Thursday, 19 May 2016

Kata-kata dan Kepala yang Sudah Lama Tak Ada Isinya

Sumber gambar


Segelas kopi.  Sebuah notebook di depan mata.  Dan kepala yang sudah lama tak ada isinya.

Hari-hari, lama tak benar-benar jadi hari. Senin-Minggu melulu, tak sampai juga kepadamu kabar baru. Seluruh tubuhmu yang hidup adalah kekuatan-kekuatan kosong yang diciptakan sendiri. Tak ada masalalu. Tak ada dirimu. Tak ada kata-kata, perihal yang membuatmu lebih putus asa.

Kamu ingin memainkan jari-jari panjangmu. Tapi tiada bisa kamu menembus putihnya yang lebih dulu memakimu. Berkata, tak usah pura-pura punya cerita. Basi! Seluruhnya sudah basi! Kendati demikian, penamu malah dipatahkannya dan layarmu mendadak mati. Kemudian kamu datang kembali sebagai seorang putri tidur. Kamu jatuh... Lelap... Dan imajimu, tetap saja tiada. Bodoh. Bahkan di alam bawah sadar, kamu tak bisa menemukan siapa-siapa. Kamu tidak pula mendapatkan apa-apa.

“Mungkin, seharusnya kamu sudah mati sekarang ini.” Kertas putihmu bicara sekali lagi. Dengan nada lebih pelan kali ini. Tapi tetap .... menyakiti.

Udara dan sepi, mungkin pulang ke kampungnya. Keduanya teman bicara paling juara. Tetapi mereka pun minta cuti untuk tidak menemani. Kemudian malam menjadi lebih pengap dari biasanya. Dan ruangan ini, kamu seringkali hanya meninggalkan debu dan sampah saja. Katamu, kamu muak kepada hampa. Sementara isi ruangan ini seluruhnya muak kepadamu. Tak ada yang bahagia. Kamu atau benda-benda di sekelilingmu. Semuanya saling berbalik, memilih jalan pergi sendiri. Kamu tahu untuk apa?

“Apa arti bahagia?”

“Bertemu dengannya tiba-tiba.”

“Meski tidak lama?”

“Meski tidak lama.”

“Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah bertemu?”

“Tidak ada.”

“Lantas, untuk apa kesempatan itu ada?”

“Untuk mengharap kesempatan-kesempatan lainnya ada.”

Semuanya saling berbalik, memilih jalan pergi sendiri. Kamu tahu untuk apa?
Untuk mengembalikanmu yang sudah hampir gila.

260. Setidaknya, masih ada yang bisa orang lain baca. Tidak peduli seberapa basinya.

This entry was posted in

Friday, 6 May 2016

World Book Day 2016

Pendopo Rumah Dunia
23 April adalah hari yang istimewa bagi setiap penggiat literasi di seluruh dunia, sebab tanggal tersebut diperingati sebagai hari buku sedunia atau world book day. Dan 23 April 2016 memang sudah tertinggal jauh dari hari ini, namun rasanya sayang sekali kalau saya tidak menulis tentang hari tersebut. Meski rasanya sudah hambar dan basi, saya tak peduli. Biarkan saya menulis agar blog ini tidak hampa dan sepi. Halah.

Kali pertama saya tahu dan merasakan momen World Book Day adalah setahun yang lalu, ketika saya masih belajar di Majelis Puisi dan Kelas Menulis Rumah Dunia. Di mana tahun tersebut pula saya pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang 'nyentrik' itu. Tahun lalu, pada perayaan World Book Day 2015, Rumah Dunia--yang seingat saya--menerbitkan tiga buku; antologi puisi, antologi cerpen, dan antologi essai, Semua karya-karya tersebut ditulis oleh beberapa alumnus Rumah Dunia. Saya sendiri ikut menulis untuk antologi puisi, meski waktu itu saya belum jadi alumni. Buku tersebut pernah saya posting di sini.

Sementara tahun ini--maksud saya 23 April lalu--Rumah Dunia membuat perayaan World Book Day menjadi lebih luar biasa dibanding tahun sebelumnya. Ada 53 buku yang dilaunching di hari tersebut. Gol A Gong--atau kami biasa memanggilnya Mas Gong--berkata, bahwa ini adalah sebuah rekor dunia. Dan acara ini tak mungkin terselenggara tanpa kerja keras Mas Gong dan para relawan hebatnya. Tak ketinggalan para penulis buku juga tentunya.

Di tahun ini, saya ikut berpartisipasi dalam antologi cerpen angkatan. Begini penampakannya:

Cover buku "Bermain di Ranting Waktu"
Buku "Bermain di Ranting Waktu" di antara buku-buku yang dijual. Tapi itu punya saya, karena sisanya udah sold out :p
*gaya*
World Book Day 2016 di Rumah Dunia berlangsung pukul 08.00 - 23.00. Paginya adalah lomba menulis untuk tingkat sekolah. Siang harinya adalah launching buku dan diskusi film. Sedang malam harinya adalah pentas seni. Saya sendiri baru datang pukul 14.30 tepat ketika teman-teman angkatan saya di atas panggung Auditorium untuk membicarakan tentang antologi cerpen kami. Saya hanya senyum-senyum melihat mereka dari depan pintu. Mau masuk ke dalam sudah tak ada jalan. Semua kursi, bahkan tangganya saja penuh. Banget. Luar biasa. Akhirnya saya bersama satu teman saya nyempil lesehan di depan panggung heuheu.

Beberapa penulis yang saya ambil gambarnya:

Bang Rudi Rustiadi, penulis buku "Tur Literasi"

Teh Gita Rizki, penulis buku "Yakin (Masih) Mau Pacaran?"

Bang Hilman Sutedja, penulis buku "Lege"

Kak Ade Ubaidil, penulis buku "Mbah Sjukur"
Selain launching buku, terdapat pula diskusi mengenai film terbaru yang baru saja tanggal 4 Mei kemarin tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Judul film tersebut yaitu MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta). Ternyata dan tak disangka, sutradara film tersebut adalah orang Banten. Salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Serang. Baru menjadi sutradara, garapannya sudah film nasional. Daebak.

Diskusi Film "MARS" bersama Om John de Rantau (Sutradara), Mas Gong (Penulis), dan Mas Sahrul Gibran (Sutradara)
Diskusi ini dimulai dari perjalanan seorang Sahrul Gibran menjadi sutradara. Kemudian ia bercerita bagaimana ketika diusir dari kosan karena tak mampu bayar, bekerja serabutan di perusahaan, sampai ia nekat merantau ke Jakarta. Tujuannya hanyalah satu. Menggapai mimpi gilanya menjadi seorang sutradara. Namun setiap jalan yang ia tempuh tak selalu mulus. Bahkan di tengah jalan, ketika mimpinya sudah mulai terjamah, ia sempat menyerah pada kegilaannya ketika ayahnya meninggal. Sebab satu hal, apa yang diperjuangkannya selama ini, tak lain dan tak bukan demi untuk ayahnya seorang. Barangkali, hidup yang kita jalani memang seperti itu. Kadang-kadang, alasan terbesar dan terkuat bagi kita meraih sesuatu bukanlah karena diri sendiri, melainkan karena orang lain. Tapi, akhirnya ia mampu mencapai titik semangat itu kembali. Berkat nasihat-nasihat dari om John de Rantau. Lalu bercerita pulalah, om John. Tentang Sahrul Gibran, tentang film MARS, tentang rumah dunia, buku, dan film. Awalnya saya tidak tahu siapa John de Rantau ini. Ternyata beliau adalah sutradara maestro di Indonesia. Sudah ratusa npenghargaan diraihnya. Pernah nonton film "Denias: Senandung di Atas Awan" ? Nah, beliau inilah sutradaranya. :o

Ada kata-kata yang masih saya ingat dari om John de Rantau kemarin, yakni: "Bahwa dunia ini diciptakan oleh orang-orang gila. Setiap orang bisa menulis, namun hanya yang gilalah yang bisa membuatnya menjadi luar biasa."

Saya dan Om John, di antara remang-remang cahaya Auditorium Rumah Dunia
(Saya baru sadar, harusnya om John yang saya minta pegang buku itu. Hahaha)
Kata Mas Gong, peluncuran 53 buku kemarin sudah tinggal kenangan. Sudah menjadi sejarah. Namun tahun depan, rekor baru akan dimunculkan. Launching 100 buku pada World Book Day 2017. Tuh, Hep... Nulis, Hep. Jangan malas.

Sudah, ya. Salam Literasi ^-^