Follow Me
Chef Joni - Executive Chef Horison Ultima Ratu (kiri)
Aditya Maulana - General Manager Horison Ultima Ratu (kanan)
Beberapa waktu lalu, Hotel Horison Ultima Ratu Serang meresmikan nama restoran terbaru mereka. Yang mulanya Malabar, kini berganti menjadi Santan Restaurant. Peresmian ini juga dibarengi dengan dilaunchingnya 20 menu terbaru dari restoran tersebut.

Sebenarnya, perubahan nama dan penawaran menu-menu teranyar itu tak hanya dilakukan oleh Horison Ultima Ratu saja, melainkan seluruh Hotel Horison Group yang ada di Indonesia.

Santan Restaurant sendiri menyajikan konsep Indonesian Fusion, dimana menu-menunya identik dengan kearifan lokal, tetapi mengandung unsur Asian dan Western food.

Sayangnya, dari 20 menu yang ada, hanya enam menu saja yang diperkenalkan secara tatap muka. Tapi itu enggak jadi masalah, karena saya masih bisa menikmati enam menu andalan mereka. Gratis pula.

Kira-kira, ada menu apa saja?

Yang pertama adalah Squid Rolled Cakwe. Saya sendiri lupa kapan terakhir kali makan cakwe, tapi terhadap makanan satu ini, saya suka diingatkan pada pengalaman kecil menunggu bapak-bapak berkumis lewat depan rumah sambil teriak “Cakweeeee!” yang nadanya enggak jauh beda sama iklan “Sol sepatuuuu!”.

Squid Rolled Cakwe
Yaaa paling tidak, gara-gara itu saya jadi tahu cakwe itu gimana dan dan rasanya kayak apa.
Eh bentar dulu, yang ini cakwenya lebih istimewa. Bukan cuma makanan panjang yang dihibur dengan saus sambal. Cakwe di sini dikombinasikan dengan cumi dan ikan dori, lho.

Menu kedua adalah Duck Aglio Honje Sambal Matah. Nah ini tuh ternyata pasta yang sausnya bukan pakai carbonara atau bolognese, tapi ya itu, honje sambal matah. Baru dua sendok aja udah bikin lidah uwah uwah~

Duck Aglio Honje Sambal Matah
Lanjut ke menu ketiga. Ada Beef Ribs Fried Rice. Sebagai penyuka nasi goreng, ini tuh beda banget dari nasgor-nasgor yang pernah kumakan. Lha iya lah biasanya juga beli di abang-abang dorong. Ini tuh nasi gorengnya warna hijau dan rasanya mirip kayak kue putri ayu. Tau enggak sih? Yang gini.

Kue putu ayu. (Foto: fimela.com)
Manis tapi kok enak yak. Eh, di sini spesialnya dikombinasikan juga sama iga yang diolah dengan saus barbeque. Beef Ribs Fried Rice (hadeh kalau diucapin suka belibet ieu) jadi tambah lengkap dengan tambahan telur mata sapi. Kalian mesti cobain, sih, harganya memang lebih mahal sedikit.

Beef Ribs Fried Rice
Yuk lah lanjut ke menu keempat. Gindara Sambal Matah. Sambal matah lagi, nih~

Sesuai dengan namanya, bahan baku yang digunakan adalah ikan gindara. Sebagai yang baru pertama kali nyobain ikan gindara, saya refleks banget jawab mirip ikan asin waktu ditanya rasanya gimana. Duh, maap saya lemah ilmu perikanan. Pokoknya semua ikan yang menurutku asin ya ikan asin.


Gindara Sambal Matah
Ikan gindara ini dimarinete pakai saus khusus dari Santan Restaurant, lho. Tentu saja ditambah dengan sambal matah yang dilengkapi dengan sayuran brokoli, lettuce, dan mushroom sebagai  garnish.

Buat kalian penyuka famili ikan, Gindara Sambal Matah bisa menambah daftar menu yang patut dicoba. Enak dan pedesnya bikin seger~

Potato Peanut Crumb jadi makanan kelima yang saya coba. Menu ini tuh cocok buat manusia-manusia yang paling enggak bisa tuh mamam mamam nasi. Hidangan dari bahan baku kentang ini di dalamnya ada smoke beef dan saus mozzarella.


Potato Peanut Crumb
Lalu menu yang terakhir adalah Baked Chicken Thigh. Hidangan utama ayam yang dilengkapi dengan mashed potato saus barbeque dan edamame. Eh, ada tambahan ubi ungunya juga lho jadi enak dan unik rasanya.

Baked Chicken Thigh
Nah itu semua adalah enam menu terbaru dari Santan Restaurant-nya hotel bintang empat ini. Tenang, menunya bukan cuma ada itu aja kok. Masih ada 12 menu lainnya, bahkan pihak hotel sendiri katanya akan menambahkan menu-menu lokal asli Banten. Jadi kemungkinan ada 30-an menu di sana.

Buat yang pengin makan enak dan nyaman, bisa langsung datang ke Santan Restaurant yang ada di lobi hotel. Bukanya mulai pukul 06.30 - 22.00 WIB. Enggak harus pesan kamar kok untuk menikmati hidangan di sana. Tenang, ada pilihan smoking dan no smoking area juga. Jagi enggak bakalan makan sambil nahan engap asap.

Oh iya, ada juga lho paket barbeque di sana setiap Selasa dan Sabtu malam di pool area. Harganya cuma 99 ribu++. Jadi yang mau barbeque-an sambil kecipak-kecipuk jos di kolam renang atau mamam mamam ramean aja bareng keluarga bisa banget datang ke sana. Awas jangan salah hari. Hahaha.

Sekarang ini ada juga menu promo yang masih berjalan, yaitu menu Ayam Taliwang dan Strawberry Capirosa. Di bulan November juga bakal ada menu promo terbaru yang bakal dilaunching, Gurame Goreng Tepung Sambal Mangga. Yang ini saya sudah coba juga. Pokoknya enak dan ngenyangin, tungguin aja ya~

Beberapa waktu lalu, saya sedang duduk sembari mengetik sesuatu di depan laptop. Di samping kiri, ada Pemred saya yang juga sedang melakukan hal serupa. Di belahan ruang lainnya, seseorang tengah fokus bekerja.

Kami semua diam, gelombang suara hanya terdengar lewat suara tak-tuk-tak-tuk keyboard saja. Tak lama kemudian, Pemred tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat alis saya mengernyit.

“Target nikah umur berapa?”

Saya tidak begitu paham apa yang tengah mengganggu pikiran beliau saat itu. Yang jelas, apakah sebuah keheningan bisa memengaruhi otak seseorang sehingga akhirnya terlintas pertanyaan tak berperikemanusiaan?

Pun setelah itu, beliau kembali di depan laptopnya. Tapi saya tahu betul beliau menunggu jawaban dari hati terdalam saya. Agak lama, saya kemudian berjalan ke dapur mengambil air minum. Setelah satu gelas habis, saya akhirnya punya keberanian untuk menjawab pertanyaan ‘macam apa’ itu.

“Apa deh,” jawab saya dari dapur sana. Ternyata hanya segitu saja kemampuan bicara saya.

“Lho, kan Om cuma mau tau aja. Kamu punya target nikah kapan. Tau, kan… target?”

Sebal. Om ini sebenarnya otw nanya atau ngejek, sih. Kata saya dalam hati.

Bicara target, memang sepertinya saya punya kelemahan dalam hal ini. Secara sadar, saya hampir tak pernah menargetkan sesuatu sepanjang perjalanan hidup saya. Mungkin itu sebabnya saya masih menjadi seseorang yang ‘gini-gini’ saja. Kalau secara tak sadar, mungkin pernah. Lho, berarti itu saya sadar dong? Ya, pokoknya, anggap saja saya pintar.

“2021,” jawab saya dalam perjalanan menuju meja kerja. Nah, lho. Serius. Saya menyebut angka pasti. Ini hati saya yang luluh atau mulut saya yang bosan bercanda, sih?

“2021… hmm…” gumamnya dengan menengadahkan kepala ke atas.

“Berarti tiga tahun lagi, ya..” Beliau mengangguk-angguk sendiri, lantas kembali sibuk bekerja.

Ternyata memang bukan cuma saya yang aneh, ya. Om-om di samping saya juga sama.

Omong-omong, beberapa bulan sebelum mendapatkan pertanyaan itu, saya sebenarnya sempat iseng mengalkulasi sendiri. Entahlah, alasannya memang cuma satu. Tapi sepertinya kamu juga tidak perlu tahu.

*
Ditulis 15 Juli 2018. (Posting aja lah biar ada tulisan. Nggak tau masih relevan apa nggak wqwq~)


Saya bukan apa-apa, tapi tanpa disadari, saya seperti selalu ingin menjadi apa-apa.

Hidup saya begitu merepotkan banyak orang. Seringkali saya berpikir bahwa diri saya berharga, padahal sebenarnya tidak. Saya sering merasa sudah melakukan yang terbaik, padahal juga tidak.

Saya kerap berpikir sudah sangat menghargai orang lain, nyatanya masih banyak yang merasa kecewa. Saya selalu berusaha menjadi yang menyenangkan, tapi tidak sedikit membuat hati kesakitan.

Saya kira saya adalah orang baik, nyatanya saya masihlah sampah. Tidak cukup berguna untuk disimpan lama-lama. Saya masih mudah marah dan tersinggung. Tak jarang menjadi sakit hati dan pendendam.

Banyak hal buruk yang telah saya lakukan. Namun sedikit hal baik yang saya berikan. Ternyata saya belum benar-benar menjadi lebih manusia dari saya yang dahulu. Dari yang bahkan tak mengenal makna keluarga, hingga menemukan cinta yang mahal harganya.

Bertemu dengan orang-orang baik dan penuh kasih sayang rupanya masih tidak banyak mengubah saya.

Saya tahu, terkadang saya begitu keras kepala dan tak punya telinga. Saya bukan apa-apa, tapi tanpa disadari, saya seperti selalu ingin menjadi apa-apa.

Maafkan saya atas semua hal buruk yang terjadi dari saya, oleh saya, dan karena saya. Maafkan saya yang belum benar-benar bersih tanpa noda. Maafkan saya yang belum bisa seterang cahaya. 

Maafkan saya yang masih menjadi beban dan tersesat di jalanan. Maafkan saya yang baru sebatas minta maaf dan ingin dimaafkan. Maafkan saya, saya….

Foto: www.riangriang.com


ketika lagu-lagu tiba di kepalaku
ada denting kutampung separuh
ada getar tak henti bergemuruh

ketika melihat diriku
aku tidak pernah utuh
barangkali cinta adalah gelisah
yang tak mau sembuh
sebelum tubuhku sendiri
rela jadi pengungsi

di tempat paling jauh
gelombang debur merupa sauh
dan wajahmu
aku berhenti
sepakat merutuk diri

Juli, 2016