Wednesday, 1 June 2016

Kuliah Kerja Nyantai

Logo 'TEAMBAKAU'


Saya mahasiswa. Eh, mahasiswi. Semester 6. Dan baru saja selesai KKN. Tapi bukan ‘Kuliah Kerja Nyata’, melainkan ‘Kuliah Kerja Nyantai’. Ehehehe.

Kenapa saya bilang ‘Kuliah Kerja Nyantai’? Karena memang kerjanya nyantai. Eh, bukan kerja sih. Pengabdian kepada masyarakat. Tapi KKN itu memang nyantai sih, namanya juga piknik. Iya, anggap aja piknik. Tidur di hotel, makan enak, pemandangan tempatnya bagus.

Serius KKN-nya gitu?

Ya nggak lah.

Aslinya, rumah yang saya dan teman-teman lain tempatin itu besar, enak, tapi suka bau kambing (terutama saat hujan) dan agak horor. Padahal ya, sejauh mata memandang, di rumah itu nggak ada kambing. Tapi kok bisa ya bau kambing? Apa mungkin sebenarnya itu bukan bau kambing, tapi bau teman-teman saya? Eh nggak ding, teman-teman saya lebih kepada bau serigala, ceunah si Porong mah. :p

For Your Info, KKN yang saya ikutin ini bukan KKN pada umumnya. Tahu lah apa maksud dari KKN pada umumnya. Mengabdi di tempat yang jauh dari jangkauan hati. Maksudnya..... Hmm... Maksudnya....

Oke. Maksudnya pelosok. Kayak rumahnya si Depi. Dih ngapain coba ya nyebut nama itu orang, nanti anaknya GR lagi. Tapi ya mau gimana, abis kalau inget pelosok ingetnya dia sih. Dasar pelosok.

Iya. Jadi.... Nggak kayak tempat-tempat KKN yang biasanya pelosok itu .. Alias susah transport, jarang ada WC, airnya jelek, nggak ada sinyal, dan sebagainya. Emang sih, nggak semua tempat pengabdian kayak gitu. Ada aja yang memang lebih beruntung, nggak segitunya. Nah, lokasi KKN kami ini sangat terjangkau. Nggak susah transport, air bersih, dan.... Deket sama kampus!

“Anjir. Lo KKN apa lagi maen? Masa disitu.”

“Dih parah, itu mah bukan KKN namanya.”

“Sumpah curang, enak bangeeeeeet.”

Dan sebagainya, dan sebagainya. Itu komentar teman-teman saya waktu saya menyebutkan lokasi saya KKN. Itu yang sebenarnya bikin saya males jawab kalau ditanya tempat KKN nya di mana. Karena pasti pada jawab begitu.

Makanya kalau ada yang nanya lagi, “Hepi, katanya lagi KKN ya? KKN di mana? Nanti mau mampir ke sana nih.”

Saya jawab aja, “Hmm.... #&*%$gafahf@^\kg”

Artinya: Ada deh.


KKN yang saya ikutin ini secara non formal bisa disebut dengan KKN Dosen. Artinya, KKN ini sebenarnya adalah project dosen (yang menjadi pembimbing), tapi yang menjalankan projectnya adalah mahasiswa. Kalau secara formal disebut dengan KKN-PPM.

Sebentar, saya nyontek dulu kepanjangannya ya.

Oh. Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat. Tapi bukan yang dari Kemenpora, melainkan dari Dikti. Jadi waktu itu saya mendaftar alasannya karena yang saya dengar kalau KKN nya cuma di weekend dan (katanya) dapet dana. Okelah gapapa saya gak punya hari libur (karena memang Senin-Jumat kuliah, sedangkan KKN Jumat-Minggu) yang penting nggak keluar biaya. Itu sih yang awalnya saya pikirkan. Karena memang kalau ikut KKN Tematik pasti keluar banyak biaya, yang artinya tabungan saya nggak akan cukup buat bayar KKN Tematik + UKT semester 7 nanti. Jadi saya membulatkan tekad untuk daftar KKN ini. Meskipun pada kenyataannya tetep wae ngeluarkeun duit. Meski nggak sebanyak yang teman-teman saya keluarin waktu KKM Mandiri sih. Ya tau sendiri lah gimana susahnya nunggu turun dana. Sampai sekarang aja belum turun semua dana yang dijanjikan. Ya, mudah-mudahan aja segera turun lah. Lumayan.

Maka jadilah dengan 36 mahasiswa. Kami mendapat tugas untuk menjalankan sebuah project yang juga menjadi program kerja utama kami, yang bertema “Pemberdayaan dan Pendidikan Anak Jalanan Usia Produktif (PANJAL-UP) Melalui Pelatihan Teknologi Sablon Kaos “Distro–BDK (Badak-Baduy-Krakatau) Untuk Membangun Kelompok Wirausaha Mandiri Berkelanjutan dan Solusi Problematika Anak Terlantar di Kota Seragon (Serang-Rangkasbitung-Cilegon)”

Panjang yak.

Nah, kenapa kami bisa mengambil lokasi yang dekat dengan kampus? Karena di kertas yang tertera hanya menyebutkan lokasi sebatas ‘Kota Serang’, tidak disebutkan tempat tujuannya. Yang ternyata setelah mencari tahu, kami memang dibebaskan mencari sendiri tempatnya. Jadi yasudah, nemu rumah yang cocok. Di sanalah kemudian kami bermukim setiap hari Jumat-Minggu.

Segampang itu? Tentu saja nggak.

Pertama, rumah yang ‘awalnya’ akan kami tempati itu ternyata bermasalah. Bukan rumahnya sih yang bermasalah, tapi mbak-mbaknya. Masa di sana kita Cuma boleh numpang tidur. Kamar yang ditempatin Cuma satu Nggak boleh ke dapur, nggak boleh ke kamar mandi. Padahal katanya awalnya oke-oke aja. Emang sih murah, tapi ya nggak gitu-gitu juga. Tapi yaa apa boleh buat kami memutuskan untuk pindah.

Akhirnya barang-barang yang udah ditaro di rumah sana dipindah setelah kita dapet rumah baru. Rumah kosong. Tanpa dihuni dua tahun. Karena kepala keluarganya meninggal. Wadidaw.

Tapi nggak sih, nggak horor. Cuma sedikit. Dan ini juga mungkin cuma saya dan satu teman lelaki saya yang menyadarinya. Kolam kamar mandi sebelah kanan selalu kosong kalau didatengin lagi. Padahal pas ditinggal penuh. Yang di sebelah aja penuh. Saya menyadarinya waktu saya ada di kamar mandi itu. Sampai-sampai saya nggak jadi ngapa-ngapain di kamar mandi, malah bengong. Terus nyari lubang ke sekitar kolam. Masa iya bocor? Dan memang nggak ada lubang. Akhirnya saya malah langsung lari keluar dari kamar mandi itu. Bego. Haha.

Tapi nggak tahu sih, firasat saya aja kali ya itu mah.

Kedua, kumpul fullteam 36 orang? Mustahil. Setengahnya aja udah syukur. Dari pembukaan bahkan sampai penutupan belum pernah kumpul fullteam sama sekali. Malah ada satu orang yang nggak pernah dateng. Padahal di grup line ada. Serius deh. Aneh ya? KKN macam apa ini -_-

Ketiga, super wacana. Ini yang jadi masalah. Karena tempat KKN nya dekat kampus. Yang artinya nggak jauh-jauh banget dari kosan masing-masing (buat yang ngekos. Buat yang nggak ya mamam lu). Pada pulang-pulangan mulu. Mau mandi, pulang. Mau tidur, pulang. Mau poop doang aja pulang. Masalahnya saya nggak bisa kayak gitu. Habis waktu dan biaya men. Jarak dari kampus ke rumah saya itu butuh satu jam, pulang-pergi 20 ribu. Bayangin aje. Jadi mau nggak mau, yang tinggal di daerah Cilegon ya ngurung wae di basecamp. Sampai waktunya pulang. Nah yang pada pulang-pulangan ini. Janji balik lagi jam 10 pagi. Jam 12 sama sekali belum ada yang dateng. Janji rapat jam 7 malem, jam 9 malem baru mulai. Dasar permen mentos.

Ya gitu lah pokona mah. Capek juga yak ngetiknya. Udahan lah. Seneng kok tapinya punya temen-temen baru. Nambah kenalan. Malah ada yang jadian juga kok. Bahahaha.

Makasih ya teman-teman TEAMBAKAU! Muah-muah dah semuanya.



Basecamp TEAMBAKAU
Bye basecamp~

Oh iya, by the way, proker kite masuk di Banten Headline. Klik deh.

Serang, 1 Juni 2016
This entry was posted in