Follow Me
Ini tuh kameranya gelap dan posenya nggak siap. Tapi bagus juga sih ya. Cari cahaya yang pas aja. Bisa sih diterangin, tapi males ah. Ya kalau kamu kepo, tinggiin aja brightnessnya. (ini caption foto apa curhat sih, panjang amat).

Aku suka nangis tanpa sebab, bahkan hampir setiap malem. Bukan cuma malem, sih. Kadang lagi sholat, lagi ngelipet baju, lagi ngedit tulisan, mataku suka tiba-tiba berair. Tapi ini bukan cuma terjadi sekarang-sekarang aja, emang sejak dulu. Sebelum dalam kandungan gitu. Okedeh.

Ya itu. Kesepian selalu punya ruang di dalam hati seseorang, kan. Seekspresif apapun ia. Sayangnya, aku bukan tipe orang yang bisa nangis di depan orang lain. Kalau itu gampang, aku juga pengen deh.

Mungkin aja sih semua itu bisa disembunyiin dari orang lain, tapi dengan diri sendiri, dia nggak bisa lari. Itu kenapa aku bahagia, bukan berarti nggak sedih. Pun aku sedih, bukan berarti nggak bahagia. Tapi sekarang aku udah tau, semua orang juga begitu. Nggak papa.

“Kan, aku nggak ada temen.”

Ria Ricis, yang followersnya 9,1 juta dan subscribernya 4,6 juta aja ngomong gitu sambil nangis. Betapa kesepian itu tidak kasat mata, bukan?

Aku nggak punya banyak teman dekat. Makanya, suka bingung kalau pengen pergi tapi ke mana dan sama siapa. Jadilah akhirnya sendiri-sendiri lagi juga. Tapi emang biasanya juga gitu. Enak juga kok.

Kalau sekarang, paling banter tanyain Kak Kiwong terus kalau mau pergi.

"Mau ke mana? Ikut dong." Padahal cuma ke Warteg depan.
Atau...

"Ih, mau ke mana?"
"Biasa."

Nih, aku kasih tau. Biasa itu artinya mau jemput pacar. Ya, kalau jemputnya pakai mobil, aku minta ikut juga kayaknya. Saking nggak punya temennya. Ya, hitung-hitung melatih mental pacarnya juga, ya. Siap nggak kalau pacarnya punya teman jomlo yang perlu perhatian tinggi.

Kalau kata Om Ega, Pimredku yang paling ganteng sejagat raya itu: "Happy tuh bagus. Terbaik deh pokoknya. Tapi jomlo!"

Coba bisa nggak ngatain jomlonya nggak pakai semangat 45? Atuhlah.

Makin ke sini aku makin berpikir, nggak perlu lah punya banyak teman (dekat). Toh, kenyataannya pada inget kalau lagi ada perlunya aja. Mungkin secara nggak sadar, aku pun sama.

Jadi, kupikir lebih baik sedikit tapi benar-benar peduli lahir batin, itu sangat cukup. Ini juga yang bikin aku sekarang nggak begitu suka ketemu banyak orang. Berdua juga kayaknya cukup, tapi bisa ngobrol dari hati ke hati. Asal jangan baper aja sih.

Kadang aku kecewa, bahkan yang udah kenal lama pun mudah banget ngejudge sesuatu. Karena itu sih yang lebih mudah orang lakukan dibanding tanya apa kabar dan perasaan. Makanya, pergi itu jadi cara ternyaman sih buat aku sekarang.

Oh iya, hampir tiap hari aku ada di lingkaran om-om dan kakak-kakak ini. Tapi mereka baik banget kok. Sayang banget deh aku. Ternyata penting lho berteman dengan bapak-bapak, jadi tau kan baik buruknya laki-laki itu gimana kalau udah berumah tangga. Dan keresahan-keresahan seperti apa yang dirasakan wakaka.

Tapi kayaknya cukup lah ya nanti kalau aku nikah udah ada saksi, penasihat pernikahan, mc, videografer, fotografer, sama penyanyi. Ya, perkara nikah sama siapanya mah bisa dipikirin nanti-nanti. Yang penting kan punya tim pendukung dulu.

Pokoknya siapapun, kalau nanti udah minta restu sama mama dan kakak-kakakku, jangan lupa minta restu sama mereka juga. Soalnya mereka juga keluargaku. (Tapi boleh nggak sih jangan siapapun? Kamu aja ya? Plis atuhlah).

Btw, ini templateku baru lho. Gimana, bagus nggak menurutmu?


22 tahun saya merasakan hidup di Banten. Tapi jika ditanya apa yang telah saya lakukan untuk provinsi yang pernah menjadi pusat perdagangan orang-orang Eropa ini, saya cuma bisa senyum-senyum mesem. Tapi paling tidak, saya selalu berusaha untuk tidak membuang sampah sembarangan. Oke sip.

Untungnya, kaum pasif seperti saya ini tak banyak-banyak amat. Jadi, tenang, Banten bisa maju menjadi negara sendiri. Halah, maksudnya punya pondasi untuk berkembang lewat orang-orang keren yang punya pemikiran dan tindakanyang tentunyatak main-main.

Mereka yang seperti itu tentu saja menjadi inspirasi yang patut Banten banggakan. Saya sendiriyang tak punya banyak kemampuan dan kreativitasselalu kagum dengan orang-orang yang bisa memaksimalkan diri mereka, bahkan untuk kepentingan banyak orang.

Karena saya tak punya kemampuan itu, jadi saya hanya akan sedikit bercerita tentang orang-orang yang pernah saya temui dan berkesempatan untuk berbincang-bincang dengannya. (Ya, kalau belum bisa jadi orang hebat, minimal bisa ngobrol bareng mereka lah. Siapa tau tertular, kan. Siapa tau).
Ada tiga aspek yang mungkin ada dalam tulisan ini. Yaitu pendidikan, pertanian, dan pariwisata. Bukankah ketiga hal tersebut menjadi aspek yang penting di seluruh wilayah? Hal ini dirasakan oleh Banten pula tentunya.

Pertama, Pendidikan. Pernah mendengar nama Panji Aziz Pratama? Kiprahnya dalam dunia pendidikan dikenal oleh dunia, lho. Kak Panji, begitu saya memanggilnya, memulai langkah kecilnya memberikan sumbangsih ilmu, kemampuan, waktu, dan tenaga lewat membangun taman baca di salah satu daerah terpencil di Serang, Banten. Yang akhirnya ia membuat sebuah Yayasan Isbanban Foundation. Mungkin, kamu salah satu yang pernah mendengar organisasi tersebut.

Saya tak benar-benar tau tentang bagaimana Kak Panji dan orang-orang yang bersamanya berproses sedemikian mungkin. Yang jelas, hingga dewasa ini, saat usia Isbanban menginjak lima tahun, saya ikut terharu karena Isbanban kini telah melahirkan ribuan relawan serta puluhan taman baca di berbagai pelosok Banten.

Melihat semangat Kak Panji yang terasa selalu menggebu-gebu dan memberikan efek bahagia kepada sesama, membuat saya berpikir, “kok saya nggak bisa begitu?”.

Berlanjut ke hal kedua, Pertanian. Seperti kita tahu, bahwa potensi pertanian di Banten ini sangatlah besar. Sayangnya, apakah banyak orang yang memiliki cita-cita menjadi petani? Saya rasa tidak. Mungkin kamu juga berpikir hal yang sama.

Namun dalam suatu kesempatan, saya pernah mewawancarai petani dan peternak yang namanya cukup dikenal di Banten. Ia adalah Mas Agis. Jika kamu penonton setia Kick Andy! Mungkin kamu pernah melihat Mas Agis berbincang soal pertanian di sana. Ya, dia adalah si penolak tawaran kerja BUMN yang memilih untuk menjadi petani.

Kepada saya, ia pun mengungkapkan hal yang sama. Mas Agis mengaku ingin menghilangkan stigma di mata semua orang, termasuk orang tuanya, bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan menjanjikan. Bahkan yang paling saya garisbawahi, profesi tersebut tak hanya menjanjikan soal dunia, katanya, tapi juga akhirat.

“Ketika kita menanam atau beternak, panennya itu adalah kenikmatan dunia. Akhiratnya adalah ketika kita bisa menghasilkan pangan terbaik, kemudian pangan terbaik ini bisa dinikmati semua orang. Nah, itu kan kita dapet amal jariyahnya.”

Hebatnya, Mas Agis juga tak hanya memikirkan kebahagiaan dan kebutuhannya sendiri, tapi juga memiliki kepedulian terhadap orang-orang di Banten. Cita-cita terbesar yang ingin dicapai adalah mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Banten. Untuk itu, Mas Agis juga memberikan ruang besar untuk pemuda-pemudi di Banten untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam hal membangun Banten tercinta ini. Bukankah sangat bagus?

Ketiga, soal Pariwisata. Baru-baru ini saya bertemu dan mengobrol dengan seorang Instruktur Selam di Serang. Namanya Cakra. Kalau kamu tahu, untuk menjadi seorang Instruktur Selam bukanlah perkara yang mudah dan murah. Mereka yang ingin mengambil sertifikasi tersebut harus melalui berbagai level secara bertahap. Sejak menyelam tahun 2014, ia sendiri baru bisa menjadi Instruktur pada tahun ini.

Ternyata, salah satu alasan ia mengambil profesi tersebut lantaran untuk membantu kemajuan Pariwisata di Banten. Menurutnya, pariwisata Banten punya potensi besar untuk dikembangkan karena saat ini sudah banyak dilirik oleh para wisatawan. Ia bersama komunitasnya, juga akan mulai memberikan pelatihan-pelatihan untuk warga terkait pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan.

Hebat ya mereka?