Thursday, 3 November 2016

Mengingat Rasi

Source

Tiga tahun Jani menyukai laki-laki bernama Rasi. Sewaktu SMA, Rasi adalah siswa paling pintar di satu angkatan, terlebih dalam bidang fisika—yang bagi Jani bikin ngantuk sekali. Kepandaian Rasi membuatnya cukup populer di kalangan guru-guru. Hmm, kalau di kalangan siswi-siswi sih, ya sudah tidak diragukan lagi.

Tapi Jani tidak kenal-kenal amat dengan Rasi. Di luar segala kelebihannya, Rasi tidak cukup menarik hati seorang Jani. Malah Jani bertanya dalam hati, mengapa banyak perempuan mendambakan seorang Rasi?

Masuk ke semester empat, Rasi dan beberapa siswa dari kelasnya dipindahkan ke kelas Jani. Dan Jani masih biasa-biasa saja. Tidak banyak cuap-cuap pula di antara keduanya.

Pernah suatu hari, Rasi meledek Jani. Waktu itu di jam olahraga, Jani tidak ikut berolahraga dengan teman-teman satu kelasnya karena sedang sakit. Dan Jani memilih untuk tinggal di dalam kelas saja. 

Beberapa saat, Rasi kembali ke kelas seorang diri. Entah mengambil apa dari tasnya. Rasi pun pergi dan menutup pintu. Namun setelah itu, pintu kembali terbuka dan kepala Rasi muncul di sana.

“Woy, lari, Jani, lari. Biar capeknya sama nih,” kata Rasi dengan mimik-mimik tertawa dan keringat di mana-mana.

“Rasain,” jawab Jani sembari menjulurkan lidah.

“Haha, payah.” Kemudian pintu ditutup lagi.

Suatu hari lagi, gantian Jani yang meledek Rasi. Ketika pernah suatu kali seorang guru bahasa inggris meledek Rasi yang mirip nenek-nenek karena tercium aroma fresh care di badannya. Jani ikut-ikutan. Pada jam istirahat, Rasi sedang latihan drama di dalam kelas. Jani berjalan di luar kelas dan melewati jendela yang kebetulan Rasi pun sedang duduk di sampingnya dan melihat ke arah luar jendela.

“Eh, nenek lagi apa duduk-duduk?” ledek Jani. Rasi pun melemparkan potongan kertas yang sedang dipegangnya, tapi mulutnya tersenyum.

Bagi Jani, ingatan-ingatan kecil tersebut memang kejadian yang biasa saja. Tapi mampu membuat Jani senyum-senyum sendiri. Terlebih saat ia dikerjai oleh Rasi.

Jani mengulang ingatannya di suatu bulan ramadhan. Waktu itu Jani datang ke sekolah kesiangan. Ia masuk kelas dan semua teman-temannya sudah pergi ke masjid dan aula untuk solat duha. Rasi masuk ke kelas, ternyata ia pun terlambat datang. Usai menaruh tas, Rasi langsung berlari ke luar. Sementara Jani masih sibuk melepas sepatunya di lantai.

Tak lama, Jani pun menuju pintu kelas, tetapi ia kaget karena pintu kelas itu terkunci. Ketika menengok ke jendela, Rasi tertawa dan melambaikan tangannya. Ternyata, Rasi bilang kepada office boy sekolah yang kebetulan ada di depan kelas, kalau di kelas mereka sudah tidak ada siapa-siapa.  Jani pun memukul-mukul jendela dan meminta Rasi membukakan pintunya. Rasi masih tertawa di sana, meskipun setelah itu ia mengejar office boy yang sudah jauh di depan.

Meski menyebalkan tapi waktu itu Jani juga merasa sedikit senang.

Menginjak kelas 12, Jani dan Rasi sama-sama mendapat duduk di bangku belakang. Sehingga banyak hal baru yang Jani tau tentang Rasi. Seperti ternyata, Rasi sering bersenandung sendiri. Jani juga pernah melihat Rasi bernyanyi dengan gitar. Suaranya mampu melelehkan hati, dan lagu-lagu yang dibawanya sungguh dalam sekali, meskipun berbahasa inggris.

Kemudian Jani lebih sering memperhatikan Rasi. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun, hal tersebut tidak bisa lagi dilakukan Jani ketika mereka sudah lulus dari SMA. Sebab Rasi kuliah di luar kota.

Maka setiap kali ada kesempatan reuni, Jani merasa hatinya gelisah sendiri. Semua pertanyaan tentang Rasi menumpuk di kepalanya. Jani selalu penasaran. Jani selalu ingin tahu. Jani menjadi rindu.

Rasa sesal di dasar hati, diam tak mau pergi. Haruskah aku lari dari kenyataan ini. Pernah ku mencoba  tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti.*

~

*) Yang Terlupakan - Iwan Fals

This entry was posted in

14 comments:

  1. Remaja kalau jatuh cinta, bawaannya pasti iseng sama orang yang dicintainya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, remaja banget ya gitu. *kemudian ingat umur :D

      Delete
  2. pengalaman pribadi bukan nih... hihihi

    ReplyDelete
  3. Ini pengalaman pribadi, ya? :))

    Kenapa nggak Radit dan Jani? Wahaha. :p

    Duh, lagu Iwan Fals "Yang Terlupakan" emang bikin galau. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. hadududuuh, hahaha. bisa iya, bisa nggak sik. :p

      nggak begitu suka nama Radit hahaha.

      Delete
  4. Jadi ingin ndaftar SMA lagi tahun depan. Wahahaha

    ReplyDelete
  5. kasihan si jani, gelisah tak menentu, penasaran sama seseorang yang sulit dijangkau.. huhuhu. Kalo reunian terus ketemu si rasi tapi rasinya udah kawin pasti makin gelisah tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. *tiba-tiba ingat flashfiction yang pernah ditulis* :"D

      Delete
  6. Bagi Jani, ingatan-ingatan kecil tersebut memang kejadian yang biasa saja. Tapi mampu membuat Jani senyum-senyum sendiri. << lama terdiam di kalimat ini. Ingat ke mantan sahabat hehehe

    Lanjutin dong mbak ceritanyaaaa tentang reuni, tentang masa kini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh, kenapa Kak? hehehe. semoga bisa kembali jadi baik ya...

      iya Kak semoga bisa dilanjutin ya. makasih sudah membaca :D

      Delete
  7. Hep, emang jani enggak berteman facebook, follow twitter, instagram, path, atau subscribe channel youtubenya rasi?
    Atau minimal sms, line atau whatsapp gitu.

    ReplyDelete

Selamat membaca. Semoga berkenan meninggalkan komentar. ^-^