas Reza. Sampai sekarang saya masih terpaksa percaya kalau Mas Reza jalan kaki dari Bogor ke Jogja selama 12 hari ._.

Dari Stasiun Lempuyangan, kami ke Stasiun Tugu untuk jemput peserta selanjutnya. Sayangnya, setelah dihubungi, peserta kedua yang akan dijemput ini keretanya mengalami delay. Akhirnya Mas Kiki dan Mas Reza mengajak saya makan malam di angkringan.

"Kamu nggak takut apa sama kita? Siapa tau kita bukan orang yang mau jemput kamu." - Mas Kiki
"Iya, liat. Kamu nggak curiga apa kita bawa ke jalan yang sepi kayak gini?" - Mas Reza
"Percaya aja lah, Mas. Udah terlanjur." - Happy Yang Terlanjur Pasrah

Yang paling membuat cengo itu waktu kita berhenti di sebuah tempat yang sepi, gelap, dan tak berujung. Di mana anjing-anjing ramai ber-guk-guk ria. Ternyata tempat itu adalah Asrama Kampus Fiksi, tempat menginap dan berlangsungnya acara KF nanti. Setelah ditunjukkan kamar dan kamar mandi, akhirnya saya pun istirahat di kamar. Saya nggak lupa rasanya tidur lega, waktu satu kamar cuma ada saya sendirian. Barulah menjelang subuh, datang dua ekor manusia. Tiga ekor, empat ekor, sampai akhirnya terkumpul lah sembilan belas manusia tanpa ekornya di sore hari menjelang maghrib.

Baiklah, saya tidak akan menulis tentang mereka di sini. Sebagai seseorang yang baik hatinya, akan saya berikan slot sendiri untuk saya tulisi. Anggap saja delapan belas peserta KF15 lain ini adalah 18 paket UN yang masih disegel dan tidak boleh dibocorkan ke siapa-siapa. #halah

29 Januari 2016 pukul 19.30. Acara KampusFiksi 15 resmi dibuka. Diawali dengan sambutan dari Pak Edi yang bercerita tentang sisi gelap dan kelamnya seorang penulis. Bukan bermaksud menakut-nakuti atau menjatuhkan mimpi, beliau mengatakan itu dengan maksud memberitahu kami bahwa menjadi penulis itu tidak seindah yang sering kami bayangkan. Kata Pak Edi, kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kecuali kalau kamu Tere Liye.

Disusul dengan penyerahan simbolis member card dan brainstorming dari Mbak Rina, salah satu editor dari DivaPress. Di sesi brainstorming tersebut, Mbak Rina menyuruh kami membuat outline cerpen yang akan kami semua eksekusi besok siangnya. Dan cerpen yang nanti akan  kami buat wajib menghadirkan Twist dalam cerita. Malam itu, saya terus menerus berpikir akan menulis cerita apa.

30 Januari 2016. Jadwal dimulai pukul 08.00. Yang  pertama diisi dengan sesi Teknik Menulis dari Pak Edi, yang kedua Teknik Editing dari Mbak Ajjah. Di  sesi  Teknik Menulis, Pak Edi memberikaan trik-trik menulis dan beberapa wejangan dalam hal kepenulisan.
"Tulis sesuatu  yang paling dekat dengan hidupmu."
"Tabungan ide itu perlu."

Pak Edi pun mengatakan kepada kami  bahwa menulis itu bukan hanya soal tehnik atau skill, tapi bagaimana kami terus-terusan berlatih. Karena katanya, kunci pembeda bagi orang yang menjadi penulis atau tidak adalah pada etosnya.

Oh iya, sebelum sesi tersebut dimulai, Pak  Edi berkenalan dengan kami satu-persatu. Waktu Pak Edi memanggil nama saya, beliau tanya; "Nama kamu beneran Happy Muslimah?" Terus saya jawab, "Boongan, Pak." Lalu semuanya tertawa. Dan saya baru menyadari, mereka tertawa  karena suara saya yang tinggi dan terkesan emosi. Jadinya, saya dikira lagi marah sama Pak Edi. Padahal niatnya saya itu mau bercanda. Tapi hasilnya jadi beda gara-gara saya salah ambil nada. Duh! *sungkem sama Pak Edi* *semoga Pak Edi memaafkan kekhilafan dan ketidaksopanan saya ini* :"""")

Bawaan orang Serang nih, yang kebiasaannya teriak-teriak kalau ngobrol padahal jaraknya deket. Bisik-bisik aja suka  kedengeran. Peserta lain kebanyakan asli Jawa Tengah dan Jawa Timur, jadi meskipun bicaranya medok tapi suaranya lemah lembut. Alasan aja sih, ini memang karena saya yang nggak ahli kontrol intonasi. *sungkem lagi sama Pak Edi*

Masuk sesi kedua, ada Mbak Ajjah yang memberikan materi mengenai self editing. Dengan slide-slide rasa baper ala-ala yang membuat kami tertawa membacanya.

Nah, ini yang paling bikin jantung kicir-kicir, kepala migrain, mulut sariawan, bibir pecah-pecah, panas dalam. Praktik menulis selama TIGA JAM. Kalau Dangdut Academy hanya perlu bernyanyi selama tiga menit. Iyalah, kalau tiga jam nyanyi bisa tepos mulutnya. #halah

Sebelum memulai menulis, mentor saya, Mbak Misni bertanya kepada saya dan tiga peserta lainnya mengenai outline cerpen yang akan kami tulis. Mbak Misni memberikan masukan-masukan mengenai twist yang lebih baik kita jadikan cerita.

Rasanya kayak apa? Gereget. Frustasi. Buat saya  yang (sangat) jarang menulis cerpen, apalagi dalam waktu tiga jam, saya benar-benar kelimpungan. Belum lagi dengan atmosfer ruangan yang banyak orang mondar-mandir, alumni-alumni yang asik ngobrol sendiri,.Ini serius ya, saya lebih banyak merhatiin muka-muka teman saya yang lagi serius nulis dibandingkan nulisnya. Alhasil, meski saya berhasil menulis halaman paling minimal (4 halaman), saya tidak bisa menyelesaikan cerpen yang saya tulis. Waktu saya mengumpulkannya ke Mbak Misni dan bilang belum selesai, Mbak Misni hanya bisa memperlihatkan muka-muka pasrah yang seperti ingin berkata, ya sudahlah. T.T 

Malamnya kita dapet jam bebas dan diajak ke Mal Malioboro. Semacem pemulihan otak setelah bergelut dengan cerpen tadi siang.

Minggu, 30 Januari 2016. Pagi tersebut dimulai dengan sesi Keredaksian dari Mbak Munnal, yang juga  bekerja di DivaPress. Beliau memberitahu kami bagaimana sistem menerbitkan naskah, mengirimnya, sampai dengan sistem pembayaran dari penerbit kepada penulis. Kemudian disusul dengan Mas Aconk di sesi Marketing. Mas Aconk banyak bercerita tentang sistem industri buku dan sebagainya. Tak lupa cerita-cerita tentang Raditya Dika dari sebelum menjadi penulis terkenal sampai yang terkenal banget kayak sekarang. Sesi ketiga sebelum ishoma, ada evaluasi cerpen hasil kemarin dari masing-masing mentor. Duh, deg-degan lagi. Untungnya bukan dikomentarin Saiful Jamil.

Seperti yang saya bayangkan, kalau cerpen saya yang-belum-selesai-itu, hasilnya hancur. Prolognya kepanjangan, dialognya nggak jelas dari siapa-siapanya. Dan akhirnya Mbak Misni menyuruh saya untuk menyelesaikan cerpen tersebut dan mengirimkannya ke Mbak Misni. Iya, saya jadi satu-satunya peserta yang pulang dalam keadaan masih punya tugas. :")
(Hutangku sudah lunas ya, Mbak. Cerpennya sudah kukirim semalam) :"))))))))))

Sesi selanjutnya ada sharing kepenulisan cerpen koran dari Uda (Ngikutin Mbak yang-masih-dirahasiakan-namanya yang manggil beliau Uda) Damhuri Muhammad. Beliau adalah redaktur sastra di koran harian Media Indonesia. Bagi saya, ini pertama kalinya mengenal sosok Uda Dam (begitu Mbak yang-masih-dirahasiakan-namanya memanggilnya) dan bertatap muka langsung. Beliau bilang untuk cerpen kita  bisa terbit di koran itu nggak gampang. Seminggu saja kita harus bersaing dengan puluhan orang. Belum lagi bersaing dengan penulis-penulis yang sudah punya nama. Tapi tentu saja kita nggak boleh putus asa. Yang perlu dilakukan hanya terus menulis dan terus bersabar. Kalau kata Pak Edi, cinta akan menemukan jalannya sendiri, sesulit apapun ia.

Sesi sharing kedua yaitu dari Agus Mulyadi yang juga alumni Kampus Fiksi. Blogger yang mendadak terkenal dimana-mana gara-gara tersebarnya foto editan beliau dengan Nabilah JKT48. Howwalah. Tapi dari situlah, penerbit-penerbit mulai menawarkan Mas Agus untuk membukukan tulisannya. Saat ini sudah ada tiga buku yang beliau tulis. Dan sesi ini diisi dengan kocak sekaligus garing oleh beliau. Aiyiah~ XD

Malamnya adalah penutupan Kampus Fiksi, pemutaran candid video, dan foto-foto bersama.

Pesan Pak Edi saat malam pembukaan waktu itu, "Tujuan saya membangun Kampus Fiksi adalah untuk mengeratkan hubungan. Entah setelah ini kalian benar-benar menjadi penulis atau tidak, kalian tetap adalah keluarga. Saling bersaudara, dan tidak akan pernah saling menjelekkan." 

Iya, kata Pak Edi, mau dimanapun kami berkarya, kami adalah keluarga.

Kalau kata Arini di film Surga yang Tak Dirindukan, baginya dongeng adalah sedekah. Mungkin bagi Pak Edi, Kampus Fiksi ini juga adalah sedekahnya.

Saya ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Pak Edi Akhiles, tim DivaPress, tim Kampus Fiksi, telah mengundang kami-yang-bukan-siapa-siapa ini. Terimakasih atas ilmu dan kekeluargaannya. Semoga segala kebaikannya menjadi ladang pahala untuk Pak Edi dan semua yang berada di dalamnya. ^-^

Tidak seperti Dangdut Academy, Kampus Fiksi pesertanya tidak saling berkompetisi, tidak ada yang tereliminasi. Kecuali mengeleminasi diri sendiri. Iya, pulang dengan membawa kopernya masing-masing.

Oh iya, besoknya, beberapa di antara kami yang masih ada di asrama diajak main-main ke kantor produksi DivaPress. Wah, lihat buku dimana-mana. Dimana-mana lihat buku.


Terimakasih KampusFiksi. Ini piknik yang menyenangkan.

~

Serang, 4 Februari 2016
Happy Hawra