Monday, 1 August 2016

Merawat Keyakinan

Source


Akan ada pertanyaan di setiap kali pulang: di mana letak iman sekarang?

Aku punya banyak keraguan, terlebih ada pula banyak ketakutan. Aku tidak pernah ingin menyimpannya di mana-mana, tapi aku sendiri belum tahu apa mantra penghilang paling mujarab dari keduanya.

Setiap kali aku memikirkan sesuatu, aku juga memikirkan yang lain. Mungkin yang masih berputar-putar kuat di kepalaku sekarang adalah yang sebenarnya kekosongan. Sesungguhnya, aku tidak bisa melihat apa-apa dari sana, barangkali, memang tidak akan ada banyak juga yang terjadi. Aku pun sangat tidak ingin harapanku berundak-undak. Tapi seperti ada energi yang datang dari kekosongan itu. Aku tidak tahu apa. Tapi aku merasa sedikit punya keyakinan kalau kekosongan-kekosongan itu akan menjadi bulat dan penuh kemudian.

Sementara, ada pusaran di mana aku bisa melihat sesuatu dengan mata yang jelas. Paling tidak sedikit demi sedikit aku merasakan permainan yang menyenangkan di sana. Aku tidak perlu menunggu sebuah kata-kata hidup hanya untuk aku tahu keadaan di pusaran itu. Bagaimana kehidupan di dalamnya. Bagaimana suasana-suasana hati yang mengelilinginya. Karena pusaran itu sendiri yang kerap mendatangiku. Aku merasa sebuah kesegaran muncul. Aku banyak menerima pertanyaan, padahal seringnya akulah yang punya banyak pertanyaan. Kepada apa yang kulakukan. Kepada kekosongan. Akan tetapi, aku merasa ada keraguan dan ketakutan yang berbeda tumbuh di sana. Aku tahu apa.

Kadang aku pikir aku ingin mengungsi, tapi setelah kupikir lagi, aku juga kan tidak pernah tinggal di mana-mana sebelumnya. Jadi untuk apa, ya? Toh, sesungguhnya, yang paling aku butuhkan adalah termometer. Bukan yang hanya bisa untuk mengecek suhu tubuh, tetapi juga suhu iman. Semoga Allah selalu jadi yang pertama, ya.