Thursday, 4 February 2016

Kampus Fiksi: Bukan Dangdut Academy

Peserta Kampus Fiksi 15 bersama Pal Edi Akhiles, tim Divapress, dan Alumni KF
Menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman. - Kampus Fiksi

Pernahkah pada suatu hari, kamu mendengar tentang Kampus Fiksi? Barangkali membacanya lewat tulisan siapa saja yang kamu jumpai. Bagi yang belum pernah mendengar cerita Kampus Fiksi, silahkan mengikhlaskan hati untuk membaca tulisan ini. Bagi yang sudah pernah merasakannya, silahkan juga membacanya. Boleh pakai ikhlas, boleh juga tidak. Pakai apa saja lah yang nggak bikin kamu hampa--karena cinta. Duh, belum apa-apa udah dangdut banget rasanya.

Jadi, apa itu Kampus Fiksi?
Kampus khayalan.
Kampus imajinatif.
Kampus gaib.

Bukan.

Kampus fiksi adalah sebuah pelatihan menulis (fiksi) yang diadakan oleh DivaPress setiap dua bulan sekali di Jogjakarta. Dan Pak Edi Akhiles selaku CEO DivaPress, adalah yang juga menjabat sebagai Rektor dari Kampus Fiksi ini. Selain Kampus Fiksi, ada juga Kampus Non Fiksi dan Kampus Fiksi Roadshow.

Kampus Fiksi menyediakan 20 - 25 seat per angkatannya. Kayak Dangdut Academy yang harus melewati proses audisi untuk mendapatkan golden ticket ke Jakarta, peserta KampusFiksi juga sama. Harus melewati proses seleksi untuk dapetin golden ticket ke Jogjakarta. Bedanya, kalian nggak perlu nyanyi-nyanyi sambil goyang-goyang di depan Saiful Jamil atau Inul Daratista . Kalian hanya perlu kirim cerpen saat dibukanya pendaftaran dan lolos seleksi. Terus dapet golden ticket? Nggak. Dapet kiriman undangan dari email aja :p

Kampus Fiksi lahir sejak tahun 2013. Kabar gembiranya, Kampus Fiksi bersifat gratis. Setelah dinyatakan lolos seleksi, kamu hanya perlu menunggu undangan untuk datang ke Jogja yang akan dikirim oleh Tim KF lewat email. Sesampainya di Jogja, kamu tidak perlu takut terlantar dan kesusahan. Karena Kampus Fiksi ini memberikan fasilitas penjemputan, penginapan, makan, cemilan, bahkan sertifikat, member card dan souvenir satu dus buku yang berjumlah 55 eksemplar. Bahagia banget pokoknya.

Saya sendiri mengikuti seleksi tersebut pada awal tahun 2015. Dan barulah dikirimi undangan pada Januari 2016. Lumayan menunggu lama, karena kita harus bersabar mengantri giliran angkatan. Maka pada tanggal 29 - 31 Januari 2016, Kampus Fiksi angkatan 15 dimulai kisahnya.

28 Januari 2016.  Pukul 10 pagi saya berangkat dari Stasiun Serang menuju Jogjakarta. Selama dua-puluh-tahun hidup di dunia, baru kali pertama ini saya naik kereta (hidup saya kurang piknik sekali) dan sendiri (kalau yang ini, saya sudah fasih sekali). Ini perjalanan pertama saya ke luar kota sendirian.

Ketika teman-teman kampus saya sibuk dengan KRS nya. Saya pun sibuk mencari-cari sinyal yang nggak banget buat KRS-an di kereta. Kebetulan hari itu sudah masuk jadwal KRS-an. Biar saya juga nggak lupa kontrak mata kuliah, saya mengisi KRS di dalam kereta.

Aih, lupakan tentang KRS.

Perjalanan Serang-Jogja memakan waktu selama 12 jam. Maka ketika jam 10 malam, sampailah saya di Stasiun Lempuyangan. Mas Kiki, yang sering menyebut dirinya sebagai tukang panggul Kampus Fiksi (jadi inget disuruh follow tukangpanggul) ternyata sudah stand by menjemput di pintu keluar. Bersama dengan satu lagi laki-laki, namanya Mas Reza. Sampai sekarang saya masih terpaksa percaya kalau Mas Reza jalan kaki dari Bogor ke Jogja selama 12 hari ._.

Dari Stasiun Lempuyangan, kami ke Stasiun Tugu untuk jemput peserta selanjutnya. Sayangnya, setelah dihubungi, peserta kedua yang akan dijemput ini keretanya mengalami delay. Akhirnya Mas Kiki dan Mas Reza mengajak saya makan malam di angkringan.

"Kamu nggak takut apa sama kita? Siapa tau kita bukan orang yang mau jemput kamu." - Mas Kiki
"Iya, liat. Kamu nggak curiga apa kita bawa ke jalan yang sepi kayak gini?" - Mas Reza
"Percaya aja lah, Mas. Udah terlanjur." - Happy Yang Terlanjur Pasrah

Yang paling membuat cengo itu waktu kita berhenti di sebuah tempat yang sepi, gelap, dan tak berujung. Di mana anjing-anjing ramai ber-guk-guk ria. Ternyata tempat itu adalah Asrama Kampus Fiksi, tempat menginap dan berlangsungnya acara KF nanti. Setelah ditunjukkan kamar dan kamar mandi, akhirnya saya pun istirahat di kamar. Saya nggak lupa rasanya tidur lega, waktu satu kamar cuma ada saya sendirian. Barulah menjelang subuh, datang dua ekor manusia. Tiga ekor, empat ekor, sampai akhirnya terkumpul lah sembilan belas manusia tanpa ekornya di sore hari menjelang maghrib.

Baiklah, saya tidak akan menulis tentang mereka di sini. Sebagai seseorang yang baik hatinya, akan saya berikan slot sendiri untuk saya tulisi. Anggap saja delapan belas peserta KF15 lain ini adalah 18 paket UN yang masih disegel dan tidak boleh dibocorkan ke siapa-siapa. #halah

29 Januari 2016 pukul 19.30. Acara KampusFiksi 15 resmi dibuka. Diawali dengan sambutan dari Pak Edi yang bercerita tentang sisi gelap dan kelamnya seorang penulis. Bukan bermaksud menakut-nakuti atau menjatuhkan mimpi, beliau mengatakan itu dengan maksud memberitahu kami bahwa menjadi penulis itu tidak seindah yang sering kami bayangkan. Kata Pak Edi, kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kecuali kalau kamu Tere Liye.

Disusul dengan penyerahan simbolis member card dan brainstorming dari Mbak Rina, salah satu editor dari DivaPress. Di sesi brainstorming tersebut, Mbak Rina menyuruh kami membuat outline cerpen yang akan kami semua eksekusi besok siangnya. Dan cerpen yang nanti akan  kami buat wajib menghadirkan Twist dalam cerita. Malam itu, saya terus menerus berpikir akan menulis cerita apa.

30 Januari 2016. Jadwal dimulai pukul 08.00. Yang  pertama diisi dengan sesi Teknik Menulis dari Pak Edi, yang kedua Teknik Editing dari Mbak Ajjah. Di  sesi  Teknik Menulis, Pak Edi memberikaan trik-trik menulis dan beberapa wejangan dalam hal kepenulisan.
"Tulis sesuatu  yang paling dekat dengan hidupmu."
"Tabungan ide itu perlu."

Pak Edi pun mengatakan kepada kami  bahwa menulis itu bukan hanya soal tehnik atau skill, tapi bagaimana kami terus-terusan berlatih. Karena katanya, kunci pembeda bagi orang yang menjadi penulis atau tidak adalah pada etosnya.

Oh iya, sebelum sesi tersebut dimulai, Pak  Edi berkenalan dengan kami satu-persatu. Waktu Pak Edi memanggil nama saya, beliau tanya; "Nama kamu beneran Happy Muslimah?" Terus saya jawab, "Boongan, Pak." Lalu semuanya tertawa. Dan saya baru menyadari, mereka tertawa  karena suara saya yang tinggi dan terkesan emosi. Jadinya, saya dikira lagi marah sama Pak Edi. Padahal niatnya saya itu mau bercanda. Tapi hasilnya jadi beda gara-gara saya salah ambil nada. Duh! *sungkem sama Pak Edi* *semoga Pak Edi memaafkan kekhilafan dan ketidaksopanan saya ini* :"""")

Bawaan orang Serang nih, yang kebiasaannya teriak-teriak kalau ngobrol padahal jaraknya deket. Bisik-bisik aja suka  kedengeran. Peserta lain kebanyakan asli Jawa Tengah dan Jawa Timur, jadi meskipun bicaranya medok tapi suaranya lemah lembut. Alasan aja sih, ini memang karena saya yang nggak ahli kontrol intonasi. *sungkem lagi sama Pak Edi*

Masuk sesi kedua, ada Mbak Ajjah yang memberikan materi mengenai self editing. Dengan slide-slide rasa baper ala-ala yang membuat kami tertawa membacanya.

Nah, ini yang paling bikin jantung kicir-kicir, kepala migrain, mulut sariawan, bibir pecah-pecah, panas dalam. Praktik menulis selama TIGA JAM. Kalau Dangdut Academy hanya perlu bernyanyi selama tiga menit. Iyalah, kalau tiga jam nyanyi bisa tepos mulutnya. #halah

Sebelum memulai menulis, mentor saya, Mbak Misni bertanya kepada saya dan tiga peserta lainnya mengenai outline cerpen yang akan kami tulis. Mbak Misni memberikan masukan-masukan mengenai twist yang lebih baik kita jadikan cerita.

Rasanya kayak apa? Gereget. Frustasi. Buat saya  yang (sangat) jarang menulis cerpen, apalagi dalam waktu tiga jam, saya benar-benar kelimpungan. Belum lagi dengan atmosfer ruangan yang banyak orang mondar-mandir, alumni-alumni yang asik ngobrol sendiri,.Ini serius ya, saya lebih banyak merhatiin muka-muka teman saya yang lagi serius nulis dibandingkan nulisnya. Alhasil, meski saya berhasil menulis halaman paling minimal (4 halaman), saya tidak bisa menyelesaikan cerpen yang saya tulis. Waktu saya mengumpulkannya ke Mbak Misni dan bilang belum selesai, Mbak Misni hanya bisa memperlihatkan muka-muka pasrah yang seperti ingin berkata, ya sudahlah. T.T 

Malamnya kita dapet jam bebas dan diajak ke Mal Malioboro. Semacem pemulihan otak setelah bergelut dengan cerpen tadi siang.

Minggu, 30 Januari 2016. Pagi tersebut dimulai dengan sesi Keredaksian dari Mbak Munnal, yang juga  bekerja di DivaPress. Beliau memberitahu kami bagaimana sistem menerbitkan naskah, mengirimnya, sampai dengan sistem pembayaran dari penerbit kepada penulis. Kemudian disusul dengan Mas Aconk di sesi Marketing. Mas Aconk banyak bercerita tentang sistem industri buku dan sebagainya. Tak lupa cerita-cerita tentang Raditya Dika dari sebelum menjadi penulis terkenal sampai yang terkenal banget kayak sekarang. Sesi ketiga sebelum ishoma, ada evaluasi cerpen hasil kemarin dari masing-masing mentor. Duh, deg-degan lagi. Untungnya bukan dikomentarin Saiful Jamil.

Seperti yang saya bayangkan, kalau cerpen saya yang-belum-selesai-itu, hasilnya hancur. Prolognya kepanjangan, dialognya nggak jelas dari siapa-siapanya. Dan akhirnya Mbak Misni menyuruh saya untuk menyelesaikan cerpen tersebut dan mengirimkannya ke Mbak Misni. Iya, saya jadi satu-satunya peserta yang pulang dalam keadaan masih punya tugas. :")
(Hutangku sudah lunas ya, Mbak. Cerpennya sudah kukirim semalam) :"))))))))))

Sesi selanjutnya ada sharing kepenulisan cerpen koran dari Uda (Ngikutin Mbak yang-masih-dirahasiakan-namanya yang manggil beliau Uda) Damhuri Muhammad. Beliau adalah redaktur sastra di koran harian Media Indonesia. Bagi saya, ini pertama kalinya mengenal sosok Uda Dam (begitu Mbak yang-masih-dirahasiakan-namanya memanggilnya) dan bertatap muka langsung. Beliau bilang untuk cerpen kita  bisa terbit di koran itu nggak gampang. Seminggu saja kita harus bersaing dengan puluhan orang. Belum lagi bersaing dengan penulis-penulis yang sudah punya nama. Tapi tentu saja kita nggak boleh putus asa. Yang perlu dilakukan hanya terus menulis dan terus bersabar. Kalau kata Pak Edi, cinta akan menemukan jalannya sendiri, sesulit apapun ia.

Sesi sharing kedua yaitu dari Agus Mulyadi yang juga alumni Kampus Fiksi. Blogger yang mendadak terkenal dimana-mana gara-gara tersebarnya foto editan beliau dengan Nabilah JKT48. Howwalah. Tapi dari situlah, penerbit-penerbit mulai menawarkan Mas Agus untuk membukukan tulisannya. Saat ini sudah ada tiga buku yang beliau tulis. Dan sesi ini diisi dengan kocak sekaligus garing oleh beliau. Aiyiah~ XD

Malamnya adalah penutupan Kampus Fiksi, pemutaran candid video, dan foto-foto bersama.

Pesan Pak Edi saat malam pembukaan waktu itu, "Tujuan saya membangun Kampus Fiksi adalah untuk mengeratkan hubungan. Entah setelah ini kalian benar-benar menjadi penulis atau tidak, kalian tetap adalah keluarga. Saling bersaudara, dan tidak akan pernah saling menjelekkan." 

Iya, kata Pak Edi, mau dimanapun kami berkarya, kami adalah keluarga.

Kalau kata Arini di film Surga yang Tak Dirindukan, baginya dongeng adalah sedekah. Mungkin bagi Pak Edi, Kampus Fiksi ini juga adalah sedekahnya.

Saya ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Pak Edi Akhiles, tim DivaPress, tim Kampus Fiksi, telah mengundang kami-yang-bukan-siapa-siapa ini. Terimakasih atas ilmu dan kekeluargaannya. Semoga segala kebaikannya menjadi ladang pahala untuk Pak Edi dan semua yang berada di dalamnya. ^-^

Tidak seperti Dangdut Academy, Kampus Fiksi pesertanya tidak saling berkompetisi, tidak ada yang tereliminasi. Kecuali mengeleminasi diri sendiri. Iya, pulang dengan membawa kopernya masing-masing.

Oh iya, besoknya, beberapa di antara kami yang masih ada di asrama diajak main-main ke kantor produksi DivaPress. Wah, lihat buku dimana-mana. Dimana-mana lihat buku.


Terimakasih KampusFiksi. Ini piknik yang menyenangkan.

~

Serang, 4 Februari 2016
Happy Hawra

7 comments:

  1. banyak pesertanya ya, mb. semoga alumni kampus fiksi bisa jadi penulis yang keren dan produktif. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau peserta sih cuma 19 mbak :D

      aamiin. ^-^

      Delete
  2. Beli bukuku ya alumni Kampus Fiski diterbitkan oleh Penerbit Elex Media Komputindo berjudul My Bittersweet Marriage. Kalau PO nanti dapat bonus sketsa Domkirke yang digambar oleh Nani Susiani ketua angkatan 15. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap buneeeeg. ditambah cap alismu juga aku akan beli kok. aku padamu pokoknya. hahaha

      Delete
  3. makasih gan buat infonya dan salam sukses

    ReplyDelete
  4. mantap bro infonya dan salam kenal

    ReplyDelete
  5. terimakasih bos tentang infonya dan semoga bermanfaat

    ReplyDelete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^