Friday, 28 October 2016

Tasaro GK dan Tetraloginya

Source

Dua hari kemarin, saya mendatangi sebuah acara yang digelar oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Banten. Acara tersebut dihelat untuk merayakan Hari Kunjung Perpustakaan yang sebenarnya jatuh pada tanggal 14 September. Gambar pembuka di atas adalah jadwal rangkaian acaranya.

Dari beberapa acara tersebut, ada dua acara yang saya ikuti di sana. Yang pertama karena memang tak sengaja, namun yang kedua jelas sudah menyiapkan aba-aba.

Yang pertama dan tak sengaja adalah ketika saya menemani teman untuk mencari buku di dalam perpustakaan, ternyata tidak lama lagi akan dimulai acara talkshow bertema “Remaja, Internet, dan Membaca” di luar gedungnya. Jadi, sembarian saja kami mendaftar acara itu. Toh gratis, dan dapet snack dan souvenir lagi kata si Mas-mas panitianya. Kan, jadi nggak bisa nolak, ya, kalau kayak gitu mah. #halah

Tapi, talkshow tersebut memang bikin saya melek terhadap penggunaan internet, sih. Terutama dalam bermedia sosial. Ternyata ada banyak sekali kasus-kasus yang berawal dari ketidaksadaran kita sebagai pengguna. Masalah privasi di akun-akun sosial, misalnya. Atau informasi-informasi yang kita berikan, yang tanpa sadar bisa mengundang orang lain melakukan tindakan kriminal, dan sebagainya dan sebagainya. Terutama perempuan sih, dari masih bayi sampai Ibu-ibu, harus benar-benar waspada.

Yang kedua adalah acara bedah bukunya Tasaro GK. Saya sempat kaget sewaktu melihat seorang teman membagikan poster bedah buku beliau di facebook.

“Teh, itu beneran?”

Saya masih aja nanya saking nggak percayanya, padahal Tasaro GK nya ada lho dan komentar di sana. Ah, demi apa pokoknya.

Ketemu Tasaro GK adalah salah satu harapan kecil saya. Sejak membaca “Nibiru dan Ksatria Atlantis,” saya begitu terpukau dengan keajaibannya. Gila, orang macem apa dia, pikir saya. Hanya saja, enam tahun menanti kelanjutannya, kok masih nggak ada kabar juga sih, Bah? Padahal tiap tahun isu kelanjutan Nibiru selalu muncul di media.

Semakin jauh, saya dibuat ‘sangat jatuh cinta’ ketika membaca Galaksi Kinanthi. Buat saya, kisah cinta paling deep masih Ajuj dan Kinanthi juaranya. :’)

Tasaro GK dan Dee adalah dua penulis yang paling saya favoritkan. Keduanya nggak pernah main-main soal riset. Jika Dee dengan Supernova-nya, maka Tasaro dengan Muhammad-nya.

Buku Muhammad pun dibedah di mana-mana. Termasuk kemarin, di Serang.

Yang menjadi pembedah buku, kebetulan saya nggak ingat siapa namanya, membedah dengan pilihan-pilihan kata yang membuat kami, terutama saya sebagai penonton menjadi terbawa dengan suasana. Barangkali, membuat semua orang penasaran bagaimana sebenarnya proses kreatif Tasaro dalam menulis novel biografi Muhammad tersebut. Secara spekulatif, kita pasti nggak menyangkal kalau itu adalah pekerjaan yang berat. Sebab tokoh yang diambil sungguh tidak main-main. Tasaro pun bercerita bahwa beliau sempat berhenti menulis karena merasa takut dan rendah. Siapa saya menulis tentang ini, pikirnya. Namun setelah mendapatkan kekuatan dari sebuah ayat Al-Quran, ia kembali untuk melanjutkan menulis sebuah kisah sejarah yang dicampur dengan fiksi tersebut.

Lewat diskusi, Tasaro mengatakan bahwa sejarah sebenarnya sudah memberitahu kita apa yang akan terjadi ketika kita melakukan sesuatu. Karena ketika kita melakukan hal yang sama, maka kita akan mengalami hal yang sama pula. Beliau juga menuturkan tentang dua isu yang paling sering diserang, yakni perang dan poligami. Bagaimana setiap pernikahan Rasulullah berbeda sekali dengan motivasi pernikahan saat ini.

Banyak penonton yang bertanya bagaimana rahasia Tasaro bisa membalut sebuah kisah sejarah dengan fiksi semenarik dan sebagus Muhammad-dan-segala-hujannya tersebut. Sementara, beliau sendiri menjawab, “rahasianya adalah tidak ada rahasia.” Kami semua tertawa.

Tasaro menuturkan, bahwa satu hal yang perlu dipelajari oleh seorang penulis adalah kecerdasan mengoneksi. Sebab penulis juga merupakan seorang sutradara, produser, dan actor sebuah cerita dalam waktu bersamaan. Sehingga beliau mengatakan kalau penulis novel beda tipis dengan halnya orang gila. Karena mereka harus menjadi banyak orang dalam waktu yang sama dan harus konsisten.

Jadi, Abah Tasaro teh sudah kena penyakit gila stadium berapa? XD

Terakhir, Tasaro berpesan, “Cintai naskah Anda, maka akan ada banyak jalan menuju Roma.” #eaaa

Acara tersebut ditutup dengan book-signing! Nah, ini yang paling saya tunggu. Saya pun mengeluarkan buku dan langsung pasang kuda-kuda. Hiyaak!

Tiga buku milik saya, tiga buku milik Kakak saya :D

Rela berberat-berat demi untuk dapetin t(j)inta dari Tasaro GK. Hahaa. Bawa buku yang beratnya bikin takjub. Lumayan, kan, orang-orang jadi pada merhatiin saya. #haiyah

Saya pun berkesempatan foto bareng. Iya dong, Abah kan baik. *kasih emot hati*


Yang ini foto berdua aja.

kok fotonya jadi melebar gini -_-

Kalau yang ini foto sendiri.


Iya, Tasaro-nya sendiri maksudnya.

Huhuy, ganteng ya. Adakah Tasaro versi umur 20-an? XD


Senang pokoknya :D

0 Comment:

Post a Comment

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^