Wednesday, 10 February 2016

Manakala Babi-babi Menghidu Rasa

Sumber gambar


Pada sepat hampa, kita berterus terang
soal masa. Merah jambu yang dihidupkan
raga. Sesungguhnya, tak butuh kita timpa.

Selepas seloka, bertubi-tubi kita tulis riwayat
kopi. Mereka yang kehilangan cemasnya, kelak
akan mati dihujani pahit sendiri.

Sesekali, pun kita perlu rayakan puisi. Kau kira
babi-babi sudi melumuri dirinya sendiri? Tidak
dengan kita, gemar memukat air mata.

Kelak, akan kita ajari babi-babi itu menghidu rasa;
rindu, pilu, sampai mereka luka. Hingga tak ada
cara lain menjadi dingin, kecuali jatuh cinta.

Februari 2016


Puisi ini ditulis dalam rangka  mengikuti #NulisBarengAlumni Kampus Fiksi dengan tema 'Babi'

10 comments:

  1. Aaah.. Aku terperangkap dalam rsngkai rindu ini.. Ehehe

    ReplyDelete
  2. Cieee yang udah jadi dot.com hahaha , selamat ya , rindu itu sudah utuh tinggal menyentuh dan beradu dalam nada seru, aku terpacu!

    ReplyDelete
  3. HEp, rekues bikinin aku puisi, judulnya Mentari :D

    ReplyDelete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^