Hai, Pembangkit Listrik.

Sepertinya aku memang sudah sangat malas menulis sekarang. Jika kamu mau tahu kabarku, aku masih saja tersesat di kota yang sempit ini. Seluruh tubuhku yang menahun limbung tetap tak punya energi. Akhirnya aku harus kehilangan “teman terawet” yang kumiliki akibat ketidakberdayaanku sendiri.

Dia satu-satunya orang yang kerap kutunggu selain kamu, meski dua ribu lima ratus orang datang mengelilingiku. Oke, ini berlebihan, sih. Pada kenyataannya aku tidak punya teman sebanyak itu.

Namun hanya kepadanya, aku bisa berbagi seluruh keburukanku hingga belajar melepasnya satu per satu.

Baca Juga: Rinai dan Gelora (2)

Kamu tahu? Setiap orang punya orang lain sebagai perantara bertumbuh. Dia mungkin orang pertama yang membuat aku percaya dengan manusia.

Di hadapannya, aku seakan tidak pernah menjadi dewasa. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan kenapa dia akhirnya membenciku. Mau bagaimana lagi, tetapi hidup harus terus berjalan, kan? Bohong sekali aku berkata begitu.

Sebenarnya ada cerita lucu yang sangat aku simpan rapi dan tak pernah kamu tahu. Dahulu saat dia begitu menaruh perasaan kepadamu, aku hampir menyetok pil aspirin karena pusing mendengar dia membicarakanmu setiap hari. Se-ti-ap-ha-ri.

Aku sempat bertanya dalam hati, hal menarik apa yang mampu membuat sebagian besar perempuan mendambakanmu, selain karena kamu tampan, pintar, dan… hmmm? Bahkan aku sempat mengumpat pada diri sendiri lantaran melihatmu sangat tak acuh dengan perempuan-perempuan itu.

“Oh, congkak sekali, ya, dia,” pikirku.

Namun, entah kenapa aku justru jadi semakin sering memerhatikanmu. Aktivitas itu lama-lama membuat dadaku kerap bergempa ketika tak sengaja ada di dekatmu. Aku jadi semakin malu bahkan untuk sekadar tertidur di kelas, kenapa aku jadi tetiba menjaga image ketika sebenarnya seluruh orang tahu kalau aku tukang tidur?

Aku tiba-tiba menjadi berbeda.

Baca Juga: Satu Hari di Bulan Maret

Aku semakin merasa bahagia ketika melihat kamu bernyanyi dan tertawa. Sebaliknya hatiku jadi hampa jika melihat kamu tidak ada. Perasaanku terasa kian membesar, sampai akhirnya aku tersadar, “oh, aku terlalu jauh untuk menggapainya. Aku bahkan tak termasuk yang paling standar sekali pun.” Perlahan aku mulai meredam perasaan.

Namun, cinta ternyata benar-benar rumit dan sulit ditebak. Tiba-tiba saja ada yang mulai mencurigaimu. Katanya, dia kerap memergokimu sedang diam-diam memperhatikan aku. Aku sungguh deg-degan. Tak percaya tapi senang. Kemudian, dua orang bilang begitu. Tiga orang, empat orang, hingga…

Aku yang sulit jatuh cinta kemudian merasa menemukan orang terpercaya.

Desember, 2018