Februari. Aku mulai merasakan hari-hari kejenuhan. Tidak sepenuhnya jenuh memang, hanya ingin rehat sebentar dari keseharian. Tapi kemudian, perusahaan tempatku bekerja melakukan perampingan karyawan. Aku diberi tanggung jawab yang lebih besar.

Hmm… sebentar…  apa aku nggak salah dengar?

Tak lama sejak hari itu, teleponku berbunyi. Aku mendapat panggilan dari seorang dosen berkacamata yang tidak terlalu tinggi. Dia memintaku menemuinya untuk bicara perihal kerja sama. Aku datang tanpa ekspektasi apa-apa.

Ternyata, dia tidak sendirian. Satu dosen dari fakultas berbeda ada di ruangan yang sama, yang kemudian jadi juru bicara paling tanpa koma. Bukan soal kerja sama yang kemudian aku terima, tapi mereka meminta kesediaanku untuk bekerja.

“Kami sedang membuat forum nasional. Tapi, bukan saya atau dosen-dosen lain yang akan pegang. Kamu. Jadi leader untuk 10 kota di Indonesia. Kita hanya pengawas aja, kamu yang nanti bakal ke mana-mana. Ngurus ini-itu, undang sana-sini, banyak-banyak lobi. Ini untuk program Pak Jokowi,” katanya, kurang lebih.

Tunggu… gimana?!

“Urusan gaji bisa tawar-menawar, tapi saya jamin cukup besar.”

“Bapak tau, kan, saya sudah kerja? Bapak pernah ke kantor saya untuk wawancara.”

“Justru itu, saya tambah yakin dengan background kamu, background tempat kerja kamu. Buat saya justru bagus untuk kamu dan perusahaan kamu. Bakal tambah jaringan, toh? Saya yakin, kok, Pak I dan Pak E juga bakal ngizinin kamu. Atau, kamu gak usah bilang dulu.”

Lho, kok bawa-bawa mereka?! Gak bilang dulu gimana?

“Kamu gak harus berhenti dari pekerjaan kamu. Bisa diurus mobile. Paling kamu harus stay di kantor dua sampai tiga kali dalam seminggu.”

Ngantor? Sebentar…

“Ngantor, Pak?”

“Iya, kantornya di Menteng. Kita bisa sediain tempat tinggal, kamu gak usah bingung untuk bolak-balik. Kalau memang nanti harus stay di kantor setiap hari, mending kamu ambil cuti tiga bulan.”

Cuti? Tiga bulan??? Apa lagi ini? T_T

Dosen yang tidak cukup kukenal itu terus bicara sampai ke mana-mana. Bahkan, bercerita tentang dirinya dan kesuksesan-kesuksesan anak-anak muda yang banyak direkrut menjadi staf ahli. Dari penilaianku, dia tampak seperti S3 Marketing yang cukup berambisi. Aku seakan tidak diberi kesempatan untuk bicara dan didorong untuk menerima.

“Ini bisa jadi batu loncatan yang besar untuk kamu.”

Aih, dosenku yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba bicara begitu dalam.

Ya, sih, aku tahu, seperti yang ia bilang, ini bisa jadi kesempatanku untuk lebih menjulang. Aku bahkan tidak pernah berpikir bisa dipercaya orang lain—selain orang-orang di tempatku bekerja tentunya.

Tapi, aku….

….Aku sepertinya belum bisa. Mungkin juga belum waktunya. Aku merasa pengalaman yang ku punya belum ada apa-apanya.

Lebih dari itu, aku tidak mau kehilangan hal yang lebih besar dari sekadar tawaran nominal. Orang-orang yang membuatku bisa bertahan hidup hingga sekarang. Lain waktu mungkin aku akan menceritakan semuanya. Kupikir, bagian ini sudah terlalu panjang.

Hari-hariku pun terus berjalan. Jangan tanya soal kabar dan percintaan, aku nggak akan paham. Tapi, aku tahu, aku sepertinya butuh teman di luar pekerjaan. Semacam bintang jatuh, tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang teman lama. Ia mengajakku datang bersama ke pernikahan teman—teman lain yang juga pernah satu kelas di SMA.

“Kok, aku gak diundang, ya?” tanyaku, sok gaya. Padahal, aku sendiri sudah lama tidak pergi ke undangan teman. Sedikit malas, banyak lupanya. Beberapa kali baru ingat ketika harinya sudah kelewat.

“Kayaknya bagiin undangannya cuma lewat dm-dm Instagram, deh. Kamu, kan, nggak main Instagram.”

Akhirnya, aku memilih ikut datang. Cuma untuk ngomelin pengantin karena aku gak diundang, ya walau abis itu langsung pelukan. Tapi, aku cukup senang bisa bertemu beberapa teman dan mendengarkan kabar. Walau… kemudian… pulang-pulang dapat ejekan.

“Habis dari mana?” tanya Pemred.

“Undangan, Om.”

“Tumben. Sama siapa?”

“Sama temen.”

Alhamdulillah, ternyata punya temen juga. Om sujud syukur dulu, ya.”

Sialan.