Sumber gambar

pada sepat hampa, kita berterus terang soal masa
merah jambu yang dihidupkan raga
sesungguhnya tak butuh kita timpa

selepas seloka, bertubi-tubi kita tulis riwayat kopi
mereka yang kehilangan cemasnya
kelak mati dihujani pahit sendiri
sesekali, pun kita perlu rayakan puisi
kau kira babi-babi sudi melumuri dirinya sendiri?
tidak dengan kita, gemar memukat air mata
kelak, akan kita ajari babi-babi menghidu rasa;
rindu, pilu, sampai mereka luka
hingga tak ada cara lain menjadi dingin
kecuali jatuh cinta
Februari 2016

Puisi ini ditulis dalam rangka  mengikuti #NulisBarengAlumni Kampus Fiksi dengan tema ‘Babi’